Maybe it’s not about the happy ending. Maybe it’s about the story. (Anonymus) “Apa-apaan kamu ini, Ra?” Aku mencekal pergelangan tangan Laura, menyeretnya dari lantai bawah hingga ke kamar kami. Tidak melepaskannya sedikit pun sebelum dia membuat lebih banyak kekacauan. Laura menyentak tangannya hingga terlepas dari cengkramanku, “Kenapa sih, Bara?” Aku memicingkan mata. Dia masih bertanya kenapa? Aku menyapukan pandanganku pada tubuhnya. Dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dia mewarnai rambutnya, memakai jenis pakaian yang selama ini tidak pernah dipakainya, pakaian yang sangat terbuka. Berdandan dengan sangat menor. “Ada apa dengan penampilanmu ini?” Laura mendengkus, kemudian tersenyum sinis. “Bukankah kamu menyukai penampilan Rena

