“Pagi Pak!” sapa beberapa karyawan pada Arjuna.
Tanpa bersuara Arjuna membalas hanya dengan menganggukan kepalanya.
Semua mata tertuju pada Alika yang berjalan di belakang Arjuna, banyak karyawan yang berbisik satu sama lain. Arjuna berhanti tepat di depan ruanganya.
“Mohon perhatianya sebentar!”
Semua karyawan berdiri dan memperhatikan.
“Perkenalkan ini adalah Alika, dia asisten baru saya,”
Alika tersenyum pada semua karyawan.
“Senang bisa bergabung dengan kalian!” ujar Alika.
“Oke, semua kembali bekerja dan kamu Alika ikut saya ke ruangan!”
Semua karyawan kembali duduk dan bekerja kembali, Alika mengikuti Arjuna yang masuk ke ruangan kerja Arjuna.
“Pak, dimana meja saya?” tanya Alika pada Arjuna.
“Kamu tidak perlu meja, tugas kamu di sini hanya membantu saya, ini bukan bidang kamu bukan untung malah buntung jadinya,” jelas Arjuna.
“Astaga Pak saya juga gak bodoh-bodoh amat, saya paham kalau nantinya bapak berikan saya tugas kantor,” bantah Alika.
“Saya tidak ingin berdebat, saya ingatkan lagi tugas kamu hanya membantu saya terbebas dari perjodohan ini dan menemani saya jika ada meeting dengan klien apa lagi jika ada Reina kamu harus bisa menempatkan diri seolah-olah kamu adalah kekasih saya, paham kamu?”
“Baik Pak!”
“Kamu tunggu di sini dulu, saya mau keluar sebentar ada yang ketinggalan di dalam mobil,”
Alika mengangguk, Arjuna keluar dari ruangan. Alika melihat-lihat ruang kerja Arjuna.
PT. Abdi Sejahtera, tulisan besar di dinding belakang kursi yang diduduki Arjuna, ya perusahaan yang bekerja di bidang industri pengolahan bahan mentah menjadi setengah matang.
Terdapat beberapa foto Arjuna dan relasi bisnisnya yang tergantung di dinding, Alika duduk di kursi Arjuna tampak foto seorang wanita ada dalam pigura yang ada di meja Arjuna, ya foto itu sangat mirip dengan foto yang tergantung di rumah Arjuna, yang tidak lain adalah Ibu Arjuna.
Sementara di luar ruang kerja Arjuna terjadi keributan, Reina datang ke kantor dan berdebat dengan sekretaris Arjuna.
“Maaf mbak Reina, Pak Juna sedang tidak ada di dalam ruangan, Pak Juna berpesan tidak ada yang boleh masuk ke dalam ruanganya kecuali sudah mendapatkan izin darinya,”
“Aku bisa membuat kamu dipecat dari kantor ini, jangan coba-coba menghalangi aku masuk, sebelumnya tidak ada yang melarangku kenapa sekarang kamu latah begini?”
“Tapi Pak Juna yang memberikan perintah ini mbak Reina, ini bukan kemauan saya sendiri jadi maaf,”
“Saya tidak perduli pokoknya saya ingin masuk!”
Semua karyawan hanya diam melihat perdebatan yang terjadi.
Sekretaris Arjuna berusaha menghalangi tapi Reina begitu kasar, ia mendorong sekretaris Arjuna hingga terjatuh.
Reina membuka pintu.
“Junaaaaa,” teriak Reina.
Sontak Alika pun berdiri dari kursi karena terkejut mendengar teriakan Reina, begitu juga Reina ia sangat terkejut melihat Alika yang sedang duduk di kursi Arjuna, sedangkan Arjuna sendiri tidak ada di dalam ruangan.
“Siapa kamu?” tanya Alika yang terkejut dengan kedatangan Reina.
“Hey kamu! Seharusnya saya yang berrtanya siapa kamu dan sedang apa kamu di ruangan calon suami saya?”
‘Oh jadi ini orang yang dimaksud Arjuna’ ucap Alika dalam hati.
Reina berjalan mendekati Alika, menarik lengan Alika dengan kasar dan kali ini benar-benar akan terjadi keributan yang lebih besar dari kejadian di luar ruangan tadi, Reina sosok orang yang tidak bisa tenang dan Alika sosok orang yang tidak mau mengalah.
“Lepasin!” sergah Alika.
“Jawab dulu, siapa kamu ngapain kamu di sini?” Reina melepaskan lengan Alika
Alika mengibaskan lenganya yang masih dipegang Reina, dengan penuh rasa percaya diri Alika menjawab pertanyaan Reina.
“Sebentar lagi perusahaan beserta CEOnya akan menjadi milikku!” dengan bangga Alika mengucapkan itu sambil menggenggam tangan memamerkanya di depan mata Reina.
Reina yang sedari tadi sudah berapi-api tidak tahan lagi dengan tingkah Alika, Reina mendaratkan tamparan di pipi Alika namun terhenti sebelum menyentuh pipi chubby Alika dengan cepat Arjuna menahan tangan Reina.
“Reina, lebih baik singkirkan tanganmu dia memang benar aku akan menikah denganya!” ujar Arjuna.
“Oh jadi gadis murahan ini yang sudah membuatmu datang pada Mama dan Papa untuk membatalkan perjodohan?”
“Bukan karena gadis ini, tapi karena aku sangat mencintainya, ini masalah hati Reina dan perasaan itu tidak bisa dipaksakan!” Arjuna mempertegas kembali maksudnya dan tiba-tiba merangkul Alika dengan tersenyum bangga.
Alika yang terkejut dan melirik tangan Arjuna yang berada di pundaknya, ada rasa yang aneh.
“Tidak akan! Kamu pikir itu mudah? Aku tidak akan membiarkanya, kau hanya milikku! Camkan itu Arjuna Danendra!” teriak Reina memperingatkan lalu pergi meninggalkan Alika dan Arjuna.
Brakk!
Reina membanting pintu, Arjuna langsung menurunkan tanganya dari pundak Alika.
“Maaf,” ucap Arjuna pada Alika.
“Aduhh Pak, biasa aja kali kenapa harus minta maaf segala!” kelakar Alika mendengar permintaan maaf Arjuna.
“Alika,” panggil Arjuna.
“Yup!” Alika menoleh memandang Arjuna yang masih berusaha menetralkan suasana.
“Kamu boleh pergi,”
“Maksud bapak apa?” tanya Alika tidak mengerti.
“Kamu bisa pergi, kamu terbebas dari hutangmu. Biarkan masalah ini aku selesaikan sendiri tanpa melibatkanmu, di sini aku merasa sebagai pengecut ini bukanlah caraku yang sebenarnya, tidak mungkin aku merusak imagemu dengan mengatakan pada Reina bahwa kamu hamil,” terang Arjuna berjalan menuju jendela dan melihat jauh ke luar.
Alika berdiri dari kursi dan mendekati Arjuna, Alika tersenyum manis di belakang Arjuna ia tidak menyangka orang yang berperilaku dingin dan kejam dengan kata-kata pedas yang biasanya keluar dari mulutnya ternyata mempunyai hati yang baik.
Arjuna berbalik ketika tersadar Alika berada di belakangnya, Alika menyembunyikan senyumanya dengan menatap langit-langit ruangan, entah apa nanti yang dipikirkan bosnya melihat dirinya tersenyum tidak jelas di belakangnya.
“Ada apa? Kenapa kamu melihat langit-langit?”
Belum sempat Alika menjawab ponsel Arjuna berbunyi, Alika mengambilkanya di meja tetapi Arjuna langsung menyambar ponsel itu dari tangan Alika.
Tingkah Arjuna yang seperti inilah yang semakin membuat Alika penasaran dan ingin mengorek kisah Arjuna yang baginya misterius.
“Hallo!” Arjuna menjawab panggilan dan sedikit menjauh dari Alika.
Alika serius memasang kedua buah telinganya untuk mendengar pembicaraan Arjuna dengan seseorang.
“Jika polisi tidak serius menangani kasus ini maka suruh mereka mencarinya jika sudah ketemu habisi saja dia, bukan masalah uang hanya saja aku tidak suka dikhianati,”
Alika menelan ludah setelah mendengar perkataan Arjuna, sekejam itukah bosnya sampai tega menyuruh seseorang untuk menghabisi nyawa orang yang dianggap penghianat atau mungkin bosnya mempunyai gangguan kejiwaan.
Arjuna menutup panggilan, ia memandang tajam Alika yang mematung berdiri melihat nya.
“Ada apa? Kenapa kamu melihatku seperti itu?” tanya Arjuna pada Alika.
“Siapa yang ingin kau habisi?” tanya Alika kembali.
“Sudah pernah aku katakan jangan ikut campur urusanku,”
Alika tersenyum mendengar perkataan Arjuna, ia mengambil segelas air di meja lalu berjalan mendekat pada Arjuna.
“Nih minum dulu, biar kamu sedikit tenang,”
Alika menyodorkan gelas berisi air itu pada Arjuna, Alika menganggukkan kepala sambil tersenyum mengisyaratkan agar Arjuna segera mengambilnya. Tak juga mengambilnya Alika menarik tangan Arjuna dan menyerahkan gelas itu ke tangan Arjuna.
“Di minum dong!” pinta Alika.
Arjuna pun meminumya seteguk saja, Alika mengambil kembali gelas itu dari tangan Arjuna dan meletakkannya ke meja.
“Udah sedikit tenang kan?” tanya Alika pada Arjuna sembari tersenyum.
Tanpa bersuara Arjuna mengangguk.
Arjuna heran kenapa mendadak sikap Alika seperti ini, beda dengan beberapa hari yang lalu saat ia bertemu dengan Alika.