Bab 38

1343 Kata

38 Dadaku berdetak luar biasa keras. Aku berjongkok untuk mengambil gawai. Rasanya ingin aku melarikan diri dan tidak mendengar kata-kata yang akan keluar dari bibir Akasia. Suara gawai terus berdering seolah tidak memberi pilihan kepadaku selain mengangkat dan menjawab apapun yang akan dikatakan dan ditanyakan oleh perempuan yang kini keberadaannya hanya tinggal kenangan dan masa lalu. "Assalamualaikum, Akasia." Suaraku tergagap. "Waalaikum salam, Mas Angkasa." O, suara itu begitu dalam dan sedih. Suara Akasia bergetar menahan tangis membuatku semakin terpuruk dan merasa terjebak di jurang yang begitu dalam. "Kamu sudah membaca pesanku, Sya? Maafkan, aku ...." Susah payah Aku mengatakan kalimat ini kepada Akasia. Aku tahu permintaan maaf untuk saat ini tidaklah bermanfaat sama s

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN