Kini Ayriszya dan Granat sudah berada di dalam mobil. Laki-laki itu menatap lekat wajah calon istrinya tanpa mengedipkan mata sama sekali.
Ayriszya yang sadar bahwa mobil belum jalan langsung menoleh kearah dosennya. Dia melambaikan tangannya tepat didepan wajah laki-laki itu.
“Halo ... Azer, Azer!” ucap Ayriszya sambil melambaikan tangannya didepan wajah pria yang sedang melamun itu.
Granat sudah sangat jauh melamun sampai tidak sadar namanya dipanggil oleh Ayriszya. Dengan isengnya, gadis itu pun mencubit lengan
Granat hingga laki-laki itu tersadar.
“Ay!”
“Kamu apa-apaan sih ... Kok saya di cubit.” ucapnya.
“Salah lo sendiri. Mikirin apaan sih, sampai gue panggil-panggil nggak nyadar juga.” Ketus Ayriszya.
Gadis itu memutar bola mata malas dan memalingkan wajahnya dari Granat. Sekilas Ayriszya melihat kalau dosennya itu sedang mengelus-elus lengannya sendiri tepat di bagian cubitan Ayriszya.
“Kenapa?” tanya Ayriszya.
“Perih ... Mami saja tidak pernah angkat tangan sama saya.” ungkapnya.
“Diiih ... Anak Mami ternyata!” ejek Ayriszya.
“Biarin.”
Ayriszya pun meraih lengan laki-laki itu. “Ya udah, maaf! Gue nggak sengaja.”
Gadis itu pun mengelus-elus lengan dosennya. Tiba-tiba dia mengangkat tangan Granat dan mengecupnya pada cubitan tersebut.
“Gimana sekarang? Udah nggak sakit lagi ‘kan?” tanyanya memandang wajah Granat.
“Udah nggak sakit. Tapi di sini yang sakit.” Ucap laki-laki itu menyentuh bibirnya.
Plak!
Ayriszya menepuk dengan perlahan mulut laki-laki itu. “Nikah dulu.” ucapnya.
“Nggak usah nunggu nikah deh.”
“Mau jalan sekarang atau pulang?” tanyanya.
Ayriszya hanya memiliki ancaman seperti itu. Karena sudah pasti Granat akan menuruti perkataannya. Granat menghembuskan napasnya dengan pelan. Dia tidak mau berdebat dengan calon istrinya, ia takut jika Ayriszya akan berubah pikiran dan membatalkan pernikahan.
“Jalan dong.” Ucap Granat.
Laki-laki itu langsung menyetir mobilnya dengan kecepatan sedang. Mereka berkeliling kota untuk melihat suasana malam hari. Hampir satu jam lebih mereka mengelilingi kota tanpa berhenti. Tiba-tiba saja Granat memarkirkan mobilnya dipinggir jalan.
“Kok berhenti?” tanya Ayriszya.
“Saya lapar.” Jawab pria itu menatap Ayriszya.
Entah apa yang merasuki gadis itu hingga ia tertawa lepas.
“Hahaha ...”
“Kamu kenapa tertawa?”
“Ekspresi lo itu. Gemesin.” Ayriszya pun menangkup wajah Granat dan menekan-nekan muka pria itu. “Lucu banget.” Ucapnya.
“Tidak lucu, Ay! Saya lapar.” ucap Granat menepis tangan gadis itu.
“Ya udah, cari tempat makan aja. Kan lo yang bawa mobil.”
“Itu!” Granat menunjuk kearah luar di sana tidak jauh dari mobil mereka ada penjual nasi goreng.
Ayriszya pun terdiam, lalu dia memandang Granat dan kembali memandang tukang nasi goreng itu. “Lo serius makan di pinggir jalan?” tanya Ayriszya.
Granat mengangguk pelan. “Kenapa? Kamu tidak suka?” tanyanya. “Kalau kamu tidak biasa, kita bisa cari tempat lain.” lanjutnya.
Saat Granat hendak menghidupkan mobil. Ayriszya menahan lengannya.
“Bukan gitu, Azer. Ayo, kita turun.” ucapnya.
Mereka pun turun dari dalam mobil Granat. Keduanya langsung menghampiri tempat nasi goreng itu.
“Kamu mau?” tanya Granat.
“Boleh!” ucap Ayriszya menganggukkan kepalanya.
Ayriszya segera duduk di kursi yang sudah tersedia. Sedangkan Granat langsung menghampiri bapak penjual itu.
“Pak. Nasi gorengnya dua ya, yang satu jangan terlalu pedas.” ucapnya.
“Baik, Mas,” sahut bapak penjual nasi goreng.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya nasi goreng pun sudah selesai. Penjual itu langsung menghidangkan makanan tersebut kepada pembelinya.
“Emangnya lo biasa makan di tempat beginian?” tanya Ayriszya setelah memasukkan satu sendok nasi ke dalam mulutnya.
Granat mengangguk pelan menatap gadis itu. Dia pun memasukkan nasi goreng itu ke dalam mulutnya.
“Gue pikir lo nggak suka ... Secara dilihat dari perawakan lo, kayaknya lo itu nggak suka tempat beginian.” ucap Ayriszya setelah memandang Granat dari bawah sampai ke atas.
“Dulu saya orang sederhana sudah biasa makan ditempat seperti ini. Jadi saya tidak mungkin lupa daratan.”
Ungkapan laki-laki membuat Ayriszya kagum. Ternyata dosen tersebut memiliki hati yang sangat tulus, dia pun sampai memandang Granat tanpa berkedip.
“Ay!” lirih laki-laki itu menghentikan aktivitas yang sedang makan.
“Eummm ...”
“Ini kok pedas ya.” ucapnya sambil menatap Ayriszya.
“Pedas ... Enggak kok.” sahut Ayriszya.
“Minum, Ay! Saya kepedasan.”
Mata dosen itu mulai berkaca-kaca, dia tidak tahan dengan rasa pedas pada nasi goreng tersebut.
“Eh, serius.” Ayriszya segera mengambilkan minuman kepada dosennya.
Setelah meneguk air tersebut. Granat memandang nasi goreng yang digenggam oleh Ayriszya.
“Ay, kayaknya ini punya kamu deh. Soalnya saya tadi pesan yang satu jangan terlalu pedas.” ungkapnya.
Tanpa aba-aba, laki-laki itu langsung menukar makanan tersebut. “Kok di tukar?” tanya Ayriszya.
“Pedas, Ay! Ini punya saya.” ucapnya.
Dia pun langsung menyantap makanan itu. Ayriszya memasang muka datar karena ulah dosen tersebut. Baru saja dia kagum dengan perilaku pria itu, kini ia kembali merasa kesal. Dia juga langsung memakan nasi goreng tersebut. Sama sekali Ayriszya tidak
merasakan kepedasan.
“Nggak pedas kok.” ucapnya. “Pedasnya kayak nasi goreng biasa!”
“Beda, Ay! Kamu mungkin biasa. Tapi kalau bagi saya itu sudah pedas.” jelas Granat. “Makanya saya pesan satu yang tidak pedas.”
Ayriszya memutar bola mata malas, dia baru tau jika dosennya itu tidak tahan pedas. Gadis itu terus memandangi Granat karena berkali-kali laki-laki tersebut meneguk air putih.
“Masih pedas?” tanya Ayriszya yang melihat mata Granat masih berkaca-kaca.
“Sedikit.” ucapnya.
“Ya udah ... Nggak usah di makan lagi.”
“Tapi saya lapar.”
“Katanya pedas. Cari makan yang lain aja.” ucap Ayriszya.
Dia meletakkan piringnya dan mengambil piring Granat membuat pria itu bertanya kepadanya.
“Kok nasi goreng saya di ambil?”
“Kita cari makan yang lain aja. Nanti lo malah sakit perut lagi.”
“Tidak perlu, Ay! Saya sudah lapar sekali.” Granat kembali mengambil nasinya.
“Terserah sama lo deh!” ketus Ayriszya. “Bandel!” ucapnya.
Granat menatap gadis itu saat Ayriszya mengatakan bahwa ia itu bandel. Mereka pun lanjut makan, beberapa menit kemudian keduanya selesai makan. Setelah Granat membayar nasi goreng itu. Mereka segera melanjutkan perjalanan untuk menyusuri kota.