Pagi hari pun tiba, Ayriszya sudah bersiap-siap untuk bergegas pergi ke kampusnya. Setelah dia sarapan, ia segera keluar dari dalam rumah.
Betapa kagetnya gadis itu saat melihat ada seorang pria yang berdiri didepan pintu rumahnya dan itu adalah Granat dosen muda yang selalu mengganggunya.
Sebelum ia berbicara, terlebih dahulu Ayriszya menghembuskan napasnya dengan perlahan guna menghilangkan emosi ketika melihat
laki-laki itu.
“Lo mau ngapain ke rumah gue? Emangnya lo nggak ngajar?”
“Saya tidak ke kampus hari ini.”
“Kenapa?” tanya Ayriszya.
“Kelas saya tidak ada. Jadi hari ini kita ke butik mami, saya.”
“Ngapain?” tanya gadis itu merasa heran.
“Kamu lupa?” Granat mengernyitkan dahinya. “Kita akan segera menikah. Jadi kita harus fitting baju di butik Mami.”
“Menikah ... Lo gila, gue nggak mau nikah sama lo.”
“Maksud kamu apa? Kamu mau mempermainkan saya?”
“Kapan gue mainin lo ... Lo ada-ada aja.” Ayriszya menatap pria itu sambil tersenyum.
“Bukannya kamu bilang akan mau menikah dengan saya?”
“Gue bercanda.” Jawab gadis itu.
Granat terdiam menatap Ayriszya, kali ini dia tidak mau memaksa gadis itu untuk mengikuti perkataannya. Kini mereka saling menatap, keduanya sama-sama terdiam.
Granat Azeriyo membalikkan tubuhnya, dia langsung melangkahkan kaki menuju mobil. Cuaca yang sudah dari tadi mendung mulai
menjatuhkan isinya. Hujan pun turun, Granat terus berjalan pelan kearah mobilnya.
“Azer, hujan,” panggil Ayriszya.
Laki-laki itu sama sekali tidak memperdulikan panggilan Ayriszya, dia tetap berjalan mendekati mobilnya. Hujan yang begitu lebat membuat Granat langsung basah kuyup walaupun baru beberapa detik dia berjalan keluar.
Ayriszya segera mengambil payung dan langsung menghampiri dosennya. Kemudian dia merangkul lengan pria itu.
“Hujan tau ... Ayo, masuk!” ajaknya.
Sekilas Granat berhenti melangkah, ia memandang kearah Ayriszya. Kemudian dia kembali melangkahkan kakinya.
“Ayo, masuk Azer. Hujan, baju lo jadi basah.”
Karena tidak di respon oleh laki-laki itu, Ayriszya menarik kuat lengan Granat untuk masuk ke dalam rumahnya. Hingga pada akhirnya Granat ikut melangkahkan kakinya bersama Ayriszya.
Kini mereka berada di dalam rumah. “Lo apa-apaan sih. Udah tau hujan malah nggak neduh,” ucap gadis itu.
Ayriszya kembali meletakkan payung ke tempat semula. Saat dia menoleh kearah Granat, gadis itu mendapati pria tersebut kembali melangkahkan kakinya keluar dari rumah. Sesegera mungkin, Ayriszya langsung berlari dan kembali menahan lengan pria itu.
“Mau kemana lagi, Azer?” tanya Ayriszya. “Lo nggak lihat di luar hujan.”
“Saya mau pulang.” pandangan pria itu mengarah ke depan.
“Jangan, Azer. Hujan!” larang Ayriszya menggenggam lengan pria itu.
“Ayriszya ... Kali ini saya tidak akan memaksa kamu lagi. Kalau kamu tidak mau menikah dengan saya, tidak apa-apa. Biarkan saya pergi,” ucap pria itu mencoba menjauhkan tangan Ayriszya dari lengannya.
“Tapi saya kecewa ... Saya tidak ada niat untuk mempermainkan kamu, tapi kamu tega mempermainkan perasaan saya.”
Ayriszya terdiam, dia tidak menyangka jika Granat akan berkata seperti itu kepadanya. Perlahan ia menghampiri Granat dan menggenggam telapak tangan pria itu.
“Azer ... Gue minta maaf. Gue nggak bermaksud–”
“Sudahlah, Ay,” ucap Granat memotong perkataan Ayriszya. “Saya tau. Kalau saya terlalu memaksa kamu.”
“Azer–”
“Cukup ... Saya tidak akan menggangu kamu lagi.”
Granat Azeriyo pun langsung bergegas pergi dari rumah itu bahkan dia sama sekali tidak menoleh sedikit pun kearah Ayriszya. Ayrizsya sama sekali tidak melarang langkah Granat lagi namun dia tidak bermaksud untuk membuat laki-laki itu kecewa.
“Berarti kita putuskan?” tanyanya.
Granat membalikkan tubuhnya menatap Ayriszya ditengah-tengah kehujanan. Kemudian dia langsung kembali masuk ke dalam mobilnya dan langsung pulang.
“Huuuh ... Akhirnya gue bisa lepas juga dari dosen killer itu.”
“Maafin gue. Gue nggak bermaksud buat lo kecewa.”
Hujan sangat derasa membuat Ayriszya enggan untuk pergi ke kampus. Setelah berpikir sejenak, akhirnya gadis itu memutuskan untuk tidak jadi pergi ke kampus. Ia lebih memilih bersantai di dalam rumah ditengah-tengah musim hujan.
[] [] []
Beberapa hari sudah berlalu, semenjak kejadian putusnya hubungan Ayriszya dan Granat, keduanya sama sekali tidak pernah saling berbicara lagi. Bahkan saat dikelas saja, Granat tidak melarang Ayriszya ketika gadis itu tidak duduk didepan.
“Azer ... Apa gue terlalu berlebihan.”
Ayriszya yang sedang duduk di sofa sambil memikirkan laki-laki yang sempat melamarnya secara tiba-tiba.
“Lo baik, tapi gue belum siap nikah. Kita aja baru kenal.”
Tepat di hari Sabtu saat jam menunjukkan pukul dua siang, ada tambahan mata kuliah dari dosen muda itu dan Ayriszya harus segera ke kampus.
Sesampainya di dalam ruangan, beberapa menit setelah para mahasiswa masuk Granat pun datang dia langsung memberikan materi kepada mahasiswanya.
“Selamat siang anak-anak.”
“Siang, Pak.”
Laki-laki itu sama sekali tidak memandang kearah Ayriszya. Dia tidak mau berharap lebih lagi kepada gadis itu setelah niat baiknya untuk menikahi Ayriszya malah dibuat bercanda oleh wanita itu. Setelah kejadian di rumah Ayriszya, Granat hanya fokus pada pekerjaannya.
“Zya ... Gue perhatiin, itu dosen kok nggak masalah kalau lo duduk di belakang?” tanya Kayra. “Udah sering lo duduk di sini, tapi dia nggak marah.”
“Nggak apa-apa ... Malahan gue seneng banget.”
“Tolong yang di belakang jangan berbicara. Kalau kalian mau ngobrol silakan keluar dari kelas saya,” ucap Granat memandang satu
persatu mahasiswa itu.
Kayra dan Ayriszya terdiam dan lanjut untuk mencatat materi yang sudah ada di depan mereka. Ayriszya malah merasa bersalah kepada Granat, sikap pria itu terlalu dingin membuat dia merindukan perilaku Granat Azeriyo.
“Kenapa sama gue. Kenapa gue malah kangen sama sikapnya kemarin,” batin Ayriszya.
“Apalagi saat lo nangis. Maafin gue, udah berlebihan sama lo.”
Pandangannya Ayriszya terus saja menatap Granat tanpa henti, padahal laki-laki itu sedang menjelaskan materi perkuliahan.
Sampai waktu pelajaran selesai, Ayriszya sama sekali tidak bisa mencerna materi yang dipaparkan oleh dosen. Saat ini dia benar-benar merasa bersalah atas perlakuannya pada pria yang mau serius dengan dirinya.
“Baiklah, berhubung sudah sore, kalian boleh keluar ... Jam pelajaran saya sudah habis.”
Satu persatu mahasiswa dan mahasiswi pun keluar dari ruangan tersebut. Karena sudah dipersilahkan oleh dosen mereka. Ayriszya menunggu giliran keluar, tetapi dia ingin memberanikan diri untuk menyapa Granat terlebih dahulu.
“Ayo, Zya. Kita keluar.” ajak Kayra.
“Eh, tunggu-tunggu. Tapi jangan pulang dulu ya. Kita nongkrong dulu, seperti biasa.” gumam Chika.
“Kalian aja ... Gue ada urusan banget nih, harus cepat pulang.” balas Ayriszya.
“Ya udah deh.” ucap Kayra. “Ayo, Chik. Kita aja.” ajaknya.
Kedua gadis tersebut meninggalkan Ayriszya, mereka pergi menuju tempat biasa mereka nongkrong. Melihat ruangan sudah sepi, Ayriszya beranjak dari tempat duduknya menghampiri Granat yang sedang sibuk dengan layar laptopnya.
“Azer!”
“Kamu tidak sopan ya. Di kampus memanggil saya dengan nama asli.” ketus pria itu yang masih tetap fokus menatap layar laptopnya.
“Kok lo jutek gitu sih ... Gue ‘kan ngomongnya baik-baik.” ujar Ayriszya.
“Ayriszya ... Saya ini dosen kamu, tolong jaga sopan santun kamu.”
Gadis itu mulai kesal mendengar perkataan dari Granat. Dia pun langsung menutup laptop Granat tanpa memperdulikan apakah pria itu akan marah kepadanya.
“Granat Azeriyo.” ucapnya. “Lo, bilang gue nggak perlu sopan sama lo. Kok sekarang lo marah sih, gue nggak sopan sama, lo.”
Kini laki-laki itu memandang Ayriszya dengan sangat tajam. Ayriszya sama sekali tidak getir dengan tatapan tersebut. Bahkan dia juga menatap Granat tanpa mengedipkan mata.
“Jangan ganggu, saya ... Kamu boleh pulang sekarang.” ucap pria itu mengalihkan pandangannya.
“Azer ... Ngomongnya bisa halus dikit nggak sih.”
“Mau kamu apa sih ... Kamu nggak mau menikah dengan saya, kamu risih dengan kelakuan saya. Saya sudah mencoba menjauhkan diri dari kamu, dan sekarang kamu ngomong seolah-olah nggak terjadi apa-apa.”
Laki-laki itu mulai meninggikan suaranya.
“Gue ... Gue kangen sama kelakuan lo.”
Granat mengernyitkan dahinya, ia heran dengan pengakuan gadis itu. “Kamu pikir saya percaya?”
“Ya ampun, Azer. Perjuangan lo segitu aja?” tanya Ayriszya. “Lemah banget.” ucapnya.
“Kamu kalau ngomong hati-hati ya. Jangan seenaknya aja.” Granat merapikan barang-barangnya. Dia sudah tidak mau mengobrol dengan gadis itu.
“Emang bener ‘kan. Katanya mau perjuangin gue. Ternyata enggak, omongan lo sama aja kayak laki-laki lainnya.” ucap Ayriszya.
“Kamu jangan pernah menyamakan saya dengan pria yang pernah kamu temui.”
Ayriszya mengabaikan perkataan Granat, ia pun melangkahkan kakinya menuju keluar. Namun dengan cepat, Granat beranjak dari tempat duduknya dan langsung memeluk Ayriszya dari belakang.
“Saya sangat suka dengan tantangan. Mendengar kamu berbicara seperti tadi saya merasa tertantang lagi untuk mencairkan hati kamu yang beku itu.” ucap Granat lalu mencium tengkuk gadis yang ada dalam dekapannya tersebut.
“Lepasin gue ... Ini di kampus, jangan macam-macam lo.” ucap Ayriszya memperingati.
“Kamu yang memancing saya. Jadi tanggung sendiri.” ujar Granat.
Granat membawa Ayriszya ke dalam pelukannya. Baru beberapa detik saja, Ayriszya langsung mendorong tubuh laki-laki itu.
“Buktiin kalau lo benar-benar cinta sama gue.”
Ayriszya segera berlalu pergi meninggalkan Granat sendiri di ruangan itu. Niat Granat untuk melepaskan Ayriszya tidak jadi. Ia kembali semangat untuk mengejar cinta mahasiswinya itu.