bc

Komandan Tampanku

book_age18+
12.5K
IKUTI
85.0K
BACA
HE
drama
bxg
brilliant
war
like
intro-logo
Uraian

Ira yang merupakan seorang dokter dijodohkan dengan Bian—komandan angkatan darat. Namun pertemuan pertama mereka kurang baik, sehingga Ira dan Bian saling membenci satu sama lain.

Ira sengaja dikirim ke perbatasan oleh papahnya agar bisa bertemu dan pendekatan dengan Bian secara alami. Sebab saat ini Bian sedang bertugas di sana.

Namun, bukannya pendekatan, selama di perbatasan mereka justru lebih sering bertengkar. Hingga suatu ketika Ira diculik dan Bian berhasil menyelamatkannya dengan mempertaruhkan nyawa.

Sejak saat itu hubungan mereka mulai membaik. Bahkan mereka menjalin kasih dengan cukup serius. Akan tetapi saat hendak melamar Ira secara resmi, tiba-tiba ia menghilang tanpa kabar. Ira yang menunggunya di Jakarta pun gelisah karena harus menunggu tanpa kejelasan selama setahun lebih.

Sauté ketika Bian tiba-tiba muncul dan pura-pura tak mengenali Ira. Hal itu pun membuat Ira kecewa sekaligus penasaran.

Akankah mereka bersatu kembali?

chap-preview
Pratinjau gratis
01. Rencana Orang Tua
Malam itu dr.Ira-Khumaira Putri Muhammad (25th) sedang menghadiri pesta pernikahan temannya yang menikah dengan anggota angkatan darat. Pernikahan digelar dengan cukup mewah. Di sebuah hotel yang terletak di Ibu Kota. “Gitu ya kalau nikah sama angkatan. Ribet banget pake pedang pora segala,” ucap Ira pada temannya. “Namanya juga nikah, Ra. Mau pake adat apa juga ribet. Kalau gak mau ribet ya akad nikah aja udah,” timpal sahabat Ira yang bernama Windy. “Hahaha, bisa aja, lo!” “Tapi di sini banyak cowok ganteng, Ra. Lo gak tertarik buat nyari gebetan? Gagah-gagah pula,” tanya Windy. “Dih, ogah banget. Gue sih gak mau punya suami angkatan,” jawab Ira. “Lha, kenapa? Di mana-mana kan cewek pada seneng sama cowok berseragam, Ra,” tanya Windy, heran. “Gak semua, keles. Gue termasuk yang gak mau. Kebanyakan dari mereka itu playboy. Apalagi kalau mereka tugas luar. Beuh, bisa tekanan batin gue mikirin suami takut selingkuh,” jawab Ira, antusias. “Hahaha, itu mah tergantung orangnya, kali. Mau angkatan atau enggak, kalau emang dasarnya playboy mah ya playboy aja.” “Ya udah, intinya gue gak suka.” “Terserah lo, deh!” Saat ini Ira baru saja pindah dari Singapura. Ia diminta pindah oleh papahnya karena sudah terlalu lama tinggal di Singapura. Tidak hanya itu, papahnya pun meminta Ira untuk pergi ke perbatasan demi membantu kakaknya-Zein, agar bisa membawa istrinya pulang kembali ke Jakarta. Ira menggantikan tugas Intan yang merupakan kakak iparnya itu untuk bekerja di klinik perbatasan selama setahun. Awalnya Ira sempat menolak. Namun setelah ia pikir-pikir, dirinya yang sedang melakukan penelitian untuk tesis-nya bisa mendapat banyak materi di sana. Sehingga dengan berat hati Ira menerima tawaran tersebut. Di sudut lain, ada sekumpulan pria berseragam yang merupakan kawan dari pengantin pria, sedang berbincang. “Bi, lo kapan nyusul? Jabatan udah ada, pangkat udah tinggi. Nunggu apa lagi, sih?” tanya Martin pada Bian. “Nanti dulu, lah. Gue kan masih tugas di perbatasan. Kebetulan gebetan gue ini dokter dan gak mungkin gue bawa ke sana. Jadi rencananya nanti aja kalau gue udah pindah tugas ke sini lagi, baru nikahin dia,” jawab Bian, santai. Fabian Malik Adnan merupakan seorang komandan angkatan darat yang bertugas di perbatasan. Saat ini ia sedang ada tugas di markas besar, sehingga Bian pulang ke Jakarta. Kebetulan ayahnya pun sedang sakit. Sehingga Bian cukup lama tinggal di Jakarta. “Yah, Bi. Jangan dinanti-nanti, lah. Keburu kesamber orang, baru nyaho, lo!” ucap Martin. Bian pun menanggapinya dengan santai. “Enggaklah. Gebetan gue itu dokter muda. Study-nya belum selesai. Dia aja masih koas. Ya … paling enggak satu sampai dua tahun lagi baru clear jadi dokter. So, gue masih punya waktu, kan,” ucap Bian percaya diri. “Hahaha, lo jangan kepedean, Bi! Ditikung orang, nangis lo!” ledek Martin. “Santai!” sahut Bian. Ia tidak sadar bahwa gebetannya yang tidak lain adalah Intan itu kini sudah menjadi milik orang. Saat mereka sedang berbincang, terdengar ada pengumuman pelemparan bucket bunga dari pengantin. “Nah, ikutan yuk! Buat ngeramein aja,” ajak Martin. “Dih, males banget, ah.” Bian enggan mengikuti acara tersebut. “Yaelah, Bi. Seru-seruan doang, kali. Kasihan itu pengantinnya kalau acara lempar bunganya sepi. Yuk, lah! Siapa tau bisa kecantol sama cewek yang ikutan di sana.” Martin sedikit memaksa. “Ck! Rese, lo!” ucap Bian, kesal. Meski begitu ia tetap mengikuti Martin dan yang lainnya. Mereka berdiri di belakang pengantin yang bersiap untuk melempar bunga. Bian sendiri tidak berniat untuk menangkapnya. Ia berdiri dengan malas dan berharap bunga itu tidak jatuh di tangannya. Di sisi lain, ada Ira yang juga dipaksa oleh Windy untuk ikut menangkap bunga. “Lo mah dibilang gue males, juga,” keluh Ira. “Udah ah jangan banyak protes. Temenin gue di sini!” sahut Windy. Sebenarnya ia yang berharap mendapatkan bunga. Namun Windy malu jika harus berdiri sendirian di sana. Sehingga memaksa Ira untuk menemaninya. “Satu … dua … tiga!” ucap MC, memberi aba-aba pada pengantin. Dalam hitungan ketiga, pengantin pun langsung melempar bunganya ke belakang. Hingga suasana menjadi riuh. Siapa sangka bunga itu jatuh ke tangan Bian. Namun, Bian yang belum ingin menikah pun langsung melemparnya kembali dan ternyata justru jatuh di tangan Ira. Sontak semua mata mengarah ke Ira, termasuk Bian. “Wah … lo gak mau-gak mau tapi malah dapet. Curang banget lo, Ra!” keluh Windy. Namun ia tetap senang karena sahabatnya itu yang mendapatkan bunganya. Akhirnya Ira pun dipanggil naik ke atas pelaminan oleh pengantin. “Udah sana naik!” ucap Windy. “Ogah ah! Lo sih, udah sana lo aja yang maju!” keluh Ira. “Yee, enak aja. Orang lo yang dapet, juga. Udah cepetan! Kalau lo gak naik, sama aja lo gak menghargai pengantin,” ucap Windy. Akhirnya mau tidak mau Ira pun naik ke pelaminan yang besar itu. “Wah … ternyata yang dapet bunganya dokter cantik, nih. Gimana, Dok? Apa udah ada calonnya?” tanya MC yang kebetulan mengenal Ira itu. “Enggak, kok. Ini kayaknya tadi bukan aku yang dapet. Cuma gak sengaja kelempar ke aku,” jawab Ira. “Yang penting kan dokter yang dapet bunganya. Kalau belum ada calonnya, mungkin di sini ada yang mau mengajukan diri?” ledek MC itu. Sontak saja para lelaki langsung heboh. Sebab malam itu Ira terlihat begitu cantik dan anggun. Dengan make-up flawless dan rambut yang ditata rapi. Membuat pesona Ira terpancar. Sehingga banyak pria single berminat untuk mengajukan diri menjadi calonnya. Kecuali Bian. Bian hanya menatap Ira dari kejauhan. Dengan tatapan datar. “Tapi aku belum ada rencana nikah, hehehe,” ucap Ira. Para lelaki pun kecewa karena harus kehilangan kesempatan mendekati Ira. Selesai acara, Ira pun pulang ke rumah papahnya. Beberapa hari lagi ia sudah harus terbang ke Timur untuk menggantikan kakak iparnya itu. Sementara itu, Bian yang sudah harus kembali bertugas di perbatasan pun langsung berangkat besok siang. Sehingga ia lebih dulu tiba di sana. *** Saat Ira sedang bersantai, ia mendapat telepon dari papahnya. Telepon terhubung. “Iya, Pah?” tanya Ira. “Ra, kamu siap-siap terbang ke Timur, ya! Abangmu siang ini sudah pergi ke sana,” ucap Muh-papahnya Ira. “Papah tega banget sih ngirim aku ke perbatasan?” keluh Ira. “Ini demi kebaikan kalian. Udah kamu juga kan lagi butuh penelitian. Di sana kamu bisa dapat banyak ilmu. Oke?” Entah mengapa Muh sangat ingin Ira pergi ke perbatasan. “Ya udah, iya. Aku berangkat sekarang. Puas?” jawab Ira, ketus. Meski ia sudah setuju, tetapi Ira sebal karena papahnya itu sangat ingin Ira pergi ke sana. “Terima kasih, Sayang. Kamu memang anak Papah yang paling cantik,” puji Muh. “Ya iyalah. Anaknya cuma dua. Yang satu juga cowok.” “Eh iya, Papah lupa. Hehehe. Ya udah, kamu hati-hati di sana, ya! Jaga diri baik-baik. Kalau sudah sampai sana, tolong segera kabari Papah!” “Hemm!” sahut Ira, malas. Setelah itu mereka memutus sambungan teleponnya. Muh tersenyum senang. Sebab anak sulungnya yang sempat bermasalah itu kini telah sadar bahwa ia sangat mencintai istrinya. Muh sengaja ingin melihat Zein ketar-ketir dulu. Sebab ia berharap anaknya itu bisa lebih menghargai isrtinya. Sehingga ketika mengetahui bahwa Zein akan pergi ke Timur untuk menjemput Intan, Muh segera mengirim Ira ke sana untuk menggantikannya. Setelah menghubungi Ira, Muh pun menghubungi seseorang. Ia merupakan kerabat dekat Muh yang juga pasien VVIP di rumah sakit tersebut. Telepon terhubung. “Assalamu alaikum, Pak Muh. Apa kabar?” sapa seorang pria di seberang sana. “Waalaikum salam. Alhamdulillah kabar baik. Bagaimana dengan Bapak?” Muh balik bertanya. “Alhamdulillah sehat. Ada apa ini?” “Begini, Pak. Saya mau menginformasikan bahwa hari ini Ira akan terbang ke Timur. Kemungkinan besok sudah tiba di perbatasan. Apakah Bian sudah ada di sana?” tanya Muh. Ternyata Muh dan papahnya Bian itu sudah merencanakan semua ini. Mereka sengaja mengirim Ira ke perbatasan agar bisa bertemu dengan Bian dan berharap kedua anaknya itu saling jatuh cinta di sana.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.9K
bc

TERNODA

read
198.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.7K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
63.0K
bc

My Secret Little Wife

read
132.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook