Pernyataan

555 Kata
Tak ingin berada dalam situasi canggung Safa segera bertanya pada Dewa. "Minta apa mas?" "Jauhi Nafi, biarkan Anggi atau orang lain yang menanganinya." "Tapi kenapa mas?" "Aku tidak suka cara dia menatapmu. Menurutlah. Aku yang akan mengurus dia nanti." Lanjutnya dengan sangat yakin. Safa terdiam. Merasa tidak nyaman untuk berdebat. Hah, sebenarnya apa hubunganku ini? Kenapa dia sangat posesif sekali. Batin Safa Tak ada yang ingin dia ucapkan lagi. Akhirnya mereka berdua sampai di tempat tujuan. Danau yang sangat indah dengan pemandangan yang sangat bagus. Bunga bunga bermekaran di pinggir danau. Pohon pohon menjulang tinggi. Menambah kesan asri. "Kenapa kau membawaku ke sini mas?" "Karena kau adalah orang spesial dalam hidupku. "Ish.. berhentilah menggombal mas. Aku tidak punya recehan." Dewa terkekeh pelan. Dan mengajak Safa untuk turun. "Ayo kita turun." Mereka jalan beriringan ke tepian danau. Melewati taman bunga warna warni. Safa tak henti hentinya tersenyum dan Dewa sangat senang melihatnya. Dia berjanji dalam hatinya akan membuat Safa terus tersenyum. "Mas... ini indah sekali. Terimakasih ya." "Apa kau suka?" Safa mengangguk sambil sesekali membenarkan letak jilbabnya yang tertiup angin. Mereka memilih duduk di rerumputan. "Fa.." "Iya mas." "Mas mau ngomong." "Iya ini kita lagi ngomong mas." Dewa kikuk sendiri. Tapi dia harus membicarakn ini pada Safa sebelum orang lain merebut Safa kembali. "Aku tahu ini terlalu cepat bagimu, tapi aku sudah tidak sanggup lagi menahannya." Safa mengerutkan dahinya membuang pandangan ke arah danau luas. "Aku berfikir, aku menyukaimu. Aku tahu tidak mudah bagimu menerima orang baru. Tapi aku berharap kita bisa saling mengenal terlebih dahulu." "Aku meminta padamu untuk diberikan kesempatan meyakinkanmu." Ucap Dewa dengan jelas. Dada Safa bertalu talu. Entah kenapa dia juga menyukai kenyamanan ini. Dia juga merasakan perasaan yang sama. "Apa mas tidak malu, mendekati seorang janda sepertiku? Udah punya anak lagi." jawab Safa. Dewa menatap Safa dengan mantap. "Apa yang ku pilih itu tidak ada keraguan di dalamnya. Aku hanya butuh waktu untuk membuktikan kepadamu. Datanglah ke rumah, aku ingin mengenalkanmu pada ibuku." " Aku akan memberikan jawabanku setelah satu minggu mas. Aku harus menata ulang hatiku. Sungguh aku tidak ingin berhubungan yang akan berakhir dengan sia sia." "Aku mengerti." "Aku sudah punya anak. Dia adalah prioritasku. Jadi aku berharap orang yang akan mendampingiku kelak adalah orang yang mau menerima anakku." Jawab Safa jujur. "Aku akan menunggumu Fa. Apa kau mau datang ke rumahku?" "Aku tidak janji, tapi akan aku usahakan." "Terimakasih Fa. Ku harap sebelum satu minggu kamu sudah memberikanku kepastian. Agar aku tidak mati penasaran." "Apa mas ingin meninggalkan Safa sendirian?" "Maksudmu?" "Mas mau mati penasaran menunggu jawaban Safa?" Dewa tergelak. Selain sopan, Safa pinter juga membuat orang tertawa. Dering ponsel Safa mengalihkan perhatian mereka berdua. "Kok gak diangkat Fa?" Tanya Dewa heran. "Nomor baru, malas ngangkat telpon dari orang tidak jelas. " Ting. Sebuah pesan masuk ke ponsel Safa. Aku ingin bertemu Randy. Apa kamu ada waktu?Dia tak akan menemuiku tanpa ijinmu. Safa menutup mulutnya. Dadanya berdenyut nyeri. Dewa kaget. Merasa penasaran. Tapi dia membiarkan Safa menangis terlebih dahulu. Dia yakin itu adalah pesan dari Pramudya. Karena terlihat dari wajah Safa yang langsung cemberut. Hanya Pramudya yang bisa menggoncangkan hati Safa. Safa terlihat mengetik pesan. Baiklah. Aku akan atur waktunya. Besok aku kabari lagi. Dewa pura pura tidak melihat kesedihan Safa. Dia bertanya dengan datar. "Siapa?" "Mas pram." Bahkan Safa masih memanggilnya mas. Aku benar benar harus memberinya pelajaran. Batin Dewa
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN