Suatu Tempat

1140 Kata
Tepat pada malam Minggu, Granat mengajak Ayriszya untuk keluar berjalan-jalan. Laki-laki itu sangat senang, karena Ayriszya kembali menerimanya. Dia berharap jika gadis itu tidak akan mempermainkannya lagi. Setelah beberapa menit selama di perjalanan, Granat sampai di rumah Ayriszya. Tanpa menunggu lama pria itu segera mengetuk pintu rumah. Tok! Tok! Tok! Ceklek! Pintu rumah terbuka, Ayriszya melihat dosennya sudah ada di depan rumahnya. “Azer? Ngapain lo di sini?” tanyanya. Granat datang tiba-tiba membuat gadis itu bingung. Pasalnya pria tersebut sama sekali tidak ada memberitahu Ayriszya jika dia akan datang ke rumah gadis tersebut. “Mau jalan-jalan dengan saya tidak?” tanya Granat memandang ke sembarang arah. Dia takut jika jawaban gadis itu tidak sesuai harapannya. “Malam mingguan.” sambungnya. “Enggak!” ucap Ayriszya singkat yang membuat laki-laki itu menatap tajam kearahnya. “Oh ... Oke!” Granat tidak mau memperpanjang obrolan, dia pun membalikkan badannya. “Saya pulang dulu ya.” Saat dia hendak melangkah pergi, Ayriszya menghentikannya dengan menggenggam lengan pria itu. “Mau kemana?” tanya gadis itu. Laki-laki tersebut segera menghadap kearah Ayriszya lagi. Sejenak dia menatap gadis itu. “Saya ‘kan sudah bilang kalau saya mau pulang.” “Bukan itu yang gue tanya.” “Terus apa?” Granat menaikkan sebelah alisnya. “Jalan-jalannya mau kemana?” tanyanya tersenyum lebar. “Mau ... Kemana saja, yang penting jalan-jalan.” “Ya udah, tunggu sebentar. Gue mau siap-siap dulu.” Granat tersenyum lebar mendengar ucapan gadis itu. Dia pikir Ayriszya memang tidak mau jalan-jalan dengan dirinya. Beberapa menit kemudian Ayriszya keluar dari dalam rumah mengenakan pakaian yang rapi dan sedikit terbuka membuat pria itu menatapnya sinis. “Kenapa kamu pakai baju seperti ini?” tanya Granat. “Emangnya kenapa?” “Ganti.” “Enggak mau.” tolak Ayriszya. “Ganti, Ay.” “Gue ‘kan udah bilangan nggak mau.” ucap Ayriszya. “Udah untung gue mau jalan sama lo.” “Ay, ganti. Gara-gara baju ini nanti saya malah tidak fokus menyetir.” ucapnya. “Dan sudah pasti, pria-pria di luar sana juga akan menatap kamu.” “Jangan maksa, Azer. Gue nggak mau.” ucap gadis itu memberi penekanan pada perkataannya. Perlahan Granat melangkah mendekat kearah Ayriszya. Tatapannya begitu tajam membuat gadis itu merasa takut. “Lo, mau ngapain?” “Ganti sekarang atau saya makan kamu.” Mendengar ucapan pria itu, Ayriszya menelan salivanya dengan susah payah. Dia segera masuk ke dalam rumah tersebut. Tidak butuh waktu lama gadis itu keluar mengenakan pakaian yang sudah berbeda dari yang tadi. Granat tersenyum menatap calon istrinya itu. “Gini dong ... Ayo, kita jalan.” ajaknya. [] [] [] Granat membawa Ayrizsya ke suatu tempat yang belum pernah Ayriszya datangi. Di mana tempat itu seperti sebuah toko penjualan baju atau sering disebut dengan butik. “Ayo, turun,” ajaknya. Gadis itu menaikkan sebelah alisnya. “Katanya jalan-jalan kok ke sini?” Granat mendekatkan wajahnya kepada Ayriszya. “Nanti kita jalan-jalan. Kita mampir ke sini dulu.” “Tapi-” “Ssst ...” Granat meletakkan jari telunjuknya tepat pada bibir gadis itu. “Jangan membantah.” Ayriszya menepis tangan pria itu, saat dia hendak berbicara Granat kembali meletakkan jari telunjuknya. “Ikuti kata saya atau saya makan kamu.” Ayriszya membulatkan matanya menatap Granat. Dia pun langsung terdiam, karena dia tau Granat pasti akan melakukan hal tersebut jika dia membantah. Karena pria yang sedang berbicara dengannya itu sangat nekat dengan perkataannya. Buru-buru Ayriszya keluar dari dalam mobil, karena merasa kesal dia sampai tidak sadar menutup pintu mobil dengan lumayan keras. Brak! Granat yang melihat kelakuanku Ayriszya juga ikut terpancing emosi. Dengan cepat dia pun juga langsung keluar dari dalam mobil menyusul gadis itu. Granat menghampiri Ayriszya dan kembali membuka pintu mobil tersebut. Lalu dia mendorong tubuh gadis itu hingga masuk ke dalam mobil lagi. Kini keadaan mereka sangat dekat, Ayriszya merasa takut melihat tatapan pria itu yang sedang ada di atasnya, hingga dia tidak berani untuk memandang wajah Granat. “Jangan merusakkan barang-barang saya ... Kalau tidak!” ucapannya terhenti dan memandang bibir gadis itu. Ayriszya mengernyitkan dahinya sambil menatap Granat. “Kalau tidak apa?” Granat mendekatkan wajahnya ke telinga gadis itu. “Kalau tidak ... Saya akan merusak kamu malam ini.” bisiknya membuat Ayriszya menelan saliva. Gadis itu membulatkan matanya setelah mendengar perkataan dari Granat. Mata Ayriszya terpejam di saat ia merasakan kalau pria itu sekilas mengecup daun telinganya. Buru-buru Ayriszya mendorong tubuh Granat. Dia takut jika dosennya tersebut akan kehilangan kendali ditempat umum seperti ini. Setelah itu, Ayriszya kembali bangkit dan langsung keluar dari dalam mobil. Sambil menahan emosi, gadis itu pun mencoba untuk menutup pintu mobil dengan sangat pelan. Karena pria yang ada didepannya saat ini sedang menatapnya dengan tatapan mata yang sangat tajam. “Ayo!” ajak Granat yang hendak meraih tangan Ayriszya. Namun Ayriszya langsung jalan duluan. “Gue bisa jalan sendiri.” Secara tiba-tiba, tubuh Ayriszya mundur ke belakang saat laki-laki itu menarik lengannya. Kini mereka saling tatap tatapan mata. “Ayolah ... Kamu ini kenapa, saya cuma mau gandengan tangan. Apa itu juga tidak boleh?” tanyanya. Ayriszya memutar bola mata malas melihat Granat yang memasang mimik wajah seperti memohon. Gadis itu pun langsung melingkarkan tangannya di lengan Granat. Ayriszya melemparkan senyuman terpaksa kepada pria itu. “Walaupun senyuman mu itu tidak ikhlas. Tapi saya suka, bahkan saya malah ingin.” “Ingin apa?” tanya Ayriszya kembali melepaskan rangkulannya. Kini dia menatap curiga pada Granat. Granat memperhatikan sekeliling mereka. Lalu dia beralih memandang Ayriszya. “Ingin mencium ini.” ucapnya menyentuh bibir Ayriszya. “Gue pulang atau kita masuk?” tanya Ayriszya setelah menepis tangan Granat. Kini, gadis itu malah mengancam dosennya. “Nggak tau kenapa melihat kelakuan kamu hari ini. Saya malah ingin melakukan sesuatu kepada kamu.” ucapnya. Granat mendekati telinga Ayriszya dia pun berbisik pelan. “Kita ke hotel aja gimana.” ucapnya dan meniup leher wanita bertubuh mungil itu. Ayriszya merinding mendapatkan perlakuan tersebut dari dosennya. Sejenak dia terdiam, hingga ia tersadar saat Granat membelai wajahnya. “Bagaimana?” tanya pria itu. “Gue pulang,” ucapnya. Saat Ayriszya hendak melangkah, Granat segera menahan lengannya. “Oke ... Saya sudah melewati batas. Saya minta maaf.” Dengan mudahnya, hanya dengan kalimat singkat itu dan senyum dari Granat. Ayriszya malah luluh tanpa memberontak sama sekali. “Saya masuki ya,” ucap pria itu. “Masuki?” tanya Ayriszya heran menaikkan sebelah alisnya. Kata-kata yang diucapkan laki-laki itu mulai tidak menentu. Dia pun juga tidak tau, kenapa saat bersama Ayriszya hormonnya langsung naik seketika. “Bukan! Maksud saya, kita masuk,” ucapnya meralat perkataannya. Ayriszya memutar bola mata malas. Dia langsung melangkahkan kakinya menuju toko tersebut tanpa memperdulikan dosennya. Granat tidak mau memaksakan Ayriszya untuk harus merangkul lengannya. Dia tidak mau jika gadis itu tidak nyaman bersamanya, Granat pun langsung menyusul Ayriszya masuk ke dalam toko tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN