Edgar pun menyusul Kay, mereka duduk di salah satu meja yang hanya terisi mereka berdua, meja yang bisa dibilang cukup berada di barisan belakang. Acara pun di mulai, sambutan demi sambutan pun di lakukan, tak terkecuali sambutan dari CEO perusahaan ini, tuan Lucas.
Kay dan Ed pun menyimak sambutan itu dengan baik, sampai dimana ada sebuah kalimat yang menusuk hati Kay, sangat.
"aku mau ke toilet Ed." Ucap Kay kemudian segera pergi dari ruangan megah itu. Ed yang mengerti itupun langsung menyusul Kay dan menunggunya di luar toilet wanita.
Kay menangis di dalam toilet, Adrian k*****t kenapa tadi ia sempat mengatakan itu, kalau akhirnya seperti ini, Kay benar-benar marah sekarang. Setelah menghapus air matanya dan keluar dari toilet dan menatap cermin besar sebelum ia keluar, ia harus terlihat baik-baik saja di depan Edgar, ia harus terlihat tidak sakit hati di depan Edgar, ia pun memaksakan senyumnya dan menyemangati dirinya sendiri.
Kay pun keluar dari toilet wanita dan mendapati Edgar yang sedang bersandar di dinding. "Edgar kau sedang apa?" tanya Kay menghampiri Ed.
"kau tidak apa-apa Kay?" tanya Edgar khawatir.
Kay pun terkekeh. "aku tidak apa-apa, kau pikir aku kenapa?" tanya Kay menebak.
"oh, tidak. Syukurlah kalau kau tidak apa-apa, aku hanya khawatir." Ucap Ed kemudian memeluk Kay dengan sangat erat, Kay hanya tersenyum. Ia tau bahwa Ed pasti mengkhawatirkan dirinya, sebisa mungkin Kay akan terlihat baik-baik saja di depan Ed, ia tidak mau membuat Edgar khawatir dan merasa bersalah walaupun kakaknya yang berbuat seperti ini.
"Kay, aku rasa lebih baik kita pulang ke apartemenmu, aku sedikit tidak enak badan." Ucap Ed tiba-tiba memgangi kepalanya setelah memeluk Kay. Kay pun langsung panik dan membawa Ed keluar dari perusahaan.
Tanpa diketahui, sedari tadi Adrian memerhatikan interaksi Edgar dan Kay, ia hanya tersenyum miris. "maafkan aku Kay." Lirih Ad kemudian pergi dari tempat itu.
Kay mengendarai mobil Ed, memang sedari dulu Kay bisa menyetir mobil, tetapi ia belum sempat menyetir di Jakarta, jadilah ini pertamakalinya ia berkendara di jalanan kota Jakarta.
"aku kagum Kay, kau begitu mahir mengemudi." Ucap Edgar kagum karena Kay membawa mobil dengan sangat santai.
"aku sebenarnya sudah dari lama bisa mengemudi, tapi aku lebih suka berangkat sekolah atau berangkat kerja menggunakan otoped listrikku." Ucap Kay sembari fokus menyetir.
"kau punya otoped? Serius?" ucap Edgar dengan Excited.
"tentu aku serius Ed." Ucap Kay sembari terekeh.
Mereka pun telah sampai di parkiran apartemen Kay, setelah memarkirkan mobilnya, Kay dan Ed pun segera turun dari mobil dan naik ke apartemen Kay.
"lebih baik disini daripada disana." Ucap Ed sembari duduk di ruang TV Kay, Kay yang mendengar itupun lantas terkekeh.
"kau tidak takut orang tuamu marah karena kau tidak ada disana?" tanya Kay sembari meletakkan segelas air putih di meja dan segera bergabung dengan Ed, duduk di samping Ed.
"tidak, lagipula akau kan bukan bagian dari mereka, dalam artian aku kan ada di bisang musik sedangkan mereka di bidang perkantoran, itu jelas bukan aku." Ucap Edgar dengan santainya, sedangkan Kay hanya bisa menggeengkan kepalanya tidak percaya atas apa yang Edgar katakan.
Dan benar saja, baru beberapa menit mereka berbincang, iphone Edgar pun berbunyi, Kay langsung menduga bahwa itu dari orang tua Ed, dan benar saja dugaannya. "Kay aku meminta maaf, aku akan kembali besok." Ucap Edgar sembari memeluk Kay dengan wajah sedihnya, Kay yang mengerti itu pu langsung terkekeh dan menganggukkan keplanya.
Edgar berjalan meninggalkan apartemen Kay dengan perasaan tidak ikhlasnya, iaa seperti tidak ingin berpisah dengan Kay walau sedetik saja. Kay yang melihat itupun lagi-lagi terkekeh karena tingkah kekanak-kanakan Edgar.
Setelah Edgar keluar dari apartemennya, kesendirian pun mulai menyelimutinya lagi, dan pernyataan ayah Adrian tadi tentang Adrian masih saja terngiang dikepalanya. Apa benar? Kay memejamkan matanya sejenak, menghidup oksigen sedalam-dalamnya dan melepaskannya dengan kasar. Ia menyalahkan dirinya sendiri atas ini, ia terlalau gampang untuk jatuh cinta, padahal ia tau bahwa banyak resiko di dalamnya dan ia nekat untuk tetap kedalam dan pasrah atas keadaan di dalam.
Lama melamun, dering ponsel mangagetkannya, ia sedikit mempunyai firasat yang tidak enak saat hendak mengangkat telepon tersebut, tetapi telepon itu tetap ia angkat. "Kayla pulang mas,." Ucap Kay dalam teleponnya.
Setelah mematikan sambungan teleponnya, Kay pun segera mengganti bajunya dan mengambil koper, membereskan barang-barangnya untuk ia masukkan kedalam koper. Kay mengemasi kopernya dengan air mata yang sudah mengalir deras di pipinya, ia harus segera pulang ke Bandung.
Setelah selesai mengemasi satu koper besar yang berisi pakaiannya, ia pun kemudian menemui resepsionis apartemen ini, dan setelah itu selesai ia segera memesan taksi untuk ke stasiun Gambir dan ia akan menaiki kereta api untuk menuju Bandung, ketika ia sedang berada di Taksi, ia pun segera memesan tiket kereta dengan jadwal keberangkatan 10.30 WIB, karena ini sudah pukul 10 pagi. Kay sangat cemas, ia selalu berdo'a agar semuanya baik-baik saja.
Kay tiba di stasiun pukul 10.15 WIB, ia pun segera mengurus segalanya dan berangkat menuju Bandung pada pukul 10.30 dan sampai di stasiun Bandung pada pukul 14.00 dengan durasi perjalanan tiga jam setengah.
Setelah sampai di stasiun di Bandung yang berada di Kebon jeruk, setelah itu Kay langsung menghubungi kakak laki-lakinya untuk menjemputnya di stasiun, kerena memang jarak stasiun dan rumah Kay sedikit jauh.
Akhirnya mas Abbi Almahendra pun datang menjemputnya, Kay pun segera memeluk kakaknya itu, "mas, papah ngga papa?" tanya Kay setelah melepaskan pelukannya.
Kakaknya pun hanya bisa menggeleng lemah. Akhirnya setelah menaikkan koper Kay ke bagasi mobil, mereka pun langsung menuju rumah sakit untuk menengok keadaan ayah mereka, mereka pergi ke salah satu rumah sakit besar yang ada di Bandung.
Setelah sampai, Kay pun langsung berlari ke arah ke ruang ICU dan melihat papahnya yang sedang di tangani oleh dokter disana lewat kaca pintu ICU
"Mas." panggil Kay lirih.
kakaknya yang mengerti pun hanya bisa diam dengan mata berkaca-kaca
"mas, papah ngga papa kan?" tanya Kay menangis di pelukan kakaknya, Abbi.
"berdo'a yang terbaik untuk papah ya." Ucap Abbi sembari mengelus puncak kepala Kay.
Tak berapa lama kemudian dokter pun keluar dari ruang ICU, Kay dan Abbi pun langsung menghampiri dokter untuk menanyakan keadaan ayahnya, "pasien mengalami transient ischaemic attack atau stroke ringan, jadi darah yang seharusnya mengalir ke otak itu terhalang, dalam beberapa jam kondisi pasien akan membaik, sementara ini pasien akan di pindahkan ke ruang rawat inap untuk pemeriksaan lebih lanjut mengingat dampaknya yang begitu besar." Ucap dokter tersebut.
Setelah berterimakasih doter pun meninggalkan mereka, setelah itu dilihatnya ayah Kay yang berada di atas brankar.
Kay pun duduk di samping Hendrawan, ayah Kay. ia pun menunggu ayah Kay siuman sedangkan mas Abbi sedang mengurus administrasi. Ada penyesalan di hati Kay ketika ia lebih memilih bekerja di perusahaan orang lain di bandingkan dengan perusahaan ayahnya sendiri karena Kay yang kekeuh untuk mandiri. Sekarang ia menyesal karena ia tidak menghabiskan waktunya bersama orangtuanya.
Ketika ayah Kay membuka matanya, ia pun langsung tersenyum ketika melihat putrinya yang kembali. "maafin Kay ya pah." Ucap Kay sembari memeluk ayahnya sedangkan ayahnya pun tersenyum dan mengangguk.
"mulai sekarang, Kay pengen sama papah aja, Kay ngga mau ke Jakarta, Kay mau disini sama mas Abbi, sama papah." Ucap Kay sembari tersenyum walaupun airmata tetap menetes di pipinya.
Sejak saat itu ayahnya di rawat di RS ini selama tiga hari, melakukan CT scan dan yang lainnya, tiba-tiba dokter memanggil mas Abbi untuk ke ruangannya, sedangkan Kay harus tetap bersama Ayahnya.
Mas Abbi kembali dari ruangan dokter, dan langsung mengajak Kay keluar dari ruangan ayah mereka yang kebetulan ayah mereka sedang tertidur. Mas Abbi membicarakan hal yang sangat membuat Kay shock.
"apa ngga ada cara lain mas?" tanya Kay kepada kakaknya itu.
"dek, mas pengen yang terbaik buat papah. Jadi kamu temenin papah disana, biar mas disini ngurus perusahaan papah ya, kamu percaya kan sama mas?" tanya Mas Abbi sembari mengelus puncak kepalanya, Kay pun mengangguk.
"nanti mas juga sebisa mungkin luangin waktu buat kalian. Penerbangannya besok jam empat lebih empat puluh lima, nanti mas yang atur semuanya, nanti mas juga yang ngomong sama papah, kamu ngga usah khawatir." Ucap mas Abbi menenangkannya dan meyakinkannya.
Setelah pembicaraan itupun, mas Abbi menyuruhnya untuk tidur karena ini sudah jam sembilan malam, Kay pun tidur di sofa yang ada di ruang rawat ayahnya karena ini kelas VIP. Sedangkan mas Abbi masih di luar dan kelihatannya masnya itu sangat sibuk.
Esoknya Kay bangun pada pukul enam pagi, lantas ia pun membersihkan dirinya dan membangunkan mas Abbi yang tertidur di kursi di samping ayahnya. Bukannya pindah ke sofa, mas Abbi justru langsung membersihkan dirinya dan keluar dari ruangan ini, Kay hanya bisa terheran-heran pada kakaknya itu yang sudah mengijak usia 26 tahun.
Ternyata kakaknya kembali sembari membawakannya sebungkus nasi uduk dan sebotol air mineral untuk dirinya dan Kay, ootomatis itu membuat Kay tersenyum. Mereka pun memakan nasi uduknya dengan diam, setelah makan mas Abbi menyuruhnya untuk keluar karena ia akan berbicara dengan ayah secara empat mata.
Setelah selesai berbicara, Kay pun masuk lagi ke dalam. "mas udah siapin koper papah sama koper Kay juga, dan itu akan di anter sama orang kesini." Ucap mas Abbi yang membuat Kay melongo.
"kenapa?" tanya mas nya kepada Kay yang melihat ekspresi Kay yang sangat terkejut.
"nggak ada apa-apa mas." Ucap Kay kalem.
Setelah mengobrol dengan dokter dan segala macamnya, akhirnya pada jam tiga sore, Kay dan ayahnya sudah bersiap untuk meninggalkan rumah sakit dan pergi ke bandara yang ada di kota Bandung. Surat rujukan pun sudah di pegang oleh Abbi.
Setelah dua puluh menit di perjalanan, akhirnya mereka pun sampai di bandara Husein Sastranegara yang ada di kota Bandung, setelah berbincang dan melakukan perpisahan dengan kakaknya dan supir mereka, akhirnya Kay dan ayahnya pun masuk ke gate pada pukul empat lebih dua puluh dan merekaa akan melakukan 12 jam perjalanan dari Bandung menuju Amsterdam dan di tambah transit.
Di dalam pesawat first classnya, Kay lebih memilih membaca buku yang di belinya dengan Edgar ketika di Jakarta, berbicara tentaang Edgar, Kay tau pasti Edgar akan panik dengan kepergiannya karena Kay sama sekali tidak membicaraqkan ini dengan Edgar sebelumnya, ia pun men silent iphone nya selama tiba di Bandung tiga hari yang lalu, ia sengaja melakukan itu agar tidak ada yang mencarinya.
Ketika kalian mengira Kay jahat, Kay mengakui itu, ia memang jahat, meninggalkan segalanya tanpa pamit, tetapi kepergiannya pasti menjadi berita baik untuk Adrian dan Nesya karena ketika ia tidak ada lagi dalam kehidupan mereka, mereka akan melaksanakan semuanya denan baik tanpa ada penghalang dan rasa bersalah.
Sekarang tidak ada yang harus di pikirkan selain kesembuhan ayahn ya, ayahnya harus sembuh total, ayahnya harus selalu hadir sebagai penyemangatnya ketika ibunya tidak ada lagi disisinya, bahkan Kay tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, Kay tidak pernah merasakan sehangat apa pelukan ibu, Kay tidak pernah merasakan bagaimana bentuk kasih sayang seorang ibu karena Kay adalah penyebab ibunya meninggalkannya. Kay adalah penyebab semua itu.
Kay mengusap matanya yang tiba-tiba meneteskan cairan bening dari sudut matanya, beruntungnya kakaknya selalu mensuportnya dan tidak pernah menyalahkan dirinya sama sekali atas kejadian ini, kakaknya tidak pernah membencinya sedikitpun, padahal kakak dan ayahnya tau bahwa ibu Kay meninggal karena melahirkan Kay.
Ketika Kay punya kesempatan untuk bertemu ibunya sekali saja, ia akan memeluk ibunya dengan erat dan menangis disana, ia akan meminta pada Tuhan untu menembalikan ibunya. Kay ingin melihat wajah ibunya, Kay ingin memeluk ibunya dengan erat, Kay ingin layaknya serang anak yang bisa merasakan kasih sayang ibunya, Kay iri ketika ada mereka yang bisa mersenang-senang dan berbahagia dengan ibu mereka, Kay sangat iri. Bahkan ketika tidak melihat photo, Kay tidak tau seperti apa wajah ibunya.
Setelah perjalanan kurang lebih 14 jam dengan transit, akhirnya Kay dan ayahnya sampai di Amsterdam, setelah itu mereka menuju hotel milik keluarga mereka, lebih tepatnya milik ayah Kay, ketika membandingkan perusahaan A corp dengan perusahaan ayahnya, mungkin mereka akan sama-sama bisa bersaing karena mereka sepadan besarnya.
Kay pun tinggal di hotel itu selama waktu yang belum di tentukan, ia harus fokus mengurus ayahnya agar ayahnya sehat kembali wlaupun Kay rindu Ad.
...
"INI SEMUA SALAH KAU KAK! KALAU KAU TIDAK MENGUMUMKAN PERTUNANGANMU ITU, KAY TIDAK MUNGKIN PERGI!" Ed mengamuk di ruang kerja Ad, ia mengeluarkan segala emosinya disana dengan sudut mata yang sudah mengeluarkan air mata. Kakaknya tidak tau betapa sayangnya ia kepada Kay.
"AKU JUGA PUSING! BISAKAH KAU DIAM!" Ucapnya sembari menunjuk adiknya tersebut dengan tak kalah tinggi nada bicaranya.
Ed mundur dan duduk di sofa di depan ruang kerja Ad sembari menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia kehilangan Kay, ia kehilangan warna hidupnya, semua orang tidak tau bahwa Kay sangat penting bagi kehidupan Ed, ini semua gara-gara kakaknya, ia membenci kakaknya, sangat.
Ia tau bahwa Kay mencintai Ad, Ed tau itu dan ia yakin bahwa perginya Kay pasti karena kejadian ketika acara ulang tahun A corp, karena Kay mendengar bahwa Adrian akan segera bertunangan, ia tau bahwa Kay menangis di toilet dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa ketika kembali bertemu dirinya, hidup Kay sangat banyak kebohongan hanya karena kakaknya.
"Kau tau, Kay selalu mencintaimu kak, kenapa kau selalu menyakitinya? kenapa kau selau melukai hatinya? bahkan ketika aku bertemu Kay itu karena aku ingin kau dan Kay bermaafan dan kembali seperti dulu, tetapi apa yang Kay dapatkan atas perjuangannya, Kay tidak mendapatkan apa-apa selain rasa sakit. Kau tega kak." Ucap Ed dengan nada rendahnya kemudian segera pergi dari ruangan kakaknya dengan meninggalkan kakaknya yang diam seribu bahasa.
"apa benar?" batin Ad.