27 "Maafkan aku, Sya. Maafkan jika aku memilih jalan ini." Suara Angkasa sengau. Meski dia tahu dan sudah membayangkan kalau Akasia akan menerima dengan tulus apapun keputusan dirinya, Tapi tetap saja penerimaan Akasia akan talaknya terasa menyakitkan. Jauh di relung hati Angkasa yang paling dalam, pria itu berharap kalau Akasia menggeleng dan menolak serta berusaha meyakinkan dirinya untuk tetap mempertahankan mahligai pernikahan mereka, apapun yang terjadi. Sayangnya, Akasia tidak melakukannya. Dia bahkan tidak mengucapkan satu patah katapun sebagai bantahan dari talak yang dia ucapkan barusan. Hati wanita itu terlalu tulus dan lembut, sekaligus rapuh dan hancur, dua hal terakhir yang justru diberikan dirinya untuk Akasia. Kehancuran dan patah hati. Angkasa mendesah, berusaha merap

