Mendadak Jadian

1534 Kata
Malam hari pun tiba, setelah kejadian di kampus bersama dosennya, Ayriszya berniat ingin pindah Universitas. Pria itu sungguh membuat suasana hati Ayriszya tidak karuan. Tapi kalau dipikir-pikir akan rugi rasanya jika dia pindah hanya karena dosen nakal itu. Ayriszya Salsabila tinggal sendirian di rumah yang lumayan cukup besar. Sudah lama gadis ini tidak memiliki orang tua. Karena kedua orang tuanya telah meninggal dunia karena kecelakaan. Memiliki kekayaan yang berlimpah hasil peninggalan dari orang tuanya tidak membuat gadis itu sombong. Dia menyamaratakan semua orang, selagi orang itu tulus berteman dengan dirinya. Setelah ia selesai makan malam, Ayriszya pun segera duduk diruang depan untuk menyaksikan acara televisi. Gadis itu berbaring santai sambil menyantap cemilan ringan. Saat dia sedang asik menonton televisi, tiba-tiba ponselnya berdering. Drrrt! Drrrt! Drrrt! Awalnya gadis itu hanya melihat layar ponselnya dan tidak menjawab panggilan telepon itu karena ia merasa panggilan tersebut tidaklah penting. Tetapi benda pipih tersebut terus saja mengeluarkan bunyi suara tanda adanya panggilan masuk. Lagi-lagi nomor itu menghubunginya, nomor yang baru masuk mengganggu ketenangan Ayriszya saat sedang bersantai. “Siapa sih, ganggu orang santai aja,” ketusnya, ia segera menjawab telepon dari nomor baru tersebut. “Halo, siapa ya?” tanya Ayriszya. “Halo cantik. Ini saya dosen kesayangan kamu,” jawab seseorang yang terdengar dari seberang sana. Ayriszya Salsabila mengernyitkan keningnya setelah mendengar suara laki-laki yang berkata seperti itu. “Dosen kesayangan?” Detik berikutnya dia pun mengenali laki-laki yang menghubungi dirinya. “Dari mana lo dapat nomor gue?” “Kamu lupa? Kita ‘kan ada di dalam satu group yang sama.” Ayriszya mengepalkan tangannya. “Lo mau apa sih?” tanya Ayriszya yang mulai risih dengan perilaku pria itu. “Saya mau kamu,” jawab Granat tersenyum simpul. Ayriszya Salsabila memutar bola mata jengah. “Kalau gak ada yang penting. Lo nggak usah hubungi gue ... Gue lagi rebahan dan gue nggak mau diganggu.” “Kamu lagi rebahan? Saya ikut dong,” pinta Granat dari balik suara ponsel itu. “Najis!” lirih Ayriszya. “Saya ikut rebahan ya. Sebentar lagi saya datang.” Tuuut! Tuuut! Tuuut! Sambungan telepon terputus, Ayriszya benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan pria itu. Dia sama sekali tidak takut mendapatkan nilai jelek karena sudah mematikan panggilan telepon dari seorang dosen. “Sok-sokan mau datang, alamat rumah gue aja gak tau,” ucap Ayriszya. Tanpa memikirkan Granat lagi, gadis itu kembali meletakkan ponselnya. Lalu dia fokus pada layar televisi untuk menyaksikan program acara yang sedang berlangsung. Dia ingin menenangkan suasana hatinya setelah berinteraksi dengan Granat Azeriyo. [] [] [] Dilain tempat, Granat Azeriyo segera bersiap-siap untuk pergi ke rumah Ayriszya. Bukan Granat namanya jika sesuatu yang dia inginkan tidak tercapai. Laki-laki ini memang tipikal orang yang ambisius, dia akan berusaha keras ketika ingin mendapatkan sesuatu yang dia mau. Hanya hitungan detik saja, dia bisa tau di mana alamat rumah gadis incarannya. Granat langsung pergi ke rumah Ayriszya dengan mengendarai mobilnya. Laki-laki itu sudah tergila-gila kepada mahasiswinya sendiri, padahal dia dan perempuan itu baru saja bertemu. Selama diperjalanan, Granat Azeriyo senyum-senyum sendiri membayangkan Ayriszya Salsabila. Dosen muda ini sudah memiliki rencana akan melamar anak didiknya tersebut. Cukup lama di perjalanan, akhirnya Granat sampai ditempat Ayriszya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, dia langsung mengetuk pintu rumah itu. Tok! Tok! Tok! Ayriszya yang masih berbaring di sofa langsung beranjak dari tempat duduknya ketika mendengar suara ketukan pintu. “Siapa sih datang malam-malam,” ucapnya. “Orang pengen istirahat.” Gadis itu sudah menggenggam gagang pintu, namun ia teringat jika Granat mengatakan bahwa akan datang kerumahnya. “Dia.” “Tapi nggak mungkinlah. Dia ‘kan nggak tau rumah gue.” Ceklek! Pintu terbuka, betapa kagetnya Ayriszya saat melihat seorang pria sedang berdiri didepan rumahnya. Ternyata apa baru saja dia pikirkan benar nyata, sekarang Granat Azeriyo sudah berdiri didepannya. “Bapak!” Ayriszya segera kembali menutup pintu, namun laki-laki itu tidak tinggal diam. Granat mencoba untuk membuka pintu hingga terjadilah aksi dorong-dorongan pintu antara mahasiswi dan dosennya. Namun semuanya sia-sia, Ayriszya kalah dan Granat berhasil masuk ke dalam. “Bapak ngapain di sini?” tanyanya. “Bapak dapat alamat saya dari mana?” “Ayriszya ... Kenapa masih menyebut saya dengan panggilan itu, sayang. Bukankah kamu sudah memberikan saya nama yang sangat bagus.” “Lebih baik lo keluar dari rumah gue.” “Kamu mengusir saya?” tanya Granat. “Iya, gue mengusir lo!” Laki-laki itu segera berbalik badan membuat Ayriszya merasa tenang. Namun Granat tidak keluar, bahkan sebaliknya, dia bukan membuka pintu melainkan untuk mengunci pintu rumah itu. “Kok di kunci?” Ayriszya mulai takut. Pria itu tersenyum miring memandang Ayriszya, sialnya lagi Ayriszya malah terpesona dengan senyuman Granat. Perlahan dia melangkah menghampiri gadis itu, sedangkan Ayriszya memundurkan langkahnya ketika Granat semakin mendekati dirinya. “Bapak mau apa?” Tidak ada jawaban dari Granat, dia tersenyum simpul menatap gadis pujaannya itu. Granat terus melangkah maju mendekati Ayriszya. “Bapak jangan macam-macam ya!” Ayriszya mulai tidak sopan karena menunjuk pria itu. “Saya mau kamu. Saya mau temani kamu rebahan,” ucap Granat mencoba untuk meraih lengan Ayriszya. Saat Ayriszya mundur ke belakang, dia hampir terjatuh. Untung saja dengan gerakan cepat laki-laki itu merangkul pinggangnya. “Kamu kenapa, Ay?” tanyanya. “Saya cuma ingin bertamu. Saya tidak akan ngapa-ngapain kamu sebelum waktunya.” “Sebelum waktunya,” batin Ayriszya. Dengan susah payah Ayriszya mencoba menahan diri agar tidak terlihat panik saat berhadapan dengan Granat. Dia sampai tidak sadar jika saat ini ia meletakkan kedua tangannya di bahu pria itu. “Terus Bapak mau ngapain ke sini?” “Saya sudah bilang ‘kan. Saya tidak suka dengan sebutan itu,” ungkap Granat. “Bisakah kamu memanggil saya dengan sebutan manja?” Ayriszya mengernyitkan dahinya, ia tidak tau maksud dari perkataan lelaki “Apa kamu tidak mengerti juga?” Ayriszya menggelengkan kepalanya, Granat mencoba memperbaiki posisi mereka saat ini. Sekarang dia sedang berhadapan dengan gadis itu. Posisi mereka sangat dekat, sehingga keduanya bisa mencium aroma parfum yang mempunyai ciri khas wangi tersendiri. “Menikahlah dengan saya, Ay ... Saya pastikan kamu akan bahagia.” Gadis itu memandang ke sembarang arah. Tatapan laki-laki itu sangatlah memabukkan. Dia takut bahwa bukan Granat yang akan khilaf, melainkan dirinya sendiri. “Bapak belum jawab pertanyaan saya,” ucap gadis itu lagi. “Dan satu lagi, tanpa bapak saya sudah bahagia kok.” “Jangan panggil saya dengan sebutan itu. Apa kamu tuli?” tanya Granat menaikkan sebelah alisnya. “Lepasin.” Ayriszya mencoba untuk melepaskan pelukan Granat pada tubuhnya. Namun dosen itu tidak mau melepaskan. Bahkan Granat semakin mendekap tubuh Ayriszya. “Saya hanya memeluk kamu. Kenapa kamu terlihat tidak nyaman?” “Bapak bilang peluk?” Tanya Ayriszya sambil mengernyitkan dahinya. “Ya!” “Bapak bukan meluk, tapi nafsu.” Granat mendekatkan wajahnya kearah wajah gadis itu. “Memangnya salah, saya nafsu kepada perempuan?” Ayriszya mulai kesal dengan Granat. Apalagi tatapan dosennya itu terlihat sangat nakal. “Cukup ... Gue nggak mau dengar itu. Cepat lo jawab, apa maksud tujuan lo datang ke rumah gue?” “Kangen ... Dan pastinya saya mau temani kamu untuk rebahan lagi. Ayo!” ajaknya. Ayriszya mengernyitkan dahinya, bagaimana bisa dosen itu merindukan dirinya, sedangkan mereka baru saja bertemu beberapa jam yang lalu. Sungguh aneh bukan? “Saya sudah menjawab pertanyaan kamu. Sekarang giliran kamu yang menjawab pertanyaan dari saya.” “Pertanyaan yang mana?” tanya Ayriszya. Granat tersenyum sambil membelai wajah Ayriszya dengan sangat lembut. “Maukah kamu menjadi istri saya, Ayriszya?” Gadis itu merinding, saat tangan Granat yang memiliki bulu-bulu halus menyapu bagian pipinya. Dia mencoba untuk melepaskan diri, namun dosen itu tidak membiarkan aksinya. “Lepas, iiih.” “Jadilah istri saya, Ay,” ucap Granat lagi. “Gue nggak mau,” tolak Ayriszya mentah-mentah. “Kamu tau, sayang ... Saya sangat terobsesi dengan sesuatu yang saya impikan,” ungkap Granat. Laki-laki itu melepaskan pelukannya pada tubuh Ayriszya. Dia pun berjalan menuju kearah sofa. “Bagaimana pun caranya, saya harus mendapatkan sesuatu yang saya inginkan.” Granat duduk di sofa dan menatap wajah Ayriszya. “Kalau kamu tidak mau menjadi istri saya ... Saya pastikan malam ini kamu akan menjadi milik saya seutuhnya,” ancam Granat. Ayriszya membulatkan matanya. Dia merasa takut dengan perkataan laki-laki itu. Apa lagi tatapan Granat yang begitu tajam kepadanya. Ketika Granat beranjak dari duduknya, secara spontan Ayriszya berkata. “Oke-oke ... Jangan macam-macam sama gue! Gue akan jadi pacar lo. Tapi bukan istri.” Lagi-lagi Ayriszya merasa lemas saat melihat senyuman manis dari dosennya. “Iman ku runtuh gara-gara laki-laki ini,” batinnya. “Saya sangat suka dengan jawaban kamu,” ucap Granat yang sekarang berdiri di hadapan Ayriszya. “Mulai malam ini kamu resmi jadi kekasih saya ... Saya peringatkan sekali lagi, panggilan kamu kepada saya harus di ubah. Saya permisi, sayang,” ucapnya dan segera keluar dari rumah itu. Ayriszya terpaksa menyetujui permintaan dosennya. Dia takut jika laki-laki itu akan nekat melakukan hal aneh kepadanya.. Apa lagi dia hanya tinggal sendirian di rumah tersebut. Setelah Granat pergi dari rumah Ayriszya, gadis itu segera menutup dan bahkan langsung mengunci pintu rumahnya. Rasa khawatirnya yang tadi memuncak kini sedikit lebih lega karena pria itu telah pergi. Namun tetap saja rasa kesal itu masih bersarang dalam hatinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN