TEMAN BARU

1146 Kata
          Alika tersenyum tipis lalu duduk kembali di shofa sedangkan Arjuna masih tetap berdiri di dekat jendela.         “Kenapa berdiri saja? sini dong duduk sama aku!” Alika menepuk shofa di dekatnya.         Alika berdiri kembali menjemput Arjuna dan menggandengnya untuk duduk di shofa.         “Ada apa denganmu?” tanya Alika dengan lembut pada Arjuna.         Arjuna mengerutkan dahi tidak mengerti maksud dari pertanyaan Alika, Alika tersenyum lagi pada Arjuna.         “Kamu nyuruh aku untuk pergi kan kamu anggap hutangku udah lunas? Tapi aku gak akan pergi, aku rasa ada yang tidak beres denganmu, sebagai teman wajar dong kalau aku ngingetin kamu bantuin kamu,” ujar Alika.         “Teman?” tanya Arjuna sinis.         “Oh ya, kita belum berteman kan? Hubungan kita dari kemarin tidak lebih dari bos dan asisten, maka dari itu sekarang kita punya hubungan baru lagi yaitu teman,” cetus Alika ramah sambil mengajak Arjuna bersalaman.         Arjuna diam saja tidak mengulurkan tanganya dengan paksa Alika meraih tangan Arjuna dan bersalaman dengan tangan Arjuna. Tok! Tok! Tok!         Seorang karyawan mengetuk pintu dari luar.         “Masuk!” perintah Arjuna.         Karyawan itu masuk dan memberikan berkas pada Arjuna untuk diperiksa kemudian keluar lagi dari ruangan Arjuna.          “Maaf Alika aku tidak punya waktu dengan hal-hal konyol seperti itu,” cetus Arjuna.         “Konyol?” tanya Alika sembari tertawa kecil.         Alika bangun dari shofa dan berjalan menuju Arjuna yang sudah duduk di kursi kerjanya, Alika dengan berani mengambil berkas yang ada di tangan Arjuna. Alika membawa berkas itu di tanganya dan duduk di kursi depan meja Arjuna.         “Aku perhatikan sejak kita bertemu sampai saat ini aku merasa ada masalah yang mengganggu hidupmu,” ucap Alika dengan bangga.         “Sok tau!” cetus Arjuna lalu merampas berkas di tangan Alika.         “Eehh kok diambil,”         “Baru sehari kamu jadi asistenku tapi aku sudah tidak tahan dengan tingkahmu, oke akan aku telfon Pak Min untuk menjemputmu dan pulanglah setelah itu kemasi barangmu dan pergi dari rumahku! Aku tidak membutuhkan bantuanmu lagi hutangmu sudah lunas!” pungkas Arjuna.         “Tapi....”         Alika belum meneruskan perkataanya tapi Arjuna sudah bangun dari duduknya, ia menyeret Alika keluar dari ruanganya sehingga semua karyawan melihat, tak sampai di luar ruangan saja bahkan Arjuna menyeret Alika sampai di luar kantor.         “Sebaiknya sekarang kamu tunggu Pak Min di sini saja!” Arjuna kembali ke dalam kantor meninggalkan Alika di luar.         Alika faham jika dia membantah ataupun memberontak itu tidak akan baik buatnya juga buat Arjuna, untuk bisa mendapatkan hati Arjuna di kemudian waktu dirinya harus menurutti Arjuna.         Arjuna berjalan ke pos satpam tidak lama kemudian mobil Arjuna yang di bawa Pak Min sudah datang, Alika langsung masukke dalam mobil dan kembali pulang ke rumah Arjuna.   **********           Arjuna berkali-kali meninju samsak dengan penuh kekuatan keringat bercucuran dari badanya, pandangan matanya tajam seperti sedang mengawasi mangsa. Sontak Arjuna terkejut dari belakang ada orang yang mengelap keringat di lehernya, Arjuna berhenti meninju samsaknya dan membalikkan badan.         “Kamu masih di sini? Bukankah aku sudah menyuruhmu meninggalkan rumah ini?” tanya Arjuna pada Alika dengan nada tinggi.         Alika masih santai mengelap keringat Arjuna sambil tersenyum.         “Hentikan!” Arjuna mencengkeram pergelangan tangan Alika menghentikan Alika yang masih sibuk dengan handuk kecil mengelap keringat di leher danpunggung Arjuna.         “Kenapa kamu tidak mau pergi dari kehidupanku? Ternyata kamu sama saja seperti Reina, hanya mengganggu kehidupan orang lain saja!” cela Arjuna gusar.          Arjuna menghentikan aktivitasnya dan keluar dari ruangan yang remang-remang itu, Alika membuntuti Arjuna sambil mengoceh.         “Aku tidak akan meninggalkan temanku, aku tau ada masalah dalam hidupmu dan aku bisa membantumu menyelesaikan masalahmu. Dengarkan aku, aku bisa menjadi sahabat yang baik bukan seperti Reina,” cetus Alika.         Arjuna hanya diam, ia berjalan menuju kolam renang samping rumah, Alika masih tetap di belakangnya dan membuntutinya sampai di kolam renang.         “Duh malam gini jangan main air jangan berenang nanti masuk angin!”          Arjuna berdiri di tepi kolam tanpa melihat Alika yang masih mengoceh.         “Hentikan ocehanmu!” bentak Arjuna beringas.        “Kenapa?” tanya Alika.         Arjuna memegang kedua pundak Alika dan mengguncangkanya dengan keras kali ini kesabaran Arjuna sudah habis menghadapi Alika yang keras kepala itu.         “Aku tidak butuh teman, kamu ataupun Reina, aku mohon pergilah dari hidupku,” pinta Arjuna emosional. Byuurr!         Alika tercebur ke dalam kolam karena Arjuna mengguncang badan Alika dengan keras sedangkan Arjuna kembali berjalan masuk ke dalam rumah.         “haup.. hup.. to.. long!”         Arjuna yang sudah melewati pintu melihat ke kolam, ia melihat Alika tenggelam.         “Oh God dia tidak bisa brenang.” Arjuna berlari keluar dan menceburkan diri ke dalam kolam untuk menolong Alika.          Arjuna menangkap tubuh Alika yang hampir jatuh ke dasar kolam kemudian memeluknya dan membawanya ke tangga untuk naik ke atas.          Arjuna membaringkan Alika di lantai tepi kolam, Arjuna mencoba membangunkan Alika dan sedikit memompa mengeluarkan air dengan sedikit menekan bagian tengah d**a Alika tapi tidak ada air yang keluar sedikitpun, sedangkan Alika masih belum membuka matanya, Arjuna heran tidak ada air yang masuk ke dalam tapi kenapa Alika belum membuka matanya.        Arjuna kembali menggendong Alika untuk membawanya ke kamar, namun yang terjadi di luar dugaan Alika hanya berpura-pura. Alika membuka sedikit matanya melihat Arjuna yang sedang menggendongnya.         ‘Ternyata dia sangat baik bahkan saat marah dia masih perduli padaku, tenang Arjuna Danendra aku tau kamu tidaklah kejam hanya saja ada suatu masalah yang mengganggu hidupmu sehingga membuat kepribadianmu terlihat buruk’ kata alika dalam hati.         Arjuna mendapati kalau Alika hanya berpura-pura karena Arjuna sempat melihat Alika sedikit membuka matanya, spontan Arjuna melepaskan gendonganya sehingga Alika jatuh ke lantai. ‘Brruuuk’         “Auuuuhhhh sakit tau!” rintih Alika memegangi pantatnya lalu bangun.          Arjuna berdiri mematung dengan pandangan tajam ke depan. Pak Min dan istrinya melihat kajadian itu hanya diam seribu bahasa, mana mungkin mereka berani membantu Alika itu sama saja mereka melawan Arjuna. Alika yang masih merintih kesakitan karena pinggang punggungnya membentur lantai saat dijatuhkan Arjuna.          “Untung saja tadi aku mengangkat kepala, kalau tidak aku bisa amnesia karena kamu,”          “Bahkan aku bisa membunuhmu!” Arjuna murka, kali ini ia benar-benar marah, wajahnya yang kini sudah merah padam tanganya mengepal kuat ingi menghancurkan sesuatu membuat Alika yang tadinya masih ingin berbicara banyak sekarang harus mengurungkan keinginanya itu.          Alika melihat Pak Min dan Bi Yati dari kejauhan, mereka megedipkkan mata dan menganggukkan kepala pada Alika, memberi isyarat pada Alika agar ia diam dan bisa tenang agar suasana tidak semakin memanas.          “Baiklah, maafkan aku jika candaanku berlebihan sampai membuatmu marah seperti ini,” Alika menatap dalam mata Arjuna dengan penuh kasih.          “Aku tidak bermaksud untuk membuatmu marah, aku hanya ingin bercanda denganmu membuatmu tertawa, aku ingin bisa membuatmu merasakan bahagia!”          Arjuna melepas paksa tanganya yang masih digenggam Alika, mungkin Arjuna sedikit merasa aneh dengan perlakuan Alika, yang sebelumnya tidak pernah ia dapatkan dari siapa pun, bahkan Reina yang menjadi calon istrinya saja tidak pernah memberikan perhatianya seperti yang Alika lakukan.         Tanpa berkata apapun Arjuna kembali berjalan menuju kolam dan langsung meluncurkan tubuhnya ke dalam air, Alika tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat kelakuan teman barunya itu.         “Pak Min tolong siapkan handuk untuk Arjuna, saya ganti baju dulu nanti biar saya yang menunggu Arjuna di kolam,”         “Baik mbak Alika,”        Pak Min mengambilkan handuk untuk Arjuna sedangkan Alika menunggu Arjuna yang sedang menyegarkan badan dengan berenang di kolam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN