Tangisan Sang Dosen

1766 Kata
Paginya sebelum berangkat ke kampus, Ayriszya terlebih dahulu membereskan barang-barang di dalam rumahnya, supaya saat dia pulang nanti semuanya sudah bersih dan tertata rapi. Gadis itu segera berangkat dengan mengendarai mobilnya. Akhir-akhir ini rasa malas pergi kuliah hadir dalam dirinya, bukan karena apa-apa melainkan tidak mau berurusan dengan dosen itu walaupun keduanya sudah menjalani hubungan atas dasar keterpaksaan. “Dosen belum masuk?” tanyanya yang langsung duduk di sebelah Chika. “Belum,” jawab sahabatnya itu. Beberapa detik setelah Ayriszya duduk. Kayra pun datang dan langsung menatap aneh kearah gadis itu. “Kenapa?” tanya Ayriszya. “Kok lo lihatin gue gitu banget.” Tatapan Kayra masih lekat memandangi Ayriszya, dia senyum-senyum sendiri membuat Ayriszya dan Chika merasa aneh. “Kenapa lo? Stres?” tanya Chika menyenggol lengan gadis itu. Kayra pun menundukkan bahunya dan mendekat kearah telinga Chika. Entah apa yang dia bisikan kepada Chika hingga membuat gadis itu ikut tersenyum memandang Ayriszya. “Lo berdua kenapa sih? Aneh banget.” Ayriszya bingung dengan perilaku kedua sahabatnya tersebut. “Kalian kenapa sih?” tanyanya lagi. “Zya! Yang kasih tanda itu siapa?” tanya Chika menahan senyumnya. “Tanda ... Tanda apa?” Ayriszya mengernyitkan dahinya karena tidak mengerti dengan pertanyaan Chika. “Leher lo,” gumam Kayra. “Leher gue!” gadis itu juga tidak tau apa maksud dari perkataan Kayra. “Kenapa leher gue?” tanyanya meraba-raba lehernya. Chika pun merogoh tasnya dan mengeluarkan cermin kecil yang selalu ia bawa kemana-mana. “Lihat sendiri,” ucapnya memberikan cermin itu kepada Ayriszya. Ayriszya segera meraih cermin tersebut dan melihat lehernya dari pantulan cermin itu. Betapa kagetnya ia saat melihat ada tanda kecupan. Ayriszya membulatkan matanya, dia sampai tidak sadar jika dosen itu meninggalkan bekas pada area lehernya. “Mampus!” ucapnya dalam hati. “Siapa yang buat, Zya?” tanya Chika lagi. Ayriszya tersenyum kecil, dia tidak tau apa yang harus ia katakan kepada kedua sahabatnya tersebut. Saat ini ia hanya merasa malu dihadapan kedua temannya itu. “Ternyata lo ganas juga ya, Zya,” gumam Chika. “Pasti itu cowok tergila-gila sama, Zya. Sampai ninggalin bekas gitu,” sambung Kayra. “Bener banget. Secara Zya susah deket sama cowok. Sekarang udah ada kecupan aja,” ujar Chika. “Ini digigit nyamuk.” “Zya, Zya. Lo pikir kami nggak tau bedain,” sahut Kayra. Kedua gadis itu berhasil membuat Ayriszya menjadi malu. Ayriszya mengingat kejadian malam itu saat dosennya melakukan hal tersebut, sungguh romantis yang hampir membuat dia kehilangan kendali karena ulah Granat Azeriyo. Beberapa menit kemudian, para mahasiswa mulai masuk ke dalam ruangan tandanya dosen akan segera masuk ke dalam. Tak butuh waktu lama, dosen pun masuk, tepat pada hari ini dosen yang akan mengajar mereka adalah dosen muda itu, yaitu Granat Azeriyo. “Selamat pagi semuanya,” ucap Granat setelah duduk di kursinya. “Pagi, Pak,” sahut semua mahasiswa secara bersamaan. “Kamu!” ucapnya menatap Ayriszya. “Saya, Pak.” “Kamu tidak ingat. Tempat duduk kamu di mana?” tanya Granat. Ayriszya menghela nafasnya, dia pikir hanya waktu itu saja dia di suruh maju ke depan, ternyata dosen itu menyuruhnya lagi untuk tetap duduk pada tempat yang sudah ditetapkan oleh Granat Azeriyo. “Pindah sekarang,” perintahnya. “Kurang ajar ini dosen,” batin Ayriszya. Gadis itu pun beranjak dari tempat duduknya untuk menuju ke depan. Ayriszya menatap Granat dengan sangat tajam. Sekilas Granat juga memandang kearah Ayriszya, tiba-tiba dia tersenyum membuat gadis itu mengernyitkan dahinya. “Kenapa? Pasti dia mau ngerjain gue lagi,” ucap Ayriszya dalam hatinya. Senyuman yang ditampilkan oleh Granat Azeriyo membuat Ayriszya merasa curiga kepada pria itu. “Ayriszya!” “Kan, perasaan gue nggak enak,” batin Ayriszya. “Iya, Pak! Saya.” “Kamu maju ke depan.” Tanpa memperpanjang percakapan, Ayriszya segera maju ke depan menghadap semua orang yang ada didalam ruangan kampus. Granat beranjak dari tempat duduknya dan dia pun berputar mengelilingi gadis itu. “Lo ngapain sih. Pasti mau ngerjain gue lagi ‘kan,” lirih Ayriszya menatap sinis dosen tersebut. “Tidak banyak, sedikit saja,” balas Granat mengedipkan sebelah matanya. Granat menyibakkan rambut Ayriszya ke belakang. “Sepertinya gadis ini tidak tau cara mengontrol diri.” “Gila tuh dosen,” umpat Kayra. “Bisa-bisanya dia mempermalukan Zya di depan banyak orang.” “Kalian lihat ini, ada tanda yang tertinggal di sini,” lanjutnya sambil menunjuk kearah leher gadis itu. “Hahaha ...” Semua orang menertawakan Ayriszya, dia sangat malu atas apa yang di lakukan oleh dosennya. Gadis itu memejamkan matanya karena tidak sanggup melihat ekspresi dari wajah teman seangkatannya. “Zya, kira-kira yang beruntung siapa ya. Soalnya yang kami tau lo susah banget buat di dapetin,” gumam salah satu seorang mahasiswa laki-laki. Ayriszya menatap Granat dengan penuh dendam. Baru kali ini dia dipermalukan oleh orang lain. Rasa benci menjalar dalam tubuhnya, dia bisa pastikan bahwa kelakuan Granat kali ini tidak akan ia maafkan. “Kamu duduk sekarang,” perintah Granat Azeriyo. Ayriszya melangkahkan kakinya, bukannya duduk di kursi ia malah merampas tasnya dan kembali menghampiri Granat. “Terima kasih lo udah buat gue malu,” ucapnya dan segera keluar. “Zya! Zya!” panggil Chika dan Kayra. Granat terdiam tidak bisa berkata-kata apa. Maksudnya hanyalah bercanda, dia tidak tau jika perlakuannya terhadap Ayriszya akan membuat gadis itu malu. Saat ini Granat takut jika Ayriszya akan membuktikan ucapannya pada malam itu, yaitu pindah kampus. “Baiklah semuanya, sekarang kita lanjutkan materi yang lalu, biarkan gadis itu pergi.” Sepanjang perkuliahan berlangsung, pikiran Granat mengarah pada Ayriszya. Sampai akhirnya jam pelajaran sudah berlangsung. Pria itu segera keluar dari dalam ruangan dan pergi menuju kediaman Ayriszya. [] [] [] Sesampainya di sana, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Granat langsung masuk dan mencari keberadaan Ayriszya. Dia melihat seseorang sedang berdiri didepan jendela membelakangi dirinya. Granat segera menghampiri gadis itu dan memeluknya. Ayriszya yang kaget mendapatkan pelukan dari seseorang langsung membalikkan tubuhnya. Saat dia mengetahui itu adalah Granat, Ayriszya langsung melayangkan tamparan kepada dosennya. Plak! “Puas lo mempermalukan gue. Lo pikir gue akan nangis? Nggak akan, tapi gue akan selalu ingat perlakuan lo hari ini.” “Ay, saya minta maaf. Saya hanya bercanda. Saya pikir kamu akan menyukainya,” ucapnya. Plak! Lagi-lagi pria itu mendapatkan tamparan di bagian pipinya “Bercanda lo itu nggak lucu. Ini yang lo bilang mau bahagiain gue. Gue nyesel udah menerima lo. Sekarang kita putus.” “Jangan! Saya tidak mau,” tolak Granat. “Di saat gue udah mau melapangkan hati buat lo ... Lo malah mempermalukan gue di depan banyak orang.” “Ay, jangan putusin saya. Saya mengaku salah, tolong jangan seperti ini.” “Keluar lo dari rumah gue ... Gue nggak mau lihat muka lo lagi,” usir Ayriszya. “Dan gue akan pastikan. Setiap kali lo masuk, gue gak akan datang.” Kali ini Ayriszya benar-benar emosi kepada Granat, saat menampar laki-laki itu ia pun juga tidak sadar melakukannya. “Ay, saya mohon. Saya menyesal.” Tiba-tiba saja Granat menangis dihadapan Ayriszya, dia ingin membuktikan bahwa cintanya kepada gadis itu benar adanya. “Hiks ... Hiks ... Hiks ...” Ayriszya terdiam, baru kali ini ia melihat laki-laki menangis karena dirinya. Dia tidak menyangka jika seorang dosen menangis didepan mahasiswinya. “Tolong Ay, jangan putusin saya. Saya tidak mau.” “Hiks … Hiks … Hiks …” “Lo pikir gue akan terperdaya sama tangisan lo itu ... Pergi lo Granat, gue benci sama lo.” “Hiks ... Jangan putusin saya.” Laki-laki itu terus-menerus menangis. Pipinya mulai basah karena air mata. Granat berlutut didepan Ayriszya, lalu dia memeluk pinggang gadis itu. “Tolong jangan pergi. Saya tidak mau sendirian. Saya akan melakukan apa pun untuk kamu. Tapi saya mohon jangan pergi.” “Hiks ... Hiks ... Hiks ...” Air matanya terus mengalir, seketika saja Ayriszya luluh dengan pria itu. Karena sebelum ini tidak ada laki-laki yang menangis karena dirinya. Dari situ Ayriszya merasa jika dosen muda tersebut benar-benar mencintainya. Ayriszya belum juga berkata apa-apa, dia mau melihat seberapa lama laki-laki itu akan menangisi dirinya. Ayriszya melepaskan pelukan Granat lalu melangkah pergi menuju sofa. Lagi-lagi dosen itu meraih lengannya dengan keadaan masih menangis. “Saya mohon jangan pergi. Jangan tinggalin saya, jangan putusin saya.” “Hiks ... Hiks ... Hiks ...” “Maafkan saya, Ay.” Hampir setengah jam laki-laki itu belum juga berhenti menangis dan begitu juga dengan Ayriszya, ia merasa pegal karena dari tadi dia berdiri dengan posisi dirinya yang dipeluk oleh Granat. “Pergi,” ucapnya. “Saya tidak mau pergi. Saya tidak mau kehilangan kamu. Saya minta maaf.” “Hiks ... Hiks ... Hiks ...” “Pergi sekarang.” “Saya tidak mau,” tolak pria itu. “Saya tidak akan pergi, sebelum kamu menarik kata putus tadi … Hiks … Saya takut kehilangan kamu. Tolong jangan usir saya.” “Gue nggak ngusir lo.” “Kamu mengusir saya. Saya tidak akan pergi. Saya akan di sini sampai kamu mau balikan lagi.” Ayriszya menghembuskan napasnya, dia sudah terlalu lama dalam posisi seperti itu, membuat kakinya pun terasa kebas. “Kita gak putus. Tapi lo harus ingat jangan lakuin itu lagi.” Granat mendongak ke atas memandang Ayriszya. “Pergi sekarang. Lo ‘kan harus mengajar lagi.” “Beneran tidak putus?” tanya Granat memastikan. “Iya!” jawab singkat gadis itu. “Kamu bohong ... Saya tidak mau pulang.” Granat kembali memeluk gadis itu. Ayriszya melepaskan pelukan Granat pada tubuhnya. Lalu dia pun berlutut menyamakan posisinya dengan dosen itu. Cup! Tangis Granat berhenti ketika Ayriszya mengecup keningnya. “Pergi. Gue nggak marah sama lo. Jangan di ulangi lagi ya,” ucapnya sambil menghapus air mata laki-laki itu. “Cuma di kening?” tanya Granat. Ayriszya memutar bola mata malas, kemudian dia pun mengecup pipi pria itu. Granat tersenyum menatap Ayriszya, dia mulai yakin jika gadis itu sudah tidak marah lagi kepada dirinya. “Lagi.” “Ngelunjak ya,” gumam Ayriszya. “Maaf,” lirih Granat. Ayriszya pun mengangkat dagu dosen muda itu. Tiba-tiba saja dia mendaratkan kecupan didekat bibir Granat. Cup! “Udah ‘kan,” ucapnya. “Pulang sekarang.” “Terima kasih ya,” gumam Granat. “Jangan nangis lagi.” “Iya,” jawabnya dan berlalu pergi dari rumah itu. Granat sangat senang karena Ayriszya memaafkan dirinya atas apa yang telah ia lakukan. Sedangkan di dalam rumah, Ayriszya tersenyum ketika mengingat laki-laki itu menangis karena takut kehilangannya. Dia yakin, jika dosen tersebut layak di jadikan sebagai pasangan hidup. Walaupun begitu, Ayriszya masih belum bisa melupakan kejadian yang membuat dirinya malu karena ulah dosen itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN