bc

ISTRI DI ATAS KERTAS

book_age18+
1.7K
IKUTI
11.2K
BACA
opposites attract
heir/heiress
like
intro-logo
Uraian

Semua orang pasti memiliki sebuah pernikahan impian. Tak terkecuali dengan seorang gadis muslimah bernama Annisa Nadira.Dia tak menyangka niatnya yang datang ke Jakarta untuk bekerja, malah berujung menjadi istri kedua.Melakukan pernikahan secara terpaksa, tanpa rasa cinta.Akankah dia bahagia?

***

Jangan lupa untuk follow ig

@deshika_widya1612

@author_deshikawidya

Agar tidak ketinggalan berbagai info menarik seputar karya author❤

chap-preview
Pratinjau gratis
PERMINTAAN SANG MAJIKAN
"Aku mohon menikahlah dengan suamiku Nisa." Annisa Nadira. Gadis muslimah berparas cantik itu terus terngiang-ngiang akan ucapan sang majikan-Faranisa Maharani. Ia sungguh bingung, pikiran nya kacau. Dia tak mau menjadi istri kedua dari suami majikannya. Apa lagi, ia sama sekali tak mencintai lelaki berumur 30 tahun itu. Lagi pula bagaimana dengan pandangan masyarakat jika ia menjadi istri kedua? "Nisa harus bagaimana Yaa Allah," lirihnya sambil meneteskan air mata. Tok tok tok "Nisa, boleh aku masuk?" tanya Fara dari balik pintu. Gegas Nisa menghapus air matanya dan berjalan menuju pintu. Ia pun membukakan pintu tersebut dan mendorong kursi roda sang majikan masuk ke dalam kamarnya. Ya, Fara telah lama lumpuh. Memang wanita yang malang, setelah kedua rahimnya diangkat karena terkena kanker hingga menyebabkan ia tak bisa memiliki buah hati, kakinya pun lumpuh total akibat kecelakaan tragis yang ia alami beberapa tahun silam. Dan nahasnya, dokter menvonis dia takkan pernah bisa berjalan lagi. Sungguh Fara yang malang. "Apa kamu sudah mempunyai jawaban atas pertanyaanku Nisa?" tanya Fara saat telah berada di kamar Nisa. "Aku benar-benar tidak mau menikah dengan Pak Haris mbak," jawabnya tertunduk dengan air mata yang kembali tumpah. "Kenapa Nisa?" tanya Fara dengan kecewa. Dia sungguh berharap gadis di hadapannya ini mau menerima permintaannya. "Aku tidak mau menyakiti hatimu. Kita sama-sama perempuan mbak. Aku tau bagaimana yang akan mbak rasakan jika aku menikah dengan Pak Haris, dan aku juga yakin mbak tau bagaimana perasaanku ketika aku harus menikah dengan lelaki yang sudah beristri," jawab Nisa di tengah isakannya. Fara menatap Nisa yang tak berhenti menangis dengan sendu. Fara menyuruh Nisa yang tengah duduk di tepian ranjang untuk mendekat padanya. Gegas Fara memeluk gadis berjilbab cokelat itu dengan erat. Meskipun Nisa hanya bekerja untuk merawat dirinya, tapi Fara telah menganggap Nisa seperti adiknya sendiri. "Maafkan aku jika aku egois Nisa," lirih Fara dengan meneteskan air mata. "Aku takut jika waktunya tiba Allah mengambil nyawaku, Mas Haris tak akan mau menikah lagi. Kamu pun tau Nisa bahwa akibat operasi kepala beberapa tahun silam, sampai sekarang kepalaku masih sering merasakan sakit. Bahkan kamu pun juga tau bahwa tubuhku mudah sekali untuk tumbang." "Mas Haris memang mencintaiku. Tapi dia juga perlu melanjutkan hidupnya Nisa. Dia juga butuh istri yang bisa melayani nya, menyiapkan semua kebutuhan nya, bahkan dia berhak untuk memiliki keturunan dari darah daging nya sendiri." "Kamu adalah perempuan yang baik Nisa. Sungguh, aku tak akan meminta suamiku menikah lagi jika perempuan itu bukan kamu. Aku percaya padamu Nisa. Tak akan sulit bagi Mas Haris untuk mencintai perempuan shalihah seperti mu," ucap Fara panjang lebar yang tergugu dalam tangis. Nisa tak tega melihat Sang Majikan tergugu dalam tangisan yang menyayat hati. Ia rengkuh tubuh lemah Fara kedalam pelukannya. Haruskah ia berkorban? Sungguh kini Nisa merasa dilema. *** Sedangkan di belahan dunia lain, di sebuah pedesaan yang jauh dari kota. Seorang pemuda tengah terduduk melamun di bawah pohon rindang. "Kamu dimana Nisa? Apa kamu masih ingat dengan saya?" gumamnya sambil menatap langit. Dia Imam, lelaki shaleh di kampung tempat tinggal Annisa Nadira. Imam juga telah lama menyimpan perasaan pada gadis perparas ayu itu. Namun selama ini Nisa belum ada niat untuk menikah karena ia harus bekerja dengan keras untuk melunasi hutang hutang mendiang bapaknya. Bapaknya telah meninggal karena jantung koroner, dan meninggalkan hutang yang besar hingga Nisa harus kerja banting tulang untuk melunasinya. Sedangkan sang Ibu telah pergi meninggalkan nya sewaktu kecil. Entah dimana keberadaan nya sekarang. "Imam," sapa kang Fendi yang menepuk pundaknya. Imam tersadar dari lamunan nya "Eh kenapa kang?" tanya nya. Kang Fendi mengambil duduk di samping Imam. "Kenapa kamu melamun disini? Apa kamu sedang memikirkan Neng Nisa?" tebak Kang Fendi. "Iya kang. Sudah 1 tahun sejak Neng Nisa berangkat ke kota untuk kerja, tapi dia belum pernah kembali lagi kesini. Para tetangga bilang hutang hutang nya yang disini sudah lunas semua," jawab Imam. "Masa begitu? Bukanya hutang nya besar ya? Saya rasa dalam waktu satu tahun sudah lunas itu sangat mustahil. Kecuali kalau Neng Nisa gaji nya besar di kota," sahut Kang Fendi. "Entahlah Kang. Saya juga sebenarnya bingung. Tapi saya tidak mau suudzon. Semoga saja Neng Nisa disana baik baik saja dan dapat pekerjaan yang halal," harap Imam. "Apa kamu tidak mau menyusul ke kota saja?" tanya kang Fendi. Sontak Imam menolehkan pandangan nya pada pria di sisinya itu."Saya tidak tahu dimana alamat Neng Nisa berada kang. Saya juga tidak pernah pergi ke Kota." "Kamu kan bisa mengajar disana sama seperti kamu mengajar disini Imam. Kamu bisa mengajarkan ngaji. Kalau tidak kamu bisa mengajar ngaji dengan cara privat dari rumah ke rumah. Di kota peluang kamu banyak Imam." "Sembari kamu berikhtiar mencari Neng Nisa. Sembari kamu pun mengumpulkan modal disana. Semoga saja Allah mempertemukan kalian disana saat waktu yang tepat," ucap Kang Fendi memberikan semangat pada Imam. *** "Sayang aku gak bisa menikahinya," tolak Haris pada sang Istri. "Kamu selalu bilang bahwa kamu akan melakukan apapun untukku kan Mas? Maka lakukanlah ini untukku. Dia gadis yang baik. Aku hanya percaya padanya Mas," bujuk Fara sang suami. Haris berjalan mendekat dan berjongkok di depan istrinya yang tengah terduduk di kursi roda. Dia genggam tangan sang istri yang kian hari kian mengurus. "Permintaanmu ini sangat konyol Fara. Aku tidak mungkin menyakitimu. Pun dengan aku menikahi Nisa, sama saja aku menyakitinya karena aku tak akan bisa membagi cintaku Fara," ucapnya. "Aku yakin kelak kamu pun akan mencintai dia Mas. Aku yakin dia bisa memberikan kebahagiaan untuk keluarga kita. Aku yakin itu," ucap Fara dengan yakin. *** Sedangkan di dalam kamarnya, Nisa tengah menangis di atas Sajadah. Dia belum beranjak selepas menunaikan Shalat Isya. Ia menumpahkan segalanya pada Sang Pemilik Alam Semesta. "Yaa Allah aku tak pernah berpikir akan mendapatkan jalan hidup seperti ini. Aku tak ingin menyakiti siapapun Yaa Allah. Aku memang berhutang budi karena Mbak Fara dan Pak Haris telah melunasi hutang Almarhum Bapak dan memberiku pekerjaan serta tempat tinggal disini. Tapi haruskah aku membayar dengan menikahi suaminya Yaa Allah? Ini terlalu berat untuk seorang hamba yang lemah sepertiku," lirihnya dengan wajah yang dibanjiri air mata. Drrt Drrtt Drrtt Nisa melirik ponsel nya yang bergetar. Dia lekas berdiri dan merapikan kembali alat shalatnya. Setelahnya gegas dia mengambil benda pipih tersebut. "Pak Haris," gumamnya. "Assalamu'alaikum Pak," ucap nya saat telah menjawab panggilan tersebut. "Wa'alaikumsalam. Nisa cepat kamu kedepan. Fara pingsan!"

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.6K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.9K
bc

TERNODA

read
198.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
62.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook