Bi Yati tersenyum mendengar pertanyaan Alika dan itu semakin membuat Alika penasaran.
“Nak Arjuna itu sebenarnya orang yang baik, cuma ada sesuatu yang membuatnya menjadi terlihat seperti orang yang jahat, dalam berbisnis Nak Arjuna memang terkenal bengis dulu perusahaan akan bangkrut namun berkat kerja keras dan kegigihanya perusahaan terselamatkan, di sini banyak yang mengenal nak Arjuna kalau nak Arjuna itu kejam, dia bisa melakukan apapun bahkan menghabisi siapapun yang menjadi musuhnya,” cerita Bi Yati kepada Alika.
Alika terdiam, ia berfikir wajar saja jika pada malam itu beberapa preman yang akan menyerang Arjuna langsung kabur setelah mendengar nama Arjuna.
“Bibi dan Pak Min sudah lamakah bekerja di sini?”
“Sudah mbak, sejak nak Arjuna masih kecil kalau tidak salah masih umur sepuluh tahun,”
“Bi, kenapa Arjuna tinggal di rumah ini sendirian, kemana semua anggota keluarganya?”
“Nak Arjuna anak tunggal,”
“Ohh, kemarin Bi Yati kan cerita ke saya kalau Ibunya Arjuna baru saja meninggal, lalu kemana Ayahnya?” Alika semakin kepo, ia semakin kecanduan untuk mengorek info tentang Arjuna.
“Maaf mbak Alika, Bi Yati tidak punya hak untuk menjawab itu, mbak Alika bisa menanyakan langsung pada nak Arjuna tapi lebih baik kalau na Alika tidak menanyakan masalah itu, takutnya itu bisa merusak moodnya dan membuatnya sangat marah,”
Alika mengerutkan dahi, ia semakin dibuat penasaran dengan apa yang dikatakan Bi Yati.
“Maaf mbak Alika, Bibi ke kamar dulu istirahat.” Bi Yati berusaha menghindar untuk menyudahi pertanyaan Alika yang semakin jauh.
“Yaa Bi silakan!” balas Alika sambil tersenyum manis.
Bi Yati sudah menuju kamarnya Alika melihat sekitar tidak ada foto atau apapun, hanya ada satu foto tergantung di dinding tangga dan dalam foto itu hanya ada Arjuna dan Ibunya.
Alika menaiki tangga ia menuju kamarnya untuk beristirahat tapi langkahnya terhenti tepat di depan pintu kamar Arjuna, Alika merasa aneh dengan keluarga Arjuna, penuh teka-teki. Jawaban Bi Yati pun semakin membuat Alika penasaran, apalagi dengan sikap Arjuna yang seperti itu.
Alika kembali melanjutkan langkahnya, ia harus segera tidur kalau tidak ingin mendapat semprot bos barunya itu.
*********
“Alika!” teriak Arjuna dari bawah.
“Mampus deh gue! hari pertama uda kena semprot,” gumam Alika yang masih merapikan rambutnya di depan kaca.
“Ya Pak Bos, sebentar!” teriak Alika membalas.
Alika menyanggul rambutnya lalu merapikan poninya dan memaikai sedikit liptint warna peach di bibir mungilnya itu.
Alika lari menuruni tangga kali ini hari-harinya akan penuh dengan omelan bosnya yang garang itu.
“Bi.. Pak bos dimana?”
“Mbak Alika sudah ditunggu nak Arjuna di luar,” jawab Bi Yati.
Buru-buru Alika menyusul bosnya yang sudah menunggu di luar, sampai di luar Alika sedikit takut melihat ekspresi bosnya yang menatapnya tajam.
‘Buukk..’
Alika kaget, Arjuna membanting koper berisi uang di meja teras rumah dan tepat di hadapan Alika.
“Bukan bos yang menunggu asisten, tapi asistenlah yang seharusnya menunggu bosnya!”
“Baik Pak maaf, lain kali tidak akan terjadi lagi,”
“Kamu harus bisa profesianal dalam bekerja, ingat itu!” ujar Arjuna yang masih menampakkan kemarahan.
“Baik Pak!” balas Alika datar.
“Bawa koper itu!” perintah Arjuna sambil melangkah menuju garasi mobil.
“Hanya koper Pak? Payung juga Pak?” tanya Alika.
“Sekalian kamu bawa ember,”
Alika bergegas masuk lagi ke dalam rumah untuk mengambil payung dan ember.
“Mau kemana lagi kamu?” Arjuna membentak Alika sambil membanting pintu mobil yang sudah dibukanya tadi.
“Mau ambil payung dan ember,”
“Astaga!!” teriak Arjuna wajahnya sudah merah padam.
“Kan....” sela Alika
Belum seselai Alika meneruskan ucapanya, Alika mundur melihat Arjuna melangkah ke arahnya.
“Kamu pikir saya topeng monyet? Bawa koper dan payung!” Arjuna murka tanganya gemetar menggebrak meja dengan keras.
“Bukan, bukan topeng monyet pak! Kan biasanya di film-film itu bosnya dipayungin sama asistenya!”
“Saya tidak butuh payung ataupun ember, yang saya butuhkan kamu bisa menjadi partner kerja dengan baik! Sekarang lupakan payung dan ember, sebaiknya kamu cepat masuk ke mobil dan ikut saya.”
Arjuna msuk ke dalam mobil diikuti Alika.
**********
Mobil yang ditumpangi sampai di tempat tujuan, Arjuna turun dari mobil Alikapun mengikuti bosnya itu. Alika nampak heran kenapa ia turun bukan di kantor melainkan tempat yang beberapa waktu lalu ia datangi dan bertemu dengan Arjuna di tempat itu.
“Kenapa kita ke sini?” tanya Alika heran.
Arjuna tersenyum kecut mendengar pertanyaan Alika.
“Kita akan menukar tanah dengan uang yang ada di koper untuk pak tua itu!” Arjuna menunjuk rumah yang ada di depanya.
Alika terkejut ia mundur dua langkah ke belakang.
“Ada apa? Kau takut memberikan uang itu untuknya karena beberapa waktu lalu kau sudah menjadi pahlawanya?” tanya Arjuna pada Alika dengan sombong.
Alika mengingat kejadian beberapa waktu lalu saat ia menolong pria paruh baya yang dibentak Arjuna sambil merampas berkas dari pria tua itu dan mana mungkin sekarang ia bersekongkol dengan Arjuna untuk mengalahkan pria tua itu.
“Tunggu, kamu bilang kerja sama untuk mengecoh teman wanita yang menjadi calon istrimu agar dia tidak lagi mengeejarmu, tapi kenapa searang kau masukkan aku dalam misi kotor dan rencana jahatmu?”
“Apa? Rencana jahat? Misi kotor? Apa yang sebenarnya ingin kamu katakan?” tanya Arjuna emosi pada Alika.
“Ini salah, aku tidak mau!” ucap Alika lirih.
Tanpa berkata apapun Arjuna menyeret Alika berjalan beberapa meter menuju suatu tempat yang tidak jauh dari rumah pria tua itu.
“Lihatlah!” Arjuna menunjuk ladang yang luas penuh dengan tanaman sayuran seperti tomat, cabai dan saryuran lainya.
Alika memandang Arjuna tidak mengerti.
“Tanah berhektar-hektar itu milik kakekku, dan aku ingin mengambilnya kembali karena itu hakku, aku ingin membangun pabrik di tempat itu, tapi tidak tau kenapa tanah itu sekarang ditanami warga sekitar sini,” terang Arjuna.
Alika hanya diam mendengarkan penjelasan Arjuna.
“Salahku dimana? Lihatlah uang dalam koper itu, aku tidak mengambilnya dengan percuma, aku membawa uang untuk pria itu, mungkin uang itu cukup untuk biaya hidupnya, dia yang menyimpan surat tanah itu jika memang warga yang lain meminta juga aku akan memberikanya.”
“Tapi maaf aku tidak bisa jika harus melakukan ini, aku tidak ingin melihat pria tua itu sedih, kau bisa banyangkan jika Ayahmu berada di posisi pria tua itu,”
Sontak Arjuna menoleh dengan penuh amarah mendengar ucapan Alika.
“Tidak! Ayahku tidak pernah sama sekali berada di posisi seperti itu, Ayahku...” Arjuna menghentikan ucapanya ia mengusap wajah dengan kedua tanganya.
Alika penasaran sebenarnya apa yang ingin Arjuna katakan kenapa ia begitu emosi saat ada yang menyebut Ayahnya, beberapa waktu lalu juga seperti ini.
“Ada apa?” tanya Alika.
“Tidak, jangan menyebut Ayah dan Ayah lagi, aku tidak suka itu!” pinta Arjuna pada Alika agar tidak menyebut Ayah di hadapanya.
“Maafkan aku!”
“Bailkah jika kamu keberatan, aku akan meminta bantuan bawahanku yang lain di kantor, sekarang lebih baik kita ke kantor!”