Pramudya kembali menenggak minumannya. Beberapa hari ini dia tidak menemui Safa istrinya. Sungguh sebenarnya dia sangat merindukan istrinya,tapi dia tak punya cukup keberanian untuk menerima tatapan terluka yang ada di manik mata Safa.
Andaikan dia bisa memutar waktu,mungkin dia tidak akan pernah mengambil pekerjaan di luar kota. Sembilan tahun dia pergi merantau mengumpulkan sedikit demi sedikit uang agar bisa membuat sebuah tempat yang nyaman untuk keluarga kecilnya.
Namun cobaan ternyata sangat kuat menghantam rumahtangganya.
Beberapa bulan yang lalu istrinya menyusul ke kota,meminta dengan sangat agar dia kembali ke rumah. Bekerja se adanya yang penting bisa hidup berdampingan layaknya orang berumah tangga pada umumnya.
Menikmati kebersamaan meskipun dalam kesederhanaan.
Tapi ambisi Pramudya sangatlah tinggi dan besar. Dia tidak sadar Safa tidak akan kuat. Istrinya hanya wanita biasa, dia tak pernah meminta dibuatkan istana. Dulu istrinya pernah bilang bahwa dia rela tinggal di gubug bambu penuh kedamaian daripada di rumah mewah tanpa adanya kebahagiaan.
Sekarang apa yang dia dapatkan? Kaya tidak, istrinya meminta berpisah
Anaknya pun tidak terlalu dekat dengannya.
Bahkan ayahnya sangat marah kepadanya. Selama ini Safa sudah sangat berkorban bagi keluarga Pramudya. Safa berjualan sambil mengasuh anaknya,karena tuntutan dari mendiang ibu Dewi, ibu Pramudya yang selalu menyuruh Safa untuk bekerja.
Alhasil Safa bekerja sambil mengasuh anaknya. Pekerjaan apapun dilakukan oleh Safa,menjadi buruh panen cabai,menjadi penjual sayur,bahkan menjadi tukang cuci dan setrika pun dilakoni oleh Safa.
Meskipun gajinya tak seberapa tapi Safa bisa membaginya.
Pramudya merasa gagal melindungi istrinya. Pramudya juga malu karena selama ibunya menderita stroke Safalah yang merawat ibunya,menjual perhiasannya untuk biaya perawatan bahkan membuat rekening untuk menabung biaya perawatan ibu mertuanya itu.
Sungguh Pramudya sangat malu,dia tidak ada muka untuk pulang.
Berulang kali ayahnya mengingatkan Pramudya saat itu. Terngiang kembali kata kata bapaknya sebelum dia pergi ke kota metropolitan. Walaupun istrimu mandiri tidak seharusnya kamu menyerahkan semua tanggung jawab kepada istrimu Pram. Jika istrimu pergi bapak tidak akan melarangnya,bapak takut akan menyakiti hati Safa karena bapak merasa berhutang budi pada Safa.
Skak mat. Pramudya sudah kalah sebelum berperang,dari keluarganya sendiri tidak ada yang mendukungnya untuk mempertahankan rumah tangganya. Saudaranya,ayahnya semua lebih care kepada Safa. Ketika ibunya sakit,Safa yang di cari,ketika adiknya hamil di luar nikah dan laki lakinya tidak bertanggung jawab Safa juga yang menyelesaikan semuanya.
Pramudya kebingungan. Semua orang yang tahu kondisi rumah tangganya menyalahkan dirinya yang terlalu egois. Sebagai seorang suami Pramudya sangat nyaman ketika sendiri. Ketika bersama Safa dia merasa tidak nyaman,tidak bisa melakukan apapun yang dia mau. Itulah yang membuat Pramudya memilih menetap di luar kota daripada di rumahnya.
Pramudya tak pernah tahu apa yang dialami istrinya ketika istrinya berada di rumahnya bersama adik dan ibunya. Yang dia tahu Safa sering mengeluh tidak disukai oleh ibu dari suaminya itu.
Dan Pramudya tak pernah ambil pusing akan hal itu,bagi Pramudya Safa terlalu kekanak kanakan.
Sungguh Pramudya dilema apakah harus mempertahankan rumah tangganya atau harus mengakhirinya.
Dia mencintai Safa,tapi rasanya dia juga tidak bisa melihat Safa semakin terluka.
Apalagi sudah lima tahun terakhir dia merasa tidak bernafsu melihat Safa. Adik kecilnya tak pernah mau bangun meskipun melihat Safa tanpa mengenakan pakaian sama sekali.
Aaaahhhh....
Pramudya melempar gelas ke sembarang arah. Mengutuk ketidak berdayaannya saat ini.