ADA RINDU

1113 Kata
       Jam istirahat sudah hampir habis tapi Alika belum juga kembali ke kantor, Arjuna memutuskan mencari Alika ke bawah. Sampai di bawah Arjuna bertanya pada beberapa karyawanya apakah mereka melihat Alika tapi semua karyawan yang di tanya Arjuna sama sekali tidak melihat Alika, Arjuna pun berjalan menuju pos satpam untuk bertanya sayangnya satpam juga tidak tau keberadaan Alika dan itu sangat membuat Arjuna kesal, Arjuna adalah tipe orang yang tidak suka menunggu, Arjuna mencoba menghubungi ponsel Alika tersambung namun tidak dijawab oleh Alika.        “Dimana kamu Alika? Kalau kamu marah dengan kedatangan Reina dan pulang setidaknya kamu mengabariku,” gumam Arjuna yang tidak disadarinya ia mulai perduli pada Alika.        Arjuna berjalan menuju tepi jalan, seketika matanya terbuka lebar melihat Alika memberikan nasi yang dibawanya pada seorang pemulung yang sedang duduk di pinggir jalan, Arjuna berfikir mengapa Alika sangat perduli pada semua orang, pertama Arjuna melihat Alika menolong pria tua di kampung itu, setelah itu Alika bahkan perduli soal Bi Yati dan Pak Min, sekarang Alika bahkan perduli pada seorang pemulung dan tidak bisa dipungkiri juga Arjuna merasa bahwa Alika juga perduli denganya. Setelah melihat keberadaan Alika ia pun kembali ke kantor karena memang jam kerja sudah dimulai.        “Dari mana saja kamu?” tanya Arjuna pada Alika yang baru saja masuk ke ruangan.        “Aku selesai makan siang, memang kenapa?”        “Hanya makan siang saja? Kenapa lama?”        “Iya cuma makan siang aja karena tadi kebetulan rame jadinya ya lama,”        Arjuna heran kenapa Alika tidak mengatakan yang sebenarnya.        “Kemana calon istrimu tadi?” tanya Alika mengikik menggoda Arjuna.        Tak ada jawaban, yang ada hanya sorot mata tajam Arjuna yang didapatkan, Alika yang sedari tadi tertawa cekikikan seketika langsung diam.        “Juna maaf sebelumya, besok aku izin gak masuk kantor, boleh gak besok aku pergi bentar aja!” tanya Alika penuh harap.        “Kemana?” tanya Arjuna singkat         “Aku ingin pergi ke desa yang kapan hari kita bertemu,”        “Ada apa di sana? kenapa kamu ingin kesana?” tanya Arjuna tidak mengerti.        “Gak ada apa-apa sih, ya aku cuma pengen refreshing aja, suasana di sana asri banget, ” jawab Alika tertawa kecil.        “Baiklah terserah kamu, tapi kamu harus kembali ke rumah tepat waktu.”   *********           Alika mengetuk pintu kamar Arjuna, sudah beberapa kali tapi tidak ada suara dari dalam untuk mempersilakan masuk. Alika geram tapi ia harus bisa menahanya, Alika menutup mata kemudian menarik nafas lalu membuangnya, sekali lagi ia kembali mengetuk pintu kamar Arjuna dengan keras tapi bukan pintu yang ia ketuk melainkan kepala Arjuna.        “Alika!” tegur Arjuna.        Alika terkejut mendengar suara itu ia membuka mata, rupanya tanganya sudah berani mengetuk kepala bosnya, terlihat badan Arjuna yang masih basah dan hanya memakai handuk. Tapi pasti ini akan jadi masalah lagi dan hanya gara-gara ini jalan yang sebelumnya sudah sedikit terbuka akan tertutup lagi.        “Maaf! Aku tadi sudah berkali-kali mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban,”        “Aku tidak bisa mendengar suaramu aku sedang berada di dalam kamar mandi, ada perlu apa?”        “Kemarin aku lihat ada brompton di garasi, aku pakai dulu ya!”        “Terserah kamu!”        “Baiklah! Aku berangkat dulu, sarapanya udah aku siapin di bawah jangan lupa ajak Pak Min dan Bi Yati sarapan bareng kamu,”        “Iya,” balas Arjuna singkat.   ********          Waktu sudah menunjukkan jam empat sore, saatnya untuk kembali ke rumah. Hari ini rasanya tenang tidak ada Reina yang mengganggu datang langsung ke kantor atau lewat ponsel, tapi sisi lain Arjuna merasa sepi tidak ada Alika, Arjuna membuka ponsel mendial nomer rumah tidak selang lama panggilanya terjawab.        “Halo Bi, Alika sudah di rumah?”        “Belum Nak!”        “Ya sudah makasih Bi,”        Arjuna mengemudikan mobilnya berniat menyusul Alika, dalam perjalanan Arjuna teringat bagaimana ia pertama kali bertemu dengan Alika, saat ia melakukan perjalanan mengantarkan Ibunya ke tempat peristirahatan terakhir kemudian kedua kalinya bertemu lagi dengan Alika di pedesaan yang ditujunya sekarang ini dan ketiga kalinya ia bertemu Alika di kantor polisi dari ketidak sengajaan itulah akhirnya Arjuna mengenaal Alika sampai detik ini dan kini Arjuna merasa ada yang aneh pada dirinya ia juga merasa hidupnya sedikit berubah sejak kehadiran Alika walaupun terkadang membuat dirinya kesal tapi memang benar kehadiran Alika memberikan perubahan yang positif untuk Arjuna.        Tapi sampai detik ini Alika sama sekali tidak mengetahui bagaimana kehidupan Arjuna yang sebenarnya, Arjuna pemakai barang terlarang, jika Alika mengetahui semua itu belum tentu Alika akan tetap berteman denganya bisa saja Alika meninggalkanya, maka dari itu Arjuna akan menyimpan hal ini rapat-rapat dari Alika.        Stengah jam kemudian Arjuna sampai di tempat tujuan, Arjuna tidak tau kemana harus mencari Alika ia kemudian membuka ponsel dan mendial nomer Alika.        “Kamu dimana?” tanya Arjuna.        “Aku masih di sini,”        “Iya, dimana tempatnya? Desa ini lumayan luas tidak mungkin aku mencarimu di setiap jalan dan rumah warga,”        “Aku lagi di lapangan desa kamu bisa tanya warga kalau gak tau lokasinya,”        “Ngapain kamu di sana bukanya pulang?”         Terdengar suara riuh sorak sorai banyak orang membuat telinga Alika tidak bisa mendengar Arjuna yang bertanya.       “Apaaaaaa?”        Tanpa membalas Arjuna menutup panggilanya ia bergegas mencari lokasi yang disebutkan Alika di telfon tadi, Arjuna enggan bertanya kepada warga karena memang ia tidak begitu suka berinteraksi dengan orang yang tidak dikenalnya. Setelah berputar mengelilingi perkampungan itu akhirnya Arjuna menemukan lokasinya. Begitu banyak warga sedang menonton lomba terlihat ada beberapa anak-anak sedang menerbangkan layang-layang, Arjuna terus mencari Alika di setiap kerumunan tapi tidak juga menemukanya.       Arjuna kembali ke mobil dan duduk di atas kap, mencoba menghubungi kembali ponsel Alika namun tidak dijawab seketika mata Arjuna terbuka lebar melihat gadis yang dicarinya berada di tengah lapangan sedang membantu anak kecil menarik ulur benang layang-layang yang sudah tinggi di atas awan. Senyumanya yang khas dan tawa cerianya mampu menghipnotis Arjuna yang terpanah dengan pesona Alika yang kini baru ia sadari bahwa Alika mempunyai sesuatu yang tidak dipunyai Reina, sehingga Arjuna lebih tertarik dengan Alika dari pada Reina. Tanpa disadari bibir Arjuna ikut mengembang tersenyum melihat Alika setelah sekian lama senyuman itu tidak pernah menghiasai wajahnya.       Alika yang menyadari keberadaan Arjuna pun menyerahkan benang itu ke tangan anak yang dibantunya, ia pun mendatangi Arjuna yang sedang santai duduk di atas kap mobil menikmati perlombaan layang-layang itu.       “Hay!” sapa Alika ceria sambil menepuk paha Arjuna.        Arjuna menoleh pada Alika sambil tersenyum, dan kembali mendongakkan kepala melihat layang-layang yang bentuknya beragam dan unik.       “Seru ya!” ujar Arjuna.       “Iya seru banget!” balas Alika.        “Aku tidak pernah merasakan moment seperti ini sejak kecil,” terang Arjuna.        “Kenapa?” tanya Alika penasaran sambil memandang Arjuna.        “Tidak,” jawab Arjuna penuh misteri membuat Alika penasaran.        “Masih ingin di sini atau kembali ke rumah?” tanya Alika pada Arjuna.        “Ayo!” ajak Arjuna untuk pulang.        “Sebentar aku ambil dulu sepedanya,”        “Ambil dan lipatlah setelah itu masukannke bagasi mobil, kita pulang bareng,” perinta Arjuna.        “Siap Boss!”        Alika mengambil sepedanya lalu melipatnya dan memasukanya ke dalam bagasi sesuai perintah Arjuna, kemudian ia pun masuk ke dalam mobil, mobil melaju meninggalkan lapangan yang masih ramai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN