Bunyi pintu apartemen yang dibuka membuat mata Jeri ikut terbuka. Lelaki yang baru bisa tertidur sekitar lima belas menit itu berdecak ketika menemukan jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah satu malam. Dengan gerakan malas, Jeri keluar dari kamar. Ada Kanadia Agraf disana. Dengan balutan jaket jeans dan bawahan celana pendek dan ketat berwarna hitam dan heels senada. Matanya sayu. Rambutnya digerai seperti biasanya, hanya saja kali ini Jeri merasa rambut perempuan itu sedikit kusut.
"Baru pulang, nyonya?" sarkas Jeri. Tangannya terlipat di depan d**a dengan sisi tubuh yang tertopang dinding di anak tangga paling bawah.
Kana meliriknya sekilas tapi tak menanggapi apapun. Perempuan itu melepas heels-nya dan membiarkan sepatu mahal tersebut tergeletak begitu saja di lantai. Kana melewati Jeri, membuat pemuda tersebut mencium aroma alkohol di tubuh Kana.
"Mabok berapa gelas lo?"
"It's none of your business, Jeremi Yudistira." Kana melanjutkan langkahnya dengan sedikit terhuyung karena sulit menjaga keseimbangan. Bahkan perempuan itu hampir jatuh. Tapi Jeri diam saja mengamati setiap pergerakan Kana, tak berniat memberi bantuan. Biar tahu rasa.
"Mabok berapa gelas, gue tanya?"
Kana yang berada di tiga tangga atas dari anak tangga yang diinjak Jeri menoleh. "Tiga."
Jeri mengikuti Kana yang kembali melangkahkan kaki. "Tiga gelas?"
Kana terkekeh mengejek. "Dudeeee, lo kira gue bocah SMA mabok cuman tiga gelas?"
Oke. Seharusnya Jeri tahu bahwa Kana juga hebat dalam masalah mabuk-mabukan.
"Gue udah laporin kelakuan lo ke bokap."
"WHAT?!"
Kali ini Jeri menyeringai puas mendapati reaksi terkejut dan tak terima dari Kanadia Agraf. Ia menaiki tangga lebih cepat dan melewati Kana begitu saja. Membuat Kana yang kini jadi mengikuti Jeri dari belakang dengan perasaan marah dan menggebu-gebu. Gila saja lelaki itu, memangnya mereka masih anak-anak di sekolah dasar yang mainnya lapor-laporan ke orang tua?!
Kana menarik ujung kaos Jeri. "Lo bilang apa?!"
"I told you. Kelakuan lo malem ini."
"Anjing." Kana mengumpati Jeri. "Lo amnesia kita bikin perjanjian BUAT GAK IKUT CAMPUR URUSAN SATU SAMA LAIN, HAH?!"
Kana akhirnya berteriak. Emosinya meletup-letup. Ini gawat. Jika Papanya tahu Kana masih ke kelab malam padahal statusnya sudah menjadi istri Jeri, bisa-bisa Papa akan menyuruh Jeri untuk mengurung Kana di kamar sebulan penuh. Atau setahun penuh. Ditambah dengan uang belanja yang turun drastis menjadi satu juta perminggu. Atau perbulan. Sialan. Kana merasakan pusingnya menjadi-jadi. Ia memijat sisi kepalanya. Matanya berkunang-kunang.
"See? Liat resiko kalau lo gak nurutin omongan gue." ujar Jeri yang melihat kini Kana tak sanggup bergerak dengan satu tangan menopang badannya di dinding di samping kamar Jeri.
"Gak usah berisik, please. Makin pusing."
Jeri melengos. Kana sendiri sudah berbalik meninggalkan Jeri dan menyeberang ke kamarnya sendiri. Tapi baru dua langkah, Kana sudah terhuyung ke samping dan akibat tak ada pegangan. Ia terjatuh— kalau saja Jeri tidak sigap menangkap tubuh ramping gadis itu.
Melihat Kana yang sudah pingsan, Jeri lagi-lagi mendengus. "Ngerepotin as always seperti Kana biasanya." Gumam lelaki itu jengkel. Namun mau tak mau, Jeri tak mungkin meninggalkan Kana yang sudah lemas dan tak berdaya itu di lantai. Jadi untuk yang ketiga kalinya, Jeri menggendong Kana ke kamarnya.
Usai berhasil menurunkan gadis itu, Jeri berdiri di samping ranjang Kana mengamati gadis itu. Tak ada yang tahu mengapa Jeri yang biasanya bodo amat dan selalu tak mau ikut campur urusan orang lain itu jadi mudah terketuk pintu hatinya. Seperti sekarang. Jeri tak tega melihat Kana tidur dalam posisi seperti ini. Dalam balutan baju yang tak nyaman. Dan segala sesuatu yang menempel pada tubuhnya.
Demi Tuhan tak ada maksud apapun— walaupun Jeri adalah lelaki normal dan masih bisa menggunakan hawa nafsunya sebaik mungkin— tapi tidak dengan kali ini. Jeri murni ingin membantu Kana. Jadi lelaki itu bergerak maju. Duduk di samping tubuh Kana. Ia menundukkan tubuhnya, tangannya bergerak menyentuh telinga Kana, berusaha melepas anting bundar disana. Matanya memicing, berusaha sesabar mungkin menahan geli di perut karena tak kunjung bisa melepas benda itu.
Ia sempat melirik Kana yang sedikit terusik dengan sentuhan jemarinya yang mungkin membuat Kana terganggu, Jeri sempat mundur. Lelah sendiri karena tak kunjung berhasil.
"Ngapain lo?"
Jeri terkejut bukan main. Tiba-tiba Kana sudah membuka matanya— walaupun sedikit— dan melirik ke arah Jeri. Jeri berdeham canggung. Takut dikira modus oleh perempuan titisan medusa itu. "Gak liat gue lagi bantuin lo ngelepas anting?"
Kana menyentuh perutnya yang terasa diaduk-aduk ingin muntah. Kemudian benar saja gadis itu berlari kecil ke kamar mandi. Mengeluarkan isi perutnya di toilet dan Jeri tak berniat menghampiri gadis itu karena demi Tuhan— Jeri risih kalau harus berhubungan dengan muntahan orang lain.
Jadi lelaki itu memilih mendekat ke arah toilet saja, tidak sampai masuk, lalu berteriak. "Udah, Kan, muntahnya?"
Hoek! Hoek!
Jeri memejamkan mata berusaha menulikan telinga. Ya, mana bisa. Hhh.
"Jer, sekalian ambilin piyama di dalam lemari!" teriak Kana dari dalam sana. Jeri mendengus, baru ingin berseru tak terima karena Kana malah memperbudaknya tapi Kana segera mendahului. "Gue minta tolong!"
Lelaki itu menurut. Membuka lemari Kana yang lebarnya tak tanggung-tanggung dengan isi yang sangat-sangat maksimal bak rak pakaian di mall. "Sebelah mana? Tolong, dah, ini lemari lo gede banget."
"Paling atas!"
Tak perlu berjinjit untuk Jeri menggapai satu lembar piyama disana. Tapi entah mengapa ada satu benda yang ikut terjatuh saat ia menarik— dengan tidak rapi— piyama milik Kana. Bra berwarna hitam. Milik Kana. Jatuh. Di atas kaki Jeri.
Hal itu membuat Jeri merasakan canggung luar biasa. Ia meneguk ludah entah untuk apa. Bahkan pikirannya sempat bercabang. Tak mengerti mengapa bra milik Kana sebesar itu. Masa iya ukuran dia segitu? batin Jeri terheran-heran.
Jeri menunduk. Memungut benda laknat tersebut yang artinya ia harus memegang. Sialan. Tiba-tiba jantung Jeri berdetak tak karuan. Ia meneguk ludah. Lagi. Tangannya gemetar. Dengan kurang ajarnya ia mengelus renda di atas kain bra milik Kana. Merasakan sensasinya.
"Jer! Mana!"
Jeri terkesiap. "Iya, sabar!"
✓
Jeri bersyukur karena Kana sudah terlebih dahulu bangun dari pingsannya sebelum Jeri sudah menyentuh tubuh perempuan tersebut kemana-mana. Ditambah ia tak perlu berlama-lama di kamar perempuan itu yang penuh dengan aroma Kana sekali— dan yang entah sejak kapan membuat Jeri suka dan candu dengan aroma tersebut. Entahlah. Jika Mella beraroma vanilla, yang mana bau vanila adalah bau yang sangat lembut dan manis, beda dengan aroma parfum seharga laptop milik Kana karena baunya segar dan manis. Juga ada aroma memabukkan yang sulit dijelaskan. Ingatkan Jeri untuk melihat merk parfum milik Kana kapan-kapan.
Setelah semalam Kana mandi air hangat dan ganti maju, ia tertidur hingga keesokan harinya. Begitu pula dengan Jeri yang langsung mengistirahatkan pikirannya. Mereka berdua sama-sama terbangun pukul sembilan pagi. Dimana alasan mereka bangun juga karena bel apartemen yang dibunyikan dengan tak sabaran, diiringi bunyi ponsel Kana yang tak kunjung berhenti berdering sejak setengah jam yang lalu.
Keduanya keluar dari kamar, saling bertatapan seakan tahu siapa yang datang, kemudian bergegas turun ke bawah membukakan pintu.
Benar saja.
Disana ada Papa dan Mama Kana— atau yang sebenarnya juga papa dan mama Jeri juga. Mama masuk ke apartemen begitu saja setelah Jeri menyaliminya. Beda lagi dengan Papa yang matanya memicing tajam layaknya elang ke arah putri semata wayangnya.
"Dari mana kamu kemarin malam, Kana?"
Baru pertanyaan pertama yang dilontarkan sang papa di pagi hari dan sukses membuat Kana mati gaya. Tapi bukan Kana jika mau kalah dari yang lain, bukan?
"Papa udah tahu aku dari mana."
Perlahan tapi pasti, Jeri melangkahkan kakinya mundur. Memilih menemani Mama Kana, atau mama mertuanya, yang berkutat di dapur menyiapkan piring karena wanita tersebut membawakan makanan cukup banyak. Mungkin sadar jika Kana tak bisa banyak diharapkan dalam urusan dapur.
"Kana gak pernah masak, Nak, kalau pagi?"
Biarkan Jeri menjelaskan sedikit tentang ibu mertuanya. Rania Indadari adalah wanita terlemah lembut yang pernah Jeri temui. Bahkan ibu Kana itu lebih lembut dari pada Mella kekasihnya. Ia memiliki sifat keibuan, tak pernah berteriak, selalu tenang, dan Jeri yakin jika orang melihat senyum Mama Rania— begitu Jeri memanggilnya— selalu merasa hangat dan disayangi.
Seperti kali ini. Jeri berusaha mengingat-ingat kapan terakhir ia dipanggil 'nak' oleh Papa dan Mamanya sendiri tapi ternyata... nihil. Papa dan Mama Jeri memanggilnya dengan nama, tak pernah 'nak' atau 'sayang'. Jadi wajar, kan, kalau Jeri terharu?
"Masak, kok, Ma."
Dan Jeri tak tahu mengapa ia harus menutupi hal yang satu itu. Atau mungkin karena kasihan? Karena telinganya saja berdengung saat ini karena mendengar Papa Kana sedang memarahi gadis itu— walaupun tak memakai kalimat kasar, tapi tetap saja yang namanya marah pasti dengan nada tinggi— dan Jeri tak ingin menambah alasan Papa mertuanya semakin emosi.
"Jangan jadi istri durhaka ke suami sendiri, Kana. Papa Mama gak pernah ngajarin kamu kayak gitu, kan?!"
Jeri menoleh. Sedikit menahan tawa karena melihat Kana menunduk dan memainkan kuku-kukunya tetapi wajahnya terlihat bodoh amat. Dasar gadis itu. Mata Jeri beralih pada sang papa mertua. Kalau tadi sudah membahas mengenai Mama Rania, maka ini giliran Papa Ardi Prasetya Agraf.
Banyak yang mengira pria yang umurnya sudah tak lagi muda itu adalah pensiunan dari tentara atau polisi karena dilihat dari perawakannya. Padahal bukan. Tak ada keturunan keluarga Kana yang bekerja di bagian kenegaraan begitu. Tubuh Papa Ardi memang besar, berotot, dan terlihat tak cocok jika bersanding di samping Mama Rania. Kontras sekali.
Sesuai dengan bentuk badannya, Papa Ardi memang terkenal keras. Ia mendidik anaknya untuk disiplin— walaupun tak berhasil, karena katanya, dulu sewaktu muda, Papa Ardi juga seperti Rania. Sedikit— ah, ralat, banyak sombong, suka menindas, semena-mena, hal-hal seperti itu. Jadi jangan terkejut mengapa Kana menyebalkan karena ia lahir setelah mendapat bagian s****a dari sang Papa.
"Sudah, Pa. Bairin mereka berdua sarapan dulu." Mama Rania menghampiri Kana dan Papa Ardi di ruang tamu. Yang mau tak mau Jeri jalan mengikuti mama mertua. "Kasihan Jeri dan Kana sepertinya belum sarapan."
Mata Papa Ardi memicing pada Kania, "kamu belum sarapan?"
Yang ditanya menggeleng seperti anak anjing. Sok imut padahal tak menggemaskan sama sekali.
"Jam segini kamu belum makan?! Berarti kamu gak pernah masak kalau di rumah—"
"Pah, udah, deh. Satu masalah belum kelar, masalah yang lain malah dibahas!" Kana beranjak dari sofa. Ia. menghentak-hentakkan kakinya merajuk seperti anak kecil.
"Kanadia Agraf! Papa belum selesai bicara!"
Tapi Kana tak peduli. Ia malah melenggang memasuki dapur dan duduk tenang di meja makan. Gadis itu balas berteriak pada sang Papa. "Ngomong aja sama Jeri si mantu kesayangan Papa!"
Jeri hampir meledakkan tawanya mendengar Kana berbicara seperti itu. Ini maksudnya Kana merasa di anak tirikan oleh papanya sendiri setelah mereka menikah, begitu?
"Jeri, sarapan dulu sana sama Kana. Tadi Mama udah bawain rendang sapi sama kerupuk udang. Kesukaan kamu, kan?"
Senyum Jeri mengembang. Ia menganggukkan kepala semangat dan berpamitan kepada kedua mertuanya itu untuk sarapan lebih dahulu yang langsung diiyakan. Namun sebelum benar-benar pergi ke dapur, Papa Ardi memberinya pesan. "Lain kali kalau Kana masih gak bisa jadi istri yang baik buat kamu, gak nurutin maunya suami, bilang ke Papa, ya, Jer. Kana memang masih kekanakkan. Tapi sebenarnya dia punya hati yang lembut cuman ketutupan gengsi aja. Dia anaknya cengeng, kok."
Jeri menyengir saja mengiyakan.
Kakinya mengayun menghampiri meja makan. Mengambil duduk berseberangan dengan Kana. Ia tak bisa menyembunyikan binar gembiranya saat menemukan rendang sapi yang Jeri ingat-ingat terakhir kali ia makan rendang buatan mamanya sendiri adalah tahun lalu ketika acara pernikahan om-nya. Itupun hanya sedikit dan Jeri tak puas.
"Seneng lo jadi anak emas?" Kana menggigiti rendang sapi dengan tangan penuh bumbu. "Berasa gue yang anak pungut."
Jeri tertawa lirih, tapi ada senyum mengejek disana. "Makanya jangan main-main sama gue. Mampus, gak, lu dimarahin bokap?"
"Bodo amat."
Belum sempat mereka berdua menyelesaikan sarapan. Tahu-tahu Papa dan Mama Kana sudah turun dari tangga atas— yang artinya mereka berdua baru saja mengecek kamar Jeri dan Kana— dan itu artinya adalah...
"Kalian berdua tidur beda kamar?!"
Double shots, bro. Mati aja, dah.
Sepertinya pagi ini hingga siang nanti akan dihabiskan Jeri dan Kana mendengar ceramah dari Papa Ardi Prasetya Agraf yang terhormat.
✓
Percecokan tadi pagi, permasalahan yang diungkit-ungkit hingga berjam-jam kemudian mengenai tidur beda kamar— sampai-sampai Papa Ardi melupakan masalah Kana yang kemarin malam mengunjungi kelab— nyatanya membawa dampak buruk bagi pengantin baru tersebut.
"Papa dan Mama sudah memutuskan untuk menginap di apartemen kalian hingga tiga hari ke depan." Kata Mama Rania tadi siang.
Tentu saja Kana tahu apa maksudnya. Papa dan Mamanya ingin memastikan bahwa Jeri dan Kana tidur satu kamar seperti pasutri-pasutri normal lainnya. Jika Kana bisa membantah, ia akan bilang pada kedua orang tuanya bahwa Jeri dan Kana bukan termasuk pasutri normal, makanya mereka berdua tidak tidur di satu kamar.
Mengapa pula mereka tidak bisa mengerti bahwa Jeri dan Kana masih belum bisa terima atas perjodohan yang dilakukan mereka sebulan yang lalu? Dikira mencintai dan dicintai itu adalah perkara mudah?
Sekalipun orang banyak yang bilang bahwa cinta akan datang karena terbiasa— seperti lirik lagu lawas oleh musisi terkenal Indonesia— tapi jika Jeri orangnya, Kana pikir itu akan sangat-sangat sulit. Karena pertama, dibanding disuruh belajar mencintai Jeri, Kana lebih rela dan ikhlas diminta untuk memelihara monyet, atau mengelus ular— yang mana Kana sangat takut dengan hewan itu. Kedua, dibanding menyebut Jeri adalah seorang manusia, Kana lebih bisa menerima kenyataan bahwa Jeri adalah makhluk jadi-jadian. Sifat lelaki itu luar biasa menyebalkan. Dan alasan ketiga adalah, Jeri bukan Richo. Jeri bukan Richo yang dicintai Kana. Jangankan bicara cinta dengan Jeri, suka saja tidak.
Hari dimana seharusnya hari ini Kana menghabiskan waktu di mall shopping bersama teman-temannya— karena sudah tidak lagi selalu bersedia mengantar Kana seperti dulu— malah ia habiskan dengan menemani sang Mama membuat roti bolu dengan berbagai macam selai didalamnya. Kana tidak suka memasak. Kana tidak suka membuat kue. Jadi bisa dibayangkan, kan, betapa ini sangat menyebalkan bagi Kana?
"Ma, Kana, tuh, pingin ke mall. Jangan malah nyuruh Kana bikin beginian." Kana merengek kecil seiring dengan tangannya mengoles sendok selai stroberi ke dalam roti.
"Kalau sudah jadi istri, Kana harus banyak-banyak belajar masalah dapur. Biar bisa masak. Biar bisa nyenengin perut suami."
Kana cemberut. Siapa, sih, yang mau nyenengin perut Jeri? Kalau bisa, Kana lebih ingin memukul perut Jeri sampai kesakitan daripada mengenyangkan lelaki itu.
"Suami gak hanya butuh kesenangan di atas ranjang, Kan. Kamu sudah tahu hal beginian, kan?" Mama Rania menoleh pada putrinya yang tumbuh kebih tinggi daripada dirinya sendiri. Membuat wanita tersebut harus sedikit mendongak. "Omong-omong soal hubungan ranjang, kamu sudah ada gejala hamil belum, Kan?'
Kana melotot. "Hah? Apa, Ma? Mama tanya apa?"
"Kamu. Sudah isi belum?"
Mamanya ini kenapa, sih? Sudah tahu Jeri dan Kana saja tak tidur seranjang. Malah ditanya apakah Kana sudah hamil atau belum. Ya mana bisa hamil kalau dijebol aja belum?!
✓
Jeri hari itu sibuk di J&G. Ada kerugian tak wajar di kafe miliknya membuaf Jeri dan Gama harus turun tangan untuk mengecek pemasukan dan pengeluaran keuangan selama empat bulan terakhir.
Malam pukul delapan, Jeri yang biasanya bergadang, malam itu matanya sudah berat. Merah dan kelelahan. Kepalanya pusing. Perutnya lapar. Lengkap sudah. Jeri tak mengerti mengapa bisa uang senilai belasan juta hilang tanpa ada catatan di pembukuan. Ada yang salah. Tapi selama lima jam lebih ia dan Gama melakukan meeting dengan beberapa bawahan, mereka belum menemukan jalan keluar. Pikirannya suntuk. Ingin marah tapi ia tak bisa menyalahkan bagian keuangan karena ia dan Gama sama-saa lalai beberapa bulan ini.
"Lo nginep sini, Gam?"
Gama yang dari tadi juga frustasi dengan pembukuan di kedua tangannya jadi menoleh. Mata lelaki itu sama merahnya. Benar-benar kelelahan. "Iya, kali." Melihat Jeri sudah bersiap memakai hoodie dan menali sepatunya, Gama bertanya. "Lo mau balik sekarang?"
Jeri mengangguk.
"Emang beda, ya, kalau udah ada bini yang nungguin di rumah."
Jeri berdecih. "Ngomong sana sama tembok. Ada bokap sama nyokapnya Kana di rumah. Gak enak lah gue kalau musti balik kemaleman."
Tanpa berdiri, Gama menerima tos dari Jeri. "Ati-ati, man."
Jeri mengacungkan jempolnya sebagai jawaban.
Tak butuh waktu lama bagi lelaki itu mengendarai aventadornya hingga sampai di apartemen. Dengan berjalan lunglai, dia masuk ke dalam. Kakinya langsung menuju dapur mencari makanan. Tapi yang ia temukan hanya jagung rebus di meja. Itupun hanya satu patahan. Dia melengos. Tapi karena laparnya sudah tak bisa diajak bekerja sama, ia memilih mengambil dan memakannya. Hitung-hitung mengganjal perut.
Merasa tak banyak membantu, ia melangkah naik ke tangga atas, baru akan mengetuk pinru kamar Kana namun seseorang memanggilnya. Jeri menoleh ke belakang dan menemukan Kanadia Agraf keluar dari kamarnya. Ia melotot. "Lo ngapain dari kamar gue?!"
Kana menempelkan telunjuknya di depan bibir, mengisyaratkan Jeri agar tidak berisik karena Papa dan Mamanya sudah tidur. "Kamar gue diboikot bonyok."
Jeri menepuk dahinya, lupa tentang yang satu itu. "Berarti lo tidur di bawah, ya?"
"Yang bener aja?! Elo, dong, yang disana. Yang cowok siapa?"
"Yang numpang siapa?"
"Oh, lo mau gue aduin bokap, hah?"
Jeri memutar bola matanya. Jelas Kana akan melakukan apa yang ia mau untuk balas dendam. "Ya udah tidur di kasur aja berdua. King size juga."
Jeri masuk ke dalam kamarnya, diikuri Kana yang berjalan di belakangnya dan melotot tak percaya. Bagaimana bisa kalimat semacam itu keluar dari bibir Jeri? Tapi Kana saja yang tak tahu bahwa sebenarnya Jeri juga gugup saat bilang begitu.
Mau bagaimana lagi? Jeri tak mau tidur di karpet dan Jeri juga terlalu lelah untuk berdebat malam ini.
Ia mengambil kaos dan celana rumahannya, masuk ke dalam kamar mandi untuk berganti baju usai melepas jaketnya, meninggalkan Kana yang terduduk di tepi ranjang dalam diam. Masih tak percaya dengan kalimat lugu Jeri barusan.
"Kan."
Panggilan lirih dari Jeri membuatnya mengerjap, bangun dari lamun dan kepanikannya dari tadi. "Paan?"
"Masakin mi buat gue, mau gak?" Jeri duduk di samping Kana. "Laper banget sumpah."
Dari jarak sedekat ini— karena biasanya Kana dan Jeri tak pernah duduk sampingan seperti kali ini, atau biasanya Kana memang tak pernah mengamati Jeri— lelaki itu terlihat lelah. Matanya merah dan memikiki kantung di bawahnya. Kana juga punya hati, kan? Jadi dia memilih menurut. Toh, Jeri hanya meminta mi instan bukan kepiting asam manis. "Oke. Istirahat aja. Biar gue bawain ke sini kalau udah jadi."
Jeri menurut. Kana hampir tertawa melihat Jeri versi kalem begini. Ternyata Jeri yang kelelahan lebih enak diajak ngobrol, rupanya.
Kana bergegas ke bawah, memasak mi instan, dan membuatkan cokelat hangat— anggap saja bonus— untuk Jeri. Tak butuh waktu lama hingga Kana kembali ke atas dan memberikan mangkuk serta gelas untuk lelaki yang sedang bersandar di kepala ranjang.
"Lo gak makan?"
Kana menggeleng. "Rendang sapi lo gue yang abisin. Makanya kenyang."
Tapi lagi-lagi, Jeri tak memarahinya seperti biasa. Ia hanya megatakan tak apa-apa lalu sibuk menyuapkan makanan ke mulutnya. Kana yang tak tahu harus apa, akhirnya malah mengamati setiap pergerakan cowok itu. Munafik jika ada yang mengatakan Jeri itu jelek atau buruk rupa. Karena nyatanya, lelaki yang terlihat sayu malam ini saja masih sangat-sangat tampan. Iya, hujat saja Kana yang barusan memuji Jeri. Tapi bagaimana lagi? Semua orang juga tahu bahwa Jeri adalah cowok keren. Auranya menarik. Dengan tampang layaknya cowok nakal— walaupun memang benar nakal— menjadi satu kesan pertama yang bisa memikat para gadis diluar sana.
"Gue abis dari J&G."
Kana tak mengerti kenapa lelaki itu tiba-tiba mengajaknya mengobrol. Tapi Kana hanya berdeham singkat. Tak tahu harus menjawab apa. Jadi ia membiarkan Jeri melanjutkan kalimatnya.
"Duit J&G ilang sekitar sebelas juta."
Mendengar itu sontak Kana menoleh dan mendelik. "Hah? Serius?"
Tentu saja Kana terkejut. Sebelas juta itu bukan uang sedikit. Apalagi untuk tipe Jeri yang pelitnya amit-amit begini. Pantas saja Jeri terlihat kusut malam ini. "Itu yang bikin lo sampai lupa makan?"
Jeri menaruh mangkuk kotornya di nakas meja. Lalu kepalanya mengangguk dua kali. "Gimana inget makan, sih, Kan, kalau duit kafe ilang sampai segitu? Cuman karena gue sama Gama gak ngecek pembukuan empat bulan, tiba-tiba rugi aja."
Kana mengangguk-angguk. "Atau mungkin lo sama Gama kurang teliti ngecek uangnya? Siapa tahu duitnya emang kalian sendiri yang pakai dan lupa gak masuk buku?" Kana meringis. "Gue gak pernah ngurus bisnis, sih. Tapi biasanya gue gitu. Kesalahan ada di gue sendiri."
Jeri diam. Tatapannya kosong ke arah langit-langit kamarnya.
"Coba besok lo ke J&G lagi sama Gama. Pagi-pagi, kan, otak lo masih fresh, tuh. Jadi nyoba itung lagi."
"Oke."
Dan Kana tak tahu bahwa sarannya yang asal-asalan itu benar-benar diiyakan oleh Jeri. Lelaki itu menoleh pada Kana yang masih duduk di sofa menghadap ranjang. Rambutnya setengah basah, mungkin ia baru keramas. Pada detik berikutnya, Kana menguap lebar. "Lo gak tidur?"
Ditanya begitu, Kana ingin sekali bilang iya. Tapi membayangkan ia dan Jeri akan seranjang malam ini dan tiga malam ke depan, membuat Kana mengurungkan niatnya. "Nanti aja."
Jeri terkekeh. Tahu benar alasan Kana tak kunjung naik ke atas ranjang. "Bisa gak enakan juga, ya, lo." Ejeknya. "Tidur aja kali. Mikir apa sih emang? Orang cuman tidur. Gue gak bakal ngapa-ngapain elo."
"Siapa yang jamin?"
"Apa enaknya sih ngapa-ngapain orang tidur? Gak ada perlawanan." Jeri sengaja menggoda Kana. Ia menyeringai puas melihat Kana yang terlihat takut begini. Tapi merasa bahwa terlalu malam untuk membuat Kana marah-marah, Jeri memilih melepaskan tawanya ke udara. Mengejek Kana yang sekarang jadi melotot kecil ke arahnya. "Gak bakal gue apa-apain, elah. Suwer, dah."
Jeri menepuk sisi kosong di sampingnya. "Udah, tidur aja." Lelaki jangkung itu beranjak dari duduknya. Dagunya mengedik ke arah kasur, menyuruh Kana naik kesana. Seiring langkahnya terayun ke arah balkon, ia mengucap. "Gue mau ngerokok dulu. Suntuk."
✓