Kenakalan Granat

1595 Kata
Pagi hari pun tiba, Ayriszya sudah bersiap-siap untuk pergi ke kampus. Seperti biasa sebelum dia berangkat. Dia akan terlebih dahulu memasak makanan supaya saat dia pulang nanti, dia tinggal makan dan tidak perlu memasak lagi. Karena Ayriszya Salsabila jenis perempuan yang tidak mau ribet. Gadis itu segera berangkat menuju halte yang tidak jauh dari rumahnya. Ayriszya sama sekali bukanlah anak manja. Jarak dari rumah dan kampusnya cukup jauh, namun ia lebih memilih untuk naik kendaraan umum dibandingkan harus menyetir. Sesampainya di kampus, Ayriszya tidak masuk ke dalam ruangan. Dia lebih memilih untuk duduk di kursi yang ada di lorong menuju ruangan sambil menunggu dosen. Lagi pula menunggu dosen di dalam ruangan adalah hal yang sangat membosankan. “Zya!” panggil seseorang. Kayra baru saja datang dan langsung menghampiri sahabatnya itu. “Kenapa nggak langsung masuk?” tanyanya. “Nanti aja. Lagian waktu masih panjang ‘kan.” “Muka lo jutek banget. Kayak nggak biasanya.” Ayriszya mengabaikan perkataan dari Kayra, suasana hatinya memang tidak baik-baik saja. “Gue nggak apa-apa.” Tidak lama setelah Kayra datang, kemudian Chika sampai di kampus. Gadis itu menghampiri kedua sahabatnya dan ikut bergabung duduk di sana. “Kalian ngapain di luar? Kenapa nggak masuk?” tanyanya. “Enggak tau juga ... Zya, maunya duduk di sini,” sahut Kayra. Mereka pun mengobrol di tempat itu sambil menunggu dosen masuk. Banyak obrolan yang mereka bicarakan. Mulai dari hal yang sedih hingga ke hal yang lucu. Tiba-tiba saja mata Ayriszya tertuju pada seseorang yang sedang berjalan melewati koridor. Pria itu menatap wajah Ayriszya dengan sangat tajam, hingga membuat Ayriszya menundukkan kepalanya. “Pak,” sapa kedua sahabat Ayriszya. “Iya ...,” balas Granat tersenyum kecil. Sedangkan Ayriszya tidak menyapa dosennya. Dia masih kesal dengan perilaku Granat yang memaksanya untuk menjadi kekasih pria itu. “Nggak sopan banget lo, Zya,” ucap Chika. Ayriszya menoleh. “Lo kenapa?” “Pak, Granat lewat lo malah diam aja.” “Nggak penting,” batin wanita itu. Ayriszya memutar bola mata malas, dia sama sekali tidak tertarik dengan obrolan yang menyangkut pria itu. Beberapa menit kemudian, mereka pun masuk ke dalam ruangan setelah mendapat notifikasi pesan Group w******p bahwa dosen akan segera tiba di ruangan mereka. [] [] [] Ayriszya adalah orang yang sangat giat dalam belajar. Tapi setelah dia mengenal Granat, pikirannya saat ini menjadi amburadul gara-gara dosen baru itu. “Kok gue nggak bisa fokus sih. Mana malah mikirin dia lagi.” Dua jam berselang, materi yang diberikan oleh dosen pun sudah cukup. “Baiklah semuanya, cukup sekian dulu materi kita. Nanti bertemu di lain waktu.” “Baik, Bu …,” jawab beberapa mahasiswa. Dosen itu segera keluar dari dalam ruangan dan di susul oleh mahasiswa lain. Karena mata kuliah pada hari itu hanya satu, maka mereka pun segera melakukan aktivitas masing-masing diluar kampus. “Nongkrong, yuk!” ajak Chika. “Ayo,” sahut Kayra penuh semangat. Mereka pun menghampiri Ayriszya yang sedang duduk didepan. Keduanya mengajak gadis itu untuk jalan-jalan sebelum pulang ke rumah masing-masing, seperti yang sering mereka lakukan bersama-sama. “Zya, jalan-jalan yuk,” ajak Chika. “Boleh. Lagian gue bosan di rumah,” ucap Ayriszya. Ketiga gadis itu segera pergi ke cafe yang tidak jauh dari kampus. Ketiganya memang selalu seperti itu, pulang dari kampus pasti mereka selalu meluangkan waktu untuk berjalan-jalan terlebih dahulu. Saat mereka sedang asik mengobrol, tiba-tiba ponsel Ayriszya berbunyi. Hanya sekilas Ayrszya menatap layar ponselnya, dia pun mengabaikan benda pipih itu. “Siapa, Zya? Kok nggak di angkat?” tanya Chika. Ayriszya tersenyum dan memasukkan ponselnya ke dalam tas. “Bukan siapa-siapa, gak penting.” Nomor baru itu terus saja menghubungi Ayriszya, dia tau jika nomor tersebut adalah nomor Granat Azeriyo. Karena itulah Ayrizsya tidak mau menjawab panggilan telepon dari laki-laki nakal itu. [] [] [] Sore hari pun tiba, Ayriszya baru pulang dari luar setelah berjalan-jalan dengan teman-temannya. Baru saja dia berbalik badan setelah beberapa detik sebelumnya menutup pintu, terdengar suara ketukan pintu dari arah luar. Tok! Tok! Tok! Ayriszya kembali berbalik badan. “Baru juga mau istirahat,” ucapnya dengan nada kesal. Gadis itu pun kembali membuka pintu rumahnya, dia kaget ketika dosen m***m itu sudah ada dihadapannya. Ayriszya buru-buru menutup pintu, namun Granat Azeriyo malah menahan pintu supaya tidak tertutup. “Ngapain lo ke sini?” tanya Ayriszya sambil mencoba untuk menutup pintu. “Buka sayang.” “Jawab gue.” “Buka, Ay. Saya mau masuk.” Ujar Granat. Terjadilah aksi saling dorong pintu antara mahasiswi dan dosen itu. Alhasil Granat bisa masuk ke dalam rumah Ayriszya. Seperti kemarin malam, Granat pun mengunci pintu tanpa memperdulikan sang pemiliknya akan marah. “Lo ngapain sih datang kesini?” Tanpa mengeluarkan sepatah kata, Granat mendekati Ayriszya, dia memeluk gadis itu dengan sangat erat. “Lepasin, Azer.” Ayriszya mencoba melepaskan diri dari pria itu karena dia sama sekali tidak nyaman dengan posisi mereka saat ini. “Lepasin.” “Sepertinya kamu bahagia sekali tadi.” Ucap Granat membuat Ayriszya bingung. “Maksud lo apa?” tanya Ayriszya. “Saya lihat tadi kamu tertawa dengan teman-teman mu. Sebahagia itu kamu tanpa saya?” tanyanya memandang Ayriszya. “Pak! Gue u-” “Ssst ... Saya sudah bilang, jangan panggil saya dengan sebutan itu,” ucap Granat setelah meletakkan jari telunjuknya di bibir Ayriszya. Gadis itu pun menepis tangan Granat. “Oke! Azer, gue udah bilang sebelumnya. Tanpa lo, gue juga bisa bahagia. Seharusnya lo nggak perlu menanyakan itu lagi,” jelas Ayriszya. “Saya tidak suka, Ay ... Saya mau kamu tertawa bahagia itu hanya karena saya. Tidak boleh karena orang lain.” “Azer! mereka itu teman-teman gue di kampus, bukan orang lain.” “Kamu lupa?” tanya Granat menatap wajah Ayriszya. “Apa?” “Saya ini pacar kamu.” “Pacar paksaan,” ketus Ayriszya. “Lepasin gue, Azer.” Granat pun melepaskan pelukannya pada tubuh mungil Ayriszya. Tiba-tiba saja Ayriszya kaget ketika laki-laki itu malah menggendongnya. “Turunin gue, Azer.” “Diam!” “Turunin gue!” perintah Ayriszya lagi. [] [] [] Dia terus saja memukul bagian tubuh Granat yang bisa ia pukuli. Ayriszya baru sadar bahwa mereka sudah berada didalam kamar saat dia merasakan bahwa tubuhnya dibaringkan oleh Granat di atas ranjang. “Lo mau apa?” tanya Ayriszya mulai panik saat menatap mata laki-laki itu. “Lo jangan macam-macam ya. Granat pun ikut naik ke atas kasur, dia mendekat kearah Ayriszya. Perlahan Ayriszya mundur ke belakang hingga dirinya bersandar di kasur. “Lo mau apa?” tanyanya lagi, Ayriszya semakin gugup menatap mata Granat. “Tebak. Apa yang akan saya lakukan dengan kamu di kamar ini.” “Gue mohon. Jangan, Azer.” “Saya pacar kamu, apa kamu tidak mau menawarkan sesuatu untuk saya?” tanya laki-laki itu. Sejenak Ayriszya terdiam. “Kalau lo mau gue tawarin sesuatu, kenapa harus bawa gue ke sini?” “Apa kamu tidak mau menawarkan sesuatu kepada saya? Saya ini pacar sekaligus tamu kamu.” Granat bertanya lagi dengan tatapan sendunya. “Oke ... Lo mau apa? Biar gue siapkan.” “Saya mau minum,” ucap Granat. “Haus,” lanjutnya. “Ya udah ... Awas dulu, biar gue ambilkan.” “Apa kamu tidak mau bertanya saya mau minum apa?” tanya Granat. Ayriszya menghembuskan napasnya dengan kasar. Dia sangat kesal dengan kelakuan pria itu. Sikap pria yang suka memaksa sangatlah mengganggu ketenangan bagi dirinya. “Bapak mau minum apa?” tanya Ayriszya. “Bapak lagi,” lirih Granat. “Azer mau minum apa?” tanya Ayriszya dan menampilkan senyum paksaan kepada pria itu. “Susu.” Granat mengucapkan satu kata itu sambil menoleh kearah bagian d**a Ayriszya. Seketika saja Ayriszya langsung mengambil bantal dan menutupi bagian dadanya. Dia pun menatap tajam kearah Granat dan menunjuk laki-laki itu. “Heh!” “Kenapa?” tanya Granat. “Lo jangan macam-macam ya,” ucap Ayriszya memperingati Granat Azeriyo. “Kenapa? Saya ‘kan cuma mau minta s**u. Kok malah dibilang macam-macam.” “Lo memang minta s**u. Tapi pandang lo kearah-” “Kearah mana?” tanya Granat semakin mendekati wajah Ayrizsya. Ayriszya segera mendorong tubuh laki-laki itu dengan sangat kuat. Dia pun segera melompat dari atas kasur. Dengan secepat kilat, Granat pun juga ikut turun dari atas ranjang dan langsung memeluk dirinya. “Ayriszya, saya sangat candu dengan wangi badan kamu. Saya mohon jangan jauh-jauh dari saya.” Granat menenggelamkan wajahnya pada leher jenjang Ayriszya. Gadis itu merasakan jika dosennya sedang mengecup lehernya. “Azer jangan seperti ini,” lirih Ayriszya. Berkali-kali Granat melakukan itu hingga Ayriszya memejamkan matanya. “Azer.” “Kenapa hm?” tanya Granat. “Enak?” “Geli,” lirih Ayriszya. “Mau minum s**u, sayang,” gumam Granat yang membuat Ayriszya kembali tersadar. Dia pun segera menjauh dari pria itu, hampir saja dia kehilangan kendali saat Granat Azeriyo memanjakan dirinya. Ayriszya menarik lengan Granat dan membawa pria itu keluar dari dalam sana. “Sekarang lo pulang. Kalau lo terus-terusan seperti ini. Gue akan pindah kampus.” Mendengar pengakuan Ayriszya, Granat membulatkan matanya. “Kamu nggak bercanda ‘kan sayang?” “Gue nggak bercanda. Gue benar-benar nggak nyaman dengan kelakuan lo.” “Sayang ... Saya minta maaf, saya tidak akan seperti ini lagi. Tolong maafin saya.” Granat meraih telapak tangan gadis itu dan menciumnya berkali-kali. “Pulang,” usir Ayriszya. “Ay.” “Pulang,” perintah Ayriszya lagi. Granat Azeriyo melepaskan tangan Ayriszya. Dia tidak mau jika wanita itu akan benar-benar pindah kampus. Bisa-bisa dia akan stress jika kehilangan gadis itu. Ayriszya sangat kesal kepada Granat, untung saja ancaman tadi bisa menakut-nakuti dosennya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN