RASA PENASARAN ARJUNA

1139 Kata
Sarapan pagi sudah siap di meja, Bi Yati saja belum masuk ke dalam dapur tapi makanan sudah tersaji di atas meja makan. Ya, kali ini Alika yang menyiapkan semua ia bertekad untuk bisa merebut hati Arjuna setelah kejadian semalam. Alika tau bahwa Arjuna adalah orang yang baik dan Alika sendiri adalah orang yang keras kepala semakin Arjuna menyuruhnya pergi maka semakin kuat keinginan Alika untuk bisa berteman dengan Arjuna.        Bi Yati yang hendak menuju ke dapur melihat meja yang sudah tersaji makanan di atasnya memandang heran ke arah Alika, Alika tertawa kecil kemudian merangkul Bi Yati.        “Bi Yati tau apa maksud mbak Alika,” cetus Bi Yati sambil mengelus pipi Alika.        “Restuin saya ya Bi, agar semua bisa berjalan dengan baik!” balas Alika penuh harap.        “Berjalan dengan baik? Apa yang kamu rencanakan?” suara Arjuna yang tiba-tiba muncul.        Mereka berdua terkejut dengan kemunculan Arjuna, Alika tetap terlihat santai dan tenang.        “Aku butuh uang, maka dari itu aku mohon izinkan aku agar tetap bisa bekerja di sini,” bujuk Alika pada Arjuna.        Arjuna masih diam, ia berjalan menuju meja makan kemudian duduk untuk sarapan. Alika membalikkan piring kemudian mengambilkan nasi beserta lauk dan pauk untuk Arjuna.        “Berapa uang yang kamu butuhkan? Katakan saja, kamu akan dapat uangnya dan setelah itu kamu bisa pergi dari sini,”        “Tidak, bukan seperti itu Arjuna aku bukan pengemis, seprofesional mungkin ketika aku medapatkan uang maka aku harus melakukan sesuatu misalkan membantu atau bekerja, aku ingin uang yang aku hasilkan dari kerja kerasku bisa bermanfaat untuk orang lain di situlah letak kebahagiaanku,” ungkap Alika.        Alika menuangkan air ke dalam gelas lalu meletakkan di meja depan Arjuna, Arjuna menatap Alika penuh kekaguman.        “Ada apa? Ada yang salah?” tanya Alika tidak mengerti.        Arjuna menggelengkan kepala sambil menangkat kedua alisnya.        “Tidak ada yang salah, baiklah kamu bisa bekerja di sini,”        Alika tersenyum senang Arjuna akhirnya mengizinkanya bekerja lagi di rumah Arjuna, ini adalah salah satu jalan Alika untuk bisa mengekspos siapa Arjuna yang sebenarnya, buka Arjuna yang dikenal banyak orang sebagai seseorang yang jahat dan pemarah.        “Terima kasih!” ucap Alika sambil menyentuh tangan Arjuna.        Tanpa berkata apapun arjuna hanya mengangguk seraya menyingkirkan tanganya, mungkin itu sedikit aneh untuk Arjuna tapi tidak bisa dipungkiri sekarang dirinya mulai menyukai sosok Alika dan ingin mengenal Alika lebih lanjut. Melihat reaksi Arjuna seperti itu Alika langsung meminta maaf, Arjuna sedikit merasa canggung Alika menyadari mungkin Arjuna tidak pernah seperti ini sebelumnya.        “Tidak apa! Baiklah karena kamu sudah berpakaian rapi sekarang kamu bisa ikut denganku ke kantor, lain kali kamu di rumah saja!” pesan Arjuna kepada Alika.        Arjuna menghabisakna makananya di piring, Arjuna tersenyum memandangi teman barunya itu yang sudah berubah sikapnya walau hanya sedikit.        “Pak Min, Bi Yati,” panggil Alika.        Sepasang suami istri itu menoleh ke arah Alika.        “Sini kita makan bareng!” ajak Alika.        “Tidak mbak Alika,” tolak Bi Yati.        “Kenapa?” tanya Alika.        “Kami memang terbiasa makan di sini saja setelah nak Arjuna,”         Alika menjemput Bi Yati dan Pak Min yang berada di pantry, Alika meraih lengan sepasang suami istri itu dan menuntunya ke meja makan.        “Tidak mbak Alika, bukan di sini tempat kami makan,” sekarang Pak Min yang menolak sedikit ada rasa takut melihat Arjuna.        “Memangnya kenapa? Memang ada aturanya, tidak kan?” tanya Alika pada Arjuna.        Arjuna menggelengkan kepala. Alika menuntun kemudian mendudukan Bi Yati dan Pak Min di kursi dekat sekali dengan Arjuna.        “Pak Min dan Bi Yati lebih tua dari saya dan Arjuna, tidak sopan jika kami di sini makan sedangkan kalian hanya di dapur melihat, jangan bicara tentang derajat karena sesungguhnya derajat kita sama saja yang membedakan kita hanyalah perbuatan kita baik atau tidak, tuhan tidak melihat kita kaya atau miskin, kita semua sama!” ungkap Alika.        Kali ini Arjuna semakin dibuat penasaran dan kagum terhadap sosok Alika yang dikenalnya baru beberapa hari ini. Alika mengambil piring untuk Pak Min, Bi Yati dan untuk ya sendiri. Dan mulai hari ini mereka berempat sarapan satu meja pemandangan yang tidak pernah terlihat, dan yang memulai perubahan ini adalah Alika anehnya Arjuna hanya diam menyetujui, biasanya ketika kemauan orang lain tidak sama denganya Arjuna akan membantah, tapi kali ini Arjuna setuju dengan apa yang dilakukan Alika.   **********          Waktu menunjukkan pukul dua belas siang sudah waktunya untuk istirahat, banyak karyawan yang pergi ke kantin atau ke restoran sebelah untuk mencari makan siang.        Arjuna dan Alika masih di dalam ruangan, Alika merapikan berkas-berkas Arjuna di map kemudian menaruhnya di rak. Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, Reina datang sambil membawa makan siang.        “Hay Juna!” sapa Reina.        Reina membawakan makan siang untuk Arjuna, Reina memandang sinis ke arah Alika.        “Juna, aku keluar dulu ya cari makan siang.” Alika bangun dari kursi.        “Tunggu Alika! Kamu bisa makan di sini,”        Belum selesai Arjuna meneruskan perkataanya Reina sudah memotong.        “Udah, biarin aja dia cari makan di luar lagian ngapain sih kamu perhatian banget sama dia? Aku sedari awal uda curiga jangan-jangan kamu kena pelet dia, aku yakin dia punya rencana jahat mau misahin kita dan mau menguasai perusahaan ini,” sindir Reina dengan keras.        Alika yang masih di pintu mendengar sindiran Reina hanya tersenyum saja tanpa membalas seperti pertama kali bertemu dengan Reina kemarin, sekarang Alika pembawaanya lebih santai dan kalem untuk bisa merebut hati Arjuna. Reina menaruh dua nasi kotak itu di meja tapi sama sekali Arjuna tidak merespon Arjuna pura-pura sibuk dengan laptopnya.        “Kamu sibuk banget ya sayang? Mau aku suapin?” tanya Reina pada Arjuna.        “Tidak perlu, aku masih punya tangan bisa makan sendiri,” jawab Arjuna ketus.        “Baiklah!” balas Reina santai sambil tersenyum kemudian membuka kotak nasi itu.        Arjuna dan Reina makan bersama, tampak Arjuna sedikit khawatir entah apa yang mengganggu pikiranya, nasi dalam kotak masih ada tapi ia menyudahi makan siangnya.        “Ada apa?” tanya Reina.        “Kenapa kamu masih datang ke sini? Bukankah sudah jelas perjodohan kita berakhir, aku akan menikahi Alika orang yang aku cintai,”        Reina tertawa terbahak-bahak.        “Kau mencintainya? Sayangnya aku tidak percaya, yang aku tau selama ini kamu tidak mudah mencintai seseorang dan kamu selama ini juga tidak punya teman wanita selain aku,” tandas Reina.        Arjuna menyeringai mendengar perkataan Reina, Arjuna berdiri dari kursi dan berjalan menuju jendela melihat jauh ke luar, Reina pun menyudahi makan siangnya.       “Arjuna, tidak ada orang lain yang mencintaimu melebihi cintaku padamu kita dijodohkan dari kecil, kita ditakdirkan untuk hidup bersama, kamu pasti akan bahagia jika menikahiku. mengertilah itu sayang!” Reina berdiri dan berjalan menuju Arjuna kemudian menyandarkan kepala di punggung Arjuna tanganya melingkar memeluk tubuh Arjuna dari belakang.        Dengan kasar Arjuna membuang tangan Reina yang melingkar di perutnya.        “Dengarkan aku baik-baik! Kita tidak menikah, lebih baik gunakan waktumu untuk mencari pria lain dan jangan lagi mencoba merayuku seperti tadi!”        “Apa katamu tadi? Mencari pria lain? Salah jika aku merayu calon suamiku sendiri? Sumpah demi Tuhan aku gak ngerti dengan jalan pikiranmu Juna!”        “Sebaiknya kamu pergi dari sini aku sedang badmood aku tidak ingin berdebat denganmu,” ucap Arjuna menyudahi.        Reina memandang Arjuna dengan penuh kekecewaan, ia sekarang benar-benar merasa tersingkir dari kehidupan Arjuna karena kehadiran Alika.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN