GADIS MENJENGKELKAN

1026 Kata
Arjuna menutup laptopnya, sepuluh hari terakhir Arjuna memang tidak aktif di kantor ia lebih sering menemani Ibunya di rumah, Arjuna memang sudah merasa kalau kemarin adalah saat-saat terakhir bersama Ibunya.           Setelah mendapat kabar dari sekretarisnya bahwa di kantor mengalami masalah yang serius. Arjuna sangat marah saat mendengar bahwa orang kepercayaanya berani menggelapkan uang perusahaan, bahkan banyak dari karyawan menjadi sasaran amarah Arjuna. Arjuna tidak habis pikir orang yang sangat ia percaya ternyata tega menghianatinya, apalagi akhir-akhir ini Arjuna tertimpa banyak masalah belum lagi soal rencana pembangunan pabrik tekstil yang terhenti karena tanah yang akan dijadikan pabrik sekarang ditanami oleh warga menjadi lahan pertanian. Tanah itu sebenarnya milik eyang dari Ibunya namun puluhan tahun tak terurus sehingga sekarang menjadi lahan pertanian warga.           Arjuna keluar dari ruang kerja menuju kamarnya. Ya, mungkin jenuh atau stres hari-harinya hanya berkutat dengan ponsel, laptop dan berkas laporan dari bawahanya. Padahal Arjuna sendiri juga menyadari berapapun uang yang ia dapatkan dari kerja kerasnya tidak bisa membuatnya bahagia. Padahal jika dia mau, Arjuna bisa keluar dari dunianya yang sekarang dan mencoba hal baru di luar bisa nongkrong dengan teman-temanya dulu atau keluar menghabiskan waktu dengan Reina.           Arjuna mulai gelisah batinya berkecamuk yang ia rasakan selama ini hanyalah rasa kecewa, sedih dan amarah. Hanya kepahitan yang ia alami. Mungkin itulah yang membuat Arjuna menjadi orang yang tidak berperasaan hatinya begitu beku, nyatanya Arjuna sendiri merindukan kebahagiaan namun sampai saat inipun ia belum menemukan apa yang bisa membuatnya bahagia.           Arjuna membuka laci di dekat tempat tidurnya, ia mengambil serbuk kristal lalu menghisapnya kemudian mengambil suntikan lalu menyuntikanya ke lengan, hanya itu yang bisa Arjuna lakukan ketika rasa gelisah itu datang dan itu bisa membuatnya sedikit tenang.   **********             “Permisi Pak, dimanakah saya harus melaporkan?” tanya Alika pada seoang polisi.            Polisi itu menunjuk meja yang bersebrangan dengan meja tugasnya.           “Di sana, sikahkan!”           “Terima kasih Pak,”           Alika berjalan menujumeja yang ditunjuk polisi tadi tapi langkah Alika terhenti, matanya tertuju pada dua orang yang sedang berdiri berbicara di pojok ruangan. Alika mengfokuskan matanya sekali lagi sebelum salah mengenali.           Dan ya, benar. Alka tidak salah mengenali yang ia lihat adalah pemuda sombong, angkuh dan kasar yang belakangan ini sering bertemu dengan Alika. Dan sekarang kembali bertemu lagi di kantor polisi, rasa  kepo Alika pun kambuh, Alika penasaran sedang apakah pemuda itu di sini dan kenapa cara dia berbicara sangat serius.           Arjuna melihat Alika dengan tatapan yang sangat dingin. Alika duduk di kursi untuk melaporkan kejadian motornya yang raib ketika akan berangkat kerja. Alika mencuri pandang melihat Arjuna yang sedang menelfon seseorang kemudian keluar dengan tergesa-gesa.           Alika menandatangani kertas-kertas itu lalu bersalaman dengan polisi kemudian menyusul Arjuna yang keluar. Terlihat Arjuna serius berbicara dengan seseorang. Alika berpikir keras rasa kepo pun muncul melihat Arjuna yang dipenuhi amarah berbicara dengan nada tinggi sambil menggebrak kap mobil, penampilanya dengan setelan kemeja, vest dan celana warna senada tapi  Arjuna terlihat kacau seperti orang depresi.            Arjuna kembali dipanggil seorang polisi untuk masuk ke dalam bersama pria yang diajak bicara di luar tadi. Alika bersembunyi di balik papan mencoba menguping tapi telinga Alika sama sekali tidak bisa mendengar apa yang sedang dibicarakan. Alika pun mengintip dari luar jendela, terlihat Arjuna menggebrak meja lalu ditenangkan oleh priayang Alika duga sebagai pengacaranya, dengan marah Arjuna keluar dari ruangan dan menghamiri Alika. Ternyata Arjuna mengetahui keberadaan Alika yang sedang mengintip di luar.           “Sedang apa kamu di sini?” tanya Arjuna dengan sinis pada Alika.           “Aku di sini ada urusan, sebaiknya kamu jangan gede rasa dulu deh!”           “Kamu fikir aku tidak tau kamu sedang mengintip dan menguping di sini hhaahh,” bentak Arjuna.           “Tuan Tuan, melihat prilaku burukmu kemarin dan sekarang pantas saja kamu berada di sini bergabung dengan napi-napi di balik jeruji besi sana,” balas Alika di selingi tertawa kecil.           Alika sama sekali tidak menyadari keberadaan singa berwujud manusia yang bisa saja menerkamnya, wajah Arjuna memerah tanganya mengepal kuat. Arjuna semakin dibuat jengkel oleh Alika, kesabanya sudah habis Arjuna mernarik tangan Alika dengan kasar lalu menekuknya ke belakang sehingga badan Alika berbalik memeutar membelakangi Arjuna.           “Auuhh lepaskan!” Alika merintih merasa kesakitan.           Arjuna mendekatkan kepalanya dekat sekali dengan kepala Alika, Arjuna berbisik pada Alika.           “Bahkan aku bisa lebih menyakitimu jika kamu berani denganku. Dengarkan aku baik-baik, jangan pernah campuri urusanku, ingat itu!” ancam Arjuna lalu melepaskan tangan Alika sambil mendorongnya, Alika hampir saja terjatuh untung di belakangnya ada tembok yang menahan tubuhnya.           Arjuna pergi, Alika hanya terdiam ia tidak habis pikir ada pria yang sekasar dan sekejam itu. Alika berpikir mungkin dari kecil keluaranya tidak pernah mengajari sopan santun. Alika memegangi pergelangan tanganya yang dicengkram Arjuna tadi, masih terasa sakitnya.           Alika hampir lupa seharusnya ia sudah ada di kantor, ada beberapa tugas yang harus ia selesaikan secepatnya mengingat penerbitan majalah tinggal tiga hari lagi. Alika menggerutu gara-gara pemuda ia sampai lupa dirinya harus datang ke kantor dengan cepat. Alika membuka ponselnya untuk mengorder ojek online, terpaksa karena motor maticnya yang baru saja ia beli raib dicuri padahal Alika hanya ke dalam sebentar untuk mengambil helm. Motor itu hasil jeri payah Alika merantau di kota ini. Ya, Alika memang pendatang di kota ini sebelumnya Alika adalah anak panti, dari kecil Alika sudah tinggal di panti asuhan, dirinya ditemukan ibu panti berada di depan pintu, itulah yang ia dengar dari ibu panti.   **********              Waktu sudah menunjukkan jam sembilan malam tapi Arjuna masih sibuk dengan beberapa berkas laporan dari bawahanya, ia dengan teliti memeriksa agar tidak terjadi kesalah seperti sebelumnya. Pak Min sudah pulang terlebih dahulu Arjuna masih berada di kantor denga dua satpam yang masih setia menunggu atasanya itu.            Arjuna membanting tumpukan berkas itu di meja lalu merebahkan punggungnya di sandaran kursi sambil mengusap wajahnya dengan kedua telapak tanganya, sekilas pikiranya terganggu tentang gadis menjengkelkan yang tidak sengaja ia temui akhir-akhir ini, ada rasa yang aneh ketika Arjuna berdekatan dengan gadis tadi apalagi ketika kepala mereka berdekatan tidak lebih dari lima centi, tapi ada rasa puas tersendiri bagi Arjuna ketika dia menyakiti gadis itu dengan mencengkeram pergelangan tanganya sambil membisikan ancaman di telinganya.            Arjuna bangun dari duduknya dan keluar dari ruangan, seorang satpam menyambut dengan ramah.            “Sudah selesai Pak Juna?”            Tanpa bersuara Arjuna membalas dengan anggukan kepala.            Arjuna keluar berjalan menuju mobil sedangakan kedua satpam itu masuk untuk memeriksa sekali lagi sebelum menggembok dan meninggalkan kantor.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN