Pagi itu, Aero Town tampak seperti lukisan cat air yang pudar di balik jendela kaca lantai seratus Menara Skye. Kabut polusi dari The Gut merangkak naik, mencoba menggapai kemewahan distrik atas, namun selalu kalah oleh sistem filter udara gedung yang mendesis pelan. Di dalam ruang kerjanya, Gerald berdiri mematung. Ia tidak lagi melihat pantulan seorang pencopet; jas charcoal dari serat sutra lab ini telah membentuk bahunya menjadi sosok yang berwibawa, namun di balik kain mahal itu, kulitnya masih terasa gatal oleh keringat dingin.
Pesan di layar monitor pribadinya masih menyala: “Who is the Impostor?”. Gangguan sinyal (glitch) itu hanya muncul sepersekian detik semalam di layar kota, namun bagi Gerald, itu adalah genderang perang.
"Han?" suara Aruna memecah keheningan.
Gerald berbalik dengan gerakan yang tenang, sebuah refleks yang ia asah selama empat puluh delapan jam terakhir. Aruna berdiri di sana dengan tablet transparan di tangannya. Matanya yang tajam menatap Gerald, seolah sedang memindai setiap pori-pijat di wajah pria itu.
"Kau melamun lagi," ucap Aruna. Ia berjalan mendekat, aroma parfum sandalwood dan melati yang ia kenakan mulai mengisi ruang di antara mereka. "Tim IT melaporkan ada upaya peretasan pada server utama semalam. Bersamaan dengan gangguan pada layar iklan luar. Kau ingin aku memanggil kepala keamanan?"
Gerald duduk di kursi obsidiannya, menyandarkan punggung dengan gaya yang sengaja dibuat angkuh. "Tidak perlu. Itu hanya ulah aktivis jalanan yang ingin mencari perhatian. Aku punya tugas yang lebih penting untuk departemen IT."
"Tugas apa?" Aruna mengangkat alisnya.
"Aku ingin pembersihan data total," Gerald menatap mata Aruna lurus-lucu. "Aku ingin sistem memindai seluruh basis data kependudukan di Sektor 7 dan 8. Hapus semua catatan kriminal yang belum terselesaikan dalam sepuluh tahun terakhir. Aku ingin memulai proyek regenerasi lahan di sana, dan aku tidak mau ada hambatan hukum dari 'hantu-hantu' masa lalu yang mengklaim hak milik."
Aruna terdiam sejenak. Jemarinya mengetuk-ngetuk sisi tablet. "Itu permintaan yang tidak biasa, Han. Menghapus data kependudukan secara masal bisa menarik perhatian dewan audit internal. Kenapa tidak menggunakan jalur penggusuran legal seperti biasanya?"
"Karena jalur legal memakan waktu, Aruna. Dan aku tidak punya waktu," Gerald mencondongkan tubuh, suaranya merendah, berat, dan penuh tekanan. "Aku ingin distrik itu menjadi bersih. Secara fisik, dan secara digital. Lakukan sekarang."
Aruna mengangguk patuh, meski ada kilatan keraguan di matanya yang tak luput dari pengamatan Gerald. "Baiklah. Aku akan mengatur pertemuan dengan Kepala IT, Leo Vance."
Dua puluh menit kemudian, Gerald berada di ruang server bawah tanah yang dingin. Leo Vance, seorang pria kurus dengan kacamata augmented reality, berdiri gemetar di depan konsol utama. Di dunia Skye Group, bertemu langsung dengan CEO adalah antara sebuah berkah atau hukuman mati bagi karier seseorang.
"Tuan ... Tuan Han," Leo terbata. "Menghapus data kependudukan di Sektor kumuh itu ... secara teknis mudah, tapi jejak log-nya akan tersisa. Sistem pusat akan mencatat bahwa perintah ini datang dari terminal Anda."
Gerald berjalan mengelilingi deretan server yang berdengung seperti lebah raksasa. "Aku tidak memintamu untuk memberi nasihat hukum, Leo. Aku memintamu untuk menghapus. Apakah kau mengerti arti kata 'hapus'?"
Gerald berhenti tepat di belakang Leo. Ia meletakkan tangannya di bahu pria itu. Gerald bisa merasakan Leo gemetar. Ini adalah kekuatan yang tidak pernah ia miliki saat masih berada di jalanan. Di The Gut, ia harus berkelahi untuk sepotong roti. Di sini, ia hanya perlu menekan satu orang untuk menghilangkan seluruh masa lalunya.
"Ada satu nama spesifik yang harus kau pastikan hilang selamanya dari sistem," bisik Gerald. "Gerald Hyun. Usia 21 tahun. Catatan pencurian, penyamaran, dan segala hal yang berkaitan dengannya. Jika nama itu masih muncul di pemindaian retina mana pun di kota ini besok pagi ... maka namamu yang akan dihapus dari daftar gaji Skye Group. Dan kau tahu apa yang terjadi pada orang yang kehilangan perlindungan Skye di Aero Town."
Leo menelan ludah dengan susah payah. Jemarinya mulai menari di atas kibor holografik. "S-siap, Tuan. Saya akan melakukan enkripsi berlapis. Nama itu akan dianggap sebagai kesalahan sistem dan akan terhapus secara otomatis dalam siklus maintenance tengah malam."
Gerald memperhatikan layar yang menampilkan ribuan data. Ia melihat foto dirinya yang kusam—foto identitas dari penjara remaja lima tahun lalu—muncul sekilas sebelum hancur menjadi serpihan kode digital. Ada rasa lega yang luar biasa, sekaligus rasa takut yang baru. Gerald Hyun kini telah mati secara hukum. Yang tersisa hanya Han, sang tiran dari lantai seratus.
Saat kembali ke penthouse, Gerald mendapati Aruna sedang berdiri di depan meja kerjanya. Wanita itu memegang sebuah amplop tua yang warnanya sudah menguning. Jantung Gerald seolah berhenti berdetak. Itu adalah amplop yang ia simpan di dalam lapisan tersembunyi tas punggung lamanya yang ia pikir sudah dihancurkan oleh para penjaga saat ia pertama kali dibawa ke sini.
"Aku sedang merapikan beberapa barang lama yang dikirim dari gudang penyimpanan pribadimu," Aruna berbalik. Ekspresinya sulit dibaca. "Aku menemukan ini terjatuh di bawah lemari. Ini foto lama."
Aruna menunjukkan sebuah foto. Di sana ada dua anak laki-laki kecil yang berdiri di depan sebuah panti asuhan yang reyot. Keduanya identik. Namun, satu anak mengenakan kalung perak dengan inisial 'H', dan yang lainnya tidak mengenakan apa-apa selain baju yang penuh tambalan.
"Siapa anak yang satunya, Han?" tanya Aruna lembut, namun ada nada menginterogasi di balik suaranya. "Kau selalu bilang kau anak tunggal. Kau bilang orang tuamu meninggal dalam kecelakaan pesawat dan kau tidak punya saudara."
Gerald merasa udara di ruangan itu mendadak menipis. Ini adalah ujian yang tidak ada dalam kerangka data yang ia pelajari. Ia melangkah mendekat, mencoba mengambil foto itu dengan tenang, namun Aruna menjauhkannya sedikit.
"Han, kau gemetar," bisik Aruna. Matanya menyipit. "Sejak semalam, kau berubah. Tato itu, caramu bicara, dan sekarang foto ini. Apa yang kau sembunyikan dariku?"
Gerald harus membuat keputusan cepat. Jika ia berbohong dengan terlalu lemah, Aruna akan menghancurkannya. Ia harus menyerang balik dengan emosi.
Gerald merebut foto itu dengan kasar, sebuah tindakan yang membuat Aruna tersentak. Gerald menatap foto itu dengan kebencian yang dibuat-buat, namun didasari oleh rasa sakit yang nyata.
"Itu adalah aib yang ingin kuhapus, Aruna!" suara Gerald meninggi, menggema di ruangan luas itu. "Anak itu ... dia adalah kegagalan. Dia adalah sampah yang dibuang oleh keluargaku karena dia tidak sempurna. Kau ingin tahu rahasia besar keluarga Skye? Kami tidak membuang sampah ke tempat sampah, kami membuang manusia yang tidak berguna ke selokan!"
Gerald meremas foto itu hingga hancur di telapak tangannya. "Jangan pernah tanyakan itu lagi. Jangan pernah mengungkit tentang saudara yang sudah dianggap mati oleh sejarah perusahaan ini. Apakah kau mengerti?"
Aruna terpaku. Ia melihat kemarahan di mata Gerald—kemarahan yang terasa begitu mentah dan jujur. Delusinya kembali bekerja. Ia mengira Han sedang mengalami trauma masa lalu yang mendalam. Ia melangkah maju dan memeluk Gerald dengan erat.
"Maafkan aku, Han ... aku tidak tahu," bisik Aruna di d**a Gerald. "Aku hanya ... aku merasa kau menjadi orang yang berbeda. Aku takut kehilangan pria yang kukenal."
"Kau tidak akan kehilangan aku," jawab Gerald, tangannya perlahan membelai rambut Aruna. "Aku hanya sedang memastikan tidak ada lagi masa lalu yang bisa menjatuhkan kita. Aku melakukan ini untuk kita."
Malam itu, Gerald berdiri di balkon penthouse, menatap lampu-lampu kota yang berkelap-kelip. Ia baru saja menghapus identitas digitalnya, namun ia baru saja menyadari satu hal yang mengerikan. Foto itu ... ia tidak pernah memiliki foto itu. Selama hidup di The Gut, ia tidak pernah tahu bahwa ia punya kembaran.
Siapa yang menaruh foto itu di bawah lemarinya?
Jika Han asli adalah orang yang menaruhnya, berarti pria itu sedang menontonnya sekarang. Gerald menoleh ke arah kamera keamanan yang berkedip merah di sudut balkon. Ia merasa seperti tikus di dalam labirin kaca yang mewah.
Tiba-tiba, ponsel pribadinya yang tersembunyi di saku dalam jasnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk. Bukan kode dari pasar gelap, melainkan pesan teks sederhana:
“Penghapusan data berhasil, Gerald. Tapi kau lupa satu hal: kau tidak bisa menghapus DNA. Sampai jumpa di rapat pemegang saham bulan depan. Aku akan memakai jas yang sama dengannmu.”
Gerald mencengkeram pagar balkon hingga jemarinya memutih. Han yang asli tidak sedang bersembunyi. Dia sedang mempersiapkan panggung untuk kepulangannya. Dan Gerald, si pencopet dari distrik bawah, baru saja membersihkan "rumah" Han agar sang pemilik bisa kembali dengan tenang.
"Siapa yang sedang bermain dengan siapa?" gumam Gerald ke arah kegelapan Aero Town.
Di dalam kamar, Aruna memperhatikannya dari balik pintu yang sedikit terbuka. Ia tidak lagi melihat Han yang ia cintai. Ia melihat seorang pria yang sedang bertarung dengan iblis di dalam kepalanya sendiri. Dan untuk pertama kalinya, Aruna merasa takut pada pria yang ada di tempat tidurnya.