Calon

1598 Kata
Jam menunjukkan pukul sebelas malam, Granat mengantarkan Ayriszya untuk pulang ke rumah gadis itu. Selama di perjalanan Ayriszya berpikir keras tentang pernikahannya, dia merasa semakin gugup karena akan segera menikah dengan pria yang baru saja ia kenal belum sampai seminggu. Sampailah mereka didepan rumah Ayriszya. Sebelum gadis itu turun, dia berkata kepada Granat. “Hari Senin nanti keluarga gue datang ke sini. Lo bisa mampir ke rumah kalau udah pulang kampus.” “Mama sama Papa kamu mau datang? Saya tidak sabar ingin cepat-cepat menikah dengan kamu. Dan bertemu dengan orang tua kamu, calon mertua saya.” ucap Granat menaikkan sebelah alis matanya. “Bukan orang tua kandung gue. Tapi saudara dari Ayah.” Granat mengernyitkan dahinya. “Terus calon mertua saya tidak datang?” “Gue yatim piatu,” ungkap Ayriszya. Seketika saja Granat langsung meraih tangan gadis itu. “Maafkan Saya ... Saya tidak bermaksud-” “Udah nggak apa-apa ... Lagian lo juga baru tau,” ucapnya setelah memotong perkataan calon suaminya. “Makasih udah di anterin.” Ayriszya langsung meraih bungkusan baju pengantinnya. Saat gadis itu hendak turun dari dalam mobil, Granat menahan lengannya. “Tunggu!” “Apalagi, Azer.” Pria itu meraih sesuatu yang sudah ia siapkan kepada Ayriszya. “Ini.” Ucapnya sambil memberikan bungkusan tersebut. “Apa ini?” “Ambil aja, nanti kamu pasti tau kok isinya apa.” “Eummm ... Oke!” “Lo hati-hati di jalan ya.” ucap Ayriszya. “Tunggu dulu, Ay!” “Apalagi!” Ayriszya memutar bola mata malas. “Cium dong.” Granat tersenyum menatap Ayriszya. Sedangkan gadis itu hanya mengernyitkan dahinya. “Saya ‘kan sudah kasih hadiah buat kamu.” Ayriszya kembali meletakkan barang-barang tersebut di bangku belakang. Setelah mendengarkan ucapan dari Granat Azeriyo. “Kok di buang?” “Lo kasih itu karena pengen sesuatu ‘kan ... Gue nggak minat.” Lagi, lengan Ayriszya ditahan oleh Granat saat gadis itu hendak keluar. “Iya, iya ... Saya minta maaf. Tapi tolong terima ini ya.” Ucapnya memohon. “Tadi saya hanya bercanda.” “Azer ... Lo tau nggak! Setiap candaan lo itu semuanya garing.” Ungkap Ayriszya. “Nggak banget deh. Nggak ada lucu-lucunya!” lanjutnya. Granat terdiam, dia akui dia bukanlah pelawak di suatu tongkrongan. Namun ia melakukan itu supaya gadis tersebut nyaman dengan dirinya. “Tidak lucu karena saya bukan komedian.” balasnya. “Sekarang terima ini ya.” “Nggak!” ketus Ayriszya. “Tolong.” Ucap dosen itu memohon kepadanya. “Gue enggak mau.” tolak Ayriszya. “Please ...” Granat memohon kepada gadis itu. “Jangan gitu lagi ... Gue nggak suka.” gumam Ayriszya. Granat tersenyum lebar, Ayriszya pun segera turun dari dalam mobil dan kembali mengambil beberapa bingkisan yang diberikan oleh Granat kepadanya. Setelah itu, Granat berlalu pergi sesudah mengantar calon istrinya untuk pulang. [] [] [] Ayriszya masuk ke dalam rumah, gadis itu penasaran dengan beberapa isi bungkusan yang diberikan Granat kepadanya. Tidak menunggu lama lagi, dia pun membuka satu persatu hati gadis itu saat melihat baju-baju yang sempat ia pegang di butik tadi sekarang sudah berada di dalam rumahnya. “Serius dia kasih baju ini.” Ayriszya tidak percaya, dia senyum-senyum sendiri saat melihat baju-baju itu. Ayriszya segera mencoba satu persatu baju tersebut. Baju-baju itu pas di badannya, dia sangat senang, tiba-tiba saja dia malah teringat dengan kata-kata kasar yang selalu ia lontarkan kepada Granat. “Dia baik banget ... Tapi gue selalu kasar sama dia.” lirih Ayriszya. “Tapi salah dia juga sih. Selalu buat gue emosi.” [] [] [] Sementara itu, Granat yang baru saja sampai di rumahnya langsung menghampiri ibunya dan mengajak wanita paruh baya itu untuk mengobrol. “Mami!” ucapnya menghampiri Dian yang sedang duduk di sofa. “Kenapa Granat?” “Hansel udah tidur?” “Udah dari tadi.” jawab Dian. “Eummm ... Mami.” lirih Granat. “Eummm ...” balas Dian. “Mami ... Tadi baju-baju di butik Mami Granat kasih sama, Ayriszya.” ucapnya. “Terus?” tanya Dian. “Mami nggak marah ‘kan! Soalnya baju-baju itu tadi kayaknya barang baru ya?” tanya Granat. “Setelah kamu kasih baju-baju itu sama calon istrimu tadi. Perasaan kamu bagaimana?” tanya balik Dian. “Senang lah, Mi!” ungkap pria itu sambil tersenyum lebar. “Pasti sekarang dia lagi senang juga. Soalnya tadi dia sempat pegang-pegang koleksi baju-baju yang di butik Mami. Makanya Granat kasih sama dia.” lanjutnya. “Tapi Mami nggak marah ‘kan?” “Kamu senang ‘kan lihat perempuan itu bahagia?” tanya Dian. “Iya lah Mami, senang banget malahan.” “Ya udah, Mami seneng kalau lihat kamu bahagia gini.” ucapnya. “Beneran, Mi! Makasih ya Mami.” ucap Granat memeluk ibunya. “Granat ke kamar dulu ya Mami. Mau tidur.” Pria itu langsung masuk ke dalam kamarnya setelah memberitahu Dian. Seperti itulah dosen Granat, apa pun yang dia lakukan pasti Dian akan diberitahu. Karena bagi dirinya, sesuatu yang ia kerjakan harus di beritahu kepada Dian. [] [] [] Pagi hari pun tiba, Ayriszya bangun dan dia pun langsung mencari-cari ponselnya. Hari ini gadis itu berniat untuk mendatangi rumah Granat. Dia ingin berterima kasih kepada pria itu karena telah memberinya baju dengan percuma. Ayriszya segera bersiap-siap untuk segera pergi. Namun saat dia hendak masuk ke dalam mobilnya, dia baru sadar bahwa ia tidak tau di mana rumah calon suaminya itu. “Oh ... Gue tau di mana cari alamat rumah Azer.” Ternyata Ayriszya menuju butik calon mertuanya tersebut. Di sana dia bertemu dengan karyawan yang mengurus baju pengantinnya. “Permisi, Mbak.” “Eh, ada calon istrinya Pak Granat. Kenapa, Bu?” “Nggak usah panggil Ibu. Usia kita nggak beda jauh.” timpal Ayriszya. “Bisa kasih tau saya di mana alamat Azer?” “Bisa, Bu. Dengan senang hati.” Karyawan itu segera menuliskan alamat rumah Dian, ia pun memberikannya kepada Ayriszya. “Terima kasih ya.” Ucap Ayriszya tersenyum simpul. “Sama-sama, Bu,” balas karyawan itu. Setelah mendapatkan mendapatkan alamat itu, ia pun bergegas pergi menuju lokasi yang akan ia tuju. Hampir setengah jam di perjalanan akhirnya Ayriszya sampai di rumah dosennya. Sejenak ia terdiam karena dia takut jika akan salah alamat. Ia segera turun dari dalam mobilnya menuju depan rumah dan langsung mengetuk pintu. Tok! Tok! Tok! “Permisi.” ucapnya. Ceklek! Tidak butuh waktu lama, perlahan pintu rumah mulai terbuka. Terlihat seorang perempuan paruh baya berdiri dengan pakaian yang bisa dikatakan sangat fashionable. Ayriszya menatap wanita itu, walaupun dia orang berada, tapi penampilannya dengan penampilan wanita tersebut sangat jauh berbeda. Ia meraih tangan Dian dan mencium punggung tangan tersebut. “Maaf, Tante ... Apa bener ini rumahnya Pak Granat Azeriyo?” “Iya ... Anak didiknya ya?” tanya Dian. Ayriszya tersenyum simpul. “Tapi dosen kamu lagi keluar.” Ayriszya gugup saat hendak mengatakan bahwa dirinya adalah calon istri pria itu. Namun dia tidak mau mengungkapkannya karena takut saat berhadapan dengan ibu dari calon suaminya. “Saya, Ayriszya. Kalau begitu saya permisi pulang tante. soalnya Pak Granat juga nggak ada.” Ucapnya tersenyum lebar. Mendengar nama gadis itu, Dian segera menarik lengan Ayriszya saat gadis itu hendak berbalik arah membuat sang empunya menjadi heran. “Masuk-masuk!” ajak Dian. “Eh, nggak usah Tante. Saya pulang aja.” “Masuk aja dulu.” Wanita itu membawa Ayriszya masuk ke dalam rumah membuat gadis tersebut merasa heran. Berhubung dia baru saja menyiapkan sarapan pagi, sekalian dia mengajak Ayriszya untuk makan di sana. “Kamu duduk dulu. Kita makan.” “Nggak perlu repot-repot Tante. Saya pulang aja.” Dian mengernyitkan dahinya setelah mendengar ucapan gadis itu. “Pulang! Kamu nggak mau mencicipi masakan calon mertua kamu ini.” “Calon mertua! Maksud Tante?” “Sayang, jangan sok polos seperti itu. Kamu Ayriszya Salsabila ‘kan, calon istri anak saya? Granat Azeriyo.” Gadis itu merasa malu, dia tersenyum menatap Dian. Tiba-tiba saja, seorang pria masuk ke dalam rumah dengan pakaian olah raga. Granat baru saja berkeliling di sekitaran komplek rumah. Ayriszya yang tadinya duduk langsung kembali berdiri menatap pria yang sudah bermandikan air keringat. “Ay ... Kamu di sini?” tanyanya saat melihat ada mahasiswinya. Granat tersenyum lebar saat mendapati calon istrinya itu datang. Seperti sangat akrab dan merangkul pinggang Ayriszya membuat gadis itu terdiam kaku. “Mami ... Ini perempuan yang Granat bilang.” ucapnya. “Mami sangat senang. Dia sopan sama orang tua.” ujar Dian. “Granat nggak salah pilih ‘kan, Mi.” “Enggak sayang ... Mami suka.” Sahut Dian. “Kalian duduk dulu. Mami mau ambil makanannya.” Dian segera berlalu pergi menuju ke dapur. “Kamu ngapain ke sini? Tau dari mana alamat rumah saya?” tanya Granat. Pria itu juga tidak segan-segan untuk memeluk tubuh Ayriszya. Walaupun di dalam rumah tersebut ada ibunya. “Lepasin dulu, Azer. Keringat lo nempel di tangan gue.” Ucap Ayriszya mencoba menjauhkan diri dari pria itu. “Enggak apa-apa, Ay. Itung-itung buat latihan. Kan ujung-ujungnya keringat kita akan bersatu.” ucap dosen itu sambil memainkan kedua alisnya. “Apaan sih.” ketus gadis itu. “Lepasin dulu.” Ayriszya merasa gelisah saat pria itu berkata terlalu vulgar. Dia terus mencoba melepaskan diri, akhirnya Granat membiarkan ia menjauh. “Jangan gitu lagi. Gue nggak mau Mami lo malah anggap gue perempuan murahan.” “Iya, Ay ... Maafkan saya ya.” Granat tersenyum. Lagi-lagi senyuman itu sungguh mempesona bagi Ayriszya. Membuatnya ingin membalas senyuman tersebut. Ayriszya segera duduk di kursi. Tanpa pikir panjang Granat juga langsung duduk di sebelah gadis itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN