Brukkkk
"Astagfirullah," ucap Nisa terperanjat.
Gegas ia berjongkok dan memunguti belanjaannya yang telah berserakan. Sedangkan orang yang menabraknya tercengang menatap Nisa tanpa berkedip. Ia seakan tak percaya Nisa benar-benar ada di depannya.
"Neng Nisa," panggilnya.
Nisa terdiam sejenak. Ia tak asing dengan panggilan dan suara tersebut. Setelah semua belanjaannya ia masukan kembali pada plastik, gegas ia berdiri.
Degh
Tubuh Nisa mematung. Matanya membulat sempurna ketika melihat siapa laki-laki di depannya.
"I-ni beneran kamu Neng?" tanya lelaki itu tak percaya.
"Kang Imam," gumam Nisa masih terkejut.
"Alhamdulillah saya teh akhirnya bisa ketemu sama kamu juga Neng. Saya sengaja ke Jakarta buat cari kamu sambil kerja. Alhamdulillah Allah kabulkan do'a-do'a saya," ucap Imam senang.
Ya, lelaki itu adalah Imam. Lelaki shaleh yang selalu mendambakan Annisa Nadira untuk menjadi istrinya kelak. Sudah beberapa bulan Imam tinggal dan bekerja di Ibu Kota. Dia tak bohong, niat awalnya memang untuk mencari Nisa. Dan Allah mengabulkan do'a Imam dengan mempertemukan mereka disini.
Nisa cepat-cepat menyadarkan dirinya. Dulu ia memang sempat mengagumi Imam. Namun kini, ia telah resmi menjadi istri Haris Ivander Wiyatama. Meskipun hanya status, ia tetap harus menjaga marwahnya sebagai seorang istri.
"M-maaf Kang, Nisa permisi," pamitnya dan langsung berjalan melewati Imam.
Imam terkejut dengan reaksi Nisa. Gegas ia mengejar wanita yang mengenakan hijab biru muda tersebut.
"Neng tunggu," panggil Imam yang tak di hiraukan Nisa.
Imam lebih mempercepat langkahnya hingga kini ia berada di depan Nisa. "Kamu kenapa Neng? Kenapa kamu menghindar dari saya?" Tanya Imam heran.
"M-maaf Nisa sedang buru-buru Kang," ujar Nisa.
Ia hendak mengambil langkah kembali namun Imam dengan cepat menghalanginya.
"Tunggu dulu Neng! Sebenarnya ada apa? Kenapa kamu menghindar dari saya? Apa saya punya salah sama kamu?" Tanya Imam memastikan.
"Kang Imam tidak punya salah apa-apa sama Nisa," jawab Nisa sambil tertunduk.
"Lalu kenapa kamu seperti menghindari saya Neng? Kenapa kamu juga tidak pulang-pulang ke kampung? Saya selama ini menunggu kamu Neng," cecar Imam pada Nisa.
Nisa semakin tertunduk. "Maaf Kang. Sepertinya Kang Imam jangan menunggu Nisa lagi," ujarnya.
"K-kenapa? Ada apa Neng?" Tanya Imam dengan d**a yang mulai sesak.
"Ma'af Kang. Nisa------"
Drtt Drrtt Drrtt
Ucapan Nisa harus terpotong saat ponselnya bergetar pertanda telpon masuk. Nisa menghembuskan nafas pelan lalu mengeluarkan ponsel itu dari tasnya. Terlihat nama Sang Suami sebagai pemanggil.
"Maaf Kang, Nisa harus angkat telpon," ujarnya pada Imam.
Nisa mundur agak jauh dari Imam sebelum menjawab panggilan dari Haris.
"Assalamu'alaikum Mas. Ada apa?" tanya Nisa pada Haris di seberang telpon.
"Kamu belanja di supermarket mana? Apa sudah selesai?" tanya Haris dari balik telpon.
"Saya belanja di supermarket jalan X Mas. Sudah selesai kok. Ini mau pulang," jawab Nisa.
"Tunggu saja disana. Saya akan jemput kamu. Saya sudah antarkan Fara ke rumah, sekarang saya menuju kesana. 5 menit lagi saya sampai."
"Emh.. Mas apa boleh telponnya jangan di matikan dulu?" tanya Nisa hati-hati.
"Kenapa?" tanya Haris keheranan.
"Emh....." Nisa tampak ragu untuk menjawab.
"Katakan saja Nisa. Ada apa? Apa ada orang jahat? Apa ada yang menganggu kamu?" tanya Haris dengan nada khawatir.
"T-tidak Mas. Saya hanya malas berbicara dengan seseorang saja," jawab Nisa.
"Seseorang? Siapa?" tanya Haris lagi.
"Saya ceritakan nanti ya," ujar Nisa.
Mereka pun terus berbicara lewat sambungan telpon. Nisa benar-benar tak ingin berbicara dengan Imam. Ia bisa saja mengakui bahwa ia telah menikah, namun ia ingat bahwa ia telah di peringatkan untuk merahasiakan statusnya sebagai istri Haris.
Sedangkan sedari tadi Imam terus berdiri menunggu Nisa dengan sabar. Ia masih setia menunggu Nisa selesai dengan telponnya. Namun hingga Nisa melangkah kembali ke arahnya, sebuah mobil mewah berhenti tak jauh dari sana.
"Maaf Kang. Nisa harus pergi. Sudah di jemput. Assalamu'alaikum," pamit Nisa.
"Wa'alaikumsalam"
"Neng!" Panggil Imam yang tak di hiraukan Nisa.
Nisa berjalan ke arah Mobil Haris dan segera duduk di samping kemudi.
"Cepat kita pulang Mas," pinta Nisa pada Haris dengan mata yang agak memerah.
Haris memandangi kepergian Nisa dengan sendu.
"Kenapa kamu jadi begini Neng? Padahal saya kesini demi kamu. Siapa sebenarnya yang jemput kamu?" Gumam Imam sendu.
***
Di dalam mobil, Haris kebingungan dengan sikap Nisa. Wanita itu tampak murung dan hanya diam menatap keluar jendela sejak tadi. Haris ingin bertanya, tapi sungkan. Tak bertanya pun, ia tetap penasaran. Terlebih, tadi Nisa berkata ia tengah bersama seseorang. Dan ketika ia sampai disana, ada seorang lelaki yang berdiri tak jauh dari Nisa.
"Nisa," panggilnya.
Nisa menolehkan pandangannya pada Haris. "Kenapa Mas?"
"Apa ada masalah?" Haris balik bertanya.
Nisa menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak ada Mas," jawabnya dengan sedikit tersenyum.
Haris menghembuskan nafas pelan. "Apa kamu kenal dengan lelaki yang tadi ada di sana?" tanya Haris tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan.
"Dia Kang Imam, berasal dari desa yang sama dengan saya. Saya tidak tahu bagaimana dia bisa sampai disini," jawab Nisa sambil memandang lurus ke depan.
"Apa gara-gara dia kamu jadi murung?" tanya Haris.
Nisa hanya terdiam. Dia enggan menjawab. Ia bingung harus dari mana memulainya.
Haris menatap Nisa sejenak lalu kembali fokus ke jalanan. "Tidak apa-apa jika kamu belum mau cerita," ucapnya.
Nisa mengalihkan pandangannya pada Haris. "Dia lelaki yang mencintaiku sejak dulu."
Ckiittttt
Haris mengerem mobilnya secara mendadak. Beruntung Nisa bisa menahan kepalanya agar tidak terbentur.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Haris merasa bersalah.
Ia mengecek kening dan wajah Nisa. Takut-takut Sang Istri terluka karena ulahnya.
"Maaf, saya terkejut tadi," ujar Haris pelan.
Nisa hanya diam. Entah dia harus melanjutkan ceritanya atau tidak, melihat respon Haris yang begitu terkejut seperti tadi.
"Kita singgah dulu di Caffe," putus Haris.
Lelaki itu kembali melajukan mobilnya menuju Caffe terdekat. Hanya memerlukan beberapa menit saja, mobil yang di kendarai Haris telah sampai di parkiran Caffe. Keduanya gegas turun dan memasuki Caffe tersebut.
"Kamu mau minum apa? Atau mau makan sekalian?" tanya Haris pada Nisa.
"Cappuchino dingin saja," jawab Nisa.
"Americano satu, Cappuchino dingin 1 ya mbak," pinta Haris pada Sang Waiters.
Waiters tersebut pun berlalu meninggalkan mereka berdua.
"Silahkan lanjutkan cerita kamu," perintah Haris.
Nisa menatap Haris lekat-lekat. "Apa Mas Haris tidak akan marah jika aku cerita?" tanya Nisa dengan hati-hati.
Haris tersenyum. "Tidak akan. Ceritalah," pintanya sambil mengelus punggung tangan Nisa yang ada di atas meja.
Nisa menarik nafas sejenak sebelum bercerita . "Kang Imam telah lama menaruh rasa pada saya. Sejak dulu dia selalu mengajak saya untuk menikah. Tapi saya selalu menolak. Saya belum siap karena saat itu saya harus bekerja keras untuk melunasi hutang-hutang almarhum bapak," ujar Nisa.
"Lalu apa kamu juga menaruh rasa pada dia?" tanya Haris penasaran.
"Saya memang sempat menaruh rasa pada Kang Imam. Tapi itu dulu," jelas Nisa.
"Lalu pada siapa sekarang kamu menaruh rasa?" tanya Haris lagi.
Nisa terdiam sejenak. "Saya rasa Mas Haris sudah tau jawabannya," jawabnya pelan.
Tanpa Nisa sadari, perlahan bibir Haris membentuk senyuman kecil. Sangat kecil hingga tak akan ada yang sadar bahwa lelaki tampan itu sedang tersenyum.
"Permisi pak,bu. Ini pesanannya," ucap waiters yang datang membawa pesanan mereka.
"Terima kasih," ucap Haris.
Sang waiters pun kembali berlalu. Namun suasana menjadi sedikit canggung.
"Minumlah dulu," pinta Haris pada Nisa.
Nisa meneguk minumannya sedikit. Begitupun dengan Haris.
"Mas apa mbak Fara tidak apa-apa di tinggal di rumah?" tanya Nisa yang teringat dengan Fara.
"Kamu tenang saja. Fara yang meminta saya untuk menjemput kamu," jawab Haris dengan santai.
Nisa tersenyum miris mendengar jawaban Haris. Semua yang Haris lakukan padanya selalu atas dasar permintaan Fara. Tak adakah perilakunya yang berasal dari nalurinya sendiri?
"Nisa, apa kamu ingin bersama dengan lelaki bernama Imam itu?" tanya Haris.
Nisa mengkerutkan dahinya pertanda tak suka. "Kenapa Mas Haris tanya begitu?"
"Saya hanya bertanya saja. Saya tahu, pernikahan ini berat untuk kamu Nisa. Saya tidak mau lebih egois lagi. Jika memang kamu mau bersama dengannya, saya akan melepaskan kamu untuk dia. Biar saya yang menjelaskan pada Fara."
Degh
Tatapan Nisa berubah jadi kosong menatap Haris. Apa yang ia dengar tadi? Suaminya sendiri rela melepaskannya untuk lelaki lain?
"Nisa," panggil Haris lagi saat melihat Nisa hanya diam dengan tatapan kosong.
Nisa beranjak dari duduknya. "Saya pulang naik taksi saja Mas. Saya duluan," pamitnya yang langsung berlalu dari hadapan Haris.
Haris yang kebingungan pun langsung berdiri untuk mengejar Nisa. Sebelum pergi, ia meletakan selembar uang merah di atas meja untuk membayar pesanannya.
"Nisa tunggu," pinta Haris sambil menahan lengan Nisa.
"Biarkan aku pulang sendiri Mas," pinta Nisa dengan tanpa menatap Haris.
"Apa saya ada salah bicara?" tanya Haris.
Hati Nisa teriris. Masih saja suaminya bertanya seakan dia tak mengerti apa pun. Entahlah suaminya ini tak ingin mengerti atau memang pura-pura tak mengerti.
"Tolong biarkan saya sendiri dulu Mas," pinta Nisa di sertai isakan yang mulai keluar dari mulutnya.
Haris kaget mendengar suara Nisa yang tengah menahan tangis. Ia beralih ke hadapan Nisa dan menangkup wajah sang istri dengan kedua tangannya.
"Kenapa menangis?" tanya Haris sambil mengusap lembuat air mata yang mengalir di pipi istrinya.
Nisa hanya diam sambil terisak. Ia tak dapat lagi mencegah air matanya untuk tidak jatuh. Haris menjadi iba, ia menarik Nisa dalam dekapannya.
"Maafkan saya jika saya menyakiti kamu," ucapnya pelan sambil terus mengelus lembut kepala Nisa yang terbalut hijab.
Sedangkan dari ujung sana. Berjarak beberapa ratus meter, Celine tak sengaja melihat kebersamaan Haris dan Nisa. Sejak tadi ia urung untuk meneruskan langkahnya sebab melihat Haris tengah mengejar Nisa.
Tangan wanita itu terkepal. Tatapannya menyiratkan kebencian. 'Kenapa Pak Haris bisa deket banget sama OG itu? Sampai pelukan segala lagi! Selama ini Pak Haris kan gak pernah mau sentuhan sama perempuan lain.' Batinnya kesal.