"Ya, Papa?" Leonor menjawab, suaranya sedatar permukaan danau di pagi hari, tanpa riak sedikit pun. Namun, di dalam kamar, Keyli merasakan napasnya tertahan. Nama "Papa" yang disebut Leonor bagai sambaran petir di tengah keheningan, mengirim gelombang kepanikan yang menusuk jantungnya. Darah berdesir dingin, mengalir deras ke seluruh tubuhnya. Otaknya seketika berputar, mencari solusi tercepat. Dia harus menghilang, sekarang juga. Paul, ayah Leonor, tidak boleh tahu dirinya ada di sini, di kamar putranya, pada jam selarut ini. Pria tua itu pasti akan berpikir yang tidak-tidak sebagai ipar. Dalam sepersekian detik yang terasa abadi, mata Keyli yang masih terduduk di tepi ranjang king size Leonor menyapu sekeliling kamar. Kakinya gemetar, membuat ia sulit bergerak cepat. Lemari? Terlalu me

