Di kucilkan

653 Kata
Bapak terdiam beberapa saat. Anak perempuanya sangat cengeng tapi kenapa sekarang dia bahkan tidak menangis ketika mengatakan itu. Sungguh Bapak bertanya tanya ada apa sebenarnya dengan rumah tangga anaknya. Setelah sepuluh tahun berumah tangga, anakpun sudah mulai beranjak besar. Safa malah memilih untuk menyerah. "Berikan bapak satu alasan yang kuat Safa." "Mas Pramudya sudah tidak menginginkan aku lagi pak." Jawab Safa tenang. Meskipun terlihat tenang, Bapaknya menangkap kekecewaan yang teramat dalam dari ucapan Safa. "Kenapa kamu baru mengatakannya sekarang Fa? Apa kamu sudah bicara dengan Pram?" "Sudah bu, mas Pram juga tidak bisa menjawab pertanyaan Safa. Selama ini Safa sudah menutupi kekurangan mas Pram. Safa bekerja agar mas Pram tidak terlalu terbebani dengan kebutuhan Safa." Bu Retno menghela nafas berat. Dia sama sekali tidak menyangka hubungan rumah tangga anaknya bermasalah sudah lama. Selama ini Pram dan Safa terlihat rukun rukun saja. Bahkan di antara anak yang lain bisa dibilang hubungan Safa dan suaminya lebih harmonis. Bapak mengeraskan rahangnya, menahan rasa yang menusuk ke dalam relung hatinya. Dulu dia menyerahkan anak gadisnya baik baik. Kenapa Pramudya malah membuangnya. Bukankah lebih baik mengembalikannya secara baik-baik. Dulu bapak diam saja ketika Safa di hina oleh ibu mertuanya. Bagi bapak, terlalu ikut campur urusan rumah tangga anaknya itu tidak baik. Sesekali bapak menasehati Pramudya agar memberikan pengertian secara baik baik kepada ibunya. Bapak tidak ingin melukai harga diri suami pilihan anaknya. Tetapi sekarang apa yang menantunya berikan. Mungkin jika orang lain tidak akan bertahan lama seperti Safa. Tanpa nafkah lahir dan bathin. Sungguh rasanya bapak tidak percaya anak perempuanya berani menggugat suaminya. Laki laki kurang ajar, gumam bapak lirih tetapi masih terdengar oleh ibu dan Safa. "Kalau ibu terserah kamu Safa, kamu yang menjalani. Ibu tidak ingin memaksamu bertahan jika memang sudah tidak kuat untuk bertahan." Safa memaksakan senyum di bibir tipisnya. "Terimakasih bu... sudah mengerti Safa." Sementara bapak terlihat diam saja. Mencoba meredakan emosi yang mengobrak abrik kesabarannya. _____________________ Sudah dua hari Safa tidak pulang ke rumahnya mertuanya. Ya, selama ini Safa menempati rumah mertuanya. Sementara Pramudya bekerja di luar kota. Namun sejak Safa mendaftarkan gugatan cerainya Safa memilih tinggal di rumah orangtuanya. Beruntung Randy sudah tinggal di sana jadi Safa tidak perlu repot membawa pakaian dan t***k bengek lainnya. Hari ini , entah angin apa yang membawa saudara-saudara Safa berkunjung ke rumah orangtuanya. Setelah bersenda gurau karena jarang bertemu Bapak memberi tahukan keputusan Safa ke pada anak anak yang lain. Bapak berharap Safa mendapat dukungan. Setidaknya Safa tidak bingung mencari pekerjaan untuk sementara ini. Biar lebih fokus mengurus perceraian. Ada kakak kakak Safa yang menurut Bapak bisa diandalkan untuk membantu Safa barang sebulan dua bulan. Safa memang memilih resign beberapa hari yang lalu, agar lebih fokus menghadapi perceraiannya. Tapi apa yang dibayangkan Bapak tidak seperti kenyataan yang ada saat ini. Suami kakak perempuannya marah dan memaki Safa. "Apa kamu ingin membuat malu keluarga ini? Dalam keluarga kita tidak ada yang namanya perceraian. Dalam rumah tangga itu pasti ada masalah. Kamu jangan lari Safa, selesaikan masalahmu dengan baik, sebelum kamu memutuskan bercerai. " Soyta tampak berapi-api ketika memarahi Safa, padahal kalau dipikir pikir apa hak dia melarang Safa. Dia adalah orang luar yang tak seharusnya menghakimi adik iparnya sedemikian kejam. Sekedar ipar yang tidak tahu menahu hubungan rumah tangga Safa yang sebenarnya. Apalagi dia belum mendengar alasan Safa. "Aku akan menemui Pramudya secepatnya!" lanjut Sotya. Hari itu Safa merasa kecewa. Sebenarnya Safa tidak meminta dukungan apapun dari saudaranya. Dia hanya berharap keputusanya dapat dihargai. Itu saja sudah cukup bagi Safa. Berulang kali Sotya kakak ipar Safa mengatakan bahwa Safa telah melakukan hal bodoh dengan menggugat Pramudya. Apa yang kurang dari Pramudya? pertanyaan itu terus terngiang ngiang di telinga Safa. Bahkan sampai hari menjelang malam Safa tidak ditegur lagi oleh saudara saudaranya karena dianggap memalukan. Apakah yang aku lakukan ini salah? batin Safa sembari menatap langit kamarnya. Biarlah apa kata orang orang. Aku akan tetap menjalani proses ini. Tekad Safa kuat. Aku masih punya Randy. Aku tidak boleh menyerah hanya karena ucapan orang orang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN