bc

Aku Pelakor, Aku Bangga

book_age18+
2.3K
IKUTI
19.4K
BACA
like
intro-logo
Uraian

Alya Raifiza, wanita muda yang bekerja sebagai sekretaris di salah satu perusahaan, ia memiliki atasan seorang pria yang sudah beristri.

Baru satu minggu Alya bekerja, atasannya mengajak untuk menjalin hubungan dengannya tanpa diketahui oleh sang istri. Alya yang memang sebagai tulang punggung keluarga, langsung menerima ajakan atasannya, karena ia pikir akan mendapatkan uang tambahan, untuk bisa mencukupi keluarganya yang berada di kampung.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1 : Bingung
"Mak! Mak! Alhamdulillah, Mak!" Alya berlari dengan sangat semangat, menuju ke belakang rumahnya. "Iya! Kenapa teriak-teriak gitu, Nak?" tanya Surti, sembari membenarkan sarung yang tengah ia pakai. "Mak! Liat ini, Mak!" Alya menunjukkan ponsel nokia yang sedang ia pegang. "Ada apa? Mak enggak bisa baca, Nak. Mata Mak kan udah gak terang lagi," ujar Surti. Alya menepuk pelan dahinya, sembari memberikan cengiran. "Maafin Alya ya, Mak. Lupa hehe." Surti menggelengkan kepalanya, lalu berucap, "Emangnya ada apa, Nak?" "Alya, Mak!" seru Alya, kali ini dengan tatapan yang berbinar-binar. Surti melihat wajah anaknya yang berseri-seri itu dengan tatapan bingung. "Iya, Alya kenapa? Mak jadi bingung," ucap Surti. "Alya keterima kerja di kota Jakarta, Mak!" ungkap Alya, sembari menggenggam erat jemari Surti. Wajah Surti langsung berubah menjadi murung dan melamun, kabar yang diberitahukan oleh Alya bukanlah hal yang sangat bahagia untuk dirinya. "Mak!" Alya mengibaskan tangan kanannya di depan wajah Surti. Surti mengerjapkan matanya, lalu menatap anak pertamanya itu dengan tatapan yang sayu. "Mak ... duduk dulu aja, yuk!" ajak Alya, sembari menuntun langkah Surti. "Mak kenapa? Mak gak suka ya, kalo Alya kerja di tempat yang jauh?" tanya Alya, saat mereka sudah duduk di teras belakang rumah. Surti hanya bisa diam dan menatap Alya penuh arti. "Mak ...." Alya langsung memeluk Surti. Mencium dalam-dalam aroma tubuh orang yang sudah melahirkannya itu. "Nak, apa kamu tidak bisa bekerja di sekitaran sini saja?" tanya Surti, setelah pelukan terlepas. Alya menggeleng, lalu menjawab, "Gak bisa, Mak. Di sana masa depan Alya bakal cerah, upah yang cukup, bahkan lebih. Kalau di sini, hanya cukup untuk beberapa hari saja, Mak." Keduanya sama-sama terdiam, hingga terdengar salam dari Desi dan Ratna, yang baru pulang dari sekolah. "Assalamu'alaikum!" Alya dan Surti segera berdiri, lalu berjalan menuju ke depan rumah. "Dek," panggil Alya dari belakang mereka. Desi dan Ratna yang memang dipanggil 'Dek' segera menengok ke belakang, ke arah asal suara yang memanggil mereka. "Mak! Kak!" Desi langsung melangkah mendekati Alya dan Surti, lalu mencium punggung tangan mereka, yang diikuti oleh Ratna. "Sudah pulang, Nak?" tanya Surti, sembari mengusap lembut kepala kedua anaknya yang terbalut dengan kerudung putih. "Iya, Mak. Kita baru aja pulang," jawab Desi sembari tersenyum, sementara Ratna hanya menganggukkan kepalanya. "Kakak sama Mak habis dari mana?" tanya Ratna. "Kita habis dari kebun belakang, ngurusin tanaman," jawab Alya, sembari tersenyum. Desi dan Ratna hanya menganggukkan kepala mereka. "Ya udah, kalian masuk ke dalam gih! Ganti baju, terus makan siang!" titah Alya, yang diangguki oleh kedua adiknya itu. Alya bukan hanya menyandang status sebagai kakak, tetapi juga sebagai orang tua. Ia banting tulang untuk mencukupi kebutuhan adik-adiknya, juga memasak makanan untuk nantinya dimakan oleh keluarganya. Selesai menamatkan pendidikannya di SMK, Bondan-ayah Alya terlebih dulu dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Beruntung, Alya sudah menyelesaikan sekolahnya, jadi tak ada yang direpotkan. Alya langsung mencari kerjaan, tetapi ia mendapatkan pekerjaan sebagai tukang masak di salah satu rumah makan, yang kebetulan pemiliknya adalah tetangga dari Alya. Sehingga dengan senang hati, menerima Alya untuk bekerja di situ. "Dek! Nanti makan ambil sendiri! Kakak titip Mak ya," pesan Alya sebelum ia pergi untuk berangkat kerja. "Iya, Kak!" sahut Desi yang masih berada di dalam kamar. "Mak, Alya berangkat kerja dulu ya," pamit Alya, lalu mencium punggung tangan Surti, yang sedang duduk di salah satu kursi ruang tamu. "Hati-hati ya, Nak," pesan Surti. Alya mengangguk, lalu mengambil tasnya yang ada di dalam kamarnya. "Assalamu'alaikum, Mak," ucap Alya, sebelum ia keluar dari rumah. "Wa'alaikumussalam, Nak," jawab Surti, yang mungkin tidak terdengar oleh Alya. - "Eh! Neng Alya," sapa Zidan, saat berpapasan dengan Alya yang tengah berjalan, sembari bersenandung kecil. "Kang Zidan?" Alya menghentikan langkahnya. "Neng Alya mau berangkat kerja?" tanya Zidan, sembari membuka kaca helmnya. "Iya, Kang," jawab Alya, sembari tersenyum. "Kang Zidan sendiri mau ke mana?" tanya Alya. "Tadinya mau ke empang, tapi karena takdir menyatukan kita untuk bertemu. Jadi, Akang berubah niat," jawab Zidan, sembari tersenyum. Alya mengernyit. "Berubah niat? Maksudnya gimana?" "Ckckck! Ya maksud Akang, berubah niat jadi nganterin neng," jawab Zidan. Alya mengangguk paham, lalu menjawab, "Punten ya, Kang, tapi gak usah dianterin lagi. Lagian tempatnya udah kelihatan kok." Alya menunjuk rumah makan yang ditujunya. Zidan ikut melihat rumah makan yang ditunjuk Alya, lalu berucap, "Itu mah, keliatannya doang, Neng. Kalo dideketin, jaraknya malah nambah jauh. Percaya deh sama, Akang." Alya menggeleng pelan, sembari menjawab, "Percaya sama akang, takut jadinya musyrik, Kang. Udah ah, Alya duluan ya." Zidan mengulas sembari menatap langkah Alya, yang perlahan menjauh darinya. "Kalo saya ngungkapin apa yang di hati, Apa kamu bakalan nerima ya?" gumam Zidan. Ia segera menggelengkan kepalanya, lalu melanjutkan perjalanannya lagi. Mendengar suara mesin motor yang melaju, Alya segera melihat ke belakang, seulas senyum langsung terukir di bibir milik Alya. "Al, udah dateng?" tanya Jubaedah-pemilik rumah makan. "Hehe iya, Bu," jawab Alya, disertai dengan cengiran yang sudah sangat khas sekali. "Kebiasaan ya kamu tuh, rajin banget," ucap Jubaedah lagi. "Mmm ... Alya langsung masak aja ya, Bu," pamit Alya. "Iya, menu-menu untuk hari ini, sudah saya tempel di dinding ya," ujar Jubaedah. Alya mengangguk. "Ya udah, Bu. Alya masuk ke dapur ya." Jubaedah mengangguk, mempersilahkan. Alya langsung masuk ke dalam dapur, lalu mengambil celemek dan memakainya sebelum memulai kegiatan memasaknya. Seperti biasa, Alya memasak mengikuti arahan hatinya, ia sangat senang untuk melakukan hal yang seperti ini. Waktu terus berlalu, masakan demi masakan perlahan sudah siap untuk dipajang, supaya pembeli bisa lebih mudah memilih apa yang diinginkan. Alya beristirahat sebentar, dengan meminum air putih yang sudah disediakan di situ. Setelah itu, ia kembali melanjutkan pekerjaannya. "Udah selesai semua, Al?" tanya Jubaedah, saat memasuki dapur dan mendapati semuanya telah rapih dan juga bersih. Alya bangun dari posisi duduknya, lalu mengangguk. "Iya, Bu. Alhamdulillah sudah selesai semua." Jubaedah mengangguk, lalu berucap, "Ya udah, kalo gitu kamu makan dulu, yuk!" Alya mengangguk dan mengikuti langkah Jubaedah. "Ambil sendiri aja ya, Al," titah Jubaedah, lalu pergi dari situ. "Iya, Bu," jawab Alya yang tak mungkin didengar Jubaedah. Saat akan mengambil makanan, Alya teringat akan wajah adik-adiknya. Tadinya, ia akan mengambil piring. Namun, piring tersebut ia ganti dengan kertas minyak. Supaya, ia bisa memakan makanan tersebut saat malam hari nanti, bersama keluarganya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

SEXRETARY

read
2.3M
bc

Call Girl Contract

read
339.4K
bc

FINDING THE ONE

read
35.0K
bc

HOT NIGHT

read
617.9K
bc

I Love You Dad

read
294.9K
bc

I LOVE YOU HOT DADDY

read
1.1M
bc

Love Me or Not | INDONESIA

read
572.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook