Nisa berlari dari paviliun yang di tempatinya menuju rumah utama. Dia tak memedulikan apapun lagi setelah Haris memberitahunya bahwa Fara tak sadarkan diri.
Saat tiba di depan kamar Fara, dia melihat Haris yang tengah menangis sambil memeluk sang Istri.
"Mbak Fara," ucapnya sambil memasuki kamar tersebut.
Sontak Haris menolehkan pandangannya pada Nisa. "Nisa saya akan bawa Fara ke rumah sakit. Tolong kamu kemasi barang-barang yang akan di perlukan istri saya," pintanya pada Nisa.
"Baik Pak," ucap Nisa sedikit menunduk.
Selama bekerja disini, Nisa hanya dekat dengan Fara. Dia tak pernah banyak berinteraksi dengan Haris. Ia selalu berusaha menjaga marwahnya sebagai perempuan agar tak terlalu dekat lelaki yang bukan mahram.
Haris pun mengangkat sang Istri dan membopongnya keluar kamar. Dia akan membawa Fara ke rumah sakit terlebih dulu. Sedangkan Nisa gegas menyiapkan barang yang sekiranya akan di butuhkan Sang Majikan termasuk surat surat penting dan laporan kesehatan milik wanita tersebut.
Saat dia tengah mengumpulkan berkas berkas, sebuah amplop jatuh dari balik map yang berisi laporan kesehatan Fara. Gegas Nisa memungutnya.
"Laporan Kesehatan dari Rumah Sakit Medika," gumamnya.
Alis Nisa mengernyit heran. "Perasaan setiap aku antar mbak Fara check up, dia gak pernah kasih amplop ini untuk aku simpan."
"Apa aku buka aja ya," gumamnya.
Karena terlalu penasaran, Nisa pun membuka amplop tersebut. Dan betapa terkejutnya dia ketika mengetahui isi surat keterangan kesehatan tersebut.
"Mbak Fara mengidap tumor otak," ucap Nisa sambil membekap mulutnya tak percaya.
"Yaa Allah malang sekali nasibmu Mbak. Padalah kamu adalah orang yang sangat baik," lirihnya
***
Sedangkan di ruang tunggu Haris tengah terduduk lesu di kursi tunggu depan ICU. Nampak juga orang tua dan mertua nya telah datang disana.
"Bisa kita bicara berdua Pak Haris," ucap seorang dokter yang baru saja keluar dari ruangan ICU.
"Bisa dokter."
Haris pun melangkah menjauh dari sana untuk menuju ruangan sang dokter.
"Silahkan duduk Pak Haris," ucap sang dokter saat mereka telah sampai di ruangan.
Haris pun duduk pada kursi yang berhadapan dengan dokter.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan istri saya dok?" tanya Haris to the point.
Sang dokter menghela nafas panjang sebelum menjawab. "Maaf Pak Haris saya harus mengatakan kenyataan pahit ini. Bu Fara telah lama mengidap tumor otak."
Degh
Hati Haris bak ditusuk beribu pisau tajam. Tubuhnya membeku. Tumor Otak? Selama ini yang dia tau istrinya hanya tak bisa berjalan saja.
" D-dokter berbicara sungguhan?" tanya Haris dengan bibir dan tangan yang gemetar.
"Sebenarnya tumor otak ini sudah menyerang bu Fara sejak setahun lalu pak. Tapi beliau melarang saya untuk memberitahu siapapun, termasuk pak Haris sendiri. Saya minta Maaf atas itu," sesal sang dokter.
Haris hanya diam dengan pandangan menunduk.
"Sekarang Bu Fara tengah kritis Pak. Tumor otak yang menyerang beliau sudah semakin parah. Jika bapak menyetujui, kami akan mengangkat tumor yang ada di kepala Bu Fara."
Kepala Haris mendongak menatap sang dokter. "Lakukan apapun agar istri saya sembuh dok," jawabnya dengan cepat.
"Tapi risikonya sangat besar Pak. Mengingat Bu Fara pernah melakukan operasi di kepala pada sebelumnya. Kemungkinan keberhasilan operasi kali ini sangat kecil."
***
"Bagaimana keadaan mbak Fara bu?" tanya Nisa pada Ibu Fara yang tengah duduk di kursi tunggu bersama yang lainnya.
"Fara masih di tangani di dalam Nisa," ucap Dian-Ibu Fara sambil terisak.
Nisa mengambil duduk di kursi kosong samping Dian. "Kita harus sabar bu. Saya yakin mbak Fara adalah wanita yang kuat," ucap nya sambil mengelus pundak Dian.
Dari arah koridor Rumah Sakit mereka melihat Haris yang berjalan dengan ngontai dan mata yang sembab. Seolah tak ada lagi semangat dalam diri lelaki tersebut.
"Pak Haris ada yang ingin saya tunjukkan pada bapak," ucap Nisa pada Haris saat lelaki itu telah duduk di sebrang nya.
Nisa gegas mengeluarkan amplop putih berlogo rumah sakit itu dan memberikan nya pada Haris.
"Saya menemukan ini saat sedang mencari berkas laporan check up mbak Fara," ucapnya.
Haris pun membuka amplop tersebut dan membaca seluruh isinya. Raut wajahnya nampak biasa saja tanpa keterkejutan.
"Saya sudah tau soal ini. Dokter telah menjelaskan pada saya tadi," ucapnya.
"Memang itu surat apa Haris? Dan dokter bilang apa?" tanya Dian pada sang menantu.
"Fara mengidap tumor otak stadium 3 Ma," lirihnya.
Tangis semua orang pecah seketika. Semua orang menagisi kemalangan yang menimpa Fara.
"Lakukan operasi tumor untuk putriku Haris," pinta Julio-papa Fara.
"Dokter bilang kemungkinan keberhasilan nya sangat kecil jika kita melakukan operasi Pa," Lirih Haris.
***
Beberapa jam telah berlalu. Kini Fara pun telah sadarkan diri meski kondisinya masih lemah. Ia melihat orang tua dan mertuanya hadir disana. Tiba tiba saja ia terpikir untuk membicaran satu hal penting pada semua saat ini.
"Aku ingin bicara pada kalian semua," ucapnya dengan lemah.
"Kamu ingin berbicara apa sayang?" tanya Dian sambil mengelus lembut kepala sang putri.
"Aku ingin Mas Haris menikahi Nisa."
Degh
Semua orang terkejut mendengar penuturan Fara. Begitupun dengan Nisa dan Haris. Mereka tak menyangka Fara akan mengatakan keinginannya ini pada keluarga mereka.
"Kamu bicara apa Nak? Jangan melantur," tegur sang Mama.
"Aku serius Ma. Aku sudah lama meminta mereka berdua untuk menikah. Tapi mereka selalu menolak," ucap Fara lemah.
"Jelas kami pun akan menolak semua ini Fara! Sampai kapanpun menantu mama hanya kamu!" Sanggah Sinta-Mama Haris dengan cepat.
Fara menggelengkan kepalanya lemah. Matanya beralih melihat semua orang yang ada di sekeliling nya. "Kalian menyayangiku, kan? Jika iya, maka kabulkanlah permintaan terakhirku ini," ucapnya.
Haris segera mendekati sang istri dan memeluknya dengan erat. "Kamu jangan bicara seperti itu sayang. Aku yakin kamu bisa bertahan. Kamu akan sembuh Fara," lirih Haris sambil mengecup kening sang istri yang tengah terbaring lemah.
Lihatlah bagaimana Pak Haris mencintai mbak Fara. Jika aku menjadi istri keduanya, aku pasti tak akan kuat jika harus menyaksikan itu setiap hari.batin Nisa.
"Nisa."
Fara memanggil Nisa dan mengisyaratkan gadis itu untuk mendekat. Setelah Nisa berada di dekatnya gegas ia mengambil tangan kanan Nisa.
"Aku mohon lakukan permintaanku ya," ucapnya.
Nisa langsung melirik pada Haris yang berdiri di samping bangkar. Namun Haris malah memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Mbak pernikahan ini akan menjadi berat karena aku dan Pak Haris sama sama tak mengiginkannya," ucap Nisa pada Fara.
Fara mengalihkan pandangannya pada Haris. "Mas, kamu tahu kan banyak wanita di luaran sana yang ingin mengambil posisiku? Aku takut suatu saat jika aku pergi kamu akan jatuh ke pelukan wanita yang salah."
Haris menggelengkan kepalanya cepat. "Jika pun kamu benar-benar pergi, aku tidak akan menikah lagi sayang. Istriku hanya kamu."
"Aku tidak ingin kamu seperti itu Mas. Aku ingin kamu mendapatkan penggantiku yang tepat. Dan Nisa adalah orang nya."