Part 12

1029 Kata
"Kenapa gak bilang sama kakak dulu sih" omel Hanifah "Aku udah izin kok sama mas Raihan" kataku "Kapan? Mas Raihan gak bilang ke kakak loh" Hanifah langsung menatap suaminya yang hanya cengir dia lupa mengasih tahunya ke istrinya "Maaf aku lupa sayang hehe" Raihan hanya cengengesan yang ditatap oleh Hanifah "Lain kali bilang ke aku kalo ada apa-apa jadi aku gak usah khawatir deh" omel Hanifah dengan suaminya "Udah yuk masuk gak baik angin malam di luar" ajak Raihan kemudian kami masuk ke dalam Raihan yang ingin masuk ke dalam kamar Hani dicegah olehnya "Malam ini kamu tidur di kamar Naila yah" perintah Hanifah Raihan hanya mengerutkan keningnya menandakan bahwa artinya kenapa harus tidur dikamar naila padahal malam ini jatah Hanifah "Kenapa bukannya malam ini jatah kamu" protes Raihan Naila pun dibuat bingung oleh kakaknya "Malam ini kalian harus melakukan hubungan suami-istri biar cepat-cepat punya anak deh" ujar Hanifah "Kenapa begitu Han kita kan bisa kapan-kapan aja gak malam ini" kata Raihan "Mas aku itu udah gak sabar pengen gendong bayi aku pengen kaya teman-teman ku mereka sudah pada punya anak mas" lirih Hanifah "Tapi sayang kami tidak saling mencintai" kata Raihan dengan mengusap kepala Hanifah "Tidak mencintai tadi dikampus kamu bilang mencintai aku mas kenapa sekarang kamu malah bilang bergitu sama kak hani" gumam Naila dengan tersenyum kecut "Bagus dong kalo kamu gak menyukai Naila jadi setelah anak itu lahir jadi gampang untuk bercerai" ujar Hanifah dengan tersenyum "Jadi salah ngomong deh padahal cuma buat Hani percaya malah jadi suruh berpisah deh harus gimana lagi ini cara ngomongnya" gumam Raihan dia melihat wajah Naila yang sedih "Hmm aku langsung ke kamar yah kak aku cape mau istirahat" ujar Naila kemudian masuk ke kamarnya "Udah sana mas masuk" Hanifah mendorong tubuh Raihan untuk masuk ke dalam kamar Naila kemudian dia menurutinya dia melihat Naila yang menundukkan kepalanya dan terduduk di pinggir ranjang mungkin dia masih memikirkan perkataan Raihan tadi "Nai kamu kenapa" Raihan duduk disamping Naila dan memegang bahunya "Jadi kamu bohong kalo sebenarnya kamu gak mencintai aku" ujar Naila "Nai aku bilang seperti itu agar hni percaya nai bukannya kamu bilang janagn beritahu Hani dulu kan" Raihan menaikkan alisnya dia bingung harus bicara apa lagi "Iya aku tau" "Kamu harus percaya sama aku kalo aku mencintai kamu" Raihan memeluk Naila dan mencium kepalanya "Mas kamu mau kan menurutu perintah kak Hani untuk mempunyai anak" tanya Naila "Aku gak bisa melakukan itu nai kalo kita punya anak nanti kita bakal disuruh Hani untuk cerai nai aku gak mau kehilangan kamu nai" jawab Raihan "Tapi mas kita harus melakukannya jangan buat kak Hani kecewa please bantu aku untuk membahagiakan kakakku aku gak mau buat dia bersedih" mohon Naila lalu Raihan mengangguk Naila langsung memeluk suaminya "Makasih mas" "Kita sholat sunah dulu yuk" ajak Raihan kemudian setelah sholat kamu melakukan hubungan suami-istri Apa boleh aku cemburu dengan kakakku sendiri -Naila Esok harinya... Raihan terbangun dari tidurnya dia melihat Naila yang masih terlelap tadinya dia bangunin istrinya untuk sholat shubuh bareng tapi lihat keadaan nya seperti nya Naila kelelahan karena semalam Lalu Raihan beranjak menuju kamar mandi untuk bersihbersih setelah itu dia sholat kemudian membaca Al-Qur'an lalu dia keluar dari kamarnya untuk sarapan dia melihat Hanifah yang kerepotan memasaknya Raihan pun membantunya "Mas kamu ngapain ke sini" tanya Hanifah yang sedang memasak "Aku mau bantu kamu kayaknya kamu kerepotan aku bantu yah" lalu Hani mengangguk "Naila kemana mas gak biasanya dia belum bangun" kata Hanifah sambil memasak "Mas gak tega banguninnya kayaknya dia kelelahan jadi mas biarkan di istirahat saja deh" ucap Raihan "Mas udah melakukan itu dengan Naila" tanya Hanifah "Sudah" jawab Raihan sembari membantu Hanifah masak "Syukur deh semoga naila cepat isi yah" Raihan hanya mengangguk saja "Mas cobain deh enak gak masakkan ku" Raihan pun mendekati Hanifah yang sudah berada di belakang Hani "Gimana mas enak gak" Hanifah menyuapi sendok itu ke dalam mulut Raihan alhasil kami saling dekat tanpa ada jarak Naila melihat keromantisan mereka berdua di dapur dia iri dengan Hanifah Karena Raihan menyayanginya "Coba gw berada diposisi kak Hani pasti bahagia" gumam Naila yang melihat keromantisan mereka berdua dengan raut wajah sedihnya "Gw gak boleh ngerebut kebahagian kak hani" batin Naila mereka menyadari kedatangan naila yang dibelakangnya "Nai sini" ajak Hanifah untuk bergabung naila pun mendekati mereka berdua "Kamu udah bangun nai" tanya Hanifah "Udah kak kakak lagi apa" jawab Naila sambil melihat Hanifah sibuk dengan pekerjaannya "Kamu gak liat nai kakak kamu lagi masak" sindir Raihan "Saya tau saya cuma basa-basi aja" sindir balik Naila "Kak aku bantu bawain masakannya di taruh dimeja yah" Hanifah pun mengangguk dan Naila membawa masakannya ke meja makan Raihan mengikuti Naila dari belakangnya Naila menyadari jika suaminya mengikutinya "Kamu ngapain ngikutin saya" tanya Naila yang merasa diiikuti dari belakangnya "Kenapa gak boleh ikuti istri saya kamu kok ngomongnya saya sih biasanya kan aku" "Seterah saya" "Kamu kenapa? Apa kamu cemburu melihat kemesraan saya dengan Hani" tanya Raihan sambil mendekatkan Naila yang berada disamping meja makan "Gak ngapain saya cemburu kak Hani juga kan istri bapak" jawab Naila dengan santuyy nya "Bapak? Saya gak suka yah kamu panggil saya bapak kamu tau kan hukumannya apa jika kamu panggil saya bapak" Raihan mendekati Naila hampir tidak ada jarak lagi lalu Naila mundur langkahnya tapi Raihan terus melangkah Naila tidka bisa lagi mundur karena sudah mentok ke tembok baru saja Raihan ingin mencium Naila tapi Hani memanggil mereka berdua "Mas nai sini kita makan yuk" ajak Hani kemudian mereka pun menghampiri Hani untuk makan bersama-sama Naila duduk didepan mereka berdua dia iri dengan keromantisan nya itu "Mas aku mau suapin" manja Hanifah agar di manjakan oleh suaminya itu lalu Raihan pun menyuapi istinya sedangkan Naila hanya melihat saja Raihan yang menatap Naila dia mengalihkan pandangannya dari Raihan "Kamu mau disuapi juga nai" tanya Raihan yang menatap Naila sedikit menggodanya "Gak" jawab dengan datar Naila kembali melanjutkan makannya "mas hari ini kan kamu libur kerja kamu mau gak nganterin aku belanja bulanan soalnya bahan-bahan masakannya udah pada habis" jelas Hanifah "Aku pasti nganterin kamu kok apa sih yang enggak buat kamu" Raihan mencubit hidung Hanifah dengan gemas Naila makin gak suka melihat kemesraan mereka berdua menurut dia keliatan lebay padahal dia yang cemburu
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN