Part 11

1019 Kata
"Hmm... Gak tau kenapa gw merasa suka dengannya tapi disisi lain gw gak melukai hati kakak gw dia udah terlalu baik sama gw" "Tapi nai gak akan lama semua pasti terbongkar emangnya lu mau kalo kak Hani sampai tau dari mulut orang lain kalo kalian saling menyukai" "Kalo gw bilang semuanya ke kakak gw pasti dia bakal marah sya hiks..hiks..." lirih Naila sahabatnya hanya bisa menenangkan Naila dia tidak bisa berbuat apa-apa karena ini masalah rumah tangganya "Gw cuma ngasih saran sama lu cepat kasih tau ke kakak lu jangan sampai dia tau dari mulut orang lain" nasihat Tasya dengan memeluk sahabatnya tangannya pun mengusap punggung Naila "Udah gak usah nangis lagi mending kita nonton film mau gak" ajak Tasya agar Naila tidak sedih lagi dan melepaskan pelukannya "Mau film apa" tanya Naila yang melihat Tasya sedang mengambil kaset dan memilih film romantis nya "Mau film ini gak romantis loh" jawab Tasya dengan memberikan kasetnya ke Naila dia pun mengangguk kemudian Tasya memasuki kasetnya ke dalam CD dan kami pun menontonnya "Gak seru ya kalo gak ada cemilan" sindir Naila "Oh jadi ceritanya lu nyindir gw buat ambilin cemilan nya ok tunggu dulu yah gw mau ngambil dulu" Tasya yang tersindir pin bicara dengannya Naila hanya cengengesan lalu Tasya mengambil cemilan setelah itu kembali lagi ke tempat tadi "Kezel deh cewenya mau aja terima cowo itu padahal kan cowo itu udah nyakitin dia" Tasya mengoceh sendiri sambil memakan cemilannya dia gedek dengan cewenya yang mau Nerima kembali "Tau yah mau aja deh kalo gw jadi dia udah gw tinggalin dia walaupun gw masih cinta sama dia" Naila pun ikut berkomentar dengan adegan film yang mereka tonton "Nai kalo seumpamanya Raihan udah nyakitin lu apa lu mau Nerima dia kembali" tanya Tasya yang penasaran dengan tanggapan Naila "Entah mungkin gw bakal tinggalin dia kalo dia buat gw kecewa" jawab Naila dengan bingung kemudian melanjutkan nonton filmnya "Kalo ada masalah bicara baik-baik jangan sampai menyesal kemudian hari" nasihat Tasya kepada sahabatnya itu mereka pun asyik dengan filmnya sampai-sampai mereka lupa kalo ini sudah malam Naila langsung melihat ke arah jam tangannya yang melingkar ditangannya yang sudah menunjukkan pukul 9 malam dia melihat ke arah handphonenya yang berbunyi pertanda kalo suaminya menelponnya Naila cuma takut suaminya marah kepadanya "Saya gimana ini suami gw nelpon gw lupa kalo ini udah jam 9 malam gimana ini" Naila bingung harus angkat telpon dari suaminya atau gak dua takut suaminya marah-marah "Mending lu angkat deh dari pada suami lu khawatir" saran Tasya kemudian Naila menekan tombol hijau dan terdengarlah suara suaminya yang seperti sedang marah "lagi dimana" tanya Raihan dengan datar di telponnya gak biasanya dia begitu biasanya dia mengungkapkan salam terlebih dahulu tapi ini aneh mungkin dia sedang marah "Di..ii... Ru..ummahh Tasya mas" naila merasa ketakutan mendengar jika suaminya sedang marah-marah "Kenapa malam-malam gini belum pulang saya khawatir sama kamu tau gak dari tadi saya telpon kamu gak angkat-angkat Kao terjadi apa-apa sama kamu gimana hah" marah Raihan dengan nada dingin "Maaf mas tadi aku lagi nonton film jadi gak tau kalo mas nelpon" lirih Naila "Alamat rumahnya dimana" tanya Raihan "Di jalan mekar jaya mas" jawab Naila "Tunggu situ jangan kemana-mana" pesan Raihan di bersiap-siap untuk menjemput Naila "Tapi mas aku bisa pulang sendiri kok" bantah Naila "Jangan bantah saya" kemudian memutuskan telponnya dan berangkat ke rumah Tasya untuk menjemput istri kecilnya "Gimana dia marah gak sama lu" tanya Tasya yang melihat Naila seperti ketakutan "Gw juga gak tau tapi tadi dia bicaranya kaya marah gitu biasanya dia kalo nelpon ucap salam dulu tapi ini gak" ujar Naila "Bagus deh dia jemput lu jadi gw gak usah nganterin lu deh kalo gw nganterin lu ngabisin bensin tau" Naila hanya terkekeh mendengar sahabatnya meledeknya "Ihh jahat amat sih lu jadi sahabat perhitungan deh" Tasya pun terkekeh padahal dia hanya bercanda saja mana mungkin dia perhitungan sama sahabat kesayangannya itu tidak berapa lama ada suara ketukan pintu Naila pikir mungkin itu suaminya tenyata benar itu suaminya "Sya kayanya ada yang ngetuk pintu deh" kata Naila   "Mungkin itu suami lu ayo kita ke samperin" ucap Tasya kemudian kami pun membukakan pintu rumah Tasya dan terlihat lah ada Raihan yang sepertinya sedang marah dari raut wajahnya "Ayo kita pulang" Raihan menarik pergelangan tangan Naila dengan kuat sampai memerah "Makasih tas atas tumpangannya gw pamit dulu" teriak Naila yang ditarik tangannya oleh suaminya Tasya hanya mengangguk dia berdoa semoga dia sahabatnya tidak dimarahi oleh suaminya "Awhh sakit mas pelan-pelan dong" rintihan Naila kemudian Raihan mendorong Naila untuk masuk ke dalam mobilnya dengan kasar lalu berjalan memutari mobilnya untuk masuk ke dalam mobil duduk di kursi pengemudi "Sakit tau mas tangan ku jadi merah kan" Naila hanya merintih kesakitan sembari mengusap tangannya yang ditarik oleh suaminya itu Raihan tidak menanggapi perkataan istrinya "Saya gak suka kamu pergi pulang malam" omel Raihan sambil menyetir mobilnya dengan kecepatan tinggi "Pelan-pelan dong mas bawa mobilnya" Naila ketakutan melihat Raihan mengendarai dengan kecepatan tinggi hampir saja dia mau nabrak untung dia mengerem mendadak alhasil nya Naila kejedot kepalanya "Awhh sakit" sembari memegang kepalanya Raihan yang melihat itu pun langsung khawatir Raihan memberhentikan mobilnya dipinggir jalan lalu mendekati Naila "Nai kamu gapapa kan mana yang sakit" Raihan mengusap kepala Naila dengan lembut lalu menciumnya "Kok dicium sih" perotes Naila yang melihat Raihan mencium kepala nya "Biar gak sakit lagi" "Aneh banget orang mah diobatin kek ini malah dicium sok romantis banget sih" ocehan Naila "Gak usah bawel nai" Raihan mengusap kepala Naila dengan tangannya "Masih sakit gak" Naila hanya menatap mata Raihan kemudian kami saling menatap hidung kami pun bersentuhan Naila menjauhkan wajahnya dari suaminya itu Deg-degan "Kenapa deg-degan sih gak gw gak boleh jatuh cinta sama dia ingat lu menikah cuma karena anak nai" gumam Naila dengan menundukkan kepalanya "Maaf" lirih Raihan kemudian dia melanjutkan perjalanan yang tertunda tadi Sampai dirumah Naila melihat kakaknya sudah menunggu didepan rumahnya kemudian menghampiri Naila dan Raihan yang turun dari mobilnya "Kamu kemana aja dik kakak khawatir sama kamu tau" ujar Hanifah yang khawatir dengan adiknya sambil memeluk adiknya itu "Aku gapapa kok kak tadi aku ke rumah teman dulu sehabis pulang kuliah aku langsung ke rumah teman"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN