Pagi telah menyapa. Nisa telah berkutat dengan kegiatannya di dapur. Dia sengaja pagi-pagi sekali pergi ke dapur dapur dengan alasan akan membantu Bi Darsih. Padahal perempuan itu hanya ingin menghindari Haris.
Sejak dini hari tadi pun, Nisa bangun dan shalat tahajud seorang diri. Dia sengaja tak mengusik tidur suaminya. Pun entah kenapa Haris yang biasa ikut terbangun, pagi tadi terlelap begitu nyenyak.
Suaminya terbangun ketika mendengar adzan subuh. Itu pun Nisa segera mendirikan shalat seorang diri, tanpa menunggu Haris mengimami. Sungguh bukannya Nisa tak ingin mendapat pahala shalat yang banyak. Namun saat ini dia masih merasa begitu canggung dan gugup saat berdekatan dengan suaminya.
"Kamu sedang membuat apa?"
Nisa terperanjat. Dia menolehkan kepalanya ke samping. "Huh Mas Haris selalu buat kaget saja," ucapnya agak kesal pada Haris yang tiba-tiba telah berdiri di sampingnya. Entah kapan lelaki itu memasuki dapur.
Haris tak mempedulikan kekesalan Nisa. Baginya dia tak mengangetkan sedikit pun. Mungkin istrinya saja yang sedang melamun.
"Kamu belum jawab pertanyaan saya Nisa," protes Haris.
"Pertanyaan yang mana?" tanya Nisa sambil terus fokus pada pekerjaannya.
Haris menghela nafas kasar. "Kamu sedang membuat apa?" tanyanya.
"Oh aku sedang membuat salad buah untuk dibawa ke kantor," jawab Nisa santai.
"Apa untuk saya?" tanya Haris dengan senyuman.
"Bukan. Ini untuk saya sendiri."
Seketika senyuman Haris pun luntur. Dia telah salah menduga.
"Tapi kalau Mas Haris mau, akan saya buatkan juga," lanjut Nisa.
Bibir Haris kembali tersenyum. "Baiklah. Buatkan juga untuk saya. Nanti akan saya makan ketika di kantor," pinta Haris.
Nisa hanya mengangguk lalu kembali meneruskan pekerjaannya. Memotong berbagai buah-buahan lalu mencampurkan dengan yogurt dan bahan-bahan pelengkap lain. Setelahnya Nisa memasukan ke dalam dua kotak bekal berukuran sedang, lalu menaruhnya di meja makan.
Haris melihat Nisa hanya melewatinya saja. Sejak tadi pun istrinya berbicara irit sekali. Bahkan sama sekali tak menatap ke arahnya. Haris jadi bingung sendiri. Apa dia telah melakukan kesalahan?
"Nisa," panggil Haris menghampiri Nisa yang tengah menata sarapan di meja.
"Iya Mas," sahut Nisa tanpa menoleh.
"Coba tatap saya," perintah Haris.
"M-memangnya kenapa Mas?" Nisa masih enggan menoleh. Dia masih berusaha untuk tak berkontak mata dengan Haris.
"Sepertinya sejak tadi kamu tidak ingin menatap saya," ucap Haris.
"Ah m-mungkin cuma perasaan Mas saja," kilah Nisa.
"Emh ... Mbak Fara apa tidak pulang pagi ini Mas?" Nisa mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Jangan merubah topik Nisa. Saya tahu kamu sedang menghindari saya, kan?"
Nisa mulai gelabakan. Sendok yang tengah ia rapihkan pun sampai terjatuh ke lantai. Dengan cepat ia mengambilnya dan berjalan ke arah cabinet untuk di ganti dengan yang baru. Haris tak kehabisan akal. Ia terus mengekori Nisa dari belakang.
Nisa tak menyadari jika Sang Suami mengikutinya sejak tadi. Perempuan itu dengan santainya membalikkan badan. Dan detik itu juga matanya bersitatap dengan Haris.
Nisa menahan nafas sejenak. Dia memejamkan kedua matanya untuk mengusir rasa gugup dan canggung yang semakin kentara.
Cup
Nisa langsung membulatkan matanya ketika merasakan ada benda kenyal yang menyentuh bibirnya.
"Mas Haris!" teriak Nisa.
Namun seketika tubuh Nisa lemas dan luruh begitu saja. Haris yang melihatnya pun manjadi panik.
"Kamu kenapa Nisa?" tanya Haris dengan cemas.
Namun Nisa enggan menjawab dan malah menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Hei kenapa? Katakan pada saya Nisa," pinta Haris.
Lelaki itu berusaha menurunkan tangan Nisa. Namun alisnya mengernyit saat merasakan tangan Sang Istri bergetar hebat.
"Nisa, apa kamu sedang sakit?" tanya Haris khawatir.
"Tangan kamu gemetar begini Nisa," ujar Haris panik.
"Ini semua gara-gara Mas Haris!" ucap Nisa tanpa menurunkan tangannya.
"Hah? Gara-gara saya? Memangnya saya kenapa?" tanya Haris bingung.
"Menjauhlah dulu Mas. Saya mohon biarkan saya menenangkan diri," pinta Nisa.
Haris semakin dibuat bingung. "Menenangkan diri? Memang kamu kenapa Nisa?"
"Tolong pergilah dulu Mas," pinta Nisa lagi.
Namun Haris tak menghiraukannya. Dia malah menarik tubuh Nisa yang bergetar. Di peluknya Sang Istri yang sepertinya sedang ketakutan. Lelaki itu mengusap punggung Nisa dengan lembut agar memberikan sedikit ketenangan.
Nisa yang merasakan dekapan dan sentuhan lembut Haris pun mulai tak menegang. Dia merasa jauh lebih baik. Nisa tak mengerti mengapa tubuhnya bereaksi seperti ini.
"Maaf Mas," cicitnya saat telah merasa lebih tenang.
"Maaf untuk apa?" tanya Haris.
"Maaf saya belum terbiasa. Saya tidak tahu kenapa tubuh saya bereaksi berlebihan seperti tadi," ucap Nisa pelan.
"Maksudnya? Saya tidak paham apa yang kamu katakan Nisa."
Nisa menggigit bibirnya dalam-dalam. Tak mungkin kan dia harus menjelaskan secara rinci pada Haris? Lagi pula suaminya ini harusnya bisa paham dengan sendirinya.
"S-sudah lupakan saja Mas. Mari kita sarapan," ajak Nisa.
Alis Haris mengernyit. Ia benar-benar bingung dengan sikap istrinya. Namun tiba-tiba sebuah dugaan muncul di pikirannya. 'Apa Nisa begini karena aku mengecup bibirnya tadi?' Pikir Haris.
***
Haris dan Nisa telah berada di kantor untuk melakukan pekerjaan masing-masing. Nisa berjalan di belakang Haris sambil tertunduk. Dia merasa tak nyaman ketika para karyawan lain menatap ke arahnya.
Sebenarnya sejak tadi Nisa akan masuk lewat belakang, tempat dimana terdapat pintu yang biasa di pakai keluar masuk karyawan pantry. Namun Haris dengan keras kepala tak menginzinkannya. Dan lihatlah sekarang ini! Gara-gaga kekeras kepalaan suaminya, Nisa menjadi objek pandangan semua karyawan.
"Selamat pagi Pak Haris," sapa seorang lelaki berpakai rapih dengan tag 'HRD' pada kemejanya.
"Selamat pagi. Oh ya, bagaimana dengan karyawan baru yang saya minta? Apa kamu sudah dapat?" tanya Haris pada HRD tersebut.
"Sudah Pak. Hari ini dia akan mulai bekerja. Kebetulan saya sudah menginterviewnya kemarin."
"Baguslah. Semoga kinerjanya bagus," ucap Haris.
HRD itu melirik ke arah Nisa. Dia cukup terpana denga kencatikan perempuan yang tengah memakai pashmina hitam ini. Parasnya yang cantik alami menjadi daya tarik sendiri.
Haris menatap tak suka saat bawahannya ini malah memandangi istrinya yang tengah menunduk. Dia mendengus sebal. Bisa-bisanya staff nya ini kurang ajar.
"Ekhem." Haris berdehem keras.
HRD itu pun tersadar dan kembali menoleh pada Haris. Ia agak meringis takut-takut Sang Bos menyadari jika dia tak fokus dan malah memandangi objek indah di depannya ini.
"Kembali pada pekerjaanmu," perintah Haris dengan nada dingin.
Setelah HRD itu berlalu, Haris membalikkan badannya. Ia menatap Nisa yang masih tertunduk.
"Jangan menunduk seperti itu," ucap Haris pelan.
Nisa pun mendongak mentap Sang Suami yang lebih tinggi darinya.
"Nanti akan ada karyawan baru yang akan bergabung menjadi office Boy."
"Lalu?" tanya Nisa pelan.
"Kamu jangan terlalu dekat dengan dia," ucap Haris agak berbisik.
Alis Nisa mengernyit. "Kenapa?"
"Turuti saja apa yang saya katakan. Sekarang kamu boleh pergi."
Nisa pun hanya bisa mengangguk dan melangkahkan kaki menuju pantry.
"Jangan dekat-dekat? Memangnya aku suka berdekatan dengan laki-laki? Dasar Mas Haris," gerutu Nisa pelan.
***
"Selamat pagi semuanya. Saya minta perhatian semuanya sebentar," pinta Sang HRD pada Nisa dan teman-temannya yang lain.
Semua pun menoleh dan memusatkan padangan pada Sang HRD.
"Hari ini ada karyawan baru yang akan bergabung dengan kalian. Saya harap kalian bekerjasama dengan baik."
"Bergabunglah kemari," pinta Sang Manager pada seseorang yang berada di luar ruangan khusus staff kebersihan.Orang tersebut pun mengikuti perintah Sang HRD untuk masuk.
Nisa memusatkan pandanganya untuk melihat seperti apa orang yang akan bergabung dengannya. Apakah laki-laki yang seperti suaminya katakan tadi?
Degh
Mata Nisa membulat sempurna. Apakah dia tak salah lihat? Lelaki yang baru datang ini sangat ia kenali. Kenapa bisa dia ada disini?