06

1200 Kata
Jino membawa Alice ke rumahnya, meskipun Alice sudah sembunyi di loteng rumahnya agar tidak dibawa Jino, tetap saja pria itu berhasil menemukannya. “Sudah aku bilang, kemanapun kau pergi, aku bisa menemukan mu.” Kata Jino. Alice hanya mampu bersungut sembari berjongkok dan memeluk tasnya di tengah ruangan. Atau lebih tepatnya rumah Jino. “Ayo aku antar ke kamar.” Kata Jino. “Kenapa aku harus ikut dengan mu?” keluh Alice. “Bukankah aku sudah memberikan alasannya?” kata Jino. Jino kemudian berjongkok di depan Alice, dan menatap gadis itu. “Lagi pula, kau saat ini sedang dalam bahaya. Aku tidak tahu pasti seperti apa bahayanya, tapi aku tahu kondisi mu saat ini tak aman.” Alice tidak merespon perkataan Jino. “Tapi aku masih bisa beraktifas seperti biasa kan?” Jino menganggukan kepalanya. “Silahkan. Hanya saja sekarang kau tidak bisa sembarangan keluar rumah, harus ada izin dari ku, dan jelas kemana tujuan mu hendak pergi.” “Itu sangat mengekang.” Ucap Alice. “Kau ingatkan? Aku tidak menerima penolakan, dan keluhan. Karena tidak ada gunanya.” Kata Jino yang membuat Alice bungkam. _ Setelah membereskan barang-barangnya di kamar yang sudah Jino sediakan untuknya, Alice pun duduk di pinggir kasur dan melamun. Dia khawatir orang tuanya akan kecarian dirinya, meskipun Alice tahu hari ini, besok, atau besoknya lagi, mereka belum tentu sudah pulang. Alice menghela napas. Apa ikut Jino benar-benar sesuatu yang benar? Tidak. Tentu saja tidak. Ini salah, ini buruk, ini mengerikan. Jino berbahaya. Akan lebih baik jika dia dibawa oleh vampire tanpa kelainan. Bahkan Jino bisa sewaktu-waktu menghabiskan darah di tubuhnya, meskipun dia bilang tidak akan melakukannya. Tapi siapa yang tahu? Kalau sewaktu-waktu dia akan lepas kendali. Alice merebahkan tubuhnya pada kasur, dan menatap langit-langit kamar. Begitu banyak pikiran di kepalanya, hingga membuat Alice merasa lelah. Ia hampir saja memejamkan matanya, kalau saja ia tidak tiba-tiba mendengar teriakan, juga bunyi hantaman yang bertubi-tubi. Kebisingan yang semula tidak terlalu mengganggu, jadi semakin menjadi. Alice tentu saja ketakutan, tapi entah kenapa, kakinya malah melangkah keluar kamar, untuk menge cek kondisi. “Sudah aku duga, kalian menguntit ku!”           “Pergi sekarang! Sebelum aku membunuh kalian!” “Dan kami bisa membuat mu musnah di tangan Ayah Kak.” “Aku bisa memberitahu Ayah sekarang, apa kau sebenarnya.” Alice tanpa sadar berlari ke sumber suara, ia menemukan Jino, dengan dua orang yang tidak dikenalinya berada di ruang tamu. Mata Alice melebar, dengan kening mengernyit. Jino tiba-tiba menarik tangannya, dan menarik tubuh Alice untuk berada di belakangnya. “Jangan berusaha melindunginya,” kata seorang anak laki-laki berwajah manis, sementara di belakangnya berdiri pemuda jangkung dengan wajah dingin. “Alice, kau pasti dipaksa untuk ikut dia kan?” kata anak laki-laki itu sembari menunjuk Jino. “Apa kau tahu jenis-jenis vampire? Jino ini termasuk vampire gila. Atau kalau manusia, dia ini ibarat orang yang sakit jiwa.” “Aku tahu,” ucap Alice. “Lalu kenapa kau mau ikut dengannya? Lebih baik ikut dengan kami sekarang.” Kata anak laki-laki itu. “Itu karena-“ ucapan Alice terputus, karena mulutnya yang tiba-tiba tidak bisa mengeluarkan suara. “Itu karena dia mencintai ku.” Ucap Jino. Anak laki-laki yang tak lain Jeorgi itu terkekeh. “Jangan gunakan sihir mu untuk memanipulasi perkataan orang. Bahkan manusia pun, menghindari orang gila kau tahu?” Jino tidak merespon. Alice melirik Jino, yang raut wajahnya berubah sendu. Sihir yang sebelumnya mengunci mulut Alice pun melemah. “Dia bisa mati,” ucap Jino. “Kalau kalian mengambil delapan belas permata di tubuhnya dia bisa mati.” Alice membelalakan matanya mendengar penuturan Jino. “Kami tahu kok. Tapi aku yakin, kau pasti tidak memberitahunya pada Alice, agar dia tidak terlalu takut pada mu. Iyakan?” Jino lagi-lagi tidak merespon, dia hanya bisa menelan ludahnya. Alice tiba-tiba memeluk Jino dari belakang, dan melongokan kepalanya sedikit dari balik punggung Jino untuk mengintip Jeorgi dan Edward. “Dia tidak akan mengambil keseluruhan permata yang ada di tubuh ku. Dia hanya mau menggunakannya sedikit, untuk membuat permohonan kecil. Seperti mengontrol dirinya.” Kata Alice. “Oh ya? Entah kenapa itu sulit dipercaya.” Kata Jeorgi. Ia kemudian menyeringai kecil. “Pikirkan baik-baik, serahkan diri mu Alice, atau Jino dimusnahkan.” Dalam sekejab Jeorgi dan Edward pun menghilang. Alice pun langsung melepas pelukannya, dan menunggu Jino berbalik badan menghadapnya. Dan begitu Jino berbalik badan, satu tamparan mendarat di pipi Jino. “Kau mengikat ku untuk membunuh ku, agar keinginan mu tercapai.” Ucap Alice. “Iya. Memang itu rencana ku.” Kata Jino. “Jenis vampire seperti mu memang mengerikan ya?” “Kalau iya kenapa?” Jino seketika menatap tajam Alice, dengan irisnya yang berubah menjadi merah. “Apa kau pikir aku ingin menikahi mu dan membawa mu ke sini, untuk merajut kisah cinta? Tidak. Dari awal seharusnya kau tahu.” “Aku tahu! Tapi ternyata aku akan mati?!” “Aku tidak peduli. Yang penting keinginan ku terpenuhi. Meskipun kau akan mati aku tidak peduli. Kau pasti tahu jenis vampire seperti ku, tidak memiliki belas kasih, dan ambisius. Dan sekarang, kau sudah terjebak.” _ Sekarang mau bagaimana? Kabur pun tidak ada gunanya. Tidak ada jalan keluar, dan pasti akan tertangkap lagi. Alice menatap ke arah jendela dengan gusar, ia mendekati jendela tersebut, dan menatap rintikan hujan yang turun sudah sejak beberapa menit yang lalu. Bagaimana caranya melepas ikatan yang sudah Jino buat? Apa minta bantuan Ayahnya? Tapi saat ke sini, Jino tidak memperbolehkannya membawa ponsel. Dasar Alice bodoh, batin Alice. Sudah jelas Jino itu menculiknya, harusnya ia lapor Polisi saja, bukannya malah bersembunyi di loteng agar tidak dibawa pergi tadi. Alice menatap pintu kamarnya sejenak, sebelum memutuskan keluar dan melihat apa yang sedang Jino lakukan saat ini. Ia melangkahkan kakinya sepelan mungkin, berusaha tidak membuat suara sedikit pun. Setelah berada di luar kamar, Alice pergi ke ruang tengah. Rupanya Jino ada di sana. Ia sedang duduk di atas kursi yang berhadapan dengan perapian, sweater hitam turtle neck berwarna hitam membalut tubuhnya, kacamata bertengger manis di tulang hidungnya, sementara di tangannya terdapat buku. Melihat Jino yang tampaknya sedang sibuk, membuat Alice merasa ada kesempatan untuk kabur. Setelah berhasil kabur, rencananya Alice akan melapor Polisi, sebelum Jino menemukannya. Alice pun kembali ke kamarnya, ia membuka jendela dan mengeluarkan sebelah kakinya. Tapi pergerakannya seketika terhenti, saat tiba-tiba mendengar suara Jino di belakangnya. “Mau kemana?” Alice terkesiap, ia awalnya bingung untuk beberapa saat, tapi akhirnya memilih nekat untuk pergi. Jino tertawa kecil. Dia sebelumnya masih berada di depan pintu kamar Alice, tiba-tiba berpindah tepat di belakangnya. Salah satu tangan Jino melingkar di pinggang Alice, kemudian ia menarik tubuh Alice dari jendela untuk kembali masuk. Alice meronta minta dilepaskan. Dia memukul-mukul tangan Jino, dan menghentakan kaki. Jino mengabaikannya. Ia membanting tubuh Alice ke kasur, dan menempatkan diri di atas tubuh Alice. “Kau pikir kau bisa kabur hah?!” bentak Jino, yang membuat Alice mematung dan tidak bisa bersuara. “Apa kau mau dibunuh saat ini juga?” tanya Jino sembari mengeluarkan pisau lipat dari saku celananya. Alice melebarkan matanya, dan Jino tanpa ragu mengayunkan pisaunya ke arah Alice, tapi Alice dengan sigap menghindar. Ia kemudian berusaha mendorong Jino untuk menjauhi dirinya, namun tentu saja, tenaga Jino jauh lebih kuat. Alice tidak pasrah, ia mengangkat sebelah kakinya, dan menendang perut Jino menggunakan lututnya sekuat yang ia bisa, membuat Jino mengerang kesakitan. Saat merasa Jino sudah lengah, Alice pun mendorong bahu Jino. Dan sekarang ia berhasil menyingkirkan Jino dari atas tubuhnya. Alice pun kemudian beranjak dari ranjang, dan berlari keluar dari kamar, tanpa membuang waktu Jino langsung mengejarnya. Alice berlari ke pintu, dan saat tangannya meraih gagang pintu, Jino langsung mengangkat sebelah tangannya, hingga pintu otomatis terkunci, dan tubuh Alice terlilit rantai hingga tubuhnya langsung jatuh ke lantai. Jino dengan tenang berjalan menghampiri Alice, sementara Alice hanya bisa terdiam, dengan membuang mukanya dari Jino. “Jangan bertingkah. Kau akan mati secara bertahap, jadi nikmati saja sisa hidup mu sebaik-baiknya. Aku akan memperlakukan mu dengan baik, kalau kau juga bersikap baik. Tapi jangan harap aku akan melepaskan mu.” Kata Jino.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN