Pagi di Aero Town selalu dimulai dengan suara dengung mesin pembersih udara yang bekerja ekstra keras, menyaring partikel logam dari distrik bawah agar tidak mengotori paru-paru para elit di atas. Di dalam ruang kerja utama Skye Group, Gerald berdiri menghadap jendela kaca raksasa yang menyajikan pemandangan kota vertikal. Dari ketinggian lantai seratus, manusia di bawah sana hanya tampak seperti titik-titik debu yang tidak berarti.
Gerald menatap pantulan dirinya di kaca. Kemeja sutra seharga biaya hidup satu tahun warga The Gut terasa mencekik lehernya. Ia sedang melatih gestur: bagaimana Han menyilangkan lengan dengan dagu sedikit terangkat, bagaimana Han memiringkan kepala saat meremehkan lawan, dan bagaimana Han menatap orang lain seolah mereka hanyalah objek statis.
Pintu berdesir terbuka. Aruna masuk dengan langkah yang nyaris tak terdengar di atas karpet beludru. Gerald bisa merasakan tatapan wanita itu—tatapan yang kini terasa lebih berat, penuh dengan campuran antara rasa memiliki yang posesif dan sisa-sisa gairah semalam yang belum tuntas.
"Jadwalmu padat hari ini, Han," Aruna mendekat, suaranya lembut namun penuh otoritas profesional. Ia meletakkan tablet data di atas meja kerja obsidian. "Dewan direksi menuntut laporan akhir proyek Aero-Core. Dan ... Crystal sudah menunggumu di ruang depan. Dia tampak sangat tidak sabar."
Gerald berbalik perlahan. Wajahnya datar, sebuah topeng dingin yang ia curi dari kepribadian asli sang CEO. "Biarkan dia masuk. Dan Aruna? Pastikan tidak ada satu pun transmisi keluar dari ruangan ini selama sepuluh menit ke depan. Aku tidak ingin ada telinga lain yang mendengar percakapan keluarga ini."
Aruna mengangguk, matanya berkilat penuh pengertian. "Aku sudah memblokir seluruh jalur nirkabel di lantai ini sejak kau bangun tadi. Aku tahu apa yang kau butuhkan, Han. Aku selalu tahu."
Crystal masuk dengan langkah yang disengaja agar tumit sepatunya berdetak keras di lantai marmer, sebuah pernyataan perang yang sunyi. Ia tampak lebih tenang dibandingkan saat di ruang makan, namun matanya memancarkan kebencian murni yang siap meledak.
"Kau ingin bicara, Kakak?" Crystal duduk tanpa dipersilakan, menyilangkan kakinya yang jenjang dengan gaya angkuh. "Atau kau ingin memamerkan tato kotor itu lagi sebagai bentuk intimidasi barumu?"
Gerald tidak langsung menjawab. Ia berjalan pelan mengelilingi meja, menciptakan tekanan psikologis dengan langkah-langkah yang tenang namun pasti. Ia berhenti tepat di belakang Crystal, membungkuk sedikit hingga aroma kopi mahal dari napasnya tercium oleh adiknya.
"Tato itu adalah pengingat, Crystal. Pengingat bahwa aku bisa menjadi siapa pun yang kuinginkan," bisik Gerald tepat di telinga Crystal. "Tapi rekaman korupsimu? Itu adalah tiket satu arah menuju pengadilan korporat yang akan menguliti seluruh asetmu."
Crystal menegang. Bahunya naik sedikit. "Kau sudah mendapatkan apa yang kau mau. Video m***m itu sudah kuhapus di depan matamu sendiri semalam."
"Penghapusan digital hanyalah ilusi bagi orang bodoh, dan aku tahu kau tidak sebodoh itu, Crystal," Gerald menarik kursi, duduk tepat di hadapan Crystal dengan jarak yang sangat intim namun mengancam. "Aku memiliki cadangan di server terenkripsi yang bahkan tidak bisa kau sentuh dengan kode akses tertinggimu. Jadi, pilihannya sederhana: Kau menjadi pionku yang patuh, atau kau menghilang dari Aero Town dengan tangan kosong."
Crystal tertawa sinis, meski ada nada gemetar dalam suaranya yang mencoba ia sembunyikan. "Apa maumu, Han? Uang? Sahabat dewan? Katakan saja."
"Aku butuh kau pergi ke Sektor Utara," Gerald menyandarkan punggungnya, menatap Crystal dengan mata yang hampa. "Proyek Sky-Bridge di sana sedang macet karena masalah birokrasi dan serikat buruh. Aku ingin kau mengawasinya secara pribadi. Tanpa asisten elitmu, tanpa tim hukummu. Hanya kau dan debu konstruksi di sana."
"Sektor Utara? Itu tempat buangan!" Crystal berdiri, wajahnya memerah karena penghinaan. "Kau ingin mengasingkanku ke perbatasan selokan hanya karena aku mengetahui sedikit rahasiamu?"
"Aku ingin memberimu tugas, Crystal," Gerald berdiri, auranya kini sepenuhnya mendominasi ruangan. "Jauhkan dirimu dari urusanku di sini. Jika kau berhasil menjalankan proyek itu dalam tiga bulan tanpa satu pun keluhan, aku mungkin akan mempertimbangkan untuk menghapus satu bagian dari rekaman suaramu. Jika kau menolak ... aku akan memastikan dewan direksi tahu siapa yang sebenarnya mencoba menyabotase kontrak energi bulan lalu untuk keuntungan pribadi."
Crystal terdiam. Ia menatap kakaknya dengan tatapan ngeri. Han yang ia kenal biasanya akan berteriak atau menggunakan kekuasaan untuk memotong tunjangannya, tapi Han yang ada di depannya sekarang bertindak dengan ketenangan seorang algojo.
"Kau ... kau benar-benar berubah, Han," bisik Crystal. "Kau menjadi jauh lebih menjijikkan dan licik dari sebelumnya. Apa yang sebenarnya terjadi padamu di distrik bawah?"
"Terima kasih atas pujiannya," balas Gerald tanpa emosi sedikit pun. "Pesawat pribadimu berangkat satu jam lagi. Jangan terlambat, atau aku akan menganggapnya sebagai pengunduran diri."
Setelah Crystal keluar dengan hentakan kaki penuh amarah, Aruna kembali masuk ke ruangan. Suasana yang tadinya tegang oleh kebencian kini berubah menjadi tegang oleh sesuatu yang lain. Aruna mendekati Gerald, tangannya merayap ke d**a Gerald, merapikan kerah kemeja pria itu dengan gerakan yang sangat pelan.
"Kau sangat keras padanya tadi," bisik Aruna. Matanya menatap bibir Gerald dengan intensitas yang tidak bisa disembunyikan. "Itu membuatku ... terkesan. Kau tampak sangat memegang kendali atas segalanya. Sisi dirimu yang ini ... sangat memabukkan."
Gerald mencengkeram pergelangan tangan Aruna—tidak terlalu keras, namun cukup untuk menunjukkan posisi siapa yang berkuasa di sini. "Kekuasaan bukan untuk dibagi dengan orang yang tidak kompeten, Aruna. Kau tahu aku membenci kelemahan."
"Aku tahu," Aruna berjinjit, mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka hampir bersentuhan. "Dan aku senang kau kembali menjadi 'Han' yang aku harapkan. Dingin, cerdas, dan mematikan. Tato itu ... mungkin memang sebuah kegilaan, tapi aku mulai menyukainya. Itu membuatmu terasa lebih ... berbahaya. Seolah kau menyimpan sisi binatang di balik jas sutra ini."
Gerald menatap dalam ke mata Aruna, mencari celah keraguan atau kecurigaan. Namun, yang ia temukan hanyalah delusi cinta yang sudah mengakar kuat. Aruna telah menciptakan versinya sendiri tentang Han, dan Gerald hanya perlu terus memberi makan fantasi itu.
"Siapkan berkas untuk rapat dewan sore ini," ucap Gerald, melepaskan tangan Aruna dengan gerakan tegas.
"Tentu, Han," Aruna berbalik, namun ia berhenti di ambang pintu, memberikan satu tatapan terakhir yang penuh arti. "Aku akan memastikan semua berjalan sesuai keinginanmu. Aku akan menjadi bayanganmu, seperti biasanya."
Begitu Aruna keluar, Gerald jatuh terduduk di kursi kebesarannya. Ia membuang napas panjang yang sejak tadi ia tahan. Kemenangan atas Crystal memberinya waktu bernapas, namun ia tahu rantai kebohongan ini akan semakin berat setiap harinya.
Ia merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel murah miliknya yang ia bawa dari The Gut. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang tidak ia kenali, namun kode di depannya menunjukkan sinyal dari pasar gelap.
“Pesan terkirim. Ular sudah diasingkan. Tapi hati-hati, Sang Pemilik asli mulai mencari kunci rumahnya.”
Gerald mematikan layar ponsel itu. Kepalanya berdenyut. Ia baru saja menjinakkan Crystal, namun "Sang Pemilik" asli—Han yang sebenarnya—mulai membayangi setiap sudut pikirannya. Di tengah kemewahan lantai seratus ini, Gerald menyadari satu hal: ia bukan sedang memimpin sebuah perusahaan, ia sedang berada di dalam penjara emas yang pintunya bisa terkunci kapan saja.