Malam harinya Ayriszya sudah bersiap-siap untuk pergi ke acara ulang tahun salah satu teman seangkatannya. Namun saat gadis itu
membuka pintu, seorang laki-laki sudah berada di depan rumahnya membuat Ayriszya langsung kaget.
“Lo ... Ngapain lo kesini?” tanya Ayriszya kepada dosen pengganggu itu.
Granat memandang sinis kearahnya, dia melihat Ayriszya dari bawah sampai ke atas sambil memperhatikan pakaian yang dikenakan oleh
gadis tersebut.
“Mau kemana kamu?” tanyanya.
“Gue mau pergi. Teman gue ulang tahun,” jawab Ayriszya. “Lebih baik lo pulang sekarang, gue nggak ada waktu buat lo.”
Granat memperhatikan sekeliling rumah. Kemudian dia masuk ke dalam begitu saja sambil menarik lengan gadis tersebut. “Saya tidak izinkan kamu pergi.”
Ayriszya membulatkan matanya, dia sangat tidak suka saat laki-laki itu melarangnya. “Lo apa-apaan sih ... Gue mau pergi, awas!” ketus Ayriszya pada dosennya.
Saat gadis itu kembali melangkahkan kakinya.
Granat malah memeluk pinggangnya. “Jangan, Ay! Saya sudah melarang, tolong hargai saya.”
“Lo itu baru jadi pacar. Belum jadi suami, jadi nggak perlu melarang gue!”
“Kalau begitu kita harus menikah secepatnya. Biar saya bisa larang kamu.”
“Lepasin, ah ... Gue mau pergi, Azer.”
“Saya melarang kamu demi kebaikan kamu, sayang. Saya tidak mau tubuh calon istri saya dilihat oleh banyak orang.”
Ayriszya senang mendengar perkataan Granat, namun dia harus tetap pergi untuk menghadiri acara itu.
“Kamu boleh pergi, tapi tidak dengan pakaian seperti ini.”
“Maksud lo apa?” tanya Ayriszya.
“Kalau kamu mau pergi, kamu harus hapus make-up dulu. Baju kamu juga harus di ganti.”
“Gue nggak mau ... Gue mau pergi ke pesta bukan ke sawah,” ketus Ayriszya.
Granat menatap sendu gadis itu, tiba-tiba saja dia mendekatkan wajahnya ke leher Ayriszya.
Hingga Ayriszya merasakan jika Granat
kembali melakukan hal yang kemaren yaitu mengecup lehernya.
“Wangi” lirih Granat. “Saya suka,” Granat tersenyum menatap Ayriszya.
“Gue mau pergi. Jangan larang gue.”
Granat semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Ayriszya, dia sama sekali tidak memperdulikan ucapan kekasihnya itu. “Bolehkah saya tidur dengan kamu malam ini?” tanya Granat yang membuat Ayriszya tersentak kaget.
“Lo gila!” bentaknya. “Lepasin!”
“Ayriszya, tolong menikah lah dengan saya. Saya sangat menginginkan kamu.”
“Granat Azeriyo! Lepasin!” bentak gadis itu.
Mendengar bentakan dari gadis itu, Granat merasa kesal. Dia pun mendorong tubuh Ayriszya hingga terbaring di sofa. Perlahan dia
mendekati gadis itu dengan ekspresi wajah datar.
“Lo mau ngapain Azer. Jangan macam-macam sama gue.”
“Saya harus menyentuh kamu malam ini, supaya kamu mau menjadi milik saya.”
“Azer ... Gue bilang jangan macam-macam. Atau enggak, gue akan teriak.”
Granat semakin mendekati Ayriszya, gadis itu semakin ketakutan. Saat dia hendak berteriak, Granat segera membekapnya dengan telapak tangannya. Ayriszya mencoba berontak namun Granat tidak memperdulikannya. Malahan dia mengunci kedua tangan gadis itu supaya tidak bisa melawan lagi.
Saat ini Ayriszya sangat ketakutan melihat perilaku dosen itu. Di situasi seperti sekarang Ayriszya memiliki ide, dia menendang bagian s**********n Granat Azeriyo.
“Arghhh ...,” lirih Granat. “Sakit!” rintihnya sambil meletakkan telapak tangannya di bagian alat vitalnya.
Ayriszya melihat pria itu kesakitan malah menjadi kasihan. Kemudian dia langsung menghampiri Granat yang sedang duduk dilantai.
“Gue minta maaf, gue sama sekali nggak sengaja.”
“Sakit, Ay! Tolong.”
“Gue nggak sengaja Azer,” Ayriszya mulai panik melihat keadaan pria itu.
