Bab 39

1379 Kata

39 Langit di pertengahan Desember ini seolah tidak menyisakan sedikitpun mentari untuk sedikit menyinari hatiku yang gelap. Tujuh hari sudah sejak aku mendatangi rumah Akasia dan meminta maaf. Akasia masih membisu. Tak satu kata pun dia kirimkan via gawaiku sebagai tanda dia memaafkan aku. Aku sadar luka dan rasa nista yang aku berikan padanya terlanjur dalam. Betul, orang akan dengan mudah bilang, apa susahnya memaafkan, apa yang menghalangi untuk memberikan pengampunan, betul tidak susah, tapi bagaimana hati yang hancur? Apa kabar jiwa yang sekian lama mati dalam penderitaan dan rasa hina? Akasia, walau tak satu patah pun kata kau ucapkan, tapi aku sadar. Aku memahamimu, bukan engkau yang keras kepala dan tidak berperasaan, tapi akulah yang telah tidak pantas mendapatkan kata maafm

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN