Harga Sebuah Nasib
"Bu... Aku tidak mau..."
Raungan pilu Isabella memecah keheningan malam di dalam rumah besar itu. Suaranya bergetar, bercampur dengan air mata yang tak henti menetes, saat ibunya sendiri menyuruhnya untuk mengikuti sekelompok pria berbadan besar yang berwajah sangar dan mengancam.
"Ikut saja, Isabella! Sekali-kali tunjukkanlah baktimu sebagai anak!" balas Sekar, ibu tirinya, dengan nada bicara yang tak kalah menusuk dan dingin. Suara wanita itu seolah mengoyak setiap sisa harapan yang masih tersisa di d**a Isabella.
Gadis itu menatap wanita yang seharusnya menjadi pelindung dan tempatnya bersandar. Bola matanya membelalak penuh air mata, memohon dengan sangat.
"Bu, kumohon... Jangan lakukan ini padaku..." pinta Isabella tersedu. "Aku janji akan bekerja lebih keras lagi, akan kugenggam setiap remah rezeki, akan kucari uang sebanyak apa pun yang Ibu butuhkan. Tapi jangan serahkan aku pada mereka..."
Sekar sama sekali mengabaikan rengekan dan permohonan itu. Telinganya seolah telah tuli tertutup rapat oleh nafsu duniawi dan keinginan untuk lepas dari masalah. Sebaliknya, seulas senyum licik dan puas justru merekah di bibirnya saat jemarinya merobek dan membuka amplop cokelat tebal yang baru saja diserahkan oleh salah satu pria berpakaian serba hitam itu.
Kilatan kepuasan yang luar biasa terpancar jelas dari manik matanya, seolah wanita itu baru saja memenangkan hadiah terbesar dalam hidupnya.
"Senang berbisnis dengan Anda, Tuan," ucap Sekar dengan nada manis namun dingin, tanpa rasa bersalah sedikit pun. Ia menatap Isabella sekilas, namun sorot matanya begitu tajam dan tajam, seolah gadis di hadapannya ini bukanlah anak, melainkan barang dagangan yang sudah laku terjual. "Bawa saja anak sialan ini pergi dari hadapanku!"
Tubuh Isabella gemetar hebat hingga ke ujung kakinya. Keringat dingin mulai membanjiri pelipis dan punggungnya, sementara jantungnya berpacu begitu cepat seolah ingin melompat keluar dari rongga d**a. Ia sadar betul, malam ini adalah akhir dari segalanya. Tirai kehidupan yang selama ini ia perjuangkan sekuat tenaga, kini akan tertutup selamanya.
Pandangannya menyapu sekeliling, ke kiri dan ke kanan, mencari celah sekecil apa pun, mencari secercah harapan yang mungkin masih tersisa untuk melarikan diri dari cengkeraman takdir yang kejam ini.
Tangannya dicengkeram begitu kuat oleh dua pria kekar, membatasi setiap gerak-geriknya. Rasa sakit terasa hingga ke tulang, namun di balik ketakutan itu, nyala api perlawanan di dalam hatinya belum padam. Ia tidak akan menyerah begitu saja.
Mengumpulkan segenap sisa kekuatan dan keberaniannya, Isabella mengangkat kakinya tinggi-tinggi, lalu dengan sekuat tenaga menginjakkan tumit high heels yang runcing dan keras itu tepat di atas punggung kaki salah satu pria yang memegangnya.
"Awwww... Sialan!"
Rintihan kesakitan yang keras keluar dari bibir pria berbadan besar itu. Cengkeraman tangannya melemah dan terlepas seketika, memberi Isabella celah dan peluang emas yang ia tunggu-tunggu.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Isabella berlari sekuat tenaga. Ia meninggalkan rumah megah peninggalan ayahnya—tempat yang dulu penuh kasih sayang, namun kini berubah menjadi neraka dan penjara yang mengerikan.
Air mata mengalir deras membasahi pipi pucatnya, berjatuhan seiring napasnya yang terengah-engah. Setiap embusan udara yang ia hirup terasa begitu pahit dan menyesakkan d**a.
"Kejar dia! Tangkap gadis itu!" teriak salah satu pria berkepala botak dengan suara menggelegar, memerintahkan rekan-rekannya untuk mengejar.
Isabella sadar, sepatu yang ia kenakan kini justru menjadi belenggu yang memperlambat larinya. Tanpa ragu, ia melepaskan kedua sepatu itu dan melemparkannya sembarangan. Ia terus berlari di atas aspal jalanan tanpa alas kaki. Telapak kakinya mulai terasa perih dan terluka, kulitnya melepuh dan berdarah akibat tergores kerikil-kerikil tajam yang ia lewati, namun rasa sakit fisik itu kalah jauh dibandingkan rasa sakit di hatinya. Setiap langkahnya adalah siksaan, namun ia terus memaksakan diri.
"Tuhannnn... Tolong aku... Selamatkan aku..." jerit hatinya, meratap dalam bisikan doa yang penuh keputusasaan.
Ia terus berlari, menjauhi kegelapan dan bayang-bayang maut yang mengejarnya dari belakang. Sesekali ia menoleh ke belakang, melihat siluet hitam para pengejar yang berjalan cepat dan tak kenal lelah.
Namun, takdir seolah masih memberinya kesempatan.
Tiba-tiba, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam mengkilap melintas dan berhenti tepat di tengah jalan, memotong jalannya dan menghalangi pandangan para pengejarnya. Seolah-olah semesta sengaja mempertemukan mereka saat itu juga.
Isabella dengan cepat mengubah arah larinya menuju bagian belakang mobil itu. Ia menggedor-gedor kaca jendela yang gelap itu dengan kepalan tangannya yang sudah merah dan lecet. Matanya menatap ke dalam, berharap ada belas kasihan, ada secercah uluran tangan yang akan menyelamatkannya.
"Tuannnn... Tolong aku... Kumohon buka pintunya!" teriakan Isabella pecah dan histeris, membelah keheningan malam yang dingin.
Di dalam mobil yang mewah dan hangat itu, duduk seorang pria muda yang sangat tampan namun berwajah angkuh dan dingin. Sepasang kacamata hitam bertengger manis di atas hidung mancungnya. Ia hanya duduk diam, menatap gadis yang memohon di balik kaca itu dengan tatapan tak berkedip, tanpa niat sedikit pun untuk menyuruh pengemudi membukakan pintu.
Pria itu terpaku. Ia terpesona. Di balik wajah yang penuh ketakutan dan air mata itu, ia melihat keindahan yang tragis, keindahan yang memikat naluri berkuasanya. Sosok Isabella yang kacau, berantakan, namun tetap memesona, seketika menarik seluruh perhatiannya.
"Tuan Alexander, sebaiknya kita segera pergi," ucap Sebastian, asisten pribadinya yang duduk di kursi depan, dengan nada khawatir. Ia mencoba mengingatkan tuannya pada realitas yang terjadi di luar sana.
Namun, Alexander sama sekali tidak bergeming. Ia masih terpaku menatap gadis itu.
"Tunggu sebentar..." jawab Alexander lirih, suaranya berat dan rendah. Pandangannya tak lepas dari sosok Isabella yang kini terlihat begitu rapuh namun berani.
Di detik itulah, Alexander Sterling memutuskan sesuatu yang akan mengubah seluruh hidup Isabella selamanya. Ia tidak tahu siapa gadis itu, dan ia tidak peduli apa masalahnya. Yang ia tahu hanyalah satu hal : gadis itu akan menjadi miliknya.
Isabella tak henti memohon. Suaranya semakin parau, tangannya terus menggedor kaca yang dingin dan tebal itu, seolah berharap dinding pemisah antara harapan dan keputusasaan itu bisa runtuh. Namun, pintu mobil itu tetap tertutup rapat.
Hingga akhirnya, langkah kaki berat terdengar mendekat. Para pria yang mengejarnya tadi telah tiba. Dengan kasar dan beringas, mereka mencengkeram erat kedua pergelangan tangan Isabella, menariknya mundur paksa dari samping mobil mewah itu. Kekuatan mereka terlalu besar baginya; tak ada lagi sisa tenaga untuk melawan, tak ada lagi celah untuk lari.
Isabella pun pasrah. Ia terdiam mematung, wajahnya masih terpaku menatap pantulan dirinya di kaca mobil gelap itu. Matanya yang basah dan sayu menembus kaca, menatap lurus ke arah sosok Alexander yang duduk tenang di dalam. Sorot matanya penuh harapan yang perlahan namun pasti meredup, berubah menjadi keputusasaan yang kelam. Ia menunggu, berharap pria itu akan turun, akan berteriak, akan menyelamatkannya. Namun, tak ada apa-apa.
Di dalam mobil, Alexander hendak meraih gagang pintu, niatnya untuk keluar begitu kuat mendesak d**a. Namun, Sebastian, asisten pribadinya yang setia, segera menahan lengan tuannya itu dengan tegas namun sopan.
"Jangan, Tuan. Mohon jangan campur tangan," nasihat Sebastian dengan nada rendah namun serius. "Ini bukan urusan Anda. Dan lagi, malam ini kita harus menghadiri acara pelelangan yang sangat penting, kehadiran Anda sangat dinanti-nantikan. Jangan biarkan hal remeh ini mengganggu rencana besar kita."
Alexander menghela napas panjang, napas yang berat dan penuh keraguan. Ia menatap punggung Isabella yang perlahan dibawa menjauh, lalu perlahan mengurungkan niatnya. Ia kembali bersandar di kursi kulitnya yang empuk, namun entah mengapa, bayangan wajah gadis yang memohon pertolongan itu, dengan air mata yang membasahi pipi dan tatapan yang penuh luka, terukir begitu dalam di benaknya, terus mengusik ketenangan jiwanya.
Mesin mobil itu kembali menderu dan melaju kencang, meninggalkan Isabella yang kembali terperangkap dalam cengkeraman kegelapan malam.
Isabella kembali dibawa masuk ke dalam rumahnya sendiri—tempat yang dulu ia sebut surga bersama ayahnya, namun kini berubah menjadi neraka yang mengerikan. Tiga pria bertubuh kekar menyeretnya masuk, lalu dengan kasar sekali menghempaskan tubuh ringkih gadis itu ke lantai keramik yang dingin dan keras. Tak ada sedikit pun kelembutan dalam gerak-gerik mereka, yang ada hanyalah kekejaman dan ketidakpedulian.
Sekar, ibu tirinya, bangkit dari duduknya dengan wajah yang memerah menahan amarah. Ia berjalan mendekati Isabella yang terguling lemah, lalu tanpa amarah melayangkan tamparan keras yang sangat kuat.
PLAKKKKK...!!
Suara tepukan tangan bertemu kulit itu menggema nyaring di seluruh ruangan, menusuk telinga siapa pun yang mendengarnya. Pipi Isabella seketika memerah dan terasa perih membakar.
"Berani sekali kau mencoba kabur! Dasar anak tak tahu diri, anak pembawa sial!" teriak Sekar histeris, matanya melotot penuh kebencian.
"Sudah, berhenti..." suara berat pria yang tadi menyerahkan amplop itu terdengar, memotong kemarahan Sekar. Ia melangkah mendekat, menatap wajah Isabella yang memerah. "Kau bisa merusak penampilan dan harga jual barang dagangan ini jika terus-menerus menyiksanya. Kami menginginkan dia dalam keadaan utuh, bukan rusak begini."
Pria itu memberi isyarat pada anak buahnya. "Ayo kita pergi. Urusan kita selesai, uang sudah ada di tanganmu."
Tanpa banyak bicara lagi, anak buah pria itu mengangkat tubuh Isabella yang kini hanya diam membatu, tak berdaya. Kakinya yang terluka berdarah dan pipinya yang memerah pedih seolah tak lagi terasa olehnya. Rasa sakit fisik sudah kalah jauh dibandingkan rasa sakit di hatinya yang hancur lebur.
"Ayahhh... Di mana Ayah? Isabella mau ikut Ayah saja... Ayah, jemput Isabella..." ratapnya dalam hati, menangis dalam kebisuan yang mendalam.
Di dalam mobil besar dan gelap yang membawanya entah ke mana, Isabella duduk diapit oleh dua orang pria berwajah datar. Tubuhnya yang kecil dan kurus seolah tenggelam di antara tubuh-tubuh kekar mereka, membuatnya terlihat semakin rapuh dan menyedihkan.
"Berikan dia minum," perintah pria yang memimpin rombongan itu dengan nada datar.
Salah satu anak buahnya menyodorkan sebotol air mineral. Isabella tak menolak, ia juga tidak meminta. Ia menerima botol itu dan meneguk isinya perlahan. Di benaknya yang kacau, ia berharap dalam setiap tetes air yang melewati tenggorokannya itu terkandung racun mematikan, sesuatu yang bisa mengakhiri segalanya, menghentikan penderitaannya yang tak berujung ini selamanya.
Namun, bukan rasa sakit yang datang, melainkan rasa berat di kelopak matanya.
Dalam hitungan detik, pandangannya mulai kabur dan berputar hebat. Otot-otot tubuhnya yang tegang seketika lemas tak bertulang. Napasnya melambat, dan kesadaran pun perlahan namun pasti meninggalkannya, menyeretnya ke dalam kegelapan yang sunyi dan panjang.
*
*
Di tempat yang berbeda, jauh dari hiruk-pikuk kota dan kepedihan Isabella, suasana di kediaman megah—mansion milik Alexander—terasa jauh lebih dingin dan mencekam. Udara di sana seolah berubah menjadi beracun, diselimuti aura kematian yang pekat dan mengerikan.
Alexander Sterling, sang penguasa, bos mafia yang kejam dan tak berbelas kasihan, berdiri tegak di tengah ruangan bawah tanah yang remang. Di hadapannya, tergeletak seorang pria yang berdarah-darah, lututnya menyentuh lantai dingin.
Pria itu adalah salah satu anak buah kepercayaannya, seseorang yang dulu diberi kekuasaan, namun kini tertangkap basah menjadi pengkhianat. Ia telah menjual informasi vital, rahasia besar mengenai jalur perdagangan senjata milik organisasi Alexander, dan memberikannya kepada kelompok mafia saingan yang haus kekuasaan.
Alexander menatap pria itu dengan tatapan kosong, dingin, dan tanpa belas kasih. Bagi Alexander, pengkhianatan adalah dosa terbesar yang hanya memiliki satu jenis hukuman: kematian.
"Kau tahu apa konsekuensinya, bukan?" suara Alexander terdengar rendah namun menggelegar, seolah datang dari dasar bumi. Tangannya memegang sebuah senjata api berkilau yang diarahkan tepat ke dahi si pengkhianat yang gemetar ketakutan.
"Ampun, Tuan... Ampun! Saya butuh uang untuk keluarga saya... Saya terpaksa..." rintih pria itu terbata-bata, air mata dan keringat bercampur dengan darah di wajahnya.
Alexander tersenyum miring, senyum yang mengerikan dan penuh ejekan.
"Keluarga?" desisnya tajam. "Saat kau menjual rahasia kami, saat kau berniat membunuh kami dengan data yang kau berikan... di mana rasa kemanusiaanmu? Kau tidak berhak bicara soal keluarga di hadapanku."
Tanpa menunggu jawaban lagi, tanpa ragu sedikit pun, Alexander mengangkat senjatanya lebih tinggi. Di saat yang sama, bayangan wajah Isabella yang memohon di balik kaca mobil tadi kembali melintas di benaknya. Wajah yang penuh ketakutan namun tetap memancarkan keberanian yang aneh.
Dua jenis manusia yang berbeda, batin Alexander. Satu menjual diri demi uang, satu lagi dijual demi uang. Namun keduanya sama-sama terjebak dalam kekejaman dunia ini.
"Kau akan mati, dan namamu akan kuhapus dari sejarah," ucap Alexander dingin.
DOR!!
Satu tembakan melepaskan diri. Suara ledakan itu memecah keheningan malam di dalam mansion itu, menandai berakhirnya nyawa si pengkhianat. Alexander menurunkan senjatanya dengan tenang, seolah baru saja membuang sampah. Namun, di sudut hatinya yang paling tersembunyi, rasa penasaran dan ketertarikannya pada gadis bernama Isabella itu justru semakin membesar. Ia bertekad, malam ini di acara pelelangan itu, ia akan menemukan jawaban atas rasa penasarannya itu.
KRAКKK....
Suara tulang yang patah terdengar begitu nyaring dan mengerikan di ruangan bawah tanah yang dingin itu.
"Awwwwww... Ampun Tuan! Ampun!"
Jeritan kesakitan si pengkhianat menggema keras, mengoyak keheningan malam yang pekat. Tubuh anak buah yang berkhianat itu kini terkapar tak berdaya di lantai beton yang kotor, sementara salah satu tangannya tergantung lemas, remuk dan hancur sepenuhnya di bawah cengkeraman tangan kekar Alexander.
Wajah tampan Alexander yang biasanya dingin dan datar, kini sepenuhnya diselimuti oleh topeng kemarahan yang mengerikan. Seringai tajam terukir jelas di bibirnya, matanya menatap nanar ke bawah seolah-olah ia sedang menatap serangga yang ingin ia musnahkan. Suasana menjadi begitu menyesakkan, membuat setiap anak buah yang hadir terpaku kaku di tempat, tak ada yang berani bernapas lega, apalagi bergerak sedikit pun.
Mereka semua paham betul hukum besi di organisasi ini: jika tuannya sudah turun tangan sendiri, tak ada lagi kata ampun. Yang ada hanyalah kematian yang pasti.
"Berani sekali kau mengkhianatiku!!! Kau benar-benar bosan hidup....!" teriak Alexander dengan suara yang menggelegar, berat, dan penuh amarah yang tertahan.
Tanpa menunggu permohonan maaf yang sia-sia, Alexander melepaskan cengkeramannya, lalu dengan gerakan tenang namun mematikan, ia meraih pinggangnya. Sebuah senjata api berwarna hitam doff, kokoh, dan elegan tercabut dari sarungnya. Itu adalah Sig Sauer P226, senjata andalan yang selalu menemaninya—benda buatan presisi Jerman yang terasa menyatu sempurna di genggaman tangannya, dingin, berat, dan tak pernah meleset dari sasaran.
Alexander mengarahkan moncong senjata itu tepat ke kening si pengkhianat yang masih menggeliat kesakitan.
"DORRRRR...!"
Satu kali tembakan meledak, memekakkan telinga. Peluru itu menembus kepala si malang dengan akurasi sempurna, meninggalkan keheningan yang lebih mencekam sesaat setelah suara ledakan menghilang.
Alexander perlahan menurunkan senjatanya, matanya menatap tajam mengelilingi seluruh wajah anak buahnya yang berdiri berbaris. Tatapan itu penuh peringatan, seolah berkata bahwa nasib yang sama menanti siapa saja yang berani melanggar aturan.
"Kalian semua akan bernasib sama persis jika berani bermain-main atau berkhianat di belakangku!" bentaknya lagi, suaranya menggelegar penuh otoritas, membuat siapa saja yang mendengarnya merasakan getaran ketakutan hingga ke tulang sumsum.
Tak ada satu pun yang berani bersuara. Keheningan mencekam kembali menyelimuti ruangan itu.
Namun, momen itu segera terputus saat Sebastian, asisten pribadinya yang setia dan tenang, melangkah maju mendekat. Ia membungkuk hormat, lalu berbisik pelan di samping tuannya.
"Sudah waktunya kita pergi, Tuan. Acara pelelangan akan segera dimulai."
Alexander mengangguk singkat. Ia memasukkan kembali Sig Sauer P226-nya ke sarung, menyembunyikan alat pembawa maut itu di balik pakaiannya seolah tak terjadi apa-apa. Dengan langkah tegap dan wajah kembali berubah dingin tanpa ekspresi, ia berjalan menuju lift pribadi yang hanya dikhususkan untuk dirinya, menuju lantai teratas mansion mewah itu.
"Bereskan semua kekacauan ini! Bersihkan lantai ini sampai tak ada jejak yang tersisa!" perintah Sebastian tegas pada anak buah lainnya, sebelum ia segera bergegas menyusul langkah tuannya.
Sesampainya di lantai atas, suasana begitu kontras—mewah, hangat, dan bersih berkilau. Sebastian sigap melayani tuannya dengan gerakan cekatan. Ia membantu Alexander mengenakan jas mahal berwarna hitam legam yang disesuaikan dengan ukuran tubuhnya, menyematkan arloji berantai bernilai miliaran rupiah di pergelangan tangan tuannya, dan memastikan senjata api terselip rapi di balik kemeja, tersembunyi namun mudah dijangkau.
"Sesuai jadwal, apa saja yang akan dilelang malam ini?" tanya Alexander tiba-tiba, suaranya kembali tenang dan berwibawa. Ia merapikan ujung kerah bajunya di depan cermin besar.
"Dari informasi rinci yang saya himpun, Tuan," jawab Sebastian sambil membuka buku catatan kecilnya, "Malam ini akan ada pelelangan sebuah kalung legendaris bertahtakan batu Ruby murni berpadu dengan berlian yang sangat langka. Itu adalah peninggalan berharga dari klan mafia terbesar di masa lalu, barang yang memiliki nilai sejarah dan kekuasaan tinggi."
Sebastian berhenti sejenak, menatap tuannya lekat-lekat sebelum melanjutkan.
"Selain itu... ada satu barang pelelangan utama yang masih dirahasiakan. Barang itu baru akan diperkenalkan di penghujung acara, dan dikabarkan memiliki nilai jual yang jauh melampaui benda-benda mewah lainnya malam ini."
Alexander mengangguk pelan, seolah jawaban itu sudah ia duga sebelumnya. Informasi itu sudah cukup memberinya alasan kuat untuk hadir. Acara ini bukan sekadar jual beli biasa, melainkan ajang pertemuan para mafia, konglomerat gelap, dan bos-bos berjiwa liar dari seluruh penjuru kota. Di sana, kekuasaan ditentukan oleh seberapa tebal dompet dan seberapa dingin hati seseorang.
"Baik. Ayo berangkat," perintah Alexander singkat.
Keduanya segera melangkah keluar menuju halaman utama, tempat mobil sedan mewah Mercedes-Maybach Kelas S berwarna hitam pekat sudah menanti dengan mesin yang menyala. Alexander masuk ke dalam kabin belakang yang luas dan mewah, diikuti Sebastian, sementara beberapa mobil pengawal dengan pria-pria berbadan tegap segera mengisi barisan depan dan belakang.
Konvoi mobil itu melaju kencang membelah jalanan malam yang sepi, menembus kegelapan, menuju sebuah gedung besar yang sangat privat, tersembunyi di balik tembok tinggi dan sistem keamanan ketat, jauh dari pandangan mata dunia luar.
Sementara itu, di tempat yang berbeda, di sebuah ruangan bawah tanah yang lembap dan berbau apek...
Isabella perlahan mulai siuman dari pingsannya. Kelopak matanya yang berat terbuka perlahan, rasa pusing yang hebat menyerang kepalanya, berdenyut menyakitkan seirama dengan detak jantungnya. Ia mencoba mengerjap, berusaha mengumpulkan kembali kesadarannya yang sempat hilang akibat obat bius yang diminumnya tadi.
Namun, detik ketika pandangannya menjadi jelas seutuhnya, mata Isabella membelalak lebar, napasnya tercekat di kerongkongan, dan rasa ngeri seketika menjalari setiap inci nadinya.
Ia mendapati dirinya terkurung di dalam sebuah sangkar besar yang terbuat dari jeruji besi tebal dan kokoh. Sangkar itu persis seperti kandang tempat menyimpan binatang buas di kebun binatang.
Tubuhnya yang ramping kini hanya terbalut sehelai kain tipis berwarna krem yang nyaris transparan dan polos, membuat kulitnya yang putih pucat terekspos sepenuhnya pada siapa saja yang melihatnya. Ia merasa telanjang, merasa kotor, dan merasa sangat hina. Udara dingin ruangan itu menusuk hingga ke tulang, membuat tubuhnya menggigil hebat.
Isabella berusaha bangkit dengan tangan gemetar, ia meraba-raba sekelilingnya. Ia ingin kabur, ia ingin lari sejauh mungkin, namun gembok besi raksasa yang tergantung kokoh di pintu kecil sangkar itu seolah menertawakan setiap sisa harapannya. Tak ada celah, tak ada jalan keluar.
"Ya Tuhan... Tolong aku... Apa yang telah kulakukan hingga harus menerima semua ini... Apa yang harus kulakukan..." lirihnya, suaranya bergetar parau dan nyaris tak terdengar, tenggelam dalam kesunyian yang mengerikan.
Di sudut ruangan yang remang, ia melihat gadis-gadis lain yang juga terkurung dalam sangkar-sangkar serupa, duduk diam dengan tatapan kosong. Saat itulah Isabella sadar sepenuhnya... ia bukan lagi manusia. Ia hanyalah barang dagangan yang sedang menunggu saat pelelangan dimulai.
Tiba-tiba, suara langkah kaki berat menggema mendekat, memecah kebisuan mencekam ruangan itu. Beberapa pria bertubuh besar, berwajah sangar, dan berpakaian serba hitam masuk menerobos kegelapan. Salah satu dari mereka, pria berkepala botak yang sama yang telah membawanya ke sini, melangkah mendekati sangkar besi itu. Dengan mudahnya ia memutar kunci dan membuka gembok raksasa itu, lalu tanpa basa-basi lagi, ia mencengkeram lengan Isabella dan menariknya keluar dengan kasar.
Isabella terhuyung, nyaris jatuh ke lantai dingin. Ia buru-buru merangkulkan kedua tangannya ke d**a dan pinggang, berusaha sekuat tenaga menutupi tubuhnya yang nyaris terekspos bulat hanya dengan kain tipis itu. Wajahnya memerah karena rasa malu yang luar biasa, rasa hina yang menggerogoti jiwanya. Namun, usahanya itu sia-sia belaka. Kain yang menempel di kulitnya terlalu tipis dan pendek, membuat lekuk tubuhnya yang indah dan kulit putihnya tetap terlihat jelas, menjadi tontonan murah bagi mata-mata jahat yang menatapnya.
"Minum ini," ujar si pria botak dengan suara serak dan datar, sambil mengulurkan sebuah botol kecil berisi cairan bening yang tampak biasa saja.
Isabella menatap botol itu dengan tatapan penuh kebencian dan ketakutan, lalu menatap balik wajah pria itu.
"Aku tidak mau!" jawabnya tegas, meski suaranya bergetar menahan marah. Ia sudah cukup disiksa, ia tak mau lagi memasukkan benda asing apa pun ke dalam tubuhnya.
Pria itu menyeringai lebar, menampakkan gigi kuningnya yang mengerikan. Ia melangkah setapak lebih dekat, menatap Isabella dengan pandangan yang merendahkan.
"Kalau begitu... aku yang akan memaksamu masukkan ke tenggorokanmu," ancamnya dingin, tangan kanannya mengepal siap memaksa.
Isabella mengertakkan gigi. Di dalam hatinya yang kacau, satu pemikiran mendominasi benaknya: Lebih baik aku mati sekarang daripada harus hidup menanggung semua hinaan ini.
Dengan gerakan cepat, ia menyambar botol itu dari tangan pria itu. Tanpa ragu sedikit pun, ia membuka sumbatnya dan meneguk habis seluruh isinya sekaligus. Di dalam benaknya, ia berharap cairan pahit ini adalah racun mematikan yang akan segera menghentikan detak jantungnya, mengakhiri segalanya saat itu juga.
Namun, harapan itu kembali patah. Bukan rasa sakit yang menyiksa yang ia rasakan, melainkan rasa berat yang luar biasa menyerang seluruh urat sarafnya. Hanya dalam hitungan detik, pandangannya kembali kabur, kakinya melemas tak bertulang, dan kesadarannya kembali direnggut paksa oleh kegelapan. Tubuh ringkihnya ambruk jatuh ke pelukan para penangkapnya, tak berdaya lagi.
"Racun penenang sudah bekerja," gumam pria botak itu puas sambil mengusap tangannya seolah baru saja membereskan sampah. Ia memberi isyarat pada rekannya.
"Bawa dia ke kamar rias. Rapikan penampilannya. Barang berharga seperti ini harus terlihat sempurna dan berkilau sebelum dipajang di atas panggung pelelangan nanti," perintah salah seorang dari mereka dengan nada antusias, seolah sedang membicarakan benda antik yang mahal, bukan nyawa manusia.