“Tolongin saya!” ucap Granat memohon. “Saya menjaganya untuk kamu, tapi kamu malah melukainya.”
“Gue minta maaf sama lo.” Ayriszya juga panik melihat keadaan Granat saat ini. “Gue nggak tau harus ngapain. Apa yang perlu gue lakuin
supaya sakitnya hilang?” tanyanya.
Tiba-tiba saja Granat memeluk gadis itu dengan sangat erat. “Jangan lepasin ya. Biar saya tidak sakit lagi.”
“Lo modus ya?” tanya Ayriszya. “Lepasin,” ucap gadis itu sambil memukul-mukul pundak Granat.
“Pukul saja, tidak apa-apa. Asalkan kamu jangan pergi.”
Ayriszya terus memukuli pundak Granat. Sedangkan laki-laki itu sama sekali tidak merasakan apa-apa karena tenaga Ayriszya tidak seberapa baginya. Untuk saat ini, yang paling penting supaya Ayriszya tidak pergi
kemana-mana. Karena itulah Granat tidak melepaskan pelukannya.
“Lepas, gue mau pergi.”
“Pukul aja terus. Selagi itu buat kamu senang.”
“Lepasin gue, Azer.”
Bugh! Bugh! Bugh!
Waktu terus berlalu, hingga jam menunjukkan pukul sepuluh malam Granat belum juga melepaskan pelukannya dan alhasil gadis itu tidak jadi pergi ke acara ulang tahun temannya.
“Azer, lepasin gue. Capek tau!” ucapnya. “Dari tadi gue nggak bisa gerak!”
“Salah kamu sendiri. Kan saya tidak menyuruh kamu untuk memukuli punggung saya.”
Ayriszya pasrah dan tidak melawan lagi, dia hanya bisa diam saja atas apa yang dilakukan oleh pria itu. Beberapa menit kemudian, Granat
melepaskan pelukannya.
“Ay,” lirihnya memandang sendu kearah kekasihnya.
“Udah sakitnya ... Modus!” ketus Ayriszya.
“Sakitnya udah nggak lagi ... Tapi-”
“Tapi apa?” tanya Ayriszya memotong perkataan laki-laki itu.
“Saya ... Kamu mau tidak tidur dengan saya malam ini?”
“Gila nih dosen. Lo apa-apaan sih. Mintanya aneh gitu.”
“Tolong, Ay! Kalau pun kamu hamil pasti akan saya nikahi.”
“Lo kira gue perempuan murahan, nikahin dulu. Jangan maunya enak aja,” ketus Ayriszya.
“Tapi saya sudah tidak tahan lagi.”
“Itu urusan lo, gue nggak perduli.”
Granat memegang lengan Ayriszya, ia memberikan belaian pada tangan mulus wanita itu hingga membuat Ayriszya merinding merasakan hal tersebut.
“Azer, jangan seperti ini. Geli tau.”
“Tolongin saya ya,” ucap Granat.
Laki-laki itu pun mendekatkan wajahnya ke wajah Ayriszya. Beberapa detik kemudian, saat Granat hendak mengecup bibir Ayriszya. Gadis itu memalingkan wajahnya sehingga ciuman tersebut mendarat di pipi Ayriszya.
“Lebih baik lo pulang dari rumah gue.” Ayriszya mengusir dosennya sendiri.
“Tapi, Ay.”
“Azer ... Kalau lo benar-benar ingin melakukan itu, lo nikah aja,” ucap Ayriszya memberikan saran.
“Saya akan menikah dan melakukannya hanya dengan kamu saja.”
Ayriszya memutar bola mata malas mendengar ungkapan laki-laki tersebut. Tiba-tiba saja ia spontan mengatakan. “Kalau lo serius. Ya udah, nikahin gue besok.”
Tatapan mata Granat berbinar sambil menggenggam bahu Ayriszya.
“Kamu menerima saya sebagai suami kamu?” tanyanya.
“Iya ... Gue terima lo!” ucapnya.
“Besok saya akan persiapkan semuanya. Lusa kita menikah,” ucap Granat. “Saya pulang dulu. Kamu tidur ya, jangan lupa hubungi keluarga
kamu.” Granat langsung berlalu pergi. Dia sangat bahagia karena gadis itu menerimanya.
Pada malam itu juga, Granat langsung memerintahkan bawahannya untuk segera menyiapkan acara pernikahannya. Ayriszya baru sadar atas apa yang ia katakan, dia tidak tau harus berbuat apa karena dirinya sudah terlanjur mengiyakan ajakan nikah dari dosennya.
“Gue ngomong apa sih. Zya, Zya ... Pasti itu dosen merasa diberikan harapan palsu.”