Malam semakin larut, namun bagi Leonor, kegelapan di luar jendela kamarnya terasa jauh lebih ringan dibandingkan beban di hatinya. Hujan yang turun tiada henti seolah mencuci kota, namun tidak mampu membersihkan kekotoran yang baru saja terkuak di rumahnya sendiri. Ponselnya tergeletak di nakas, menjadi saksi bisu panggilan-panggilan yang diabaikannya. Panggilan dari sang ibu yang kini terasa seperti jebakan, dan kemudian panggilan dari ayahnya, sebuah perintah tak terbantahkan yang mengantarnya kembali ke sarang kebohongan ini. Bayangan Keyli yang duduk di meja makan, dengan mata ketakutan dan tubuh bergetar, terus berputar di benaknya. Nama Hazel yang terus-menerus disebut orang tuanya terasa seperti racun, mengikis kewarasannya. Leonor tahu kebenaran yang tak terucap: Hazel, adik ipar

