Ponsel Leonor kembali bergetar setelah mengabaikan telepon mamanya. Kali ini, nama yang muncul di layar membuatnya terkesiap: Paul (Papa). Ayahnya. Ini jauh lebih jarang terjadi. Ayahnya adalah sosok yang sangat sibuk, fokus pada bisnis dan jarang mengintervensi urusan sehari-hari kecuali benar-benar penting. Jika Paul sampai menelepon, berarti situasinya serius. Leonor meminta jeda sebentar dari rapat, beralasan ada urusan keluarga mendesak. Ia melangkah menjauh, mencari sudut yang sepi di koridor kantor. Dengan napas tertahan, ia mengangkat panggilan ayahnya. "Leonor, kenapa telepon mama kamu tidak kamu angkat?" Suara Paul terdengar tegas, tanpa basa-basi, dan sedikit nada kesal. "Kau harus pulang sekarang juga." "Ada apa, Pa?" Leonor mencoba menjaga suaranya tetap tenang, meskipun

