22 Pintu seketika terbuka membuat aku yang sedang serius berbicara dengan Akasia spontan menoleh. "Sabrina?" Aku dan Akasia bersuara hampir berbarengan. Heran, dari mana wanita ini tahu aku ada di sini. Meski tadi aku sempat berbalas pesan, tapi aku tidak mengatakan di mana tempatku dirawat saat ini. Sabrina memang luar biasa. Dia seolah memiliki indra ke enam untuk mengetahui keberadaanku. Dia seolah diberi insting yang sangat kuat agar bisa memantau ku dimanapun berada. Di awal kepergian Akasia, aku merasa perhatian Sabrina dan ibunya terasa menyenangkan dan sejenak bisa memalingkan pikiranku dari sosok Akasia. Aku yang kala itu marah karena merasa dibohongi oleh istriku, menerima semua perhatian Sabrina dan ibunya sebagai suatu yang membuatku bahagia. Namun seiring berjalann

