Randy, bocah laki laki berusia delapan tahun itu tak pernah menanyakan kapan ayahnya akan pulang.
Dia terbiasa hidup dengan mamanya. Seolah olah bisa merasakan penderitaan mamanya selama ini Randy memilih menjadi pribadi yang pintar menyembunyika rasa sakit hatinya.
Walaupun Pramudya ayah kandungnya tapi Randy tidak pernah merasa dekat ataupun merindukan sang ayah. Randy, bocah yang dipaksa dewasa oleh keadaan. Sudah sangat sering melihat mamanya dimarahi oleh nenek dari pihak ayahnya. Hal itu membuatnya menjaga jarak dengan keluarga ayahnya. Entah dengan kakeknya ataupun bibinya.
Randy melihat sendiri perjuangan mamanya menyekolahkan dirinya. Randy bersyukur akhir akhir ini mamanya memang mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang lumayan besar untuk ukuran gaji sebagai karyawan di kios pasar tradisional.
Randy mendapat uang saku dari mamanya, Randy juga diantar jemput ke sekolah oleh tetangganya yang dibayar dengan gaji sang mama.
Randy kecil sungguh tak tahu pekerjaan apa yang dilakoni ayahnya sehingga jarang mendapatkan uang,padahal ayahnya bekerja di luar kota dan tak pernah pulang.
Randy tak pernah meminta apapun kepada ayahnya. Semua kebutuhannya meminta pada mamanya. Bercerita dan mengeluh juga pada mamanya.
"Ma,Randy ingin jualan, kayak mama di sekolah."
Safa terkejut.
"Loh .. kenapa nak,apa uang sakumu kurang?"
"Nggak ma,alhamdulillah cukup hanya saja Randy gak tega lihat mama harus lembur sampai malam. Tolong modalin Randy ya ma,nanti uang keuntunganya buat Randy jajan. Biar Randy g ngabisin uang mama."
Safa mengangguk. Sangat sulit melarang Randy,apalagi kalau Randy sudah mau sendiri,kalau di larang bisa bisa Randy akan ngambek berhari hari.
Dan Safa tidak mau itu terjadi. Sidang perceraiannya sudah akan di gelar,dia tidak ingin pusing memikirkan hal hal yang akan membuat hatinya tambah rapuh.
Biarlah nanti juga Randy akan berhenti sendiri kalau sudah bosan jualan. Batin Safa.
Randy sebenarnya merasa sakit hati dengan perpisahan ke dua orangtuanya. Tapi dia percaya , pilihan mamanya adalah yang terbaik. Entah sejak kapan dia kehilangan sosok seorang ayah. Bagi Randy, mamanya adalah seorang ibu juga ayah. Mamanya bisa mengambil keputusan,bisa lembut, dan bisa sangat keras ketika Randy melakukan kesalahan. Randy cukup menyimpan sakitnya sendiri. Dia percaya seiring berjalannya waktu dia akan terbiasa.
_______________
Pengadilan Agama.
Sidang pertama tidak jadi digelar karena Pramudya ternyata datang dengan ayahnya. Safa menghela nafas berat. Ingin rasanya Safa berteriak lelah dan menjerit menyuruh suaminya pulang saja agar persidangan cepat selesai.
Tapi tampaknya Pramudya tidak mau melepaskannya dengan mudah.
Di ruang mediasi Safa dan Pramudya beradu argumen, sampai bapak mediatornya terlihat sangat kesal.
"Sebagai sesama laki laki,menurut saya anda kurang memahami istri anda sendiri. Mbok jadi suami yang peka. Yang bersifat ksatria. Memberikan nafkah pada istri anda dengan baik. Lihatlah istri anda,apa anda tidak malu melihatnya yang seperti ini?"
Apakah anda akan terus membesarkan ego anda? tidak mau mendengarkan istri anda barang sejenak. Istri anda itu bukan patung,dia punya perasaan. Dia punya rasa lelah. Sementara anda hanya berkutat dengan pekerjaan anda,dunia anda tanpa membantu kerepotan istri di rumah. Istri ikut mencari nafkah,mengurus rumah. Anda itu mbok ya jangan cuek jadi orang!"
Pahami juga keinginan istri. "
Pramudya terdiam. Sungguh malu rasanya menjadi dirinya, dia gagal menjadi imam. Bukan semata karena kesalahan istrinya,tapi karena kesalahanya yang membiarkan istrinya terlalu lama menangung beban sendirian. Hingga sekarang dia melihat istrinya justru seperti kepala rumah tangga. Yang berani membela keluarganya,sementara dia enak enakan tenggelam dalam dunia kerjanya.
Mediasi hari itu berlangsung alot. Safa tetap kekeh dengan keputusannya untuk bercerai. Sementara Pramudya sendiri bingung harus bagaimana.
Bulan berlalu dengan cepat mediasi dan tahap tahap persidangan pun dilewati dengan sangat rumit.
Hari itu Pramudya menemui Safa di rumah mertuanya. Safa menemuinya di teras rumah.
"Mau apalagi kamu ke sini mas?"
"Aku rindu kalian."
"Rindu? hahahahahaha.. kemana saja kamu selama ini mas?apakah tak cukup kau membuat hidupku susah, menanggung semua yang seharusnya menjadi tanggung jawabmu?"
Pramudya terdiam. Lidahnya sangat kelu tak bisa melakukan pembelaan. Sorot mata istrinya menampakan begitu banyak luka dan kekecewaan. Istrinya yang dulu penuh senyum,yang dulu selalu peduli, memberinya semangat, selalu mengingatkan dirinya untuk melakukan kewajibannya sekarang tampak sangat rapuh.
Pramudya ternyata salah menilai istrinya, selama ini istrinya terlihat sangat kuat, Pramudya lupa bahwa istrinya juga wanita biasa yang butuh pelukan,butuh sandaran,butuh kehangatan dalam hubungan rumah tangga.
"Maafkan aku,tolong beri aku kesempatan sekali lagi...
"Maaf mas, aku tidak bisa, kau melukaiku terlalu dalam. Ku akui kau selalu bersikap biasa,kau tak pernah melukai fisikku kau sudah menjadi laki laki yang baik, tapi maaf aku tidak bisa.Sebaiknya mas pulang saja,rasanya tidak pantas kita seperti ini sementara besok pagi adalah sidang keputusan.
Jika mas Pram meminta kesempatan, aku sudah memberi mas kesempatan sejak delapan tahun yang lalu.
Pramudya kesal. Dia datang baik baik tapi istrinya seakan akan memang sudah ingin membuangnya.
"Sebenarnya apa maumu Safa? Kamu sangat bersemangat sekali dengan perpisahan kita. Apakah ini memang sudah kamu rencanakan dari dulu?"
Pramudya berkata dengan keras sambil mencengkeram pergelangan tangan Safa. Menatap tajam manik cokelat Safa yang sudah berkaca kaca.
"b******k kau mas!" maki Safa dengan sangat keras.
Safa sungguh tidak terima diperlakukan seperti itu. Suaminya menuduhnya merencanakan perceraian. Sungguh pemikiran dangkal dan bodoh terkesan ugal ugalan yang langsung menghantam jiwa Safa menjadi semakin remuk tak berbentuk lagi.
"Inilah yang membuatku semakin mantap untuk berpisah, kau terlalu over thinking terhadapku mas, kau selalu sibuk mencari pembenaran,tapi tak pernah mencari kebenaran. Sadarlah mas,kau terlalu egois."
Safa menatap tajam iris mata hitam itu.
"Aku tidak akan pernah menyesali keputusanku mas."
Safa segera masuk ke dalam rumah. Menutup pintu dengan keras dan menguncinya. Pramudya mengusap wajahnya kasar,mengambil helm dan menyalakan motornya. Usahanya untuk merengkuh hati Safa sepertinya sangat susah. Melihat Safa yang sangat terluka dengan sikapnya selama ini.
Pramudya sadar Safa tidak akan pernah membuka hatinya lagi.