Sebagai pria dan wanita normal, melakukan hal seperti itu membuat gairah mereka semakin memanas. Bian pun mulai kehilangan akal, tangannya menelusup ke dalam baju Ira. Greb! Ira menggenggam tangan Bian dengan cepat. Kemudian tautan bibir mereka pun terlepas. “Jangan!” lirih Ira. Sebenarnya saat ini ia sedang perang batin. Antara ingin pasrah, tapi ia merasa itu tidak benar dan harus menolak. Gluk! Bian jadi tidak enak hati karena hampir saja melewati batas. Kemudian ia memejamkan mata dan mengusap wajah dengan kedua tangannya. Setelah itu Bian menangkupkan kedua tangan di depan dadanya. “Maaf, aku khilaf,” ucap Bian. “Lagi,” jawab Ira. “Kamu mau lagi?” tanya Bian, serius. Seolah ia sangat siap jika Ira menginginkannya lagi. “Bukan! Maksudnya kamu khilaf lagi. Kalau dua kali begini

