BARTER NYAWA DI MENARA OBSIDIAN

1153 Kata
Udara di dalam ruang kerja utama Skye Group terasa seberat timah. Cahaya matahari pagi yang berusaha menembus kaca filtrasi hanya mampu menciptakan bayangan panjang dan tajam di atas lantai obsidian yang hitam mengilap. Gerald berdiri di balik meja kerja Han yang luas, jemarinya yang masih sedikit kasar—jejak hidup di jalanan yang belum sepenuhnya hilang—mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan irama yang tenang namun menuntut. Pintu geser otomatis terbuka dengan desis halus. Crystal melangkah masuk dengan dagu terangkat dan langkah kaki yang sengaja dikeraskan. Ia tidak tampak seperti seseorang yang sedang terancam; sebaliknya, senyum sinis yang menghiasi bibir merahnya menyiratkan bahwa ia merasa memegang kendali atas seluruh nyawa kakaknya. "Kau memanggilku sepagi ini, Kakak? Apakah kau tidak bisa tidur karena terlalu takut videomu akan tayang di setiap sudut Aero Town?" Crystal duduk di kursi kulit di hadapan Gerald, menyilangkan kakinya dengan gaya yang penuh kemenangan. Gerald tidak langsung menjawab. Ia memutar layar holografik di mejanya ke arah Crystal. Di sana, bukan wajah mereka berdua yang muncul, melainkan deretan tabel data logistik, grafik distribusi udara, dan salinan kontrak ilegal yang ditandatangani dengan tinta digital rahasia. "Logistik Oksigen Sektor 4," ucap Gerald, suaranya rendah, dingin, dan benar-benar tidak memiliki cela sebagai Han. "Kau mengurangi suplai udara untuk warga sipil sebesar lima belas persen selama enam bulan terakhir. Oksigen itu kau alihkan ke pasar gelap Sektor Utara untuk membiayai gaya hidupmu yang berantakan dan beberapa investasi properti di Sky-City. Itu bukan sekadar korupsi, Crystal. Itu adalah genosida korporat." Wajah Crystal yang tadinya cerah mendadak kaku. Namun, ia adalah seorang Skye; ia dilatih untuk tidak menunjukkan kelemahan di depan predator. Ia tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan logam. "Kau pikir data itu cukup untuk menjatuhkanku? Aku bisa mengatakan itu perintahmu. Aku bisa memanipulasi log itu seolah-olah kau yang memerintahkanku," balas Crystal tajam. Ia mencondongkan tubuh ke depan, matanya berkilat penuh racun. "Tapi bagaimana denganmu? Aku punya rekaman asli semalam. Saat kau sedang sibuk memuaskan Aruna, tato itu terlihat sangat jelas, Han. Sayap Gagak Patah. Tato kasta terendah dari pembuangan The Gut. Jika dewan direksi tahu CEO mereka menandai dirinya dengan simbol kriminal selokan, kau tidak hanya akan dipecat. Kau akan dianggap sebagai ancaman keamanan nasional." Gerald menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran Han. Ia membiarkan keheningan menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik, menciptakan ketegangan yang menyesakkan paru-paru. "Kau benar-benar menganggapku ceroboh, ya?" Gerald mengeluarkan sebuah dokumen fisik bertanda tangan medis resmi dari laci mejanya dan melemparkannya ke hadapan Crystal. "Baca itu. Laporan medis rahasia dari Klinik Pusat Skye, tertanggal dua bulan lalu." Crystal menyambar dokumen itu dengan kasar. Matanya membelalak saat membaca isinya. "Prosedur penanaman pigmen sementara untuk kebutuhan intelijen strategis," Gerald membacakan isi dokumen itu dengan nada datar yang mengerikan. "Aku sengaja membuat tato itu sebagai bagian dari operasi penyusupan untuk menghancurkan kartel pemasok suku cadang ilegal di distrik bawah. Tato itu bisa dihapus kapan saja dengan sekali tembakan laser medis. Semua tercatat di protokol keamanan pusat yang hanya bisa diakses olehku. Jadi, silakan sebarkan videomu. Dunia akan melihat seorang CEO yang berdedikasi melakukan pekerjaan kotor secara personal, sementara aku akan memperlihatkan dunia seorang adik yang mencuri napas dari rakyatnya sendiri." Crystal melempar dokumen itu kembali ke meja. Napasnya mulai memburu. Ia menyadari bahwa perisai yang ia banggakan baru saja hancur berkeping-keping. "Kau... kau sudah merencanakannya? Kau sengaja membiarkan dirimu terlihat?" "Aku selalu selangkah di depanmu, Crystal," dusta Gerald dengan sempurna. Di dalam hatinya, ia berterima kasih pada kemampuannya mengarang cerita di jalanan yang kini menyelamatkan nyawanya. "Sekarang, mari kita bicara tentang masa depanmu." Gerald menggeser selembar kertas fisik—sebuah artefak kuno yang di dunia Skye Group berarti kesepakatan yang tidak bisa dirujuk balik secara digital. Itu adalah surat tugas resmi dengan stempel emas CEO. "Sektor Utara. Distrik pertambangan kristal energi," Gerald berkata sambil menatap mata Crystal yang mulai berair karena amarah yang tertahan. "Kau akan pergi ke sana sebagai pengawas utama. Tidak ada asisten, tidak ada kartu kredit tanpa batas, dan yang paling penting, tidak ada jalur komunikasi pribadi selain jalur resmi perusahaan. Kau akan berada di sana selama minimal dua tahun." "Dua tahun?!" Crystal berdiri hingga kursinya terdorong ke belakang. "Itu tempat pembuangan! Suhu di sana di bawah nol derajat setiap malam, dan para buruhnya adalah manusia-manusia kasar! Kau ingin membunuhku secara perlahan?" "Aku ingin kau belajar menghargai setiap liter oksigen yang kau curi," balas Gerald tanpa ampun. "Tanda tangani surat ini, dan data korupsimu akan tetap terkunci di server pribadiku. Tolak ini, dan tim keamanan akan menyeretmu keluar dari gedung ini sebelum matahari tepat di atas kepala. Dan kau tahu apa yang terjadi pada anggota keluarga Skye yang dibuang? Kau akan berakhir di jalanan yang paling gelap, Crystal. Tempat di mana kecantikanmu tidak akan bernilai lebih dari sepotong roti basi." Crystal menatap surat itu seolah-olah itu adalah surat kematiannya. Tangannya gemetar hebat. Ia menatap Gerald, mencoba mencari sisa-sisa kasih sayang kakak laki-lakinya yang dulu, namun yang ia temukan hanyalah sepasang mata obsidian yang dingin dan tak terbantahkan. Bagi Crystal, kakaknya telah berubah menjadi monster yang jauh lebih efisien. Dengan kemarahan yang meluap, Crystal menyambar pulpen dari meja dan menggoreskan tanda tangannya dengan gerakan kasar yang hampir merobek kertas itu. "Aku membencimu," desis Crystal, suaranya pecah oleh isak tangis yang ia tahan. "Aku bersumpah, suatu hari nanti aku akan menemukan celahmu dan aku akan menghancurkanmu sampai tidak ada yang tersisa." Gerald mengambil kembali kertas itu, memeriksanya sejenak, lalu melipatnya dengan rapi. "Kebencian adalah motivator yang bagus, Crystal. Gunakan itu untuk memastikan proyek di Utara berhasil. Sekarang, keluar. Kau punya waktu satu jam untuk mengepak barangmu sebelum pesawat logistik berangkat." Crystal berbalik dan berlari keluar ruangan tanpa menoleh lagi. Pintu obsidian tertutup di belakangnya dengan dentuman yang final. Gerald tetap duduk di kursinya. Begitu ia benar-benar sendirian, ketegangan di bahunya runtuh. Ia mengembuskan napas panjang yang terasa menyakitkan. Tangannya yang tadi begitu tenang kini gemetar hebat. Ia baru saja mengasingkan saudara kandung dari identitas yang ia curi. Rasa bersalah berdenyut di kepalanya, namun insting bertahan hidupnya membungkam perasaan itu dengan cepat. "Maafkan aku, Crystal," bisiknya pada ruangan yang kosong. "Tapi di dunia ini, hanya ada tempat untuk satu predator di puncak menara." Ia menatap ke luar jendela, ke arah Sektor Utara yang dingin dan jauh. Gerald tahu ini hanyalah kemenangan sementara. Crystal mungkin sudah pergi, namun benih kecurigaan telah ditanamkan. Dan di atas segalanya, ia baru saja menyadari bahwa menjadi Han bukan hanya tentang memakai jas mahal, tapi tentang kehilangan nurani sedikit demi sedikit demi mempertahankan sebuah sandiwara. Aruna muncul dari balik pintu rahasia di samping meja, menatap Gerald dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia telah mendengar semuanya. "Itu adalah barter yang sangat rapi, Han," Aruna mendekat, meletakkan tangannya di bahu Gerald. "Kau benar-benar tahu cara menjinakkan ular." Gerald hanya mengangguk kecil, membiarkan Aruna percaya bahwa ia masih memegang kendali sepenuhnya. Padahal, jauh di lubuk hatinya, Gerald Hyun sang pencopet mulai merasa bahwa topeng yang ia pakai sudah mulai melekat terlalu erat pada kulitnya, hingga ia sendiri lupa di mana wajah aslinya dimulai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN