Keyli terbaring di ranjang, menatap langit-langit dengan tatapan kosong. Sudah berminggu-minggu sejak ia terakhir kali melihat Scarlet. Upaya pelariannya yang putus asa hanya berujung pada cambukan sabuk Hudson dan penjagaan yang semakin ketat. Jendela kamarnya kini diperkuat dengan jeruji yang tak mungkin lagi ia geser, dan pintu selalu terkunci dari luar. Setiap hari terasa sama; tembok-tembok ini mengurungnya, dan Hudson, dengan tatapan dinginnya, adalah sipirnya. Harapan yang dulu membakar kini hanyalah abu. Ia sudah mencoba segalanya, memeras otak untuk menemukan celah, tetapi Hudson selalu selangkah lebih maju. Leonor, pria yang pernah memberinya secercah harapan untuk Scarlet, kini terasa begitu jauh, terhalang tembok kekuasaan dan kekejaman Hudson. Keluarga Leonor pasti tidak aka

