Dengan kepala terasa begitu berat dan pusing, Keyli perlahan tersadar dari kegelapan. Aroma apek bercampur sedikit bau alkohol samar-samar tercium, mengoyak sisa-sisa tidurnya yang tak nyenyak. Ia tak ingat sama sekali apa yang terjadi setelah ia menyusul Leonor di galeri seni siang itu, atau bahkan bagaimana ia bisa berakhir di sini. Pikirannya kosong, hanya menyisakan kebingungan yang menyesakkan. Bahkan pakaian terakhir yang ia kenakan sudah berbeda dengan yang ia kenakan sekarang. Pandangannya yang awalnya kabur dan berbayang perlahan mulai menemukan fokus. Garis-garis perabot di sekitarnya mulai terbentuk jelas, dan jantungnya serasa berhenti berdetak saat menyadari detail-detail familiar itu. Ya, ia benar-benar berada di atas tempat tidur yang tak asing, kasur empuk dengan seprai b

