Sebuah Pemberian

1256 Kata
Setelah perdebatan didepan butik, keduanya langsung masuk ke dalam gedung itu. Di sana mereka di sambut hangat oleh para karyawan yang bekerja. Beberapa karyawan heran karena Granat tiba-tiba saja datang pada malam hari. “Pak, Granat.” Sapa salah satu karyawan. “Tumben datang malam-malam seperti ini.” “Baju kemaren sudah siap?” tanyanya. “Sudah, Pak. Tadi baru di selesaikan Ibu.” “Ambilkan bajunya.” perintah laki-laki itu. Karyawan tersebut langsung mengambilkan baju yang dimaksud oleh Granat. Ayriszya sangat suka berada di dalam butik itu, apalagi setelah melihat koleksi-koleksi pakaian yang ada di sana. Dia mondar-mandir sambil melihat satu persatu baju tersebut. Tidak lupa juga sesekali ia memegang baju-baju yang ada di sana. Sekilas Granat memperhatikan Ayriszya, rasanya begitu damai saat melihat gadis itu tersenyum, Granat pun mendekat kearah calon istrinya. “Suka?” tanyanya. Ayriszya yang mengetahui keberadaan dosennya langsung mengangguk pelan. Kembali dia melihat baju-baju tersebut, kemana dia melangkahkan kakinya Granat pasti ikut menyusul dari belakang. “Kalau suka ambil aja,” ucapnya. “Hehehe ... Pasti mahal, nggak usah,” ucap Ayriszya. “Ambil aja, gratis kok.” Gadis itu menghentikan langkahnya dan menatap Granat. “Gratis?” “Ini butik Mami. Jadi kalau kamu mau baju-baju yang ada di sini ambil saja.” Ayriszya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Kemudian dia kembali berjalan memperhatikan baju-baju di sekitarnya. Tiba-tiba saja Granat menarik lengan gadis itu dan membawanya ke sudut ruangan. “Mau kemana?” “Ikut saya,” ajaknya. Tidak ada satu pun yang bisa melihat mereka karena banyak baju-baju serta kain-kain yang menutupi keberadaan keduanya saat ini. Granat sengaja membawa gadis itu ke sana, dia begitu menginginkan Ayriszya sampai-sampai tidak bisa mengendalikan diri di tempat umum seperti sekarang. “Ngapain di sini, gelap tau,” ucap Ayriszya. Granat menatap Ayriszya, tatapan matanya begitu sendu. “Gue mau lihat baju-baju itu. Ngapain di bawa ke sini. Mana panas lagi.” ucapnya. “Ya udah ... Buka baju aja, biar nggak panas.” kata Granat. Gadis itu membelalakkan matanya mendengar perkataan yang baru saja di lontarkan oleh Granat kepadanya. “Maksud, lo?” “Sini saya bantuin.” ucap Granat. Saat Granat hendak meraih ujung baju bawah Ayriszya, gadis itu segera menahan lengan dosennya. “Jangan macam-macam, Azer. Lo udah bilang kan nggak akan melewati batas.” “Ay, saya tidak sabar ingin menikah dengan kamu. Saya, sangat menginginkan kamu.” Granat mendekatkan diri pada Ayriszya, tanpa aba-aba dia pun langsung memeluk gadis itu dengan sangat erat. Ayriszya mencoba untuk mendorong tubuh dosennya. Namun tenaga yang ia keluarkan tidak sebanding dengan kekuatan laki-laki yang sedang memeluk dirinya. “Saya, ingin sekali memiliki kamu. Kita lakuin ya, tidak apa-apa kalau belum nikah. Tapi saya akan tetap menikahi kamu.” ucap Granat tidak tentu lagi. Ia pun melepaskan pelukannya pada tubuh Ayriszya. Dia melihat gadis itu ngos-ngosan mencoba untuk mengatur napas. “Kamu kenapa?” “Napas gue sesak. Lo meluk gue udah kayak meluk guling.” ucap gadis itu mencoba menetralkan pernapasannya. “Maafkan saya, Ay. Saya sungguh menginginkan kamu.” Saat Granat hendak mencium gadis itu. Tiba-tiba saja Ayriszya menutup wajahnya. “Apa lo nggak bisa sabar. Nggak lama lagi kan kita nikah. Kalau lo terus gini, gue akan teriak ... Dan gue pastikan kita batal menikah.” ancam Ayriszya. Seketika saja Granat mengurungkan niatnya untuk berbuat seperti itu. Ayriszya pun menatap tajam kearah dosen tersebut. “Ay.” lirih Granat. “Awas! Gue mau keluar.” “Tolong saya, Ay! Saya sangat menginginkan kamu.” ucap Granat. “Keluar atau gue batalin pernikahan ini.” Ayriszya membulatkan matanya dengan sempurna. Melihat gadis itu sedang marah, Granat pun langsung membiarkan Ayriszya pergi. Kemudian dia menyusul Ayriszya untuk kembali ke tengah-tengah ruangan. Wanita itu kembali memperhatikan baju-baju yang ada di sana. Granat mencoba mendekati Ayriszya untuk meminta maaf, namun perempuan itu malah menghindarinya. Lagi dan lagi Granat terus mengikuti kemana pun Ayriszya melangkahkan kakinya, gadis itu tetap mengacuhkan dirinya. “Ay, maafin saya.” Ayriszya sama sekali tidak memperdulikan ucapan dosennya tersebut. Dia sedang asik melihat baju-baju yang ada di sana, ingin rasanya di memiliki salah satu baju itu. “Ay, jangan seperti ini. Maafkan, saya.” “Bisa diem nggak!” ketus Ayriszya. “Kamu mau baju yang mana?” tanya laki-laki itu. “Ambil aja, Ay!” ucapnya tersenyum. Granat mencoba untuk mengambil hati Ayriszya lagi. Tetapi, gadis itu masih mengabaikan. Setelah beberapa menit laki-laki itu terus mengikuti langkah Ayriszya. Tiba-tiba dia mendengar seseorang memanggil namanya. “Pak, Granat!” ucap karyawan ibunya. “Ini baju tadi.” katanya yang langsung menghampiri anak bosnya itu. “Ayriszya.” panggil Granat. Ayriszya pun menoleh kepadanya. “Ayo, sini. Cobain ini dulu.” ucapnya tersenyum manis. Gadis itu memutar bola mata malas, dia masih ingin mengabaikan laki-laki itu. Namun dia juga tidak enak dengan karyawan tersebut. Dengan terpaksa ia pun menghampiri Granat dan juga karyawan tersebut. Granat Azeriyo memberikan baju gaun dengan nuansa berwarna biru langit itu kepada calon istrinya. Baju itu di jahit khusus oleh ibunya. “Cobain dulu ya.” ucap Granat. “Pinter banget nih dosen. Seolah-olah nggak ada terjadi apa-apa sama kita.” batin Ayriszya. Gadis berambut panjang itu langsung meraih gaun tersebut. “Ruang ganti baju di mana, Mbak?” tanyanya. “Di sana,” ucap karyawan bersamaan dengan Granat Azeriyo. “Saya permisi, Pak, Bu.” Saat karyawan itu lebih dulu berlalu pergi. Granat Azeriyo pun hendak menyusul Ayriszya ke tempat ruang ganti pakaian. “Mau ngapain?” tanya Ayriszya setelah membalikkan badannya. “Ikut!” jawab Granat dengan singkat. “Nggak boleh.” ketus Ayriszya. Gadis itu masih kesal dengan perbuatannya yang dilakukan Granat kepadanya. “Tapi-” “Tunggu di sini kalau lo mau pernikahan ini di lanjutkan.” Ayrizsya segera berlalu pergi. Sedangkan Granat terdiam saat mendengar ancaman gadis itu. “Gitu banget ancamannya.” lirih Granat. Beberapa menit kemudian, terdengar suara Ayriszya yang memanggil-manggil karyawan tadi. “Mbak ... Mbak, karyawan.” Granat yang mendengar itu langsung menghampiri tempat ganti baju Ayriszya. “Kenapa, Ay! Kamu butuh bantuan?” “Panggilkan Mbak yang tadi dong. Ini baju susah banget buat di pake.” “Saya yang bantuin.” ucap Granat. “Pak, dosen! Ancaman saya tadi tidak main-main lho.” “Iya-iya ... Saya panggilkan sekarang.” Granat langsung memanggil pegawai ibunya itu untuk membantu calon istrinya memakai gaun tadi. Saat gadis itu sedang memakai baju gaun pengantin tersebut, Granat pun menyibukkan diri dengan mengambil baju-baju yang sempat dipegang Ayriszya tadi. Sekitar lima pasang baju ia ambil dan menyuruh karyawan lainnya untuk membungkusnya. Setelah baju-baju tersebut terbungkus rapi. Granat pun segera meletakkan barang-barang itu di dalam mobilnya dan dia kembali masuk ke dalam butik tersebut. Beberapa menit sudah berlalu, Ayriszya keluar dengan mengenakan gaun yang begitu mewah itu. Granat tersenyum menatap gadis itu, dia semakin tidak sabar untuk menjadikan Ayriszya sebagai istrinya. Granat segera menghampiri Ayriszya. Dia meletakkan tangannya tepat di atas bahu gadis itu. “Cantik,” ucapnya singkat. “Mbak, beruntung banget. Pak, Granat bisa tau ukuran badan Mbak dan bajunya sangat sesuai,” ucap karyawan itu. Ayriszya baru sadar dengan perkataan karyawan itu. Bahwa baju yang ia kenakan sangat cocok di badannya. “Calon istri saya cantik ‘kan,” ucap Granat menoleh kepada karyawan perempuan itu. Pegawai tersebut tersenyum lebar dan mengacungkan jempolnya. Setelah itu Ayriszya kembali masuk ke dalam untuk berganti pakaian, berhubung baju yang ia kenakan sudah pas. Jadi mereka pun langsung membungkusnya dan membawa pulang. Sebelum pulang ke rumah, Ayriszya dan Granat bergegas pergi dari butik itu untuk melanjutkan rencana mereka yang tadinya hendak jalan-jalan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN