Chapter 5 - Kejutan Ulang Tahun

1344 Kata
Aku terbangun dari tidurku yang nyenyak karena sesuatu mengangguku. Kulirik Delima yang masih tertidur di sampingku. Ah, anak ini benar-benar tuli telinganya kenapa dia tidak mendengar suara handphoneku yang kata mama sering membuat semua orang terkejut? Aku melirik jam dinding yang ada di kamarku. Jam dua belas kurang lima menit dan sebentar lagi tanggal dua puluh satu September dan aku akan bertambah.. tua astaga dua puluh tahun? aku nampak seperti tante-tante girang dengan umurku yang sekarang. Aku bangkit dari tempat tidurku dan menarik kursi belajarku sembari aku memandangi kumpulan foto-foto yang terletak di depan meja belajarku. Banyak sekali foto yang menceritakan kenangan-kenanganku yang sangat indah saat aku lahir dan tumbuh di keluarga yang sangat sederhana ini. Sepanjang dua puluh tahun hidupku aku tak merasakan bagaimana rasanya memiliki barang mewah atau jalan-jalan keluar negeri. Namun, aku tak pernah perduli seberapa sederhananya keluarga ini yang aku perdulikan adalah keluarga ini membesarkanku dengan penuh kasih sayang dan berbeda dengan yang lain. aku tak pernah meperdulikan tentang harta atau taktah. Yang terpenting selama dua puluh tahun hidupku, aku bahagia memiliki papa, mama, Delima, dan nenek di sampingku. Handphoneku berdering dengan keras terlihat nama Dikta tertera di layar handphoneku sedang memanggil. Tanpa pikir panjang aku pun mengakat panggilan dari Dikta. "Halo?" "Hey, Pipi Tomat!" sahut Dikta, "Belum tidur?" "Kebangun he-eh," jawabku cengengesan, "Kenapa emangnya? Tumben banget telfon." "Oh, jadi gue nggak boleh telfon lo ni?" tanya Dikta dengan nada kecewa. "Dasar Kiting!" balasku ketus, "Lo tumben banget si telfon gue? Biasanya sok sibuk banget lo sama kuliah lo. Yang rapat ini lah itu lah, emang elo--." "Coba lo keluar dari kamar," potong Dikta, "Cepet ya!" "Tapi--." Dan Dikta langsung menatikan telfonnya. Sial menyebalkan! Dengan perasaan kesal aku  memutuskan untuk keluar dari kamarku dan tiba-tiba lampu ruang tamu pun nampak gelap dan aku pun menjerit ketakutan seperti orang t***l dan.. "NADIA, HAPPY BIRTHDAY YA!" teriak seseorang dan lampu pun langsung menyala. Sebuah kue ulang tahun sudah berdiri cantik di atas meja. Aku melihat mama papa Delima nenek, Fena, dan Dikta pun berdiri di depanku dan mereka pun menyanyikan lagu selamat ulang tahun untukku. Mama menghampiriku dan membawakan kue ulang tahun yang bersematkan lilin angka dua puluh di tengahnya. "Nadia, selamat ulang tahuh ya.” "Makasih Mama!" balasku sembari nyegir, "Ah, aku nyaris saja melupakan lagi ulang tahunku sendiri he-eh." Papa menghampiriku dan sedetik kemudian mengacak-acak rambutku yang tergerai berantakan. "Kamu selalu saja seperti itu, Nadia. Di pikir-pikir kamu mirip Nenek-Nenek deh kalau begini terus." "Ah, Papa jangan acak-acakin rambutku!" dumalku, "He-eh biarin yang penting satu hal yang nggak pernah aku lupakan, aku punya Papa yang sangat hebat." "Kamu selalu saja begitu," ledek Papa, "Ya ya ya. Selamat ulang tahun, anak Papa yang manja." "Makasih, papaku yang menyebalkan," ujarku, "Tapi, walau Papa menyebalkan aku sayang papa, selalu!" "Nadia, selamat ulang tahun," ujar Nenek, "Semoga panjang umur dan sehat selalu cucu Nenek yang satu ini." "Trims, Nek," balasku. "Nah, sekarang sebelum aku kasih ucapan selamat ulang tahun sama kakakku tercinta," kata Delima, "Kak Nadia tiup lilin dulu dong buat make a wishnya." Mama menyodorkan kue ulang tahun denganku. Aku memejamkan kedua mataku sembari berdoa di dalam hatiku. Aku berharap di ulang tahunku selanjutnya aku masih bersama orang-orang yang aku cintai ini, di ulang tahun yang selanjutnya aku masih bisa bersama Dikta, entah sebagai apa entah bagaimana hubunganku denganya aku sangat mencintanya seperti aku mencintai papa. Setelah aku berdoa di dalam hati aku pun meniup lilin berangka 20 tersebut dan semua orang di ruangan ini bertepuk tangan. "Kak Nadia, selamat ulang tahun!" Dan Delima langsung memelukku erat hingga aku sulit bernapas. ya gadis bawel ini ingin membunuhku pelan-pelan apa? membuat aku sesak napas begini. "Makasih, Adikku yang paling bawel," sahutku. Delima melepaskan pelukanya ia menatapku sekilas. "Sama-sama Kakakku yang ribet kaya Tante-Tante!" Ujar Delima sembari tersenyum meledek. "Selamat tambah tua kakaku! Semoga belum ada garis keriput di wajah kakak belum ada ya!" Sial adik macam apa -_- berani-beraninya dia meledeku tentang masalah garis keriput. Memangnya aku setua apa sampai-sampai membicarakan garis keriput di wajah! "Delima!" dengusku. "Damai Kak damai," bisik Delima, "Jangan ngomel-ngomel dong kak nanti Kak Dikta kabur loh, kalo liatin Kakak ngomel Kakak kan kalo ngomel mirip sama Ahjumma." "Delima!" aku mencubit pinggang Delima dengan kesal, "Awas kamu liatin aja!" "Udah dong udah!" ujar Fena, "Kayanya adik kakak nggak pernah akur ya? Dasar Tom and Jerry kalian."Kami pun sama-sama nyegir. Aku pun berusah menahan rasa kesalku dengan Delima, ya bersyukrlah kau adalah adikku satu-satunya kalau tidak akan kujitak sampai kepalamu benjol. "Nadia, selamat ulang tahun." Fena mengulurkan tanganya. "Makasih, sahabat seumur hidupku yang alay." Aku pun membalas uluran tangan Fena, “Kadonya mana?” “Tunggu gue sampai bisa ketemu sama Lee Hong-ki ya, baru gue kasih lo kado.” “Idih!” cibirku, “Ngarep banget si lo Fen!” “Lo nggak sadar diri ya,” sindir Fena, “Lo sendiri juga ngarep kan ketemu sama Song Seung-hyun?” “He’s my husband,” sahutku. “Iyuh, ngarep sekali!” Dikta menghampiriku bersama Delima. "Nadia, selamat ulang tahun." Dengan refleks aku memeluk Dikta. "Makasih, Dik!" Seketika aku tersadar dimana saat ini aku berada. Ya babo-ya -_- ada papa kan? Aduh bisa-bisa papa bakalan marah ni ya tuhan aku kenapa sebodoh ini si. "Nadia," bisik Dikta. "Eh... eh... eh... sorry Dik sorry." Aku langsung langsung melepaskan pelukanku bersama Dikta. Aku merasa pipiku sangat panas hingga nyaris terbakar. "Nggak apa-apa Nad, santai aja." ujar Dikta. "Aduh, Papa udah ngantuk ni!" kata Papa tiba-tiba, "Mama, ayo kita tidur! Delima juga. ya oh iya biarin Nenek cepet istirahat juga kasihan Nenek gak bisa tidur larut malam." Papa menarik mama untuk masuk kedalam kamar diikuti dengan nenek dan Delima. Kini tinggal aku, Fena dan Dikta saja di ruangan ini. kami saling lemparkan pandangan bingung satu sama lain. "Btw, udah malam ni," ujar Dikta memecahkan keheningan di antar kami bertiga. "Gue pulang ya? Udah jam satu juga." Dengan cepat aku menarik tangan Dikta. "Nggak nginep aja?" "Ehem..." Fena terbatuk kecil, "Nadia, gue masuk ke kamar duluan ya. Udah ngantuk ni." Fena pergi meninggalkan kami berdua. Aku diam membisu cukup lama dengan Dikta kami hanya saling melemparkan pandangan bingung satu sama lain. "Nad," panggil Dikta. "Ya?" "Gue pulang ya?" tuas Dikta, "Nanti siang gue harus pulang ke Bogor lagi." "Ya, kok cepet banget!" ujarku sedikit kecewa, "Kan elo belum-." Dikta mengelus poniku. "Kapan-kapan aja kita jalan-jalan terus kita makan-makan sama yang lain. Bentar lagi kan libur kuliah juga oke?" "Tapi tapi..." Dengan cekatan Dikta mendekapku dalam pelukanya. "Sabar. tunggu bulan Januari nanti kita jalan-jalan lagi bareng yang lain, oke?" "Baiklah!" ujarku, "Besok lo juga kuliah juga kan?" Dikta tersenyum meledek denganku. "Emang kampus gue kaya kampus elo apa? selalu nyuri start. Kampus yang lain masih libur kampus lo masuk. Kampus yang lain belum ospek kampus lo udah ospek. Gue besok masih ngospekin maba tau! belum masuk waktu perkuliahan." Sial kenapa hanya kampusku yang selalu mencuri start -_- menyebalkan aku sedikit menyesal kenapa aku dulu berimpian sangat besar masuk ke kampusku ini? "Ya ya ya diam kamu yang masih libur!" ujarku kesal, "Jangan ngeledekin terus deh." Dikta mencium keningku tiba-tiba. "Udah, Bu Dokter jangan ngomel-ngomel terus nanti cepet tua loh!" "Dikta, lo itu nyebelin banget si jadi orang!" erangku "Biarin!" balas Dikta.,"Gue emang nyebelin. Tapi, gue selalu bikin kangen kan?" "Ah, Dikta!" Dikta melepaskan pelukanya. "Udah udah jangan ngomel-ngomel terus bu dokter. gue pulang dulu ya see you, Nadia" Dikta melambaikan tanganya kearahku. Seketika aku merasa tidak rela ia pergi, aku pun berlari kearah pintu dan dengan cepat aku pun memeluk pinggang Dikta dengan erat sembari menangis. "Jangan pergi," isakku, "Jangan pergi Dikta, jangan pergi... please jangan pergi lagi." Dikta berbalik kearahku. "Gue nggak akan pernah pergi," ujar Dikta, "Apa lagi dari hati lo." "Dikta." "Nadia..." ujar Dikta, "Lo, jangan nakal-nakal ya?" "Ha?" Kedua tangan Dikta meraih tanganku yang bergerak bebas. "Tempat kamu udah ada disini. Jadi, jangan pernah untuk pergi dari sini." "Dikta...." Dikta melepaskan genggaman tanganya. "Nadia, gue pulang ya?" Butuh waktu sepersekian detik untuk menjawab pertanyaan Dikta. Astaga Dikta ini maksudnya apa? katakan denganku ini hanya lelucon milikmu? Astaga jantungku... jantungku. *******
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN