Tepat pukul 08.00 malam dan sebentar lagi acara dinner keluarga yang di adakan di kediaman Haris akan segera di mulai. Mereka hanya tinggal menunggu kedatangan dari keluarga Fara. Sedangkan keluarga Haris telah tiba beberapa menit lalu.
Sedari tadi Sinta-ibu mertuanya hanya asik berbincang dengan Fara saja. Nisa menundukkan pandangannya dalam-dalam, ia seperti tak di anggap keberadaannya oleh mertuanya sendiri.
Haris yang sejak tadi memperhatikan Nisa pun, bisa menangkap raut sedih dan tak nyaman di wajahnya. Ia jadi merasa iba. Ingin rasanya ia bangkit dan membawa Nisa ke belakang rumah untuk menenangkannya, namun ia sadar itu hanya akan membuat orang tuanya semakin membenci Nisa.
"Selamat malam. Ma'af kami terlambat," ucap Dian yang baru datang bersama suami dan adik Fara.
Semua orang pun bangkit dan menyambut kedatangan Dian beserta keluarga.
"Tidak apa-apa jeng Dian, kami juga baru mengobrol sebentar," ujar Sinta sambil.
Dian mengalihkan pandangannya pada sang putri. "Sayang, apa kabar nak?" tanyanya sambil memeluk Fara.
"Aku jauh lebih baik Ma," jawab Fara sambil membalas pelukan sang Mama.
Dian melerai pelukannya dan beralih menyapa Haris yang berdiri di samping Nisa. Nisa memberanikan diri menatap Dian dengan tersenyum, namun Dian hanya acuh dan melewatinya begitu saja.
"Sabar," bisik Haris pada Nisa.
Nisa menoleh pada Haris dengan berusaha tersenyum.
"Kamu kelihatan lebih bugar kak," ucap Ayunita-adik Fara.
"Aku jauh lebih sehat sekarang," jawab Fara singkat.
Perempuan yang akrab di sapa Yunita itu pun memeluk sang Kakak satu-satunya itu. "Kita lihat! Sampai kapan kamu menjadi istrinya Mas Haris Kak Fara," bisiknya tepat di telinga Fara.
Fara segera melerai pelukannya dan beralih menatap semua orang. "Karena semua sudah datang, lebih baik kita mulai saja makan malamnya," ucapnya.
Semua orang mengangguk setuju. Satu persatu dari mereka berjalan menuju meja makan. Nisa menghampiri Fara dan mendorong kursi roda wanita tersebut mendekati meja makan.
Sebelum sampai di meja makan, Fara menyuruh Nisa untuk menghentikkan langkahnya terlebih dulu.
"Kenapa mbak?" tanya Nisa pada Fara.
"Kamu harus berhati-hati pada adikku," ucap Fara dengan sangat pelan.
Nisa merasa bingung. Ketika ia ingin bertanya lebih jelas lagi, suara Haris telah memanggil mereka berdua untuk segera ke meja makan.
Nisa memposisikan kursi roda Fara tepat di samping kursi Haris.
"Terima kasih Nisa," ucap Fara pada Nisa.
Nisa hanya membalas dengan tersenyum.
"Kamu duduk disini," pinta Haris pada Nisa sambil menepuk kursi kosong di samping nya lagi.
"Tidak perlu," potong Sinta dengan cepat.
"Dia tidak pantas ada disini. Dia tidak lebih dari seorang pelayan," ucapnya lagi.
Rahang Haris mengeras, jelas kata-kata yang keluar dari mulut ibunya adalah sebuah penghinaan.
"Dia istriku juga Ma," sanggah Haris.
"Istri macam apa," sinis Sinta.
"Tidak apa-apa Mas. Saya ke belakang saja," ucap Nisa merasa tak enak hati.
Ia pun hendak melangkah pergi, namun Haris dengan cepat memegang lengannya.
"Duduk di samping saya," ucapnya.
Nisa tak bisa lagi menolak. Ia melangkahkan kakinya dan duduk di samping Haris.
"Silahkan dinikmati makan malamnya," ujar Haris pada semua orang.
Semua orang pun menyantap makanannya dengan khidmat. Mereka cukup menyukai sajian yang di hidangkan. Bahkan ada yang sampai beberapa kali menambah makananan lagi.
"Rasanya cocok di beri bintang 5. Apa kamu yang masak sayang?" tanya Sinta pada Fara dengan bangga.
Belum sempat Fara menjawab, Yunita dengan cepat menyela. "Kak Fara mana bisa masak seenak ini Tante. Dari dulu Kak Fara itu gak bisa masak. Tanya saja sama Mas Haris," ucapnya dengan enteng.
"Lalu, kalian beli dimana?" tanya Sinta lagi.
"Nisa yang memasak semuanya Ma," jawab Haris dengan tersenyum bangga pada Nisa.
Uhuk-uhuk
Ucapan Haris sontak membuat Dian dan Yunita yang tengah makan langsung tersedak.
"Pantas saja rasanya tidak enak. Ternyata dia yang masak," gerutu Yunita.
"Benarkah tidak enak? Aku lihat kamu sudah menghabiskan beberapa posri makanan Yun," ledek Fara sang Adik.
"A-aku hanya lapar," kilah Yunita sambil memalingkan wajahnya.
"Saya tidak berselera lagi. Saya duluan," ujar Dian sambil beranjak dari meja makan, meninggalkan makanannya yang masih tersisa.
Tak hanya itu, semua orang pun mulai beranjak dari duduknya dan meninggalkan meja makan. Padahal makan malam masih belum selesai.
Nisa hanya bisa tertunduk lesu. "Semuanya gara-gara saya," sesalnya.
Fara menolehkan pandangannya pada Nisa. "Tidak apa-apa Nisa. Mereka saja yang terlalu gengsi untuk mengakui kelezatan masakanmu. Menurutku ini sangat enak, benarkan Mas?" tanyanya meminta pendapat sang suami.
"Betul sekali, ini sangat enak. Kamu gak perlu dengarkan perkataan mereka ya. Lanjutkan saja makannya," ucap Haris sambil mengelus pelan tangan Nisa.
Fara yang melihat pemandangan itu pun merasakan sedikit gelenyar aneh di hatinya.
Jangan cemburu Fara. Dia juga istri suamimu. Batinnya.
Setelah makan ketiganya selesai, Nisa gegas membereskan bekas dan sisa-sisa makanan yang masih terdapat di meja. Ia membawa beberapa piring dan gelas kotor ke arah wastafel. Haris yang melihat itu pun, dengan cekatan membantu Nisa.
"Tidak usah Mas, biar saya saja," ucap Nisa tak enak karena disana masih ada Fara.
"Tidak apa-apa. Saya hanya akan mengantarkan sampai wastafel," ucap Haris dengan santai.
"Mbak, ajaklah Mas Haris untuk menemui keluarga yang lain. Tidak enak jika kalian terus disini," pinta Nisa pada Fara.
Fara terdiam sebentar, dan akhirnya mengangguk. "Baiklah. Mas, ayo kita temui yang lain," ajak Fara pada sang Suami.
Haris tak menjawab dan malah bertanya pada Nisa. "Memang kamu tidak keberatan membersihkan ini semua sendirian?"
Nisa menggelengkan kepalanya. "Tidak Mas. Mas pergi lah bersama mbak Fara. Saya bisa lakukan ini sendiri."
Haris membuang nafas kasar. "Baiklah kalau begitu."
Ia pun mendorong kursi roda Fara menuju ruang keluarga tempat semua orang kini berkumpul.
***
Nisa dengan telaten membereskan meja makan hingga bersih kembali seperti semula. Ia pun telah mencuci alat makan dan menyimpan kembali pada tempatnya.
Sejak sebelum menikah dengan Haris, tugas dia di rumah ini hanya merawat dan menemani Fara. Sedangkan untuk urusan merawat rumah dan memasak, Fara telah mempekerjakan satu ART khusus. Namun telah satu bulan ini sang ART pulang kampung dan belum kembali.
"Wanita malang," ucap Yunita yang tiba-tiba datang sambil tersenyum mengejek pada Nisa.
"Kamu seorang istri. Tapi persis sekali layaknya seorang pembantu. Mengurus apapun sendiri, padahal suami mu adalah seorang bos besar," ucapnya sambil memdekat ke arah Nisa.
Sedangkan Nisa hanya diam tak menyahut apapun.
"Aku ingin menyaksikan bagaimana penderitaanmu menjadi istri yang tak di inginkan di rumah ini," ucapnya tepat di telinga Nisa.
"Kakak ku begitu bodoh. Bisa-bisanya dia meminta suaminya menikah lagi dengan wanita sepertimu. Jelas Mas Haris dan keluarganya akan sangat malu, jika orang luar tahu seorang wanita yang tak jelas bibit bebet dan bobotnya menjadi bagian dari keluarga Wiyatama."
"Kamu harus ingat ini baik-baik! Kamu tak pantas menjadi istrinya Mas Haris! Jadi sebelum kamu menyesal, lebih baik kamu menyerah dan tinggalkan Mas Haris," ucapnya penuh penekanan.
"Kamu tak punya hak untuk mengatur rumah tanggaku," ucap Nisa sambil menatap Yunita dengan berani.
Yunita tersenyum miring. "Ternyata kamu punya nyali juga. Jangan coba-coba untuk berani padaku gadis kampung. Jika aku mau, aku bisa saja mengirimmu ke neraka," ucapnya.
Lalu wanita itu pun berlalu meninggalkan Nisa yang tengah mematung seorang diri.
Jika kehadiranku tak diharapkan? Apa aku harus tetap bertahan Yaa Allah? . Batinnya sendu.
"Nisa, apa semuanya sudah selesai?" tanya Haris tiba-tiba yang membuyarkan lamunan Nisa.
"Eh sudah Mas," jawab Nisa.
Gegas ia mengahampiri Haris. "Mas Haris butuh sesuatu?" tanyanya.
"Tidak. Saya hanya memeriksa kamu saja karena kamu belum juga bergabung bersama kami," jawab Haris.
"Tunggu. Sepertinya kamu habis menangis," terka Haris.
Nisa buru-buru memalingkan wajahnya. "Saya tidak menangis. Tadi hanya kelilipan saja," kilahnya.
"Kamu tidak pandai berbohong Nisa," sanggah Haris.
Jelas ia tahu bahwa sang istri baru saja menangis.
"Ada apa? Bilang saja pada saya," ucap Haris sambil menangkup wajah Nisa.
Nisa menggelengkan kepalanya. "Tidak ada apa-apa Mas," ucapnya dengan berusaha tersenyum.
"Jika ada apa-apa, katakan pada saya. Saya tidak mau kamu menyimpan beban sendirian," ujar Haris lagi.
Tanpa mereka sadari, Yunita sejak tadi mengintip di balik dinding dapur. Wanita itu mengepalkan tangannya kuat-kuat dengan nafas yang memburu.
Tunggu saja! Mudah bagiku untuk menyingkirkanmu wanita kampung! Mas Haris hanya untukku!. Batin Yunita geram.