Arjuna melajukan mobil dengan pelan, pikiranya terganggu masalah perusahaan belum lagi tentang Reina yang selalu saja mengganggunya dengan mengajukan pertanyaan tentang pernikahan, sedangkan ia sama sekali tidak tertarik dengan itu walaupun ia tau kalau mereka dijodohkan, Arjuna tidak memiliki perasaan apapun untuk Reina, Arjuna murni hanya menganggap Reina sebagai temanya namun sayang Reina terlanjur berharap tentang pernikahanya dengan Arjuna.
Ponsel Arjuna berbunyi panggilan dari Reina, Arjuna menepikan mobil dan berhenti.
“Ya, ada apa?” tanya Arjuna dingin.
“Besok Mama sama Papa pulang dari Australi, Juna kamu main ke rumah yaa besok kita bahas masalah pernikahan kita,” terang Reina semangat.
“Berapa kali aku harus menegaskan padamu.” Arjuna mulai meninggikan suaranya.
“Bukan aku yang meminta ini, tapi keluarga kita,”
“Baiklah baiklah!” potong Arjuna lalu menutup telfon.
Arjuna menghela nafas panjang, kehidupanya begitu carut marut dengan beragam masalah belum selesai satu datang lagi yang lain, ia merasa mulai kecanduan memakai barang haram tersebut untuk sedikit menenangkan dirinya agar tidak terlalu larut dalam masalah hidupnya.
Tokk! Tokk! Tokk!
Seseorang mengetuk kaca jendela mobil Arjuna dari luar, Arjuna membuka kaca jendela ia sangat terkejut kenapa gadis menjengkelkan itu lagi. Dengan nafas terengah-engah gadis itu berbicara.
“Tolong ada beberapa orang mengejarku,” masih tanpa menoleh gadis itu meminta tolong pada Arjuna.
“Kamu pikir aku percaya!”
Spontan Alika menoleh mendengar suara itu.
“Kamu?” Alika terkejut kenapa harus pemuda sombong itu yang ia mintai tolong.
“Gadis sepertimu memang pandai sekali mengelabuhi pria, pura-pura di kejar preman, pura-pura kecopetan agar mendapat tumpangan, selanjutnya kamu dekati pria itu lalu kamu rayu agar bisa mendapatkan uangnya,”
Alika melotot mendengar statement Arjuna.
“Ak....”
Belum Alika membalas, Arjuna sudah menutup kaca jendela mobil, menyalakan mobil dan melaju meninggalkan Alika.
“Tunggu!” teriak Alika.
Namun Arjuna sama sekali tidak menghiraukan dia tetap melajukan mobilnya.
Baru lima belas meter melaju perasaan Arjuna tidak enak, ia melihat kaca spion terlihat empat orang pria sedang mengejar gadis itu, Arjuna menghentikan mobil lalu mundur ke belakang dimana gadis itu sedang dihadang pria-pria tak dikenal itu. Arjuna turun dari mobil lalu menarik lengan Alika dan menyuruhnya masuk ke dalam mobil, Arjuna membuka pintu mobil dan meraih senjata api miliknya yang ia taruh dekat dengan kursi mobil.
“Heyy Bung! Gadis itu milik kami,” ucap salah satu pria kepada Arjuna.
“Siapa kau? Berani sekali,” timpal seorang pria lagi dengan angkuh.
“Arjuna Danendra,” jawab Arjuna sambil menodongkan pistol ke arah empat orang pria itu.
Salah seorang pria menggelengkan kepala pada temanya lalu mundur mengajak temanya untuk pergi meninggalkan Arjuna dan Alika yang berada di dalam mobil. Alika yang melihat kejadian itu nampak bingung, bagaimana bisa empat orang pria takut langsung pergi setelah mendengar nama pria yang beberapa hari bermasalah denganya, Alika penasaran sebenarnya siapakah pria ini.
Tanpa mengatakan apapun Arjuna masuk ke dalam mobil dan mulai melajukanya.
“Makasih kamu udah nolongin aku,” ucap Alika membuka keheningan.
Arjuna tidak bersuara sedikitpun membalas perkataan Alika.
“Hallo.. Kamu denger gak sih aku ngomong, kamu gak budek kan?” tanya Alika.
“Sebenarnya apa pekerjaanmu malam-malam di jalan sendirian, cari pelanggan?” tanya Arjuna membuat Alika terbelalak.
“OMG! Kamu tadi habis makan cabe berapa ton? Pedes amat mulutnya!” cerocos Alika.
“Kurasa kamu perlu pergi ke dokter spesialis mata, supaya kamu bisa melihat dengan benar, aku tidak memakai baju yang ketat dan seksi tapi kenapa kamu beranggapan aku sebagai wanita malam?”
“Lalu?”
Alika menghela nafas dalam-dalam.
“Percuma, mau gimanapun aku jelasin kamu gak bakalan percaya karena pandanganmu padaku sudah terlanjur buruk, yang terpenting aku selamat dari preman-preman itu dan itu berkat dirimu yang sudah menolongku, aku berhutang budi padamu” Alika merendah.
“Kalau begitu bayarlah!” balas Arjuna dingin fokus melihat ke depan.
“What? Bayar?”
“Kamu berhutang padaku,”
“Bagaimana caraku membayarnya?”
“Habiskan satu malam denganku,”
Spontan Alika menoleh pada Arjuna yang masih fokus menyetir.
“Apa kamu tidak berfikir sebelum berbicara? Bahkan sebelum kejadian inipun kamu sudah menyakitik.” Alika memperlihatkan pergelangan tanganya yang memerah setelah tadi siang di kantor polisi Arjuna dengan kasar mencengkramnya.
Arjuna sama sekali tidak mengalihkan pandanganya, ia hanya fokus melihat ke depan. Sikap dingin Arjuna membuat Alika sakit hati.
“Hentikan mobilnya! Biarkan aku turun di sini.”
Arjuna pun menghentikan mobilnya.
“Oke turunlah! Jalanan sangat sepi, jangan berharap ada yang menolongmu lagi ketika ada orang yang mengganggumu,”
Alika terdiam, tanganya berhenti tidak jadi membuka pintu mobil.
“Kenapa? Turunlah!”
Alika hanya diam, sambil tersenyum sombong Arjuna kembali menyalakan mobil dan melajukanya.
**********
Mobil sampai di depan rumah kontrakan kecil berukuran 5x8. Masih di dalam mobil.
“Rumahmu?”
“Iya,”
“Dengan siapa kamu tinggal? Orang tua?”
“Aku tinggal sendiri, orang tuaku meninggal. Terimaksih atas pertolonganmu tadi, aku tidak tau apa yang terjadi jika tadi tidak ada kamu,”
Arjuna tidak membalas ucapan Alika sedikitpun hanya mengangkat kedua alisnya.
“Aku tidak ingin berhutang budi padamu, jika bisa dengan apa aku harus membalasnya?”
Arjuna hanya diam jarinya mengetuk-ketuk setir mobil sambil memandang kedepan.
“Please, jangan menyuruhku melakukan hal yang tidak mungkin seperti tadi” ucap Alika lagi.
“Baiklah, kamu harus siap di saat aku membutuhkan bantuanmu!”
“Bantuan? Kupikir orang sombong sepertimu tidak membutuhkan bantuan siapapu,”
Arjuna menoleh pada Alika dengan tatapan mata yang tajam membuat Alika sedikit ketakutan.
“Maaf sebelumnya, kemarin kamu begitu kejam memperlakukan seorang bapak-bapak yang tidak berdaya dan tadi siang di kantor polisi pun kamu juga kasar padaku bahkan ketika di kantor polisi tadi kamu bersikap penuh amarah, aku tidak mengerti sebenarnya apa masalahmu yang membuatmu seperti itu, padahal sebenarnya kamu pria yang baik buktinya kamu mau menolongku. Oh ya satu lagi siapakah dirimu sebenarnya kenapa para pria itu langsung pergi ketika mendengar namamu?”
“Sudah?” tanya Arjuna menyudahi ucapan Alika.
Alika hanya mengangguk.
“Baiklah turunlah!”
“Kau tidak ingin menjawab?”
“Tidak ada yang perlu dijawab,”
Alika pun turun dari mobil dan kembali mengucapkan terimakasih pada Arjuna. Arjuna pergi meninggalkan Alika yang masih terpatung sendiri di depan rumah, Alika tidak habis pikir ia bisa bertemu dengan pria aneh seperti Arjuna, sombong, angkuh, kejam dan dingin. Alika masih ingat kejadian dimana Arjuna menolongnya, ia mengeluarkan pistol dan menodongkanya pada pria-pria tadi, dan ketika mereka mendengar nama Arjuna kenapa pria-pria itu langsung pergi, Alika benar-benar penasaran siapakah ‘Arjuna Danendra’.
“Aku harus tau siapa dia sebenarnya? Baiklah dia tidak mau menjawab pertanyaanku, aku akan mencari tau sendiri,” gumam Alika sambil masuk ke dalam rumah.