Di pagi yang cerah, sembari menyesap kopinya pria itu duduk di meja kesayangannya, meja yang sudah di tempatinya selama kurang lebih tiga tahun, meja yang menjadi saksi perjuangannya, keringatnya untuk tetap berada di meja ini.
Dia adalah Adrian Adi Nugroho, seorang Direktur Utama sebuah perusahaan A corp yang berada di naungan ayahnya, Lucas Adi Nugroho. Adrian masuk perusahaan ini setelah ia lulus SMA karena ayahnya yang selalu memaksanya untuk bekerja di perusahaan membuatnya seperti ini. Awalnya ia merasa bahwa bekerja seperti ini sangat membosankan, lalu ia sadar bahwa pekerjaan harus di nikmati walau se lelah apapun itu, jadi sebisa mungkin ia mensyukurinya.
Banyak orang mengatakan bahwa ia remaja yang sukses, di umurnya yang menginjak 23 tahun dapat memperoleh karir dan jabatan yang tinggi dalam waktu singkat, orang hanya selalu memandang luarnya saja, mereka tidak tau bahwa mati-matian ia agar bisa berada di posisi ini.
Setelah menandatangani berbagai macam dokumen dan berbagai macam pekerjaan, akhirnya waktu makan siang pun tiba. Pria itu segera menelepon seseorang untuk menyiapkan mobil untuk dirinya.
“Aku ingin makan di restoran yang biasa kita makan,” ucap Adrian kepada sekretarisnya yang di angguki oleh sekretarisnya itu, Jack.
Mereka pun berangkat menuju restoran itu dengan mobil Adrian.
Akhirnya tak lama kemudian pun mereka sudah sampai di resto yang Adrian maksud, mereka turun dari mobil dan masuk ke dalam resto tersebut.
Restoran itu menyajikan masakan Indonesia yang rasanya sangat kental sekali sehingga membuat sang direktur itu bisa ketagihan makan disini.
Adrian pun mengangkat tangannya utnuk memanggil pelayan di restoran ini untuk mencatat makanannya.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya pesanan Adrian pun datang.
“Ini pesanan anda, selamat makan,” ucap sang waitress sembari menyajikan makanan yang mereka telah pesan beberapa menit yang lalu.
Ketika hendak berbalik, Adrian kembali memanggil pelayan itu. “Siapa namamu?” tanyanya.
Sang waitress pun membalikkan badannya. “Ada urusan apa kau ingin tau namaku?” tanya sang waitress sembari menampilkan raut tidak sukanya.
Adrian tersenyum miring. “Aku baru melihatmu disini, apakah kau pelayan baru?” tanya Adrian dengan baik-baik.
“Bukan urusan mu. Sudah, aku banyak kerjaan,” jawabnya kemudian pergi meninggaalkan Adrian dengan senyumnya.
“Jack, temui manager restoran ini dan bilang bahwa pecat pegawai baru tadi dan pegawai itu akan bekerja di perusahaanku, atas perintahku. Minta juga identitas lengkapnya pada manager restoran ini.” Ucap Adrian setelah mereka menyelesaikan makanan mereka.
Saat tiba di mobil, Jack pun segera memberikan sebuah map berisi data diri pelayan yang tadi melayani Adrian.
“Ini dia tuan informasi tentang wanita itu, manager juga sudah memberhentikannya jadi besok ia sudah bisa bekerja di perusahaan mu,” ucap Jack sembari memberikan sebuah dokumen kepada Adrian dan kemudian menyalakan lagi mobilnya untuk kembali ke kantor.
“Kayla Anastasya.” Gumam Adrian ketika membaca dokumen itu.
Kay POV
“Apa, aku dipecat? Bagimana bisa? Aku baru sehari bekerja disini, kau mau aku makan apa kalau aku tidak bekerja disini pak Manager,” ucap Kay protes pada managernya ketika ia mendapatkan surat PHK nya.
“Kau mulai besok bekerjalah di A corp, kau akan jadi wanita kantoran disana, kalau tidak ada lagi yang kau ingin katakan, kau boleh pergi sekarang,” ucap managernya.
“Aku tidak mau bekerja di kantor, kau ini bagaimana pak. Kan sudah tertulis di kontrak bahwa aku akan bekerja di sini selama dua tahun,” gerutu Kay yang tidak di tanggapi oleh Managernya.
Akhirnya Kay pun pergi dengan wajah kesalnya. Apa itu A corp? Ia tidak pernah pergi kesana sebelumnya, bagaimana menjadi wanita kantoran, ia tidak tahu itu.
Kay kembali ke apartemennya dan ber istirahat, ia tidak ingin bekerja di A corp itu, pokoknya ia sangat kesal sekarang.
...
Setelah membersihkan tubuhnya, ia pun berbaring di kasur queen sizenya. Ia pun mulia mengingat kejadian tadi yang melibatkan dirinya.
“Apa pria itu yang memintaku untuk bekerja di perusahaannya?” gumam Kay.
“Tapi mana bisa, dia saja terlhat membenciku.”
“Tapi kalau benar bagaimana?”
“Tapi aku tidak peduli. Aku tidak akan bekerja di kantor baru, aku tidak mau,” kesal Kayla kemudian menutup wajahnya dengan bantal karena kesal.
...
Setelah sampai di kantornya lagi, Ad pun segera turu dan masuk ke ruangannya. Ia kemudian duduk dan membuka dokumen tentang Kayla.
“Bagaimana bisa seorang wanita pintar memilih karirnya sebagai pelayan? Daripada meneruskan studinya,” gumam Ad.
Ia pun mengedikkan bahunya dan tidak mengembil pusing masalah ini.
Ketika ia masih melihat-lihat dokumen milik Kayla, tiba-tiba seseorang masuk ke kantornya dan segera memeluknya.
Adrian pun merasa risih luar biasa. “Bisakah kau berhenti memelukku?” ucap Adrian.
Wanita itupun melepaskan pelukannya dan menekuk wajahnya kesal.
“Kenapa kau tidak suka lagi aku peluk!?” tanya wanita itu kesal.
“Bukan begitu, maafkan aku,” lirih Adrian.
“Itu dokumen apa? Aku mau lihat,” ucapnya mengarah pada dokumen yang sedang di pegang oleh Adrian, yaitu dokumen tentang Kayla.
“Tidak, kau tidak boleh melihat ini. Ini rahasia perusahaan,” ucap Adrian.
“Seberapa penting?” tanya wanita itu.
“Sangat penting,” ucap Adrian.
“Baiklah aku tidak akan melihatnya. Lagi pula aku kesini untuk bertemu ayahmu dan membahas soal kerjasama. Aku pergi,” ucapnya yang diangguki oleh Adrian.
Tetapi sebelum benar-benar pergi, wanita itupun mengecup pipi Adrian singkat kemudian melenggang pergi.
“Kau bahkan masih terlihat baik-baik saja setelah menutupi kebohongan besar,” gumam Adrian.
...
Keesokannya pagi-pagi buta suara bel terdengar sangat nyaring di telinganya, terpaksa Kay harus bangun dan mengecek siapa yang mengacaukan harinya pagi-pagi seperti ini.
Kay melangkahkan kakinya untuk membuka pintu apartemennya dengan wajah yang khas bangun tidur dan piyama yang masih ia kenakan. Ketika ia membuka pintunya, betapa terkejutnya ia melihat siapa yang datang menemuinya.
“Kau siapa?” tanya Kay melihat orang sangat rapih dan tampan ini dengan kacamata hitam yang ada di depan kamar apartemennya, lagipula Kay merasa bahwa ia tidak mengenal orang ini.
“Bersiap dan cepat berangkat bekerja,” ucapnya datar, dingin, jelas, dan tanpa basa-basi.
“Kau siapa menyuruhku untuk bekerja, apa kita kenal?” tanya Kay melihat orang aneh ini di hadapannya.
“Aku bosmu, jangan membantah perintahku, bersiaplah aku akan menunggumu disini,” ucapnya yang membuat Kay melongo. Bosnya? Yang benar saja.
“Mungkin kau salah orang, aku tidak mempunyai bos seperti kau. Kau mengganggu aku,” ucap Kay kemudian berbaik dan akan menutup pintunya.
Sebeum berhasi melangkah, Adrian terebih dahulu mendapatkan pergelangan tangan Kay dan menariknya ke pelukannya.
Kemudian Adrian pun meepaskan kaamatanya dengan tangan satunya yang tidak memeluk pinggang Kay.
Betapa terkejutnya Kay saat mendapati pria yang kemarin di restoran ini tiba-tiba ada di Apartemennya.
“Bersiaplah,” ucap Adrian kepada Kay.
“Lepaskan,” ucap Kay.
Adrian pun melepaskan pelukannya dan membiarkan Kay yang berlari masuk ke kamar Apartemennya.
...
Setelah beberapa saat, akhirnya Kay telah bersiap dengan bajunya yang begitu formal, benar saja ketika ia membuka pintu kamar apartemennya orang itu masih disitu menunggunya.
“Sudah? Apa kita bisa berangkat sekarang?” tanya pria itu yang di angguki oleh Kay.
Di dalam mobil, Kay diam tanpa suara walaupun ingin sekali ia memaki dan meberitahu bahwa ia tidak ingin bekerja di perusahaan, apalah daya sekarang ia lemah.
“Apakah ini mimpi?” batin Kay.
“Jika ini mimpi, bisakah aku segera bangun dari mimpiku? Aku tidak suka mimpi ini,” batin Kay lagi.
“Sedang memikirkan apa?” tanya pria di sampingnya yang membuat Kay sedikit kaget.
“Tidak ada,” jawab Kay cepat.
“Ini bukan mimpi. Kau angan menganggapnya mimpi dan berharap kau segera menyudahi mimpi ini,” ucap Adrian yang membuat Kay menatapnya dengan sinis.
Mereka pun tidak membuka obrolan agi setelah itu sampai akhirnya mereka tiba di perusahaan.
Setelah sampai di perusahaan, mereka turun dari mobil dan berjalan ke dalam perusahaan. “Kau adalah asisten pribadiku sekarang,” ucap Adrian tiba-tiba ketika mereka menaiki lift.
“Apa maksudnya? Kau yang meminta kepada managerku kan untuk memecatku, sekarang kau menjadikanku asistenmu, kau gila atau tidak waras!” ucap Kay benar-benar kesal, tetapi pria itu terlihat tidak memperdulikan ucapannya sama sekali.
“Kau satu ruangan denganku, di sana mejamu, kau boleh mulai bekerja sekarang,” ucap Adrian sembari menunjuk meja di sampingnya, kemudian Adrian kembali dan duduk di mejanya, tenggelam dalam laporan-laporan yang harus ia tandatangani.
“Kau tau, bahkan aku belum tau siapa namamu, kau belum tau siapa namaku, dan aku tidak tau cara bagaimana aku bekerja, menghadap komputer, memainkan mouse, menekan-nekan keyboard,” gerutu Kay yang tidak di tanggapi sama sekali oleh Adrian.
“Hey kau dengar aku tidak?” tanya Kay.
“Namamu Kayla Anastasya, lahir di Bandung 8 mei 1998, tinggimu 168 dengan berat badan 50 kg, golongan darah mu o, dan kau ke Jakarta untuk mencari pekerjaan, aku tau makannya aku memberimu pekerjaan. Lagian aku sudah tau apartemenmu,” ucap Adrian yang membuat Kay melongo.
“Bagaimana kau tau namaku? Bahkan aku belum memberitahunya. Apakah kau cenayang?” tanya Kay dengan polosnya.
Adrian pun menyinggungkan senyumnya, “Jadi kau menganggapku cenayang?” tanya Adrian yang di angguki oleh Kay dengan polosnya.
“Aku memang cenayang. Jadi jangan banyak bicara, sekarang pergi buatkan aku kopi,” ucap Adrian kepada asisten barunya itu.
“Suruh saja yang lain, aku sibuk,” Tolak Kay.
“Kau ingin aku pecat? Aku bisa membuatmu tidak di terima di perusahaaan manapun bahkan menjadi office girl sekali pun,” ucap Ad yang membuat Kay segera pergi untuk membuatkan Adrian secangkir kopi.
"Dasar orang kaya, menyuruh seenaknya saja," gerutu Kay.
“Kopi mu.” Ucap Kay sembari meletakkan secangkir kopi itu di meja Adrian.
“Kau bersiaplah, kita akan bertemu klien di luar,” ucap Adrian.
Kay hanya bisa mendengus pasrah dengan pekerjaannya sekarang, menjadi asisten direktur yang menyebalkan sangat membuatnya kesal setengah mati, apalagi ia harus bersama orang itu kemana pun ia pergi.
“Begini cara kerja mu? Aku tidak sanggup, lelah sekali.” Ucap Kay sembari duduk di meja kerjanya setelah seharian ia menemani bos nya ini pergi menemui klien, rapat, dan sebagainya. Badannya sudah terasa remuk.
“Belum selesai, sebentar lagi aku akan menemui CEO untuk membahas sesuatu, kau temani aku,” ucap Adrian kepada Kay yang kelelahan tersebut.
“Aku tidak mau, aku tidak sanggup lagi,” ucap Kay yang pasrah akan nasibnya sekarang itu.
“Yasudah, aku akan memotong gaji pertamamu,” ucap Adrian dengan entengnya.
“Bagaimana bisa, itu tidak adil,” marah Kay.
“Aku bisa melakukan apa saja yang ak mau, keputusan ada di kau,” ucap Adrian.
Ma tidak mau akhirnya, Kay mengikuti Adrian untuk bertemu CEO.
Setelah semuanya selesai, dan mereka keluar dari kantor ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, Kay mengeluaran napas kasar, ia sangat lelah apalagi di tambah high heels yang di pakainya seharian ini pasti membuat kakinya merah nanti.
“Kau pulang bersamaku.” Ucap Adrian, sedangkan Kay hanya mengangguk saja.
Bukannya langsung di antarkan pulang, Adrian malah mengajaknya ke sebuah restoran mewah.
“Turun.” Ucap Adrian kepada Kay.
“Kita mau apa? Ini bukan jalan menuju apartemenku lagi pula.” Bantah Kay.
“Kau bodoh, kita mau makan, tidak lihat kah kau bahwa ini sebuah restoran?” tanya Adrian.
Kay mendengus sebal dan mengikuti Adrian untuk masuk ke dalam restoran tersebut.
“Namaku Adrian Adi Nugroho, kau boleh memanggilku Adrian atau Ad. Aku tidak suka di bantah dan kau harus menuruti semua perintahku.” Ucap Ad kepada Kay yang membuat Kay memutar bolamatanya malas.
Setelah selesai makan, mereka kembalike mobil untuk mengantarkan Kay pulang, ketika sampai di parkiran apartemen, Kay ternyata sudah tertidur di samping Ad, Ad yang melihat itu pun tidak tega membangunkan wanita itu.
“Ke Mansion ku, Jack.” Ucap Adrian kepada Jack. Akhirnya Jack pun memutar balik mobilnya untuk pergi ke mansion milik Ad.
Ketika mereka sudah sampai di mansion milik Adrian yang megah ini, Ad menggendong Kay untuk masuk ke mansion ini, ia menidurkan Kay di kamar yang terpisah dengannya, ketika ia melepas sepatu high heels milik Kay, ia tercengang dengan kaki Kay yang terdapat lecet disana karena memakai heels. Ad pun menobati kaki Kay terlebih dahulu dan setelelah selesai ia menyelimuti Kay yang tampak lelah hari ini.
“Maafkan aku.” Ucap Ad sebelum meninggalkan Kay dan kembali ke kamarnya.
Keesokan harinya ketika Kay membuka matanya, ia tampak asing dengan kamar bernuansa abu-abu putih ini, ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar ini.
“Kemarilah, makan terlebih dahulu.” Ucap Adrian yang sudah ada di meja makan tersebut.
“Tidak mau, aku ingin pulang. Tolong antarkan aku pulang.” Ucap Kay merengek pada Adrian sembari menarik-narik lengan pria tersebut.
“Duduklah, Kay.” Ucap Adrian dengan nada rendah.
Akhirnya mau tidak mau ia pun duduk di kursi yang berada di samping Adrian dan menekuk wajahnya.
“makanlah.” Ucap Ad sembari menyodorkan sepiring sandwitch kepada Kay.
“aku tidak mau, aku ingin pulang.” Bantah Kay yang tetap pada pendiriannya.
“kay, apa aku harus menyuapi mu? Atau aku mentransfer makanan dari mulut ku ke mulutmu?” tanya Ad dengan serius.
“menjijikan. Tidak terimakasih, aku akan makan sendiri.” Ucap Kay yang kemudian mengambil septong sandwitch dan melahapnya.
Setelah Ad menyelesaikan makannya, ia terlihat sedang menelepon seseorang yang Kay pun tidak tau siapa itu.
“Jack, bawakan semua berkas ku ke mansion, aku ingin bekerja di mansion hari ini.” Ucap Ad dalam teleponnya.
Tak berapa lama Jack pun sudah sampai di mansionnya dan memberikan semua dokumen kepada Ad.
Setelah itu Ad mulai membuka laptopnya di ruangan santainya, sofa dengan view kolam renang di depannya dan ada meja bar di belakangnya.
“kalau kau bekerja di rumah, aku bagaimana?” tanya Kay kepada Ad.
“kau tetap disini, bersamaku.” Ucap Ad yang tidak mengalihkan tatapan matanya pada macbook dihadapannya.
“aku ingin mandi Ad.” Ucap Kay lagi.
“mandilah, kau ingin mengajakku?” tanya nya yang kini meihat Kay dengan menaikkan satu alisnya.
“aku tidak punya baju tuan Adrian, biarkan aku pulang.” Ucap Kay lagi, dan lagi.
“aku lebih suka kalau kau tidak mengenakan baju.” Ucap Ad datar.
“sembarangan!” ucap Kay marah.
“aku bercanda, pakailah kamar mandiku, dan bajuku dulu.” Ucap Ad yang di setujui oleh Kay.
Akhirnya Kay pun melangkahkan kakinya ke kamar mandi milik Ad dan mengganti bajunya di walk in closet miik Ad. Ia merasa bahwa tubuhnya sudah lebih baik daripada kemarin.
“aku sudah selesai, adakah yang bisa kubantu untukmu? Hanya sebagai ucapan terimakasih ku.” Ucap Kay berdiri di samping Ad yang sedang mengerjakan dokumennya.
Ketika Ad melirik Kay, s**t! Kenapa ia memakai kemeja putih miliknya yang di pakai kebesaran oleh Kay yang membuat panjang kemeja itu se paha Kay. Ad menelan salivanya dengan susah payah.
“tidak ada.” Jawab Ad yang membuat Kay memutar bolamatanya malas.
“Yasudah aku temani saja kau disini.” Ucap Kay yang tiba-tiba duduk di samping Ad yang membuat Ad melotot tajam.
“tidak, kau tidak boleh duduk disini.” Ucap Ad panik.
“kau kenapa? Sakit?” tanya Kay sembari menempelkan punggung tangannya di dahi Ad.
Ad langsung meningkirkan tangan Kay yang berada di dahinya tersebut. “kau bisa diam? Jangan ganggu aku Kay.” Ucap Ad dengan keringat dingin yang muncul di dahinya.
“yasudah.” Ucap Kay yang beranjak dari samping Ad tersebut kini duduk di meja bar sembari memperhatikan punggung Ad.
Ad membuang napasnya kasar, hampir saja ia hilang kendali tadi.
“ad aku bosan.” Ucap Kay dari belakang Ad.
“lakukanlah apa yang ingin kau lakukan, aku sibuk jangan menggangguku.”ucap Ad.
“bagaimana kalau aku pulang?” tanya Kay.
“tidak.” Jawab Ad.
“kalau memasak?” tanya Kay.
“lebih baik.” Jawab Ad.
Akhirnya Kay pun memutuskan untuk memasak makanan untuk Ad dan dirinya nanti. Ia memasak spagetti, omelette, pumkin soup, dan salmon. Setelah selesai ia mengajak Ad untuk makan bersamanya.
“ad, makanlah. Ini sudah jam makan siang.” Ucap Kay mengajak Ad untuk makan.
Ad pun meletakkan mac booknya dan pergi ke meja makan untuk melihat apa saja yang sudah wanita ini masak untuknya.
“kau yang memasak ini semua?” tanya Ad tidak percaya.
“tentu, kau pikir aku masak di bantu hantu?” ucap Kay jengkel.
Ad pun tersenyum karena wanita ini, kemudian ia pun mencoba makanan yang sudah di sajikan oleh Kay. “ini sangat enak Kay, terimakasih.” Ucap Ad.
Mereka pun memakan makanannya dalam diam, setelah selesai Ad membantu Kay membereskan piring-piringnya walau Kay sudah megatakan tidak apa kalau dirinya sendiri yang membereskan juga.
Waktu pun beranjak sore, dalam dunia kerja ini sudah waktunya untuk pulang.
“Tuan Adrian, apakah aku boleh pulang?” Tanya Kay.
“panggil aku Adrian atau Ad, tidak ada embel-embel tuan, mengerti?” tanya Ad yang di angguki oleh Kay.
“sebentar lagi, aku akan mengantarmu.” Ucap Ad yang membuat Kay bisa bernapas lega.
Beberapa menit kemudian, seseorang memencet bel mansion Ad. “Kay, tolong bukakan pintu.” Ucap Ad. Kay pun mengangguk dan melangkahkan kakinya untuk menemui tamu Ad.
“dimana Ad?” tanya orang itu.
“ada didalam.” Ucap Kay.
Wanita itupun langsung masuk kedalam mansion Ad dengan wajah kesalnya. “Ad, kenapa kau tidak mengangkat telepon ku dan siapa wanita itu?” tanya wanita tadi.
Ad yang tau suara siapa itu segera meletakan macbook nya dan menghampiri wanita itu. “aku sibuk Nes.” Ucap Ad.
“sibuk apa? Sibuk dengan wanita ini? Kau tau Ad orangtua kita merestui hubungan kita, kenapa kau main belakang denganku!?” ucap Nesya dengan marah.
“terserah kau, jika tidak ada yang ingin di bicarakan lagi silahkan keluar.” Ucap Ad datar.
Dengan kesal Nesya pun keluar dari mansion milik Ad tersebut, hanya menyiskan Ad dan Kay berdua.
“dia pacamu?” tanya Kay sembari memakan coklatnya.
“Dia itu Nesya Prameswari, wanita yang di jodohkan oleh orangtua ku, tetapi aku tidak suka, Kay.” Jelas Ad.
“cantik.” Gumam Kay. “Kau tidak seharusnya menolak wanita cantik seperti itu Ad, sudah kulit putih, tinggi, langsing, pasti anak orang kaya juga.” Lanjut Kay.
“pasalnya aku barusaja jatuh cinta pada orang lain Kay.” Ucap Ad dengan jujur.
“benarkah? Siapa?” tanya Kay.
“nanti juga kau akan tau.” Ucap Ad yang di angguki mengerti oleh Kay.
“kau kapan mengantarku pulang, Ad?” tanya Kay.
“Ayo.” Ucap Ad sembari menggandeng tangan Kay, Kay pun hanya mengikuti Ad.
Mereka menaiki mobil milik Ad yaitu Ferrari 458 Italia spider berwarna merah untuk sampai di apartemen milik Kay, mereka membutuhkan waktu 20 menit karna Ad yang mengemudikannya sangat lambat.
“terimakasih Ad.” Ucap Kay saat mereka sudah berada di parkiran apartemen Kay. Ad pun mengangguk. Setelah Kay hilang dari pandangan Ad, barulah ia menjalankan mobilnya lagi untuk kembali ke mansionnya.
...
Keesokannya ketika Kay membuka pintu apartemennya untuk berangkat ke kantor, ternyata Ad sudah menunggunya di depan kamar apartemennya.
“kau ada apa kemari?” tanya Kay.
“tentu menjemputmu, kau asistenku jadi aku harus memastikamu pergi ke kantor dengan selamat.” Ucap Ad yang di hadiahi tatapan malas oleh Kay.
Ad pun hanya tertawa renyah, kemudian menggenggam tangan Kay untuk menuju parkiran apartemen ini.
“pagi Jack.” Ucap Kay ketika masuk ke mobil.
“pagi Kay.” Jawab Jack dengan ramah.
“kenapa kau tidak mengucapkan selamat pagi padaku?” tanya Ad kepada Kay di sampingnya.
“tidak penting.” Jawab Kay datar.
“yasudah besok aku tidak akan mengajak Jack pergi menjemputmu lagi.” Ucap Ad dengan santainya ketika mobil telah berjalan menuju kantor A corp.
“kau tidak boleh begitu.” Ucap Kay jengkel.
“siapa suruh kau tidak mengucapkan selamat pagi padaku.” Ucap Ad dengan kesal.
“karna kau tidak penting bagiku.” Ucap Kay dengan santainy.
“yasudah.” Ucap Ad kemudian mereka sama sekali tidak membuka pembicaraan lagi.
Jack yang menyadari bosnya cerewet itu hanya tersenyum di balik kaca mata hitam yang di pakainya. Jack adalah sekretaris yang sudah bekerja lama dengan Adrian, ia tau sekali bagaimana sikap bosnya itu, cuek, dingin, berkharisma dan berwibawa adalah sifat dasar bosnya itu, ketika ia mengetahui sikap bosnya begini terhadap wanita sungguh itu adalah sebuah hal lucu bagi dirinya.
Sesampainya di kantor, Ad dan Kay turun bersamaan, membuat seisi kantor memperhatikan mereka berdua. Kay yang menyadari itupun hanya menunduk, telinganya mendengarkan bisik-bisik tentang ia dan Adrian.
“nggak nyangka ya asisten barunya itu simpanan direktur.”
“iya pantas saja mereka selalu berangkat bersama.”
“keliatan akrab banget juga, kan padahal baru beberapa hari jadi asisten direktur.”
“direktur juga sikapnya beda banget ya sama yang biasanya, biasanya direktur sangat dingin tetapi sekarang malah perhatian gitu sama asisten itu, berarti bener ya direktur punya simpanan, kan jelas-jelas orangtua mereka sudah menjodohkan direktur dengan nona Nesya.”
Mendengar itu semua Kay merasakan bahwa telinganya sangat-sangat panas, jelas-jelas tidak ada hubungan apapun antara dirinya dan bos nya ini, kenapa orang bisa mengira bahwa mereka ada sesuatu? “Dasar manusia hanya bisa berkomentar tanpa memaparkan fakta sedikitpun.” Gerutu Kay ketika mereka akan menaiki lift yang dapat di dengar jelas oleh Ad.
“kau kenapa?” tanya Ad yang melihat wajah sekretarisnya itu kesal.
“kau tuli? Jelas-jelas mereka tadi membicarakan aku dan kau! Kenapa kau ini sangat tidak peka sekali.” Ucap Kay kesal.
Ad hanya mengangkat bahunya acuh, kemudian ketika lift terbuka Ad langsung melangkahkan kakinya menuju ruang kerjanya yang di ikuti oleh Kay di belakangnya.
Ketika sedang fokus bekerja, tiba-tiba Jack masuk ke ruangannya dengan wajahnya yang panik. “Ad, wartawan penuh di depan kantor, kau harus segera mengurusnya kalau tidak berita ini akan terdengar oleh CEO dan itu akan gawat.” Ujar Jack.
“aku akan segera kesana.” Ucap Adrian yang di angguki oleh Jack. Setelah itu Jack pun mengangguk dan keluar dari ruangan kantornya untuk menemui wartawan-wartawan k*****t itu.
“kau temani aku.” Ucap Ad kepada Kay yang di jawab oleh kay dengan mengerutkan keningnya.
“kenapa aku? Ini kan masalahmu, kenapa aku di bawa-bawa ke masalahmu, aku tidak mau.” Ucap Kay yang membuat Ad marah.
“Masalah ini menyangkut dirimu juga, bodoh.” Ucap Adrian kemudian ia menarik tangan Kay untuk mengikutinya menemui wartawan-wartawan itu.
Ketika di hadapan wartawan, Ad menggenggam tangan Kay, bahkan sampai merangkul bahu Kay. “ini adalah pacaku, berita yang telah tersebar adalah palsu.” Jelas Ad singkat kemudian kembali lagi ke ruang kantornya dan tidak memperdulikan wartawan-wartawan itu.
“maksudmu apa, tiba-tiba mengklaim aku sebagai pacarmu, itu tidak sopan.” Ucap Kay marah saat telah berada di ruang kantor lagi.
“kau senang kan?” tanya Ad menggoda.
“senang matamu. Kau sembarangan berbicara, padahal faktanya tidak begitu. Aku membencimu.” Ucap Kay kemudian keluar dari ruangannya.
Kay pergi menuju toilet, ia berdiri di cermin toilet dan memandang wajahnya sendiri, ia yakin setelah ini bahwa hidupnya akan hancur. Ia membuang napasnya kasar.
“kau tidak apa-apa?” tanya Ad melihat Kay yang kembali dengan lesu.