BATALNYA PERJODOHAN

1093 Kata
         Arjuna telah sampai di tempat tujuanya, ia langsung masuk ke dalam rumah itu. Dua orang paruh baya laki-laki dan perempuan yang ada di ruang tamu itu pun langsung menyambut kedatangan Arjuna, laki-laki itu berdiri dan merangkul Arjuna dengan hangat begitupun dengan perempuan yang wajahnya masih sangat terlihat muda itu pun memeluk Arjuna penuh kasih sayang.          “Apa kabar Om dan Tante?” sapa Arjuna pada keduanya mereka adalah Mama dan Papa Reina yang baru saja datang dari luar negeri.          “Kami baik sayang,” jawab Sherya, Mama Reina.          “Maafkan kami Juna, ketika Ibumu meninggal kemarin kami tidak bisa pulang karena Om di sana masih ada urusan,” terang Hendro, Papa Reina.          “Gak apa-apa Om,” balas Arjuna tersenyum.          “Oh yaa, mari-mari kita duduk!” Hendro mengajak Arjuna untuk duduk di shofa.          Ketiga orang itu pun duduk di shofa, setelah berbasa-basi menanyakan kabar, menanyakan tentang bisnis akhirnya Arjuna mengutarakan maksudnya untuk datang menemui Hendro dan Sherya.          “Sebelumnya maaf Om, Juna datang ke sini ingin menyampaikan sesuatu,”          “Oh .. pasti tentang pernikahan kalian,” sela sherya.          “Bukan Tante,”          “Lalu?” Hendro mengernyitkan kening tidak mengerti dengan maksud Arjuna.          “Saya rasa Om dan Tante sudah lama mengenal saya dari saya masih kecil,”          “Iyaa Juna, bahkan kami lebih mengenalmu dari pada Ayahmu,” potong Hendro.          Arjuna tersenyum.          “Terus terang saja Om Tante, saya tidak ingin menikah dengan Reina, Juna hanya menganggap Reina sebagai sahabat, tidak lebih!” terang Arjuna pada ke dua orang tua Reina.           Sherya dan Hendro kaget dengan perkataan Arjuna namun Hendro berusaha setenang mungkin menghadapi Arjuna, ia sudah tau siapa Arjuna.          “Kamu sadar apa yang kamu katakan? Reina sudah menunggumu, dia menanti ini bertahun-tahun.” Sherya berdiri wajahnya memerah mendengar ucapan Arjuna.           Hendro memegangi tangan Serhya kemudian menganggukan kepala dan mengedipkan mata pada istrinya itu, Sherya pun duduk kembali.         “Tante dan Om pasti ingin melihat Reina bahagia dengan rumah tangganya, namun apakah dia akan bahagia jika dia menikah dengan laki-laki yang sama sekali tidak mencintainya?”           “Tapi bagaimana dengan Reina Pa? Apakah dia bisa menerima semua ini?” tanya Sherya pada Hendro khawatir jika nanti Reina tidak bisa menerima keputusan sepihak Arjuna.         “Tante, saya tidak ingin menjalin hubungan dengan keterpaksaan, segala sesuatu yang dipaksakan tidak akan baik dan tidak akan berjalan lama,”         “Tenang Ma, nanti kita bisa beri Reina pengertian,”         “Baiklah Om Tante, saya pamit dulu.” Arjuna berdiri dari tempat duduknya.          Sherya dan Hendro pun berdiri mengantarkan Arjuna sampai teras rumah.          “Hati-hati Juna,” pesan Hendro pada Arjuna.          Arjuna mengangguk lalu masuk ke dalam mobil kemudian pergi meninggalkan rumah Reina.          Dalam hati Arjuna tau ini tidak akan mudah, Reina jelas akan tidak menerima keputusan sepihak darinya karena Arjuna sendiri tau watak Reina.   **********             Arjuna melihat jam besar yang menempel di dinding, waktu sudah menunjukkan jam delapan malam. Sudah satu jam lebih Arjuna duduk di ruang tamu, padahal Arjuna sendiri adalah tipe orang yang benci menunggu sesuatu. Sesorang membuka pintu dari luar.          “Dari mana saja kamu?” tanya Arjuna sambil menyilangkan kakinya dan merentangkan tanganya di sandaran shofa.          Alika yang baru saja membuka pintu terkejut mendengar dan melihat Arjuna dengan tatapan tajam.         “Emmmhh.. Aku habis dari kantor dan dari kontrakan ngambil barang-barangku, dan aku ke kantor untuk resign,” ungkap Alika.          Arjuna menaikkan alisnya sebelah.          “Siapa yang menyuruh kamu resign dari kantormu?”          “Salah ya? Kan aku sekarang kerja di sini,”          Arjuna tersenyum angkuh.          “Tapi bagaimana jika tiba-tiba besok kamu saya pecat karena saya tidak membutuhkanmu lagi?”          “Yaa, saya akan memaksa bapak supaya saya tetap bisa bekerja di sini,” jawab Alika santai.          “Kamu terlalu percaya diri,” ucap Arjuna sinis.          Alika hanya tersenyum mendengar perkataan Arjuna.          “Lain kali kamu harus mendapat izin dariku terlebih dahulu jika kamu keluar dari rumah ini, faham?”          “Iyaaa aku faham,” ucap Alika merendah.          “Baiklah, sekarang kamu mandi dan turun ke bawah untuk makan malam,” perintah Arjuna.           Alika baru selesai mandi ia keluar dari kamar mandi masih dengan memakai handuk tiba-tiba pintu terbuka. Alika terkejut melihat Arjuna ada di hadapanya begitu dengan Arjuna yang  terbelalak melihat Alika yang hanya memakai handuk dengan rambut yang basah. Arjuna menurunkan pandanganya.           “Maaf.. maaf!” Arjuna refleks meminta maaf lalu menaruh dua paper bag di atas tempat tidur.            ‘’di dalamnya ada baju yang kamu pakai besok ke kantor,” tambah Arjuna masih dengan pandangan ke bawah.            “Apa? Ke kantor?” tanya Alika tidak mengerti.            “Iya, pakai bajumu dan turunlah untuk makan malam,” perintah Arjuna lalu pergi dari kamar Alika.            Kali ini Arjuna tidak akan bisa tidur nyenyak setelah melihat pemandangan yang sebelumnya tidak pernah ia lihat. Lain dengan Alika yang sekarang masih senyam-senyum tidak jelas mengingat Arjuna yang salah tingkah tadi.              Alika turun ke bawah, Arjuna sudah menunggu di meja makan. Arjuna mempersila kan Alika duduk.            “Mulai besok kamu ikut aku ke kantor, bukan hanya ke kantor saja tapi kemana pun aku pergi kamu harus ikut karena mulai saat ini kamu jadi aspriku,” terang Arjuna sambil memandang tajam ke arah Alika.           “Baiklah!” balas Alika santai.           Arjuna sudah menyantap makananya tapi Alika hanya membuat teh hangat dan meminumnya sedikit demi sedikit.            “Kenapa kamu tidak makan?” tanya Arjuna heran.            “Gak, aku gak lapar,”            Arjuna hanya mengangkat kedua alisnya mendengar jawaban Alika.             Makan malam selesai Arjuna yang sudah menaiki tangga melihat Alika yang sedang membantu Bi Yati membereskan meja makan, Arjuna melihat pemandangan yang tak biasa, biasanya hanya dia, Pak Min dan Bi Yati tetapi sekarang ada satu anggota baru di rumahnya, Arjuna sendiri belum mengenal lebih siapa Alika namun ia dengan mudah meminta Alika untuk bekerja sama denganya, tapi bukan masalah bagi Arjuna jika saja Alika berniat buruk atau tiba-tiba menjadi musuhnya, dengan mudah juga Arjuna akan menghabisi gadis itu jika dia bermain-main denganya. Arjuna melanjutkan langkahnya menuju kamar tidurnya.           Di dalam kamar Arjuna langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang ia masih teringat kejadian tadi saat di kamar Alika, baru sehari Alika sudah membuat masalah. Ya masalah, bagaimana tidak, gara-gara kejadian tadi Arjuna tidak bisa memejamkan matanya ia masih teringat dengan gadis berambut basah yang hanya memakai handuk sebagai penutup tubuhnya.   Pekerjaan Bi Yati selesai lebih cepat karena sekarang ada Alika yang membantunya.          “Terima kasih mbak Alika, malah jadi ngrepotin seharusnya Bibi yang melayani malah nak Alika ikut membantu pekerjaan Bibi,” ucap Bi Yati.           Alika tersenyum simpul.           “Sama-sama Bi, saya di sini kan juga kerja, tuh barusan majikan Bibi meminta saya jadi asisten pribadinya,” ujar Alika.           Bi Yati yang hendak menuju kamarnya juga ditahan oleh Alika.          “Bi, tunggu dulu!”          “Iya mbak Alika, ada apa ya?”          “Bi maaf yaa aku mau tanya nih, Arjuna kan namanya? Sebenernya siapa sih Arjuna itu? Aku penasaran kemarin aku ditolongin sama dia waktu aku mau dijahatin sama beberapa preman tetapi ketika mereka mendengar nama Arjuna kenapa mereka tidak jadi menyerangku dan Arjuna?”          Bi Yati tersenyum mendengar pertanyaan Alika dan itu semakin membuat Alika penasaran.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